- Diposting oleh : TALAQQI KUTUB TURATS
- pada tanggal : Agustus 02, 2026
كِفَايَةَ الْعَوَامِ
TERJEMAH
KIFAYATUL
'AWAM
FIMA
YAJIBU 'ALAIHIM MIN 'ILMIL KALAM
(Bekal
yang Cukup bagi Orang Awam
Seputar
Kewajiban Mereka dalam Ilmu Kalam)
Karya
Syaikh Muhammad al-Fadhali Asy-Syafi'i
(Wafat
1236 H / 1820 M di Mesir)
Terjemahan
disusun oleh:
M. Kamil Alhakimi, M.H.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah atas segala nikmat
dan karunia-Nya, sehingga terjemahan kitab Kifayatul 'Awam ini akhirnya
bisa diselesaikan. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para
sahabatnya.
Kitab
karya Syaikh Muhammad al-Fadhali ini adalah pegangan ilmu tauhid yang sangat
penting. Sesuai namanya, kitab ini dirancang khusus untuk memberikan
"bekal yang cukup" bagi orang awam agar bisa mengenal sifat-sifat
Allah dan para Rasul-Nya dengan cara yang mudah, ringkas, dan masuk akal.
Terjemahan
ini sengaja disusun dengan bahasa Indonesia yang sederhana, luwes, dan membumi.
Tujuannya adalah agar istilah-istilah agama yang tadinya terasa rumit bisa
dipahami dengan cepat oleh pembaca masa kini, tentunya tanpa mengubah maksud
dan makna asli dari penulisnya.
Penyusun
menyadari bahwa hasil terjemahan ini masih memiliki banyak kekurangan. Karena
itu, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan. Semoga buku ini
membawa berkah, bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, dan menjadi amal
jariah bagi kita semua. Amin.
Sabtu, 1 Agustus 2026 M / 17 Safar 1448 H
Penyusun,
M. Kamil Alhakimi, M.H.
|
مُقَدِّمَةُ الْمُؤَلِّفِ |
MUKADIMAH
PENULIS
|
|
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ |
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. |
|
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُنْفَرِدِ بِالْإِيجَادِ، |
Segala puji bagi Allah, Zat
yang Mahatunggal dalam menciptakan [segala sesuatu]. |
|
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلِ
الْعِبَادِ، |
Selawat serta salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, hamba yang
paling utama, |
|
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْبَهْجَةِ وَالرَّشَادِ، وَبَعْدُ: |
Juga kepada keluarga dan
para sahabat beliau yang memiliki keindahan [akhlak] dan petunjuk. Amma
ba'du (adapun setelah itu): |
|
فَيَقُولُ الْعَبْدُ الْفَقِيرُ إِلَى رَحْمَةِ رَبِّهِ الْمُتَعَالِي:
مُحَمَّدُ بْنُ الشَّافِعِيِّ الْفَضَالِيُّ الشَّافِعِيُّ: |
Maka berkatalah seorang
hamba yang sangat membutuhkan rahmat Tuhannya Yang Mahatinggi, yaitu Muhammad
bin Asy-Syafi'i al-Fadhali asy-Syafi'i: |
|
قَدْ سَأَلَنِي بَعْضُ الْإِخْوَانِ أَنْ أُؤَلِّفَ رِسَالَةً فِي
التَّوْحِيدِ، |
Sebagian saudara telah
memintaku untuk menyusun sebuah risalah (buku kecil) dalam ilmu tauhid. |
|
فَأَجَبْتُهُ إِلَى ذَلِكَ نَاحِيًا نَحْوَ الْعَلَّامَةِ الشَّيْخِ
السَّنُوسِيِّ فِي تَقْرِيرِ الْبَرَاهِينِ |
Aku pun memenuhi permintaan
tersebut dengan mengikuti metode al-'Allamah Syekh as-Sanusi dalam menetapkan
dalil-dalil [akidah]. |
|
غَيْرَ أَنِّي أَتَيْتُ بِالدَّلِيلِ بِجَانِبِ الْمَدْلُولِ وَزِدْتُهُ
تَوْضِيحًا لِعِلْمِي بِقُصُورِ هَذَا الطَّالِبِ، |
Hanya saja, aku menyertakan
dalil berdampingan langsung dengan madlul (hal yang
didalilkan/ditunjukkan) dan aku tambahkan penjelasannya karena aku menyadari
keterbatasan [pemahaman] para penuntut ilmu [di masa] ini. |
|
فَجَاءَتْ بِحَمْدِ اللَّهِ تَعَالَى رِسَالَةً مُفِيدَةً، وَلِتَقْرِيرِ
مَا فِيهَا مَجِيدَةً، |
Maka dengan puji syukur
kepada Allah Ta'ala, terwujudlah sebuah risalah yang bermanfaat dan sangat
baik dalam menjelaskan isi pembahasannya. |
|
وَسَمَّيْتُهَا: كِفَايَةَ الْعَوَامِ فِيمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ
عِلْمِ الْكَلَامِ. |
Aku memberinya nama: Kifayatul
'Awam fima Yajib 'Alaihim min 'Ilmil Kalam (Bekal yang Cukup bagi Orang
Awam Seputar Kewajiban Mereka dalam Ilmu Kalam). |
|
وَاللَّهَ تَعَالَى أَسْأَلُ أَنْ يَنْفَعَ بِهَا، وَهُوَ حَسْبِي
وَنِعْمَ الْوَكِيلُ. |
Hanya kepada Allah Ta'ala
aku memohon agar risalah ini memberikan manfaat. Cukuplah Dia bagiku, dan
Dialah sebaik-baik tempat bersandar. |
|
مُقَدِّمَةٌ
عَامَّةٌ فِي بَيَانِ عَدَدِ الْعَقَائِدِ وَأَدِلَّتِهَا |
MUKADIMAH
UMUM TENTANG PENJELASAN JUMLAH AKIDAH DAN DALIL-DALILNYA
|
|
اعْلَمْ
أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَعْرِفَ خَمْسِينَ عَقِيدَةً، |
Ketahuilah bahwa setiap
muslim wajib mengetahui lima puluh akidah, |
|
وَكُلُّ
عَقِيدَةٍ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفَ لَهَا دَلِيلًا إِجْمَالِيًّا أَوْ
تَفْصِيلِيًّا. |
Dan pada setiap akidah
tersebut, ia wajib mengetahui dalilnya, baik secara global (ijmali)
maupun terperinci (tafsili). |
|
قَالَ
بَعْضُهُمْ: يُشْتَرَطُ أَنْ يَعْرِفَ الدَّلِيلَ التَّفْصِيلِيَّ، لَكِنَّ
الْجُمْهُورَ عَلَى أَنَّهُ يَكْفِي الدَّلِيلُ الْإِجْمَالِيُّ لِكُلِّ
عَقِيدَةٍ مِنْ هَذِهِ الْخَمْسِينَ. |
Sebagian ulama berpendapat
bahwa disyaratkan untuk mengetahui dalil yang terperinci. Namun, mayoritas
ulama (jumhur) menetapkan bahwa mengetahui dalil secara global untuk
masing-masing dari kelima puluh akidah ini sudah mencukupi. |
|
وَالدَّلِيلُ
التَّفْصِيلِيُّ: مِثَالُهُ إِذَا قِيلَ: مَا الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِهِ
تَعَالَى؟ أَنْ يُقَالَ: هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتُ. |
Adapun dalil terperinci (tafsili),
contohnya: jika ditanya, "Apa dalil atas keberadaan Allah Ta'ala?"
lalu dijawab, "Makhluk-makhluk ini." |
|
فَيَقُولُ
لَهُ السَّائِلُ: الْمَخْلُوقَاتُ دَالَّةٌ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ
جِهَةِ إِمْكَانِهَا أَوْ مِنْ جِهَةِ وُجُودِهَا بَعْدَ عَدَمٍ، فَيُجِيبُهُ. |
Kemudian si penanya
mengejarnya lagi, "Apakah makhluk-makhluk ini menunjukkan keberadaan
Allah Ta'ala dari sisi imkan-nya [potensinya untuk ada atau tiada]
atau dari sisi keberadaannya setelah ketiadaannya?" lalu ia mampu
menjawabnya. |
|
وَأَمَّا
إِذَا لَمْ يُجِبْهُ، بَلْ قَالَ لَهُ: هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتُ فَقَطْ، وَلَمْ
يَعْرِفْ مِنْ جِهَةِ إِمْكَانِهَا أَوْ وُجُودِهَا بَعْدَ عَدَمٍ، فَيُقَالُ
لَهُ: دَلِيلٌ إِجْمَالِيٌّ، وَهُوَ كَافٍ عِنْدَ الْجُمْهُورِ. |
Adapun jika ia tidak bisa
menjawabnya, melainkan hanya mengatakan, "Pokoknya makhluk-makhluk
ini," tanpa mengetahui dari sisi imkan-nya atau dari sisi
keberadaannya setelah ketiadaan, maka hal ini disebut dalil global (ijmali),
dan hal itu sudah mencukupi menurut mayoritas ulama. |
|
وَأَمَّا
التَّقْلِيدُ وَهُوَ أَنْ يَعْرِفَ الْعَقَائِدَ الْخَمْسِينَ، وَلَمْ يَعْرِفْ
لَهَا دَلِيلًا إِجْمَالِيًّا أَوْ تَفْصِيلِيًّا، فَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ
فِيهِ: |
Sementara itu, mengenai
taklid—yaitu mengetahui kelima puluh akidah tersebut, namun tidak mengetahui
dalilnya sama sekali, baik secara global maupun terperinci—maka para ulama
berbeda pendapat di dalamnya: |
|
فَقَالَ
بَعْضُهُمْ: لَا يَكْفِي التَّقْلِيدُ وَالْمُقَلِّدُ كَافِرٌ. وَذَهَبَ
إِلَيْهِ ابْنُ الْعَرَبِيِّ وَالسَّنُوسِيُّ، وَأَطَالَ فِي شَرْحِ الْكُبْرَى
فِي الرَّدِّ عَلَى مَنْ يَقُولُ بِكِفَايَةِ التَّقْلِيدِ. |
Sebagian mereka berkata:
"Taklid tidaklah cukup, dan orang yang bertaklid (muqallid)
dihukumi kafir." Pendapat ini dipegang oleh Ibnu al-'Arabi dan
as-Sanusi. As-Sanusi bahkan menjabarkan panjang lebar dalam kitab Syarh
al-Kubra untuk membantah pihak yang mengatakan bahwa taklid itu
mencukupi. |
|
لَكِنْ نُقِلَ
أَنَّ السَّنُوسِيَّ رَجَعَ عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ بِكِفَايَةِ التَّقْلِيدِ،
لَكِنْ لَمْ نَرَ فِي كُتُبِهِ إِلَّا الْقَوْلَ بِعَدَمِ كِفَايَتِهِ. |
Akan tetapi, dinukil sebuah
riwayat bahwa as-Sanusi telah meralat pendapat tersebut dan menyatakan bahwa
taklid itu mencukupi. Hanya saja, kami tidak melihat di dalam buku-buku
karyanya melainkan pendapat yang menyatakan tidak cukupnya (taklid tersebut). |
|
بَيَانُ الْمُقَدِّمَاتِ
الْعَقْلِيَّةِ وَالْمَنْطِقِيَّةِ |
PENJELASAN
MUKADIMAH AKAL DAN LOGIKA
|
|
اعْلَمْ أَنَّ
فَهْمَ الْعَقَائِدِ الْخَمْسِينَ الْآتِيَةِ يَتَوَقَّفُ عَلَى أُمُورٍ
ثَلَاثَةٍ: الْوَاجِبِ وَالْمُسْتَحِيلِ وَالْجَائِزِ: |
Ketahuilah bahwa pemahaman
terhadap kelima puluh akidah yang akan datang ini bergantung pada tiga hal:
Wajib, Mustahil, dan Jaiz. |
|
الْوَاجِبُ:
هُوَ الَّذِي لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ، أَيْ: لَا يُصَدِّقُ
الْعَقْلُ بِعَدَمِهِ، |
Wajib [secara akal]: adalah sesuatu yang
ketiadaannya tidak dapat dibayangkan oleh akal, yakni akal tidak membenarkan
ketiadaannya. |
|
كَالتَّحَيُّزِ
لِلْجِرْمِ، أَيْ: أَخْذِهِ قَدْرًا مِنَ الْفَرَاغِ، وَالْجِرْمُ كالشَّجَرِ
وَالْحَجَرِ. |
Seperti keniscayaan
menempati ruang bagi benda fisik (jirm), yakni mengambil ukuran
tertentu dari sebuah ruang kosong, dan jirm itu seperti pohon dan
batu. |
|
فَإِذَا قَالَ
لَكَ شَخْصٌ: إِنَّ الشَّجَرَةَ لَمْ تَأْخُذْ مَحَلًّا مِنَ الْأَرْضِ مَثَلًا،
لَا يُصَدِّقُ عَقْلُكَ بِذَلِكَ، |
Maka, jika seseorang
berkata kepadamu, "Sesungguhnya pohon itu tidak mengambil tempat di
bumi," misalnya, niscaya akalmu tidak akan membenarkannya, |
|
لِأَنَّ
أَخْذَهُ مَحَلًّا وَاجِبٌ لَا يُصَدِّقُ الْعَقْلُ بِعَدَمِهِ. |
karena mengambil tempat
baginya adalah suatu kewajiban (kepastian) yang akal tidak membenarkan
ketiadaannya. |
|
الْمُسْتَحِيلُ:
هُوَ الَّذِي لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ أَيْ: لَا يُصَدِّقُ
الْعَقْلُ بِوُجُودِهِ. |
Mustahil: adalah sesuatu yang keberadaannya tidak
dapat dibayangkan oleh akal, yakni akal tidak membenarkan keberadaannya. |
|
فَإِذَا قَالَ
قَائِلٌ: إِنَّ الْجِرْمَ الْفُلَانِيَّ خَالٍ عَنِ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ
مَعًا، لَا يُصَدِّقُ عَقْلُكَ بِذَلِكَ، |
Maka, jika ada yang
berkata, "Sesungguhnya benda fisik anu kosong (terlepas) dari gerak dan
diam secara bersamaan," niscaya akalmu tidak akan membenarkannya, |
|
لِأَنَّ
خُلُوَّهُ عَنِ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ مُسْتَحِيلٌ لَا يُصَدِّقُ الْعَقْلُ
بِوُقُوعِهِ وَوُجُودِهِ. |
karena terlepasnya benda
dari gerak dan diam [secara bersamaan] adalah sesuatu yang mustahil, yang
akal tidak membenarkan keterjadian dan keberadaannya. |
|
الْجَائِزُ:
هُوَ الَّذِي يُصَدِّقُ الْعَقْلُ بِوُجُودِهِ تَارَةً وَبِعَدَمِهِ أُخْرَى،
كَوُجُودِ وَلَدٍ لِزَيْدٍ. |
Jaiz: adalah sesuatu yang pada satu waktu
akal membenarkan keberadaannya, dan pada waktu yang lain membenarkan
ketiadaannya, seperti adanya anak bagi Zaid. |
|
فَإِذَا قَالَ
قَائِلٌ: إِنَّ زَيْدًا لَهُ وَلَدٌ جَوَّزَ عَقْلُكَ صِدْقَ ذَلِكَ، |
Maka, jika seseorang
berkata, "Sesungguhnya Zaid memiliki anak," akalmu membolehkan
(menerima) kebenaran hal itu. |
|
وَإِذَا
قَالَ: إِنَّ زَيْدًا لَا وَلَدَ لَهُ جَوَّزَ عَقْلُكَ صِدْقَ ذَلِكَ، |
Dan jika ia berkata,
"Sesungguhnya Zaid tidak memiliki anak," akalmu juga membolehkan
kebenaran hal itu. |
|
فَوُجُودُ
وَلَدٍ لِزَيْدٍ وَعَدَمُهُ جَائِزٌ يُصَدِّقُ الْعَقْلُ بِوُجُودِهِ وَعَدَمِهِ. |
Maka, keberadaan anak bagi
Zaid beserta ketiadaannya adalah sesuatu yang jaiz (mungkin), yang akal
membenarkan wujud maupun tiadanya. |
|
فَهَذِهِ
الْأَقْسَامُ الثَّلَاثَةُ يَتَوَقَّفُ عَلَيْهَا فَهْمُ الْعَقَائِدِ،
فَتَكُونُ هَذِهِ الثَّلَاثَةُ وَاجِبَةً عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ مِنْ ذَكَرٍ
وَأُنْثَى، |
Ketiga pembagian inilah
yang menjadi tumpuan bagi pemahaman akidah, sehingga (memahami) ketiganya
menjadi wajib bagi setiap mukalaf, baik laki-laki maupun perempuan, |
|
لِأَنَّ مَا
يَتَوَقَّفُ عَلَيْهِ الْوَاجِبُ يَكُونُ وَاجِبًا. |
karena sesuatu yang menjadi
syarat bagi terlaksananya suatu kewajiban, maka hal itu hukumnya menjadi
wajib pula. |
|
بَلْ قَالَ
إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ: إِنَّ فَهْمَ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ هِيَ نَفْسُ
الْعَقْلِ، |
Bahkan Imam al-Haramain
berkata, "Sesungguhnya memahami ketiga hal ini adalah hakikat akal itu
sendiri." |
|
فَمَنْ لَمْ
يَعْرِفْهَا، أَيْ: لَمْ يَعْرِفْ مَعْنَى الْوَاجِبِ وَمَعْنَى الْمُسْتَحِيلِ
وَمَعْنَى الْجَائِزِ فَلَيْسَ بِعَاقِلٍ. |
Maka barang siapa yang
tidak mengetahuinya, yakni tidak mengetahui makna wajib, makna mustahil, dan
makna jaiz, maka ia bukanlah orang yang berakal. |
|
فَإِذَا قِيلَ
هُنَا: الْقُدْرَةُ وَاجِبَةٌ لِلَّهِ، كَانَ الْمَعْنَى قُدْرَةَ اللَّهِ لَا
يُصَدِّقُ الْعَقْلُ بِعَدَمِهَا، |
Maka apabila dikatakan di
sini: "Sifat Qudrah (Mahakuasa) itu wajib bagi Allah," maknanya
adalah bahwa akal tidak membenarkan ketiadaan qudrah bagi Allah, |
|
لِأَنَّ
الْوَاجِبَ هُوَ الَّذِي لَا يُصَدِّقُ الْعَقْلُ بِعَدَمِهِ كَمَا تَقَدَّمَ. |
karena sesuatu yang wajib
[secara akal] adalah hal yang ketiadaannya tidak dibenarkan oleh akal,
sebagaimana yang telah dijelaskan. |
|
وَأَمَّا
الْوَاجِبُ بِمَعْنَى مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ،
فَهُوَ مَعْنَى آخَرَ لَيْسَ مُرَادًا فِي عِلْمِ التَّوْحِيدِ، فَلَا
يَشْتَبِهْ عَلَيْكَ الْأَمْرُ. |
Adapun kata
"wajib" dengan pengertian "sesuatu yang diberi pahala jika
dikerjakan dan disiksa jika ditinggalkan" [yakni wajib syariat], maka
itu adalah makna lain yang tidak dimaksudkan dalam ilmu tauhid ini. Maka
jangan sampai masalah ini menjadi rancu bagimu. |
|
نَعَمْ، لَوْ
قِيلَ: يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ اعْتِقَادُ قُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى، كَانَ
الْمَعْنَى يُثَابُ عَلَى ذَلِكَ وَيُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِ ذَلِكَ. |
Memang benar, seandainya
dikatakan, "Wajib bagi mukalaf untuk meyakini sifat Qudrah bagi Allah
Ta'ala," maka barulah maknanya adalah ia diberi pahala atas keyakinan
itu dan disiksa jika meninggalkannya. |
|
فَفَرِّقْ
بَيْنَ أَنْ يُقَالَ: اعْتِقَادُ كَذَا وَاجِبٌ، وَبَيْنَ أَنْ يُقَالَ:
الْعِلْمُ مَثَلًا وَاجِبٌ، |
Maka bedakanlah antara
ucapan: "Meyakini hal tersebut adalah wajib", dengan ucapan:
"Sifat 'Ilmu, misalnya, adalah wajib." |
|
لِأَنَّهُ
إِذَا قِيلَ: الْعِلْمُ وَاجِبٌ لِلَّهِ تَعَالَى، كَانَ الْمَعْنَى أَنَّ
عِلْمَ اللَّهِ تَعَالَى لَا يُصَدِّقُ الْعَقْلُ بِعَدَمِهِ. |
Karena jika dikatakan:
"Sifat 'Ilmu itu wajib bagi Allah Ta'ala," maknanya adalah bahwa
ilmu Allah Ta'ala itu ketiadaannya tidak dibenarkan oleh akal. |
|
وَأَمَّا
إِذَا قِيلَ: اعْتِقَادُ الْعِلْمِ وَاجِبٌ، كَانَ الْمَعْنَى يُثَابُ إِنِ
اعْتَقَدَ ذَلِكَ، وَيُعَاقَبُ إِنْ لَمْ يَعْتَقِدْ، فَاحْرِصْ عَلَى الْفَرْقِ
بَيْنَهُمَا. |
Adapun jika dikatakan:
"Meyakini sifat 'Ilmu itu wajib," maknanya adalah ia diberi pahala
jika meyakininya, dan disiksa jika ia tidak meyakininya. Maka, bersemangatlah
dalam membedakan antara keduanya. |
|
وَلَا تَكُنْ
مِمَّنْ قَلَّدَ فِي عَقَائِدِ الدِّينِ فَيَكُونَ إِيمَانُكَ مُخْتَلَفًا
فِيهِ، فَتُخَلَّدَ فِي النَّارِ عِنْدَ مَنْ يَقُولُ: لَا يَكْفِي التَّقْلِيدُ. |
Dan janganlah engkau
menjadi orang yang sekadar bertaklid (ikut-ikutan buta) dalam persoalan
akidah agama, sehingga keimananmu menjadi sesuatu yang diperselisihkan
keabsahannya, yang dapat berakibat engkau dikekalkan di dalam neraka menurut
ulama yang berpendapat bahwa taklid itu tidak mencukupi. |
|
قَالَ
السَّنُوسِيُّ: وَلَيْسَ يَكُونُ الشَّخْصُ مُؤْمِنًا إِذَا قَالَ: أَنَا
جَازِمٌ بِالْعَقَائِدِ، وَلَوْ قُطِّعْتُ قِطَعًا قِطَعًا لَا أَرْجِعُ عَنْ
جَزْمِي هَذَا، |
As-Sanusi berkata:
"Seseorang tidaklah (serta-merta) menjadi mukmin jika ia sekadar
berkata: 'Aku sangat meyakini akidah-akidah ini secara teguh, dan andaikata
aku dipotong berkeping-keping pun, aku tidak akan beranjak dari keyakinanku
ini'." |
|
بَلْ لَا
يَكُونُ مُؤْمِنًا حَتَّى يَعْلَمَ كُلَّ عَقِيدَةٍ مِنْ هَذِهِ الْخَمْسِينَ
بِدَلِيلِهَا. |
"Bahkan ia belum
dianggap sebagai mukmin hingga ia mengetahui setiap akidah dari kelima puluh
(sifat) ini beserta dalilnya." |
|
أَهَمِّيَّةُ هَذَا
الْعِلْمِ وَإِجْمَالُ الْعَقَائِدِ الْخَمْسِينَ |
PENTINGNYA
ILMU INI DAN RINCIAN GLOBAL KELIMA PULUH AKIDAH
|
|
وَتَقْدِيمُ
هَذَا الْعِلْمِ فَرْضٌ، كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ شَرْحِ الْعَقَائِدِ، |
Dan mendahulukan
(mempelajari) ilmu ini adalah fardu, sebagaimana yang diambil dari kitab Syarh
al-'Aqa'id, |
|
لِأَنَّهُ
جَعَلَهُ أَسَاسًا يَنْبَنِي عَلَيْهِ غَيْرُهُ، |
karena ia menjadikannya
sebagai fondasi yang mana (ilmu dan amal) selainnya dibangun di atasnya. |
|
فَلَا يَصِحُّ
الْحُكْمُ بِوُضُوءِ الشَّخْصِ أَوْ صَلَاتِهِ إِلَّا إِذَا كَانَ عَالِمًا
بِهَذِهِ الْعَقَائِدِ أَوْ جَازِمًا بِهَا عَلَى الْخِلَافِ فِي ذَلِكَ. |
Maka, tidak sah hukum wudu
atau salat seseorang kecuali jika ia telah mengetahui akidah-akidah ini, atau
meyakininya dengan mantap, berdasarkan perbedaan pendapat dalam hal tersebut. |
|
وَإِذَا
قِيلَ: الْعَجْزُ مُسْتَحِيلٌ عَلَيْهِ تَعَالَى، كَانَ الْمَعْنَى أَنَّ
الْعَجْزَ لَا يُصَدِّقُ الْعَقْلُ بِوُقُوعِهِ لِلَّهِ تَعَالَى وَوُجُودِهِ، |
Dan jika dikatakan:
"Sifat lemah (al-'ajz) itu mustahil bagi-Nya Ta'ala," maka
maknanya adalah bahwa akal tidak membenarkan keterjadian dan keberadaan sifat
lemah tersebut bagi Allah Ta'ala. |
|
وَكَذَا
يُقَالُ فِي بَاقِي الْمُسْتَحِيلَاتِ. |
Dan demikian pula yang
diucapkan pada sifat-sifat mustahil lainnya. |
|
وَإِذَا
قِيلَ: رَزَقَ اللَّهُ زَيْدًا بِدِينَارٍ يُقَالُ جَائِزٌ، |
Dan jika dikatakan:
"Allah memberikan rezeki kepada Zaid sebesar satu dinar," hal ini
disebut jaiz. |
|
كَانَ
الْمَعْنَى أَنَّ ذَلِكَ يُصَدِّقُ الْعَقْلُ بِوُجُودِهِ تَارَةً وَبِعَدَمِهِ
أُخْرَى. |
Maknanya adalah bahwa hal
tersebut dibenarkan oleh akal keberadaannya pada satu waktu, dan (dibenarkan
pula) ketiadaannya pada waktu yang lain. |
|
وَلْنَذْكُرْ
لَكَ الْعَقَائِدَ الْخَمْسِينَ مُجْمَلَةً قَبْلَ ذِكْرِهَا مُفَصَّلَةً:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ: |
Dan mari kami sebutkan
kepadamu kelima puluh akidah tersebut secara global sebelum menyebutkannya
secara terperinci. Maka ketahuilah bahwa: |
|
يَجِبُ لَهُ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عِشْرُونَ صِفَةً. |
Wajib bagi-Nya Subhanahu
wa Ta'ala dua puluh sifat. |
|
وَيَسْتَحِيلُ
عَلَيْهِ عِشْرُونَ. |
Dan mustahil bagi-Nya dua
puluh sifat. |
|
وَيَجُوزُ فِي
حَقِّهِ أَمْرٌ وَاحِدٌ. فَهَذِهِ
إِحْدَى وَأَرْبَعُونَ. |
Dan jaiz (boleh/mungkin)
pada hak-Nya satu hal. Maka ini berjumlah empat puluh satu. |
|
وَيَجِبُ
لِلرُّسُلِ أَرْبَعَةٌ. |
Dan wajib bagi para rasul
empat sifat. |
|
وَيَسْتَحِيلُ
عَلَيْهِمْ أَرْبَعَةٌ. |
Dan mustahil bagi mereka
empat sifat. |
|
وَيَجُوزُ فِي
حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَمْرٌ وَاحِدٌ. |
Dan jaiz pada hak
mereka—semoga selawat dan salam tercurah kepada mereka—satu hal. |
|
فَهَذِهِ
الْخَمْسُونَ، وَسَيَأْتِي تَحْرِيرُ الْكَلَامِ عِنْدَ ذِكْرِهَا مُفَصَّلَةً
إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى. |
Maka inilah (genap) lima
puluh akidah. Dan akan datang penjelasan rinciannya ketika menyebutkannya
secara terperinci nanti, Insyaallah Ta'ala. |
|
الْأَوَّلُ مِنَ
الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ لَهُ تَعَالَى: الْوُجُودُ |
SIFAT
PERTAMA DARI SIFAT-SIFAT YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-WUJUD (ADA)
|
|
تَعْرِيفُ الْوُجُودِ
عِنْدَ غَيْرِ الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ |
Definisi Wujud Menurut
Selain Imam Abul Hasan al-Asy'ari |
|
وَاخْتَلَفَ
فِي مَعْنَاهُ، فَقَالَ غَيْرُ الْإِمَامِ الْأَشْعَرِيِّ وَمَنْ تَبِعَهُ:
الْوُجُودُ هِيَ الْحَالُ الْوَاجِبَةُ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ الذَّاتُ،
وَهَذِهِ الْحَالُ لَا تُعَلَّلُ بِعِلَّةٍ. |
Ulama berbeda pendapat
mengenai maknanya. Ulama selain Imam al-Asy'ari dan para pengikutnya berkata:
Wujud adalah keadaan (hal) yang wajib [menetap] bagi suatu zat selama
zat tersebut ada, dan keadaan ini tidak dilatarbelakangi oleh suatu sebab ('illat). |
|
وَمَعْنَى
كَوْنِهِ حَالًا أَنَّهَا لَمْ تَرْتَقِ إِلَى دَرَجَةِ الْمَوْجُودِ حَتَّى
تُشَاهَدَ وَلَمْ تَنْحَطَّ إِلَى دَرَجَةِ الْمَعْدُومِ حَتَّى تَكُونَ عَدَمًا
مَحْضًا، بَلْ هِيَ وَاسِطَةٌ بَيْنَ الْمَوْجُودِ وَالْمَعْدُومِ، |
Makna wujud sebagai sebuah
keadaan (hal) adalah bahwa ia belum naik ke derajat maujud (hal
yang nyata) sehingga bisa diindra, dan belum pula turun ke derajat ma'dum
(hal yang tiada) sehingga menjadi ketiadaan murni. Melainkan, ia adalah
perantara antara yang maujud dan yang ma'dum. |
|
فَوُجُودُ
زَيْدٍ مَثَلًا حَالٌ وَاجِبَةٌ لِذَاتِهِ، أَيْ: لَا تَنْفَكُّ عَنْهَا. |
Maka wujud Zaid misalnya,
adalah suatu keadaan yang wajib bagi zatnya, yakni tidak dapat terlepas
darinya. |
|
وَمَعْنَى
قَوْلِهِمْ: لَا تُعَلَّلُ بِعِلَّةٍ: أَنَّهَا لَمْ تَنْشَأْ عَنْ شَيْءٍ
بِخِلَافِ كَوْنِ زَيْدٍ قَادِرًا مَثَلًا، فَإِنَّهُ نَشَأَ عَنْ قُدْرَتِهِ. |
Dan makna ucapan mereka:
"tidak dilatarbelakangi oleh suatu 'illat" adalah bahwa
wujud itu tidak timbul dari sesuatu yang lain. Berbeda halnya dengan keadaan
Zaid yang qadir (mampu) misalnya, karena ia timbul dari sifat
kemampuannya (qudrah). |
|
فَكَوْنُ
زَيْدٍ قَادِرًا مَثَلًا وَوُجُودُهُ حَالَانِ قَائِمَانِ بِذَاتِهِ غَيْرُ
مَحْسُوسَيْنِ بِحَاسَّةٍ مِنَ الْحَوَاسِّ الْخَمْسِ، |
Maka, keadaan Zaid yang
mampu, misalnya, beserta wujudnya, adalah dua keadaan yang menetap pada
zatnya dan tidak dapat dirasakan oleh satu pun dari pancaindra. |
|
إِلَّا أَنَّ
الْأَوَّلَ لَهُ عِلَّةٌ يَنْشَأُ عَنْهَا، وَهِيَ الْقُدْرَةُ، وَالثَّانِي لَا
عِلَّةَ لَهُ، وَهَذَا ضَابِطٌ لِلْحَالِ النَّفْسِيَّةِ. |
Hanya saja, keadaan yang
pertama memiliki sebab yang ia timbul darinya, yaitu qudrah, sedangkan
keadaan yang kedua tidak memiliki sebab. Dan inilah batasan bagi Sifat/Hal Nafsiyyah. |
|
وَكُلُّ حَالٍ
قَائِمَةٍ بِذَاتٍ غَيْرِ مُعَلَّلَةٍ بِعِلَّةٍ تُسَمَّى صِفَةً نَفْسِيَّةً،
وَهِيَ الَّتِي لَا تُعْقَلُ الذَّاتُ بِدُونِهَا، |
Dan setiap keadaan yang
menetap pada suatu zat yang tidak dilatarbelakangi oleh sebuah sebab,
dinamakan Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang mana zat tersebut tidak dapat
dinalar tanpanya. |
|
أَيْ: لَا
تُتَصَوَّرُ الذَّاتُ بِالْعَقْلِ وَتُدْرَكُ إِلَّا بِصِفَتِهَا النَّفْسِيَّةِ
كَالتَّحَيُّزِ لِلْجِرْمِ، فَإِنَّكَ إِنْ تَصَوَّرْتَهُ وَأَدْرَكْتَهُ
أَدْرَكْتَ أَنَّهُ مُتَحَيِّزٌ. |
Yakni, suatu zat tidak
dapat dibayangkan dan ditangkap oleh akal kecuali melalui sifat nafsiyyah-nya.
Seperti keniscayaan mengambil ruang bagi benda fisik (jirm), karena
sesungguhnya jika engkau membayangkannya dan memahaminya, engkau pasti
mengerti bahwa ia mengambil tempat. |
|
وَعَلَى هَذَا
الْقَوْلِ، وَهُوَ كَوْنُ الْوُجُودِ حَالًا، فَذَاتُ اللَّهِ غَيْرُ وُجُودِهِ
وَذَوَاتُ الْحَوَادِثِ غَيْرُ وُجُودَاتِهَا. |
Berdasarkan pendapat
ini—yakni memposisikan wujud sebagai suatu keadaan—maka Dzat Allah adalah
sesuatu yang berbeda (terpisah) dari wujud-Nya, dan zat-zat yang baru
(makhluk) juga berbeda dari wujud-wujud mereka. |
|
تَعْرِيفُ الْوُجُودِ
عِنْدَ الْإِمَامِ الْأَشْعَرِيِّ |
Definisi Wujud Menurut Imam
al-Asy'ari |
|
وَقَالَ
الْأَشْعَرِيُّ وَمَنْ تَبِعَهُ: الْوُجُودُ عَيْنُ الْمَوْجُودِ. |
Imam al-Asy'ari dan para
pengikutnya berkata: "Wujud adalah esensi dari sesuatu yang ada (maujud)
itu sendiri." |
|
فَعَلَى هَذَا
وُجُودُ اللَّهِ عَيْنُ ذَاتِهِ غَيْرُ زَائِدٍ عَلَيْهِ فِي الْخَارِجِ،
وَوُجُودُ الْحَادِثِ عَيْنُ ذَاتِهِ. |
Maka berdasarkan pijakan
ini, wujud Allah adalah esensi Dzat-Nya itu sendiri, bukan sesuatu yang
bertambah (terpisah) atas-Nya di alam nyata. Dan wujud hal yang baru juga
merupakan esensi dari zatnya. |
|
وَعَلَى هَذَا
لَا يَظْهَرُ عَدُّ الْوُجُودِ صِفَةً، لِأَنَّ الْوُجُودَ عَيْنُ الذَّاتِ
وَالصِّفَةُ غَيْرُ الذَّاتِ، بِخِلَافِهِ عَلَى الْقَوْلِ الْأَوَّلِ، فَإِنَّ
جَعْلَهُ صِفَةً ظَاهِرٌ. |
Atas dasar ini, tidak
tampak relevan menggolongkan wujud sebagai sifat, karena wujud adalah esensi
Dzat itu sendiri, sedangkan suatu sifat (harusnya) berbeda dari dzat. Berbeda
halnya berdasarkan pendapat pertama, maka menjadikannya sebagai sifat adalah sangat
berdasar (jelas). |
|
وَمَعْنَى
وُجُوبِ الْوُجُودِ لَهُ تَعَالَى عَلَى الْأَوَّلِ: أَنَّ الصِّفَةَ
النَّفْسِيَّةَ الَّتِي هِيَ: حَالٌ ثَابِتَةٌ لَهُ تَعَالَى. |
Dan makna wajibnya wujud
bagi-Nya Ta'ala menurut pendapat pertama adalah: Bahwa Sifat Nafsiyyah—yang
berupa sebuah keadaan tersebut—adalah tetap (pasti melekat) bagi-Nya Ta'ala. |
|
وَمَعْنَاهُ
عَلَى الثَّانِي: أَنَّ ذَاتَهُ تَعَالَى مَوْجُودَةٌ مُحَقَّقَةٌ فِي
الْخَارِجِ، بِحَيْثُ لَوْ كُشِفَ عَنَّا الْحِجَابُ لَرَأَيْنَاهَا. |
Sedangkan maknanya menurut
pendapat kedua adalah: Bahwa Dzat-Nya Ta'ala itu ada dan berwujud nyata di
alam realitas, sekiranya hijab disingkap dari kita, niscaya kita akan dapat
melihat-Nya. |
|
فَذَاتُ
اللَّهِ تَعَالَى مُحَقَّقَةٌ إِلَّا أَنَّ الْوُجُودَ غَيْرُهَا عَلَى
الْأَوَّلِ وَهِيَ هُوَ عَلَى الثَّانِي. |
Maka, Dzat Allah Ta'ala itu
adalah nyata (hak). Hanya saja, wujud itu adalah sesuatu yang berbeda
(terpisah) darinya menurut pendapat pertama, dan ia adalah esensi Dzat itu
sendiri menurut pendapat kedua. |
|
بَيَانُ الدَّلِيلِ
عَلَى وُجُودِهِ تَعَالَى |
PENJELASAN DALIL ATAS
KEBERADAAN-NYA TA'ALA
|
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى وُجُودِهِ تَعَالَى حُدُوثُ الْعَالَمِ، أَيْ: وُجُودُهُ بَعْدَ عَدَمٍ. |
Dalil atas keberadaan-Nya
Ta'ala adalah kebaruan (huduts) alam semesta, yakni keberadaannya
setelah ketiadaan. |
|
وَالْعَالَمُ:
أَجْرَامٌ، كَالذَّوَاتِ، وَأَعْرَاضٌ، كَالْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ
وَالْأَلْوَانِ. |
Dan alam semesta ini
adalah: Benda fisik (ajram) seperti berbagai zat, dan sifat bawaan
benda (a'radh) seperti gerak, diam, dan warna-warni. |
|
وَإِنَّمَا
كَانَ حُدُوثُ الْعَالَمِ دَلِيلًا عَلَى وُجُودِ اللَّهِ تَعَالَى، |
Dijadikannya kebaruan alam
semesta ini sebagai dalil atas keberadaan Allah Ta'ala tidak lain, |
|
لِأَنَّهُ لَا
يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ حَادِثًا بِنَفْسِهِ مِنْ غَيْرِ مُوجِدٍ يُوجِدُهُ، |
karena alam ini tidak
mungkin (tidak logis) menjadi baru dengan sendirinya tanpa ada sang pencipta
yang mewujudkannya. |
|
لِأَنَّهُ
قَبْلَ وُجُودِهِ كَانَ وُجُودُهُ مُسَاوِيًا لِعَدَمِهِ. |
Sebab, sebelum
keberadaannya, potensi keberadaannya adalah sama (seimbang) dengan
ketiadaannya. |
|
فَلَمَّا
وُجِدَ وَزَالَ عَدَمُهُ عَلِمْنَا أَنَّ وُجُودَهُ تَرَجَّحَ عَلَى عَدَمِهِ، |
Maka tatkala ia terwujud
dan ketiadaannya sirna, tahulah kita bahwa keberadaannya telah diunggulkan
(dimenangkan) atas ketiadaannya. |
|
وَقَدْ كَانَ
هَذَا الْوُجُودُ مُسَاوِيًا لِلْعَدَمِ، فَلَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ تَرَجَّحَ
عَلَى الْعَدَمِ بِنَفْسِهِ، |
Padahal, wujud (keberadaan)
ini tadinya sama rata dengan ketiadaan, maka tidak mungkin ia mengungguli
ketiadaannya dengan sendirinya. |
|
فَتَعَيَّنَ
أَنَّ لَهُ مُرَجِّحًا غَيْرَهُ وَهُوَ الَّذِي أَوْجَدَهُ، |
Maka dapat dipastikan bahwa
ia memiliki pihak lain yang mengunggulkannya (murajjih), dan Dialah
yang mewujudkannya, |
|
لِأَنَّ
تَرَجُّحَ أَحَدِ الْأَمْرَيْنِ الْمُتَسَاوِيَيْنِ مِنْ غَيْرِ مُرَجِّحٍ
مُحَالٌ. |
karena unggulnya salah satu
dari dua hal yang seimbang tanpa adanya sang penentu keunggulan adalah sebuah
kemustahilan. |
|
مَثَلًا:
زَيْدٌ قَبْلَ وُجُودِهِ، يَجُوزُ أَنْ يُوجَدَ فِي سَنَةِ كَذَا وَيَجُوزُ أَنْ
يَبْقَى عَلَى عَدَمِهِ، فَوُجُودُهُ مُسَاوٍ لِعَدَمِهِ، |
Sebagai contoh: Zaid,
sebelum keberadaannya, boleh jadi ia terwujud di tahun sekian dan boleh jadi
pula ia tetap dalam ketiadaannya. Maka keberadaannya itu seimbang (setara)
dengan ketiadaannya. |
|
فَلَمَّا
وُجِدَ وَزَالَ عَدَمُهُ فِي الزَّمَنِ الَّذِي وُجِدَ فِيهِ عَلِمْنَا أَنَّ
وُجُودَهُ بِمُوجِدٍ لَا مِنْ نَفْسِهِ. |
Lalu ketika ia terwujud dan
ketiadaannya sirna pada masa saat ia terwujud, tahulah kita bahwa
keberadaannya itu karena ada yang mewujudkannya, bukan dari dirinya sendiri. |
|
فَحَاصِلُ
الدَّلِيلِ أَنْ تَقُولَ: الْعَالَمُ مِنْ أَجْرَامٍ وَأَعْرَاضٍ حَادِثٌ، أَيْ
مَوْجُودٌ بَعْدَ عَدَمٍ، |
Maka, rumusan kesimpulan
dari dalil ini adalah jika engkau berkata: "Alam semesta, yang terdiri
dari ajram dan a'radh, adalah hal yang baru (hadits),
yakni mewujud setelah ketiadaan. |
|
وَكُلُّ
حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ، فَيَنْتُجُ أَنَّ الْعَالَمَ لَا بُدَّ
لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ، |
Dan setiap hal yang baru
pastilah membutuhkan pencipta (muhdits)." Maka kesimpulannya
adalah alam semesta ini pasti membutuhkan pencipta. |
|
وَهَذَا
الَّذِي يُسْتَفَادُ بِالدَّلِيلِ الْعَقْلِيِّ. |
Dan (kesimpulan) inilah
yang diperoleh melalui dalil akal. |
|
وَأَمَّا
كَوْنُ الْمُحْدِثِ يُسَمَّى بِلَفْظِ الْجَلَالَةِ الشَّرِيفِ وَبِبَقِيَّةِ
الْأَسْمَاءِ، فَهُوَ مُسْتَفَادٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمْ أَفْضَلُ
الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ، فَتَنَبَّهْ لِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ. |
Adapun mengenai penamaan
sang pencipta dengan Lafal Jalalah (nama Allah) yang mulia beserta sisa
nama-nama-Nya yang lain, maka hal itu diperoleh dari (pemberitaan) para Nabi 'alaihim
afdhalus shalati was salam. Maka perhatikanlah dengan saksama masalah
ini. |
|
وَهَذَا
الدَّلِيلُ الَّذِي سَبَقَ وَهُوَ حُدُوثُ الْعَالَمِ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِهِ
تَعَالَى. |
Dan dalil yang telah
berlalu ini, yaitu kebaruan alam semesta, merupakan dalil yang membuktikan
keberadaan-Nya Ta'ala. |
|
وَأَمَّا
الدَّلِيلُ عَلَى حُدُوثِ الْعَالَمِ: فَاعْلَمْ أَنَّ الْعَالَمَ: أَجْرَامٌ
وَأَعْرَاضٌ فَقَطْ، كَمَا تَقَدَّمَ. |
Adapun dalil atas kebaruan
alam semesta itu sendiri: Ketahuilah bahwa alam semesta hanyalah sebatas ajram
dan a'radh saja, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya. |
|
وَالْأَعْرَاضُ
- كَالْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ - حَادِثَةٌ بِدَلِيلِ أَنَّكَ تُشَاهِدُهَا
مُتَغَيِّرَةً مِنْ وُجُودٍ إِلَى عَدَمٍ، وَمِنْ عَدَمٍ إِلَى وُجُودٍ، كَمَا
تَرَاهُ فِي حَرَكَةِ زَيْدٍ. |
Dan a'radh (sifat
bawaan)—seperti gerak dan diam—adalah hal yang baru. Dalilnya adalah engkau
menyaksikannya terus berubah-ubah dari wujud menjadi tiada, dan dari tiada
menjadi wujud, sebagaimana engkau melihatnya pada pergerakan Zaid. |
|
فَإِنَّهَا
تَنْعَدِمُ إِنْ كَانَ سَاكِنًا وَسُكُونُهُ يَنْعَدِمُ إِنْ كَانَ
مُتَحَرِّكًا، |
Sebab, pergerakan Zaid akan
sirna jika ia sedang diam, dan keadaan diamnya akan sirna jika ia sedang
bergerak. |
|
فَسُكُونُهُ
الَّذِي بَعْدَ حَرَكَتِهِ وُجِدَ بَعْدَ أَنْ كَانَ مَعْدُومًا بِالْحَرَكَةِ، |
Maka keadaan diamnya yang
terjadi setelah gerakannya, merupakan sesuatu yang terwujud setelah ia
ditiadakan (terhalang) oleh keadaan bergerak. |
|
وَحَرَكَتُهُ
الَّتِي بَعْدَ سُكُونِهِ وُجِدَتْ بَعْدَ أَنْ كَانَتْ مَعْدُومَةً
بِسُكُونِهِ، |
Begitu pula gerakannya yang
muncul setelah ia diam, merupakan sesuatu yang terwujud setelah ia ditiadakan
(terhalang) oleh keadaan diam. |
|
وَالْوُجُودُ
بَعْدَ الْعَدَمِ هُوَ الْحُدُوثُ، فَعَلِمْتَ أَنَّ الْأَعْرَاضَ حَادِثَةٌ. |
Dan keberadaan setelah
ketiadaan itulah hakikat kebaruan (al-huduts). Maka engkau pun
mengetahui bahwa a'radh itu adalah sesuatu yang baru. |
|
وَالْأَجْرَامُ
مُلَازِمَةٌ لِلْأَعْرَاضِ، لِأَنَّهَا لَا تَخْلُو عَنْ حَرَكَةٍ وَسُكُونٍ، |
Sementara itu, ajram
(materi) tidak bisa terlepas dari a'radh, karena benda mustahil sunyi
(terlepas) dari gerak maupun diam. |
|
وَكُلُّ مَا
لَازَمَ الْحَادِثَ فَهُوَ حَادِثٌ أَيْ: مَوْجُودٌ بَعْدَ عَدَمٍ،
فَالْأَجْرَامُ حَادِثَةٌ أَيْضًا كَالْأَعْرَاضِ. |
Dan segala sesuatu yang
terus menyertai hal yang baru, maka ia otomatis menjadi hal yang baru pula,
yakni keberadaannya muncul setelah ketiadaan. Dengan demikian, ajram
juga merupakan barang baru layaknya a'radh. |
|
فَحَاصِلُ
هَذَا الدَّلِيلِ أَنْ تَقُولَ: الْأَجْرَامُ مُلَازِمَةٌ لِلْأَعْرَاضِ
الْحَادِثَةِ، وَكُلُّ مَا لَازَمَ الْحَادِثَ حَادِثٌ، فَيَنْتُجُ: أَنَّ
الْأَجْرَامَ حَادِثَةٌ. |
Maka, rumusan kesimpulan
dalil ini adalah jika engkau berkata: "Ajram selalu menyertai a'radh
yang terbukti baru. Dan segala sesuatu yang menyertai barang baru adalah
barang baru pula." Maka kesimpulannya: Ajram adalah hal yang
baru. |
|
وَحُدُوثُ
الْأَمْرَيْنِ - أَعْنِي الْأَجْرَامَ وَالْأَعْرَاضَ - أَيْ: وُجُودُهُمَا
بَعْدَ عَدَمٍ: دَلِيلُ وُجُودِهِ تَعَالَى، |
Dan kebaruan kedua hal
tersebut—maksudku ajram dan a'radh—yakni wujud keberadaan
keduanya setelah ketiadaan, merupakan dalil atas keberadaan-Nya Ta'ala, |
|
لِأَنَّ كُلَّ
حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ، وَلَا مُحْدِثَ لِلْعَالَمِ إِلَّا
اللَّهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، كَمَا سَيَأْتِي فِي دَلِيلِ
الْوَحْدَانِيَّةِ لَهُ تَعَالَى. |
karena setiap hal yang baru
pasti membutuhkan pencipta, dan tidak ada pencipta bagi alam semesta ini
kecuali Allah Ta'ala semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana yang akan
dijelaskan dalam pembahasan dalil sifat Keesaan (Wahdaniyah) bagi-Nya
Ta'ala. |
|
وَهَذَا هُوَ
الدَّلِيلُ الْإِجْمَالِيُّ الَّذِي يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ مِنْ ذَكَرٍ
وَأُنْثَى مَعْرِفَتُهُ كَمَا يَقُولُهُ: ابْنُ الْعَرَبِيِّ وَالسَّنُوسِيُّ، |
Dan ini adalah dalil global
(ijmali) yang wajib diketahui oleh setiap mukalaf, baik laki-laki
maupun perempuan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu al-'Arabi dan
as-Sanusi. |
|
وَيُكَفِّرَانِ
مَنْ لَمْ يَعْرِفْهُ، فَاحْذَرْ أَنْ يَكُونَ فِي إِيمَانِكَ خِلَافٌ. |
Keduanya mengkafirkan
(menghukumi kafir) orang yang tidak mengetahuinya. Maka berhati-hatilah,
jangan sampai ada celah perselisihan mengenai keabsahan keimananmu. |
|
الصِّفَةُ الثَّانِيَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْقِدَمُ |
SIFAT KEDUA DARI SIFAT-SIFAT YANG
WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-QIDAM (MAHADAHULU)
|
|
وَمَعْنَاهُ:
عَدَمُ الْأَوَّلِيَّةِ، فَمَعْنَى كَوْنِ اللَّهِ تَعَالَى قَدِيمًا، أَنَّهُ
لَا أَوَّلَ لِوُجُودِهِ بِخِلَافِ زَيْدٍ مَثَلًا، فَوُجُودُهُ لَهُ أَوَّلٌ،
وَهُوَ خَلْقُ النُّطْفَةِ الَّتِي خُلِقَ مِنْهَا. |
Maknanya adalah: Tidak
berpermulaan. Maka maksud dari eksistensi Allah Ta'ala bersifat Qadim
adalah bahwa wujud-Nya tidak memiliki permulaan. Berbeda dengan Zaid,
misalnya, maka wujud keberadaannya memiliki permulaan, yaitu saat
diciptakannya nutfah (air mani) yang ia diciptakan darinya. |
|
وَاخْتُلِفَ:
هَلِ الْقَدِيمُ وَالْأَزَلِيُّ بِمَعْنًى وَاحِدٍ أَوْ مُخْتَلِفَانِ؟ |
Dan diperselisihkan (oleh
para ulama): Apakah Qadim dan Azali itu satu makna, ataukah
keduanya berbeda? |
|
فَمَنْ قَالَ
بِالْأَوَّلِ عَرَّفَهُمَا بِقَوْلِهِ: مَا لَا أَوَّلَ لَهُ أَوْ يُفَسِّرُ مَا
بِشَيْءٍ، أَيِ: الْقَدِيمُ وَالْأَزَلِيُّ الشَّيْءُ الَّذِي لَا أَوَّلَ لَهُ،
فَيَشْمَلُ ذَاتَ اللَّهِ وَجَمِيعَ صِفَاتِهِ. |
Maka siapa saja yang
berpendapat dengan (pendapat) pertama, ia mendefinisikan keduanya dengan
ucapannya: "Sesuatu yang tidak berpermulaan." Atau ia menafsirkan
kata 'ma' (sesuatu) dengan 'syai'' (entitas). Yakni: Qadim
dan Azali adalah sesuatu yang tidak memiliki permulaan. Maka hal ini
mencakup Dzat Allah beserta seluruh sifat-sifat-Nya. |
|
وَمَنْ قَالَ
بِالثَّانِي عَرَّفَ الْقَدِيمَ بِقَوْلِهِ: مَوْجُودٌ لَا أَوَّلَ لَهُ، |
Dan siapa saja yang
berpendapat dengan (pendapat) kedua, ia mendefinisikan Qadim dengan
ucapannya: "Sesuatu yang berwujud dan tidak berpermulaan." |
|
وَعَرَّفَ
الْأَزَلِيَّ بِمَا لَا أَوَّلَ لَهُ أَعَمَّ مِنْ أَنْ يَكُونَ مَوْجُودًا أَوْ
غَيْرَ مَوْجُودٍ، فَهُوَ أَعَمُّ مِنَ الْقَدِيمِ. |
Dan ia mendefinisikan Azali
dengan: "Sesuatu yang tidak berpermulaan", yang maknanya lebih
umum, mencakup hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Dengan demikian,
ia (Azali) lebih umum daripada Qadim. |
|
فَيَجْتَمِعَانِ
فِي ذَاتِهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ الْوُجُودِيَّةِ، فَيُقَالُ لِذَاتِهِ
تَعَالَى: أَزَلِيَّةٌ، وَلِقُدْرَتِهِ تَعَالَى: أَزَلِيَّةٌ، |
Maka, keduanya dapat
terkumpul pada Dzat-Nya Ta'ala dan sifat-sifat-Nya yang berdimensi wujud.
Sehingga dapat diucapkan bagi Dzat-Nya Ta'ala: Azaliyyah, dan bagi
sifat Qudrah-Nya Ta'ala: Azaliyyah. |
|
وَيَنْفَرِدُ
الْأَزَلِيُّ فِي الْأَحْوَالِ كَكَوْنِ اللَّهِ تَعَالَى قَادِرًا عَلَى
الْقَوْلِ بِهَا، |
Namun, (istilah) Azali
ini menyendiri [tanpa Qadim] dalam perkara ahwal (keadaan),
seperti pada keadaan Allah Ta'ala yang Mahakuasa (Kaunuhu Qadiran),
berdasarkan pendapat yang mengakui konsep (ahwal) tersebut. |
|
فَإِنَّ
كَوْنَ اللَّهِ تَعَالَى قَادِرًا يُقَالُ لَهُ: أَزَلِيٌّ عَلَى هَذَا
الْقَوْلِ، وَلَا يُقَالُ لَهُ: قَدِيمٌ |
Sebab, keberadaan Allah
Ta'ala yang Mahakuasa itu disebut sebagai Azali menurut pendapat ini,
namun tidak disebut sebagai Qadim. |
|
لِمَا
عَرَفْتَ أَنَّ الْقَدِيمَ لَا بُدَّ فِيهِ مِنَ الْوُجُودِ، وَالْكَوْنُ
قَادِرًا لَمْ يَرْتَقِ إِلَى دَرَجَةِ الْوُجُودِ لِأَنَّهُ حَالٌ. |
Hal ini karena engkau telah
mengetahui bahwa (syarat) Qadim itu pastilah harus memiliki wujud,
sementara 'keadaan Mahakuasa' belumlah naik ke derajat wujud, karena
esensinya sekadar keadaan (hal). |
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى قِدَمِهِ تَعَالَى: أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدِيمًا كَانَ حَادِثًا،
لِأَنَّهُ لَا وَاسِطَةَ بَيْنَ الْقَدِيمِ وَالْحَادِثِ، فَكُلُّ شَيْءٍ
انْتَفَى عَنْهُ الْقِدَمُ ثَبَتَ لَهُ الْحُدُوثُ، |
Adapun dalil atas
kemahadahuluan-Nya Ta'ala adalah: Bahwa seandainya Dia tidak bersifat Qadim,
niscaya Dia adalah barang baru (hadits). Karena, tidak ada perantara
di antara Qadim dan Hadits. Maka segala sesuatu yang tertolak
darinya sifat Qadim, pastilah ditetapkan baginya sifat Huduts
(baru). |
|
وَإِذَا كَانَ
تَعَالَى حَادِثًا افْتَقَرَ إِلَى مُحْدِثٍ يُحْدِثُهُ، وَافْتَقَرَ مُحْدِثُهُ
إِلَى مُحْدِثٍ، وَهَكَذَا. |
Dan jika Dia Ta'ala
merupakan hal yang baru, niscaya Dia membutuhkan pencipta yang
menciptakan-Nya. Lalu penciptanya tersebut juga membutuhkan pencipta lain,
begitu seterusnya. |
|
فَإِنْ لَمْ
تَقِفِ الْمُحْدِثُونَ لَزِمَ التَّسَلْسُلُ: وَهُوَ تَتَابُعُ الْأَشْيَاءِ
وَاحِدًا بَعْدَ وَاحِدٍ إِلَى مَا لَا نِهَايَةَ لَهُ، وَالتَّسَلْسُلُ مُحَالٌ. |
Maka jika rentetan para
pencipta ini tidak berhenti, terjadilah Tasalsul, yaitu: berurutannya
hal-hal satu demi satu hingga tidak ada batas akhirnya. Dan tasalsul
itu mustahil. |
|
وَإِنِ
انْتَهَتِ الْمُحْدِثُونَ بِأَنْ قِيلَ: إِنَّ الْمُحْدِثَ الَّذِي أَحْدَثَ
اللَّهَ أَحْدَثَهُ اللَّهُ لَزِمَ الدَّوْرُ وَهُوَ تَوَقُّفُ شَيْءٍ عَلَى
شَيْءٍ آخَرَ تَوَقَّفَ عَلَيْهِ. |
Dan jika rentetan pencipta
itu berhenti dengan dikatakan: "Sesungguhnya pencipta yang menciptakan
Allah itu diciptakan pula oleh Allah," maka terjadilah Daur,
yaitu: bergantungnya sesuatu pada hal lain, yang mana (hal lain itu) juga
bergantung kepadanya. |
|
فَإِنَّهُ
إِذَا كَانَ اللَّهُ تَعَالَى عَزَّ وَجَلَّ مُحْدَثًا كَانَ مُتَوَقِّفًا عَلَى
هَذَا الْمُحْدِثِ، وَقَدْ فَرَضْنَا أَنَّ اللَّهَ أَحْدَثَ هَذَا الْمُحْدِثَ،
فَيَكُونُ الْمُحْدِثُ مُتَوَقِّفًا عَلَى أَنَّهُ...وَالدَّوْرُ مُحَالٌ، أَيْ:
لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ. |
Sebab, jika Allah Ta'ala
'Azza wa Jalla merupakan sesuatu yang baru, maka Ia bergantung pada sang
pencipta ini. Sementara kita telah mengasumsikan bahwa Allah-lah yang
menciptakan sang pencipta ini, maka sang pencipta tersebut pun menjadi
bergantung kepada-Nya... Dan Daur itu mustahil, yakni tidak dapat
dibayangkan keberadaannya oleh akal. |
|
وَالَّذِي
أَدَّى إِلَى الدَّوْرِ وَالتَّسَلْسُلِ الْمُحَالَيْنِ فَرْضُ حُدُوثِهِ
تَعَالَى عَزَّ وَجَلَّ، فَيَكُونُ حُدُوثُهُ تَعَالَى مُحَالًا، لِأَنَّ كُلَّ
شَيْءٍ يُؤَدِّي إِلَى الْمُحَالِ
مُحَالٌ. |
Dan perkara yang
menjerumuskan pada Daur dan Tasalsul yang mustahil tersebut
adalah asumsi (yang menganggap) adanya sifat baru bagi-Nya Ta'ala 'Azza wa
Jalla. Maka sifat baru bagi-Nya Ta'ala adalah mustahil, karena segala sesuatu
yang berujung pada kemustahilan, maka hal itu adalah kemustahilan. |
|
فَحَاصِلُ
الدَّلِيلِ أَنْ تَقُولَ: لَوْ كَانَ اللَّهُ غَيْرَ قَدِيمٍ، بِأَنْ كَانَ
حَادِثًا، لَافْتَقَرَ إِلَى مُحْدِثٍ، فَيَلْزَمُ الدَّوْرُ أَوِ
التَّسَلْسُلُ، وَهُمَا مُحَالَانِ، فَيَكُونُ حُدُوثُهُ مُحَالًا، فَثَبَتَ
قِدَمُهُ وَهُوَ الْمَطْلُوبُ. |
Maka kesimpulan dalil ini
adalah jika engkau berkata: "Seandainya Allah tidak bersifat Qadim,
yakni Ia adalah hal yang baru, niscaya Ia membutuhkan pencipta. Sehingga
melazimkan terjadinya Daur atau Tasalsul, padahal keduanya
adalah hal yang mustahil. Maka kebaruan-Nya (pun) menjadi mustahil, sehingga
terbuktilah sifat Qidam-Nya, dan inilah hal yang dituntut
(dituju)." |
|
وَهَذَا
الدَّلِيلُ الْإِجْمَالِيُّ لِقِدَمِهِ تَعَالَى، وَبِهِ يَخْرُجُ الْمُكَلَّفُ
مِنْ رِبْقَةِ التَّقْلِيدِ الَّذِي يُخَلِّدُ صَاحِبَهُ فِي النَّارِ عَلَى
رَأْيِ ابْنِ الْعَرَبِيِّ وَالسَّنُوسِيِّ كَمَا تَقَدَّمَ. |
Dan inilah dalil global
atas kemahadahuluan-Nya Ta'ala. Dengannya, seorang mukalaf dapat keluar dari
jeratan taklid yang dapat mengekalkan pelakunya di dalam neraka berdasarkan
pendapat Ibnu al-'Arabi dan as-Sanusi, sebagaimana yang telah berlalu. |
|
الصِّفَةُ الثَّالِثَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْبَقَاءُ |
SIFAT KETIGA DARI SIFAT-SIFAT YANG
WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-BAQA' (MAHA KEKAL)
|
|
وَمَعْنَاهُ:
عَدَمُ الْآخِرِيَّةِ لِلْوُجُودِ، فَمَعْنَى كَوْنِ اللَّهِ تَعَالَى بَاقِيًا
أَنَّهُ لَا آخِرَ لِوُجُودِهِ. |
Maknanya adalah: Tidak
adanya batasan akhir bagi sebuah wujud (keberadaan). Maka makna Allah Ta'ala
bersifat Baqi' (Mahakekal) adalah bahwa wujud-Nya tidak memiliki
akhir. |
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى بَقَائِهِ تَعَالَى: أَنَّهُ لَوْ جَازَ أَنْ يَلْحَقَهُ الْعَدَمُ
لَكَانَ حَادِثًا، فَيَفْتَقِرُ إِلَى مُحْدِثٍ، وَيَلْزَمُ الدَّوْرُ أَوِ
التَّسَلْسُلُ، وَقَدْ تَقَدَّمَ تَعْرِيفُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي دَلِيلِ
الْقِدَمِ. |
Dan dalil atas
kekekalan-Nya Ta'ala adalah: Bahwa seandainya wujud-Nya mungkin disusul oleh
ketiadaan (yakni binasa), niscaya Ia adalah sesuatu yang baru. Sehingga Ia
akan membutuhkan pencipta, dan hal ini melazimkan terjadinya Daur atau
Tasalsul. Dan sungguh telah berlalu definisi dari masing-masing
keduanya di dalam pembahasan dalil sifat Qidam. |
|
وَتَوْضِيحُهُ
أَنَّ الشَّيْءَ الَّذِي يَجُوزُ عَلَيْهِ الْعَدَمُ يَنْتَفِي عَنْهُ
الْقِدَمُ، |
Penjelasannya adalah bahwa
sesuatu yang mungkin tertimpa ketiadaan, maka sifat Qadim pasti
tertolak darinya. |
|
لِأَنَّ كُلَّ
مَنْ لَحِقَهُ الْعَدَمُ يَكُونُ وُجُودُهُ جَائِزًا، وَكُلُّ جَائِزِ
الْوُجُودِ يَكُونُ حَادِثًا، وَكُلُّ حَادِثٍ يَفْتَقِرُ إِلَى مُحْدِثٍ، |
Sebab, setiap yang tertimpa
ketiadaan, maka keberadaannya itu pastilah bersifat jaiz (boleh ada/boleh
tiada). Dan setiap yang keberadaannya jaiz adalah barang baru. Dan setiap
barang baru pasti membutuhkan pencipta. |
|
وَهُوَ
تَعَالَى ثَبَتَ لَهُ الْقِدَمُ بِالدَّلِيلِ الْمُتَقَدِّمِ، وَكُلُّ مَا
ثَبَتَ لَهُ الْقِدَمُ اسْتَحَالَ عَلَيْهِ الْعَدَمُ، فَدَلِيلُ الْبَقَاءِ
لَهُ تَعَالَى هُوَ دَلِيلُ الْقِدَمِ. |
Padahal Dia Ta'ala telah
terbukti (memiliki) sifat Qadim berdasarkan dalil terdahulu. Dan
segala sesuatu yang telah terbukti baginya sifat Qadim, mustahil
baginya (tertimpa) ketiadaan. Maka, dalil sifat Baqa' bagi-Nya Ta'ala
adalah (sama dengan) dalil sifat Qidam. |
|
وَحَاصِلُهُ
أَنْ تَقُولَ: لَوْ لَمْ يَجِبْ لَهُ الْبَقَاءُ بِأَنْ كَانَ يَجُوزُ عَلَيْهِ
لَانْتَفَى عَنْهُ الْقِدَمُ، وَالْقِدَمُ لَا يَصِحُّ انْتِفَاؤُهُ عَنْهُ
تَعَالَى لِلدَّلِيلِ الْمُتَقَدِّمِ. |
Kesimpulannya adalah jika
engkau berkata: "Seandainya tidak wajib bagi-Nya sifat Baqa'—yakni
ia mungkin saja (binasa)—niscaya tertolaklah sifat Qadim dari-Nya.
Padahal, sifat Qadim tidak sah (tidak mungkin) tertolak dari-Nya
Ta'ala berdasarkan dalil yang telah berlalu." |
|
وَهَذَا هُوَ
الدَّلِيلُ الْإِجْمَالِيُّ لِلْبَقَاءِ الَّذِي يَجِبُ عَلَى كُلِّ شَخْصٍ أَنْ
يَعْلَمَهُ، وَهَكَذَا كُلُّ عَقِيدَةٍ يَجِبُ أَنْ يَعْلَمَهَا وَيَعْلَمَ
دَلِيلَهَا الْإِجْمَالِيَّ، |
Dan inilah dalil global
untuk sifat Baqa' yang wajib diketahui oleh setiap orang. Dan
demikianlah halnya pada setiap (perkara) akidah; ia wajib meyakininya
sekaligus mengetahui dalil globalnya. |
|
فَإِذَا
عَرَفَ بَعْضَ الْعَقَائِدِ بِدَلِيلِهِ وَلَمْ يَعْرِفِ الْبَاقِيَ
بِدَلِيلِهِ، لَمْ يَكْفِ فِي الْإِيمَانِ عَلَى رَأْيِ مَنْ لَمْ يَكْتَفِ
بِالتَّقْلِيدِ. |
Maka apabila ia mengetahui
sebagian akidah beserta dalilnya, namun ia tidak mengetahui sisanya beserta
dalilnya, (maka hal itu) belum mencukupi dalam hal keimanan menurut pandangan
orang (ulama) yang tidak mencukupkan diri dengan taklid. |
|
الصِّفَةُ الرَّابِعَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ |
SIFAT KEEMPAT DARI SIFAT-SIFAT
YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-MUKHALAFATU LIL HAWADITS (BERBEDA DENGAN
HAL-HAL YANG BARU/MAKHLUK)
|
|
أَيِ:
الْمَخْلُوقَاتِ، فَاللَّهُ تَعَالَى مُخَالِفٌ لِكُلِّ مَخْلُوقٍ مِنْ إِنْسٍ
وَجِنٍّ وَمَلَكٍ وَغَيْرِهَا، |
Yakni: makhluk-makhluk.
Maka Allah Ta'ala itu berbeda dengan setiap makhluk, baik dari golongan
manusia, jin, malaikat, maupun selainnya. |
|
فَلَا يَصِحُّ
اتِّصَافُهُ تَعَالَى بِأَوْصَافِ الْحَوَادِثِ مِنْ مَشْيٍ وَقُعُودٍ
وَجَوَارِحَ، |
Maka tidak sah (tidak
mungkin) Dia Ta'ala disifati dengan sifat-sifat makhluk, seperti berjalan,
duduk, dan memiliki anggota badan fisik (jawarih). |
|
فَهُوَ
تَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنِ الْجَوَارِحِ، مِنْ فَمٍ وَعَيْنٍ وَأُذُنٍ وَغَيْرِهَا. |
Maka Dia Ta'ala Mahasuci
dari (memiliki) anggota badan, seperti mulut, mata, telinga, dan selainnya. |
|
فَكُلُّ مَا
خَطَرَ بِبَالِكَ مِنْ طُولٍ وَعَرْضٍ وَقِصَرٍ وَسِمَنٍ فَاللَّهُ تَعَالَى
بِخِلَافِهِ تَنَزَّهَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ جَمِيعِ أَوْصَافِ الْخَلْقِ. |
Maka segala sesuatu yang
terlintas di benakmu berupa [bentuk] panjang, lebar, pendek, maupun gemuk,
sungguh Allah Ta'ala berbeda dengan hal tersebut. Allah Ta'ala Mahasuci dari
seluruh sifat-sifat makhluk. |
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى وُجُوبِ الْمُخَالَفَةِ لَهُ تَعَالَى: أَنَّهُ لَوْ كَانَ شَيْءٌ مِنَ
الْحَوَادِثِ يُمَاثِلُهُ تَعَالَى، |
Dan dalil atas wajibnya
sifat Berbeda (Mukhalafah) bagi-Nya Ta'ala adalah: Bahwa seandainya
ada sesuatu dari hal-hal yang baru (makhluk) yang menyamai-Nya Ta'ala, |
|
أَيْ: إِذَا
كَانَ اللَّهُ تَعَالَى لَوْ فُرِضَ اتِّصَافُهُ بِشَيْءٍ مِمَّا اتَّصَفَ بِهِ
الْحَادِثُ، لَكَانَ حَادِثًا، |
Yakni: jika diasumsikan
Allah Ta'ala disifati dengan sesuatu yang menjadi sifat bagi hal yang baru,
niscaya Dia (juga) menjadi hal yang baru. |
|
وَإِذَا كَانَ
اللَّهُ تَعَالَى حَادِثًا لَافْتَقَرَ إِلَى مُحْدِثٍ، وَمُحْدِثُهُ إِلَى
مُحْدِثٍ، وَهَكَذَا، وَيَلْزَمُ الدَّوْرُ أَوِ التَّسَلْسُلُ، وَكُلٌّ
مِنْهُمَا مُحَالٌ. |
Dan jika Allah Ta'ala
merupakan hal yang baru, niscaya Dia membutuhkan pencipta, dan pencipta-Nya
membutuhkan pencipta lain, begitu seterusnya. Dan hal ini melazimkan
terjadinya Daur atau Tasalsul, padahal masing-masing dari
keduanya adalah hal yang mustahil. |
|
وَحَاصِلُ
هَذَا الدَّلِيلِ أَنْ تَقُولَ: لَوْ شَابَهَ اللَّهُ تَعَالَى حَادِثًا مِنَ
الْحَوَادِثِ فِي شَيْءٍ، لَكَانَ حَادِثًا مِثْلَهُ، |
Kesimpulan dari dalil ini
adalah jika engkau berkata: "Seandainya Allah Ta'ala menyerupai salah
satu dari hal-hal yang baru pada suatu perkara, niscaya Dia menjadi hal yang
baru semisal dengannya." |
|
لِأَنَّ مَا
جَازَ عَلَى أَحَدِ الْمِثْلَيْنِ جَازَ عَلَى الْآخَرِ، |
Karena sesuatu yang jaiz
(boleh/mungkin terjadi) pada salah satu dari dua hal yang serupa, maka jaiz
pula pada hal yang lainnya. |
|
وَحُدُوثُهُ
تَعَالَى مُسْتَحِيلٌ لِأَنَّهُ تَعَالَى وَاجِبٌ لَهُ الْقِدَمُ، |
Padahal, kebaruan bagi-Nya
Ta'ala adalah hal yang mustahil, karena wajib bagi-Nya Ta'ala sifat Qidam
(Mahadahulu). |
|
وَإِذَا
انْتَفَى عَنْهُ تَعَالَى الْحُدُوثُ ثَبَتَ مُخَالَفَتُهُ تَعَالَى
لِلْحَوَادِثِ، فَلَيْسَ بَيْنَهُ تَعَالَى وَبَيْنَ الْحَوَادِثِ مُشَابَهَةٌ
فِي شَيْءٍ قَطْعًا. |
Dan apabila sifat kebaruan
tertolak dari-Nya Ta'ala, maka terbuktilah sifat Berbeda-Nya (Mukhalafah)
dengan hal-hal yang baru. Maka secara mutlak tidak ada sedikit pun keserupaan
antara Dia Ta'ala dengan hal-hal yang baru. |
|
وَهَذَا هُوَ
الدَّلِيلُ الْإِجْمَالِيُّ الْوَاجِبُ مَعْرِفَتُهُ كَمَا تَقَدَّمَ. |
Dan inilah dalil global
yang wajib diketahui, sebagaimana yang telah berlalu. |
|
الصِّفَةُ الْخَامِسَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْقِيَامُ بِالنَّفْسِ |
SIFAT KELIMA DARI SIFAT-SIFAT YANG
WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-QIYAMU BIN NAFSI (BERDIRI SENDIRI)
|
|
أَيْ:
بِالذَّاتِ، وَمَعْنَاهُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنِ الْمَحَلِّ وَالْمُخَصِّصِ،
وَالْمَحَلُّ الذَّاتُ، وَالْمُخَصِّصُ: الْمُوجِدُ. |
Yakni: (berdiri) dengan
Dzat-Nya sendiri. Maknanya adalah tidak membutuhkan mahall (tempat
bernaung) dan tidak pula membutuhkan mukhasshis (penentu/pencipta). Mahall
berarti Dzat [tempat berpijak], dan Mukhasshis berarti Sang Pencipta. |
|
فَمَعْنَى
كَوْنِ اللَّهِ تَعَالَى قَائِمًا بِنَفْسِهِ: أَنَّهُ غَنِيٌّ عَنْ ذَاتٍ
يَقُومُ بِهَا، وَغَنِيٌّ عَنْ مُوجِدٍ، لِأَنَّهُ تَعَالَى هُوَ الْمُوجِدُ
لِلْأَشْيَاءِ. |
Maka makna dari keadaan
Allah Ta'ala Berdiri Sendiri adalah: Bahwa Dia Mahakaya (tidak butuh)
terhadap suatu zat untuk bernaung padanya, dan Mahakaya (tidak butuh)
terhadap pencipta, karena Dia Ta'ala sendirilah Sang Pencipta bagi segala
sesuatu. |
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى أَنَّهُ تَعَالَى قَائِمٌ بِنَفْسِهِ أَنْ تَقُولَ: لَوْ كَانَ اللَّهُ
تَعَالَى مُحْتَاجًا إِلَى الْمَحَلِّ، أَيْ: ذَاتٍ يَقُومُ بِهَا كَمَا
افْتَقَرَ الْبَيَاضُ إِلَى الذَّاتِ الَّتِي يَقُومُ بِهَا، لَكَانَ صِفَةً،
كَمَا أَنَّ الْبَيَاضَ مَثَلًا صِفَةٌ، |
Dan dalil yang menunjukkan
bahwa Dia Ta'ala Berdiri Sendiri adalah jika engkau berkata: "Seandainya
Allah Ta'ala membutuhkan mahall, yakni suatu zat agar Dia bisa melekat
padanya sebagaimana warna putih yang membutuhkan zat (benda) untuk melekat
padanya, niscaya Dia hanyalah sebuah sifat, sebagaimana warna putih itu,
misalnya, adalah sebuah sifat." |
|
وَاللَّهُ
تَعَالَى لَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ صِفَةً، لِأَنَّهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ
بِالصِّفَاتِ، وَالصِّفَةُ لَا تَتَّصِفُ بِالصِّفَاتِ، فَلَيْسَ اللَّهُ
تَعَالَى بِصِفَةٍ. |
Padahal Allah Ta'ala tidak
sah (tidak mungkin) berstatus sebagai sifat, karena Dia Ta'ala disifati
dengan sifat-sifat, sedangkan sebuah sifat tidak mungkin disifati dengan
sifat-sifat (yang lain). Maka, Allah Ta'ala bukanlah sebuah sifat. |
|
وَلَوِ
افْتَقَرَ إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ لَكَانَ حَادِثًا، وَمُحْدِثُهُ يَكُونُ
حَادِثًا أَيْضًا، وَيَلْزَمُ الدَّوْرُ أَوِ التَّسَلْسُلُ. |
Dan seandainya Dia
membutuhkan pencipta yang mewujudkan-Nya, niscaya Dia adalah hal yang baru.
Dan pencipta-Nya itu juga merupakan hal yang baru, sehingga melazimkan
terjadinya Daur atau Tasalsul. |
|
فَثَبَتَ
أَنَّهُ تَعَالَى هُوَ الْغَنِيُّ الْغِنَى الْمُطْلَقَ، أَيْ: غَنِيٌّ عَنْ
كُلِّ شَيْءٍ، |
Maka terbuktilah bahwa Dia
Ta'ala adalah Dzat Yang Mahakaya dengan kekayaan yang mutlak, yakni tidak
butuh (terbebas) dari segala sesuatu. |
|
وَأَمَّا
غِنَى الْخَلْقِ فَهُوَ غِنًى مُقَيَّدٌ، أَيْ: عَنْ شَيْءٍ دُونَ شَيْءٍ،
وَاللَّهُ يَتَوَلَّى هُدَاكَ. |
Adapun kekayaan
(kemandirian) makhluk adalah kekayaan yang muqayyad (terbatas), yakni
mungkin tidak butuh pada satu hal, namun (tetap butuh) pada hal yang lain.
Dan (semoga) Allah senantiasa membimbingmu. |
|
الصِّفَةُ السَّادِسَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْوَحْدَانِيَّةُ |
SIFAT KEENAM DARI SIFAT-SIFAT YANG
WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-WAHDANIYYAH (MAHA ESA)
|
|
بِمَعْنَى:
عَدَمِ التَّعَدُّدِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ. |
Maknanya adalah: Tidak
adanya bilangan (kemajemukan/lebih dari satu) pada Dzat, Sifat-sifat, maupun
Perbuatan (Af'al). |
|
وَمَعْنَى
كَوْنِ اللَّهِ تَعَالَى وَاحِدًا فِي ذَاتِهِ: أَنَّ ذَاتَهُ تَعَالَى لَيْسَتْ
مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ، وَالتَّرْكِيبُ يُسَمَّى كَمًّا مُتَّصِلًا، |
Dan makna Allah Ta'ala itu
Esa pada Dzat-Nya adalah: Bahwa Dzat-Nya Ta'ala tidaklah tersusun dari
bagian-bagian. Ketersusunan ini dinamakan Kamm Muttashil (Kuantitas
yang bersambung). |
|
وَبِمَعْنَى
أَنَّهُ لَيْسَ ذَاتٌ فِي الْوُجُودِ وَلَا فِي الْإِمْكَانِ تُشْبِهُ ذَاتَهُ
تَعَالَى، وَهَذِهِ الْمُشَابَهَةُ الْمُسْتَحِيلَةُ تُسَمَّى كَمًّا
مُنْفَصِلًا. |
Dan (juga) bermakna bahwa
tidak ada satu dzat pun, baik di alam nyata maupun dalam kemungkinan (akal),
yang menyerupai Dzat-Nya Ta'ala. Keserupaan yang mustahil ini dinamakan Kamm
Munfashil (Kuantitas yang terpisah). |
|
فَالْوَحْدَانِيَّةُ
فِي الذَّاتِ نَفَتِ الْكَمَّيْنِ الْمُتَّصِلَ فِي الذَّاتِ وَالْمُنْفَصِلَ
فِيهَا. |
Maka, sifat Esa pada Dzat
telah meniadakan dua macam Kamm sekaligus, yaitu yang Muttashil
pada Dzat maupun yang Munfashil padanya. |
|
وَمَعْنَى
وَحْدَتِهِ تَعَالَى فِي الصِّفَاتِ: أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ تَعَالَى صِفَتَانِ
مُتَّفِقَتَانِ فِي الِاسْمِ وَالْمَعْنَى، كَقُدْرَتَيْنِ وَعِلْمَيْنِ
وَإِرَادَتَيْنِ، |
Dan makna keesaan-Nya
Ta'ala pada Sifat-sifat adalah: Bahwa Dia Ta'ala tidak memiliki dua sifat
yang sama dalam nama dan maknanya, seperti dua sifat Qudrah (kuasa),
dua sifat 'Ilm (pengetahuan), dan dua sifat Iradah (kehendak). |
|
فَلَيْسَ لَهُ
تَعَالَى إِلَّا قُدْرَةٌ وَاحِدَةٌ، وَإِرَادَةٌ وَاحِدَةٌ، وَعِلْمٌ وَاحِدٌ، |
Maka, tidak ada bagi-Nya
Ta'ala kecuali satu Qudrah, satu Iradah, dan satu 'Ilm. |
|
خِلَافًا
لِأَبِي سَهْلٍ الْقَائِلِ: بِأَنَّ لَهُ تَعَالَى عُلُومًا بِعَدَدِ
الْمَعْلُومَاتِ. |
Berbeda dengan pendapat Abu
Sahl yang mengatakan: Bahwa Dia Ta'ala memiliki ilmu-ilmu yang jumlahnya
sebanyak hal-hal yang diketahui (ma'lumat). |
|
وَهَذَا -
أَعْنِي التَّعَدُّدَ فِي الصِّفَاتِ - يُسَمَّى كَمًّا مُتَّصِلًا فِي
الصِّفَاتِ، |
Dan hal ini—maksudku
bilangan (kemajemukan) pada Sifat—dinamakan Kamm Muttashil pada Sifat. |
|
بِمَعْنَى
أَنَّهُ لَيْسَ لِأَحَدٍ صِفَةٌ تُشْبِهُ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ تَعَالَى، |
[Dan keesaan pada Sifat
juga] bermakna bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki sifat yang
menyerupai salah satu sifat dari sifat-sifat-Nya Ta'ala. |
|
وَهَذَا -
أَعْنِي كَوْنَ لِأَحَدٍ صِفَةً إِلَى آخِرِهِ - يُسَمَّى كَمًّا مُنْفَصِلًا
فِي الصِّفَاتِ. |
Dan hal ini—maksudku adanya
seseorang yang memiliki sifat (yang serupa) hingga akhir kalimat
tersebut—dinamakan Kamm Munfashil pada Sifat. |
|
فَالْوَحْدَةُ
فِي الصِّفَاتِ نَفَتِ الْكَمَّ الْمُتَّصِلَ وَالْمُنْفَصِلَ فِيهَا. |
Maka, keesaan pada Sifat
telah meniadakan Kamm Muttashil maupun Munfashil padanya. |
|
وَمَعْنَى
وَحْدَتِهِ تَعَالَى فِي الْأَفْعَالِ: أَنَّهُ لَيْسَ لِأَحَدٍ مِنَ
الْمَخْلُوقَاتِ فِعْلٌ، |
Dan makna keesaan-Nya
Ta'ala pada Perbuatan (Af'al) adalah: Bahwa tidak ada satu pun
perbuatan [yang mandiri] bagi makhluk mana pun. |
|
لِأَنَّهُ
تَعَالَى الْخَالِقُ لِأَفْعَالِ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمَلَائِكَةِ وَغَيْرِهِمَا، |
Karena Dia Ta'ala-lah yang
menciptakan perbuatan-perbuatan makhluk, baik (perbuatan) para nabi,
malaikat, maupun selain keduanya. |
|
وَأَمَّا مَا
يَقَعُ مِنْ مَوْتِ شَخْصٍ أَوْ إِيذَائِهِ عِنْدَ اعْتِرَاضِهِ مَثَلًا عَلَى
وَلِيٍّ مِنَ الْأَوْلِيَاءِ فَهُوَ بِخَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى يَخْلُقُهُ
عِنْدَ غَضَبِ الْوَلِيِّ عَلَى هَذَا الْمُعْتَرِضِ. |
Adapun kejadian berupa
matinya seseorang atau celakanya ia ketika menentang salah seorang
wali—misalnya—maka hal itu semata-mata dengan ciptaan Allah Ta'ala. Dia
menciptakannya di saat timbulnya kemarahan sang wali terhadap penentang
tersebut. |
|
وَلَا
تُفَسَّرُ الْوَحْدَةُ فِي الْأَفْعَالِ كَقَوْلِكَ: لَيْسَ لِغَيْرِ اللَّهِ
فِعْلٌ كَفِعْلِهِ، |
Dan keesaan dalam perbuatan
tidak boleh ditafsirkan seperti ucapanmu: "Selain Allah tidak memiliki
perbuatan yang seperti perbuatan-Nya." |
|
لِأَنَّهُ
يَقْتَضِي أَنَّهُ لِغَيْرِ اللَّهِ فِعْلٌ لَكِنَّهُ لَيْسَ كَفِعْلِ اللَّهِ،
وَهُوَ بَاطِلٌ، |
Karena hal itu
mengisyaratkan bahwa selain Allah itu memiliki perbuatan (tersendiri), hanya
saja tidak seperti perbuatan Allah. Dan pemahaman ini adalah batil. |
|
بَلْ هُوَ
اللَّهُ تَعَالَى الْخَالِقُ لِلْأَفْعَالِ كُلِّهَا، فَالَّذِي وَقَعَ مِنْكَ
مِنْ حَرَكَةِ يَدِكَ عِنْدَ ضَرْبِ زَيْدٍ مَثَلًا بِخَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى، |
Sebaliknya, Allah
Ta'ala-lah Sang Pencipta bagi seluruh perbuatan. Maka sesuatu yang
terjadi darimu berupa gerakan tanganmu ketika memukul Zaid, misalnya, itu
(juga) dengan ciptaan Allah Ta'ala. |
|
قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى: ﴿وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ﴾ الصَّافَّاتِ، |
Allah Ta'ala berfirman: "Padahal
Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS.
Ash-Shaffat: 96). |
|
وَكَوْنُ
غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى لَهُ فِعْلٌ يُسَمَّى كَمًّا مُنْفَصِلًا فِي
الْأَفْعَالِ. |
Dan anggapan bahwa pihak
selain Allah Ta'ala memiliki perbuatan (secara mandiri), hal ini dinamakan Kamm
Munfashil pada Perbuatan. |
|
فَالْوَحْدَانِيَّةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى نَفَتِ الْكُمُومَ الْخَمْسَةَ الْمُسْتَحِيلَةَ: |
Maka sifat Wahdaniyyah
yang wajib bagi-Nya Ta'ala telah meniadakan lima bentuk Kamm
(keterbilangan) yang mustahil (bagi Allah), yaitu: |
|
1. فَالْكَمُّ
الْمُتَّصِلُ فِي الذَّاتِ: تَرَكُّبُهَا مِنْ أَجْزَاءٍ. |
1. Kamm Muttashil
pada Dzat: Yakni tersusunnya Dzat dari bagian-bagian. |
|
2. وَالْكَمُّ
الْمُنْفَصِلُ فِيهَا: أَنْ يَكُونَ لَهَا ذَاتٌ تُشْبِهُهَا. |
2. Kamm Munfashil
padanya (Dzat): Yakni adanya suatu dzat (lain) yang menyerupai Dzat-Nya. |
|
3. وَالْكَمُّ
الْمُتَّصِلُ فِي الصِّفَاتِ: أَنْ يَكُونَ لَهُ تَعَالَى قُدْرَتَانِ، مَثَلًا. |
3. Kamm Muttashil
pada Sifat: Yakni keadaan di mana Dia Ta'ala memiliki dua sifat Qudrah,
misalnya. |
|
4. وَالْكَمُّ
الْمُنْفَصِلُ فِيهَا: أَنْ يَكُونَ لِغَيْرِهِ تَعَالَى صِفَةٌ تُشْبِهُ صِفَةً
مِنْ صِفَاتِهِ تَعَالَى. |
4. Kamm Munfashil
padanya (Sifat): Yakni adanya sifat milik selain Dia Ta'ala yang menyerupai
salah satu dari sifat-sifat-Nya Ta'ala. |
|
5. وَالْكَمُّ
الْمُنْفَصِلُ فِي الْأَفْعَالِ: أَنْ يَكُونَ لِغَيْرِهِ تَعَالَى فِعْلٌ. |
5. Kamm Munfashil
pada Perbuatan: Yakni adanya pihak selain Dia Ta'ala yang memiliki (kemampuan
menciptakan) perbuatan. |
|
وَهَذِهِ
الْكُمُومُ الْخَمْسَةُ انْتَفَتْ بِالْوَحْدَانِيَّةِ الْوَاجِبَةِ لَهُ
سُبْحَانَهُ. وَمَعْنَى الْكَمِّ الْعَدَدُ. |
Kelima macam Kamm
ini telah tertolak oleh sifat Wahdaniyyah yang wajib bagi-Nya Subhanahu
wa Ta'ala. Dan makna kata Al-Kamm adalah al-'adad
(jumlah/bilangan). |
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى وُجُوبِ الْوَحْدَانِيَّةِ لَهُ تَعَالَى: وُجُودُ
الْعَالَمِ: فَلَوْ كَانَ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْأُلُوهِيَّةِ لَا يَخْلُو
الْأَمْرُ: |
Dan dalil atas wajibnya
sifat Wahdaniyyah (Maha Esa) bagi-Nya Ta'ala adalah: (fakta) keberadaan alam semesta.
Seandainya Dia memiliki sekutu dalam ketuhanan, maka perkaranya tidak akan
lepas dari (dua keadaan): |
|
فَإِمَّا أَنْ
يَتَّفِقَا عَلَى وُجُودِ الْعَالَمِ بِأَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمَا: أَنَا
أُوجِدُهُ، وَيَقُولَ الْآخَرُ: أَنَا أُوجِدُهُ مَعَكَ لِنَتَعَاوَنْ عَلَيْهِ. |
Entah keduanya sepakat atas
pewujudan alam semesta, dengan cara salah satunya berkata: "Aku akan
mewujudkannya," dan yang lain berkata: "Aku akan mewujudkannya
bersamamu agar kita dapat saling bekerja sama." |
|
وَإِمَّا أَنْ
يَخْتَلِفَا فَيَقُولَ أَحَدُهُمَا: أَنَا أُوجِدُ الْعَالَمَ بِقُدْرَتِي،
وَيَقُولَ الْآخَرُ: أَنَا أُرِيدُ عَدَمَ وُجُودِهِ. |
Atau keduanya berselisih,
lalu salah satunya berkata: "Aku akan mewujudkan alam semesta dengan
kekuasaanku," dan yang lain menolak dengan berkata: "Aku
menghendaki ketiadaannya." |
|
فَإِنِ
اتَّفَقَا عَلَى وُجُودِ الْعَالَمِ بِأَنْ أَوْجَدَاهُ مَعًا، وَوُجِدَ
بِفِعْلِهِمَا لَزِمَ اجْتِمَاعُ مُؤَثِّرَيْنِ عَلَى أَثَرٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ
مُحَالٌ. |
Maka, jika keduanya sepakat
atas pewujudan alam semesta dengan cara mewujudkannya bersama-sama, dan alam
terwujud oleh perbuatan keduanya, niscaya hal itu melazimkan berkumpulnya dua
mu'atstsir (pencipta/penyebab) pada satu atsar (ciptaan/akibat)
yang sama, dan hal ini mustahil (secara akal). |
|
وَإِنِ
اخْتَلَفَا فَلَا يَخْلُو: إِمَّا أَنْ يَنْفُذَ مُرَادُ أَحَدِهِمَا، أَوْ: لَا
يَنْفُذَ مُرَادُ أَحَدِهِمَا: |
Dan jika keduanya
berselisih, maka tidak lepas dari (dua kemungkinan): entah kehendak salah
satunya terlaksana, atau kehendak keduanya sama-sama tidak terlaksana. |
|
فَإِنْ نَفَذَ
مُرَادُ أَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ، كَانَ الَّذِي لَمْ يَنْفُذْ مُرَادُهُ
عَاجِزًا، |
Apabila kehendak salah
satunya terlaksana dan yang lainnya tidak, berarti tuhan yang kehendaknya
tidak terlaksana (gagal) itu lemah ('ajiz). |
|
وَقَدْ
فَرَضْنَا أَنَّهُ مُسَاوٍ فِي الْأُلُوهِيَّةِ لِمَنْ نَفَذَ مُرَادُهُ،
فَإِذَا ثَبَتَ الْعَجْزُ لِهَذَا ثَبَتَ الْعَجْزُ لِلْآخَرِ، لِأَنَّهُ
مِثْلُهُ. |
Padahal kita telah
mengasumsikan sejak awal bahwa ia setara dalam hal ketuhanan dengan tuhan
yang kehendaknya terlaksana. Maka apabila sifat lemah telah terbukti pada
tuhan (yang kalah) ini, terbukti pula sifat lemah pada tuhan yang lain (yang
menang), karena ia sebanding dengannya. |
|
وَإِنْ لَمْ
يَنْفُذْ مُرَادُهُمَا كَانَا عَاجِزَيْنِ. |
Dan apabila kehendak
keduanya sama-sama tidak terlaksana, berarti keduanya sama-sama lemah. |
|
وَعَلَى كُلٍّ
- سَوَاءٌ اتَّفَقَا أَوْ اخْتَلَفَا - يَسْتَحِيلُ وُجُودُ شَيْءٍ مِنَ
الْعَالَمِ: |
Kesimpulannya, dalam
keadaan apa pun—baik keduanya sepakat maupun berselisih—mustahil ada sesuatu
dari alam semesta ini yang bisa terwujud. (Berikut rinciannya): |
|
لِأَنَّهُمَا
إِنِ اتَّفَقَا عَلَى وُجُودِهِ، يَلْزَمُ اجْتِمَاعُ مُؤَثِّرَيْنِ عَلَى
أَثَرٍ وَاحِدٍ، إِنْ نَفَذَ مُرَادُهُمَا، وَذَلِكَ مُحَالٌ، فَلَا يَتَأَتَّى
تَنْفِيذُ مُرَادِهِمَا، فَلَا يَصِحُّ أَنْ يُوجَدَ شَيْءٌ مِنَ الْعَالَمِ
حِينَئِذٍ. |
Karena jika keduanya
sepakat atas pewujudannya, hal itu akan berakibat berkumpulnya dua mu'atstsir
pada satu atsar manakala kehendak keduanya terlaksana berbarengan,
padahal hal tersebut mustahil. Sehingga pelaksanaan kehendak keduanya tidak
mungkin terjadi, yang berakibat tidak sah (mustahil) ada sesuatu dari alam
semesta yang terwujud saat itu. |
|
وَإِنِ
اخْتَلَفَا، وَنَفَذَ مُرَادُ أَحَدِهِمَا كَانَ الْآخَرُ عَاجِزًا، وَهَذَا
مِثْلُهُ، فَلَا يَصِحُّ أَنْ يُوجَدَ شَيْءٌ مِنَ الْعَالَمِ، لِأَنَّهُ
عَاجِزٌ فَلَمْ يَكُنِ الْإِلَهُ هُوَ إِلَّا وَاحِدًا. |
Dan jika keduanya
berselisih lalu kehendak salah satunya terlaksana, maka yang lain adalah
lemah, dan (tuhan yang menang) ini juga setara dengannya (ikut berstatus
lemah). Maka mustahil (pula) terwujud sesuatu dari alam semesta, karena ia
lemah. Dengan demikian, tidak ada Tuhan melainkan hanyalah Yang Maha Esa. |
|
وَإِنِ
اخْتَلَفَا، وَلَمْ يَنْفُذْ مُرَادُهُمَا كَانَا عَاجِزَيْنِ، فَلَمْ يَقْدِرَا
عَلَى وُجُودِ شَيْءٍ مِنَ الْعَالَمِ، وَالْعَالَمُ مَوْجُودٌ
بِالْمُشَاهَدَةِ، فَثَبَتَ أَنَّ الْإِلَهُ وَاحِدٌ وَهُوَ الْمَطْلُوبُ. |
Dan jika keduanya
berselisih lalu kehendak keduanya gagal terlaksana, berarti keduanya lemah,
sehingga mereka tidak akan mampu mewujudkan sesuatu apa pun dari alam
semesta. Sementara faktanya alam semesta ini nyata-nyata wujud berdasarkan
pengamatan mata. Maka terbuktilah bahwa Tuhan itu Maha Esa, dan inilah
perkara yang dituju (dari argumen ini). |
|
فَوُجُودُ
الْعَالَمِ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّتِهِ تَعَالَى، وَعَلَى أَنَّهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ فِي فِعْلٍ مِنَ الْأَفْعَالِ، وَلَا وَاسِطَةَ لَهُ فِي فِعْلٍ
جَلَّ تَعَالَى، وَهُوَ الْغَنِيُّ الْغِنَى الْمُطْلَقَ. |
Maka, wujudnya alam semesta
ini merupakan dalil atas keesaan-Nya Ta'ala, dan (bukti) bahwa Dia tidak
memiliki sekutu dalam satu perbuatan pun, serta tidak butuh kepada perantara
dalam melakukan perbuatan Jalla Ta'ala. Dan Dia Mahakaya dengan
kemandirian yang mutlak. |
|
وَمِنْ هَذَا
الدَّلِيلِ يُعْلَمُ أَنَّهُ لَا تَأْثِيرَ لِشَيْءٍ مِنَ النَّارِ،
وَالسِّكِّينِ، وَالْأَكْلِ فِي الْإِحْرَاقِ وَالْقَطْعِ وَالشِّبَعِ. |
Dan berpijak pada dalil
ini, dapat diketahui bahwa api, pisau, dan aktivitas makan sama sekali tidak
memiliki daya pengaruh (kemampuan mewujudkan) dalam proses pembakaran,
pemotongan, dan timbulnya rasa kenyang. |
|
بَلِ اللَّهُ
تَعَالَى يَخْلُقُ الْإِحْرَاقَ فِي الشَّيْءِ الَّذِي مَسَّتْهُ النَّارُ
عِنْدَ مَسِّهَا لَهُ، وَيَخْلُقُ الْقَطْعَ فِي الشَّيْءِ الَّذِي بَاشَرَتْهُ
السِّكِّينُ عِنْدَ مُبَاشَرَتِهَا لَهُ، وَيَخْلُقُ الشِّبَعَ عِنْدَ الْأَكْلِ
وَالرِّيَّ عِنْدَ الشُّرْبِ. |
Sebaliknya, Allah
Ta'ala-lah yang menciptakan (efek) hangus pada benda yang disentuh api
bertepatan pada saat api itu menyentuhnya. Dia pula yang menciptakan (efek)
terpotong pada benda yang terkena pisau bertepatan saat pisau itu
mengenainya, serta menciptakan rasa kenyang saat aktivitas makan dan rasa
hilang dahaga saat minum. |
|
فَمَنِ
اعْتَقَدَ أَنَّ النَّارَ مُحْرِقَةٌ بِطَبْعِهَا وَالْمَاءَ يَرْوِي
بِطَبْعِهِ، وَهَكَذَا، فَهُوَ كَافِرٌ بِإِجْمَاعٍ، |
Maka, barang siapa meyakini
bahwa api itu membakar murni karena tabiat (alami)-nya, dan air itu
menghilangkan haus karena tabiatnya, dan seterusnya, maka ia kafir
berdasarkan kesepakatan ulama (ijmak). |
|
وَمَنِ
اعْتَقَدَ أَنَّهَا مُحْرِقَةٌ بِقُوَّةٍ خَلَقَهَا اللَّهُ فِيهَا فَهُوَ
جَاهِلٌ فَاسِقٌ لِعَدَمِ عِلْمِهِ بِحَقِيقَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ. |
Dan barang siapa meyakini
bahwa api itu bisa membakar berkat suatu kekuatan yang diciptakan
(dititipkan) oleh Allah di dalam api tersebut, maka ia adalah orang yang
bodoh lagi fasik karena ketidaktahuannya terhadap hakikat Wahdaniyyah
(keesaan dalam perbuatan). |
|
وَهَذَا هُوَ
الدَّلِيلُ الْإِجْمَالِيُّ الَّذِي يَجِبُ عَلَى كُلِّ شَخْصٍ مَعْرِفَتُهُ
مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى، وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْهُ فَهُوَ كَافِرٌ عِنْدَ
السَّنُوسِيِّ وَابْنِ الْعَرَبِيِّ وَاللَّهُ تَعَالَى يَتَوَلَّى هُدَاكَ. |
Dan ini adalah dalil global
yang wajib diketahui oleh setiap mukalaf, baik laki-laki maupun perempuan.
Barang siapa yang tidak mengetahuinya maka ia dihukumi kafir menurut
pandangan as-Sanusi dan Ibnu al-'Arabi. Dan (semoga) Allah Ta'ala senantiasa
memberi hidayah kepadamu. |
|
وَالْقِدَمُ،
وَالْبَقَاءُ، وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَالْقِيَامُ بِنَفْسِهِ،
وَالْوَحْدَانِيَّةُ، صِفَاتٌ سَلْبِيَّةٌ، |
Adapun sifat Qidam, Baqa',
Mukhalafatu lil Hawadits, Qiyamuhu binafsihi, dan Wahdaniyyah,
(kelimanya) merupakan Sifat Salbiyyah. |
|
أَيْ:
مَعْنَاهَا سَلْبٌ وَنَفْيٌ، لِأَنَّ كُلًّا مِنْهَا نَفَى عَنِ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ مَا لَا يَلِيقُ بِهِ. |
Yakni: maknanya adalah
peniadaan (salb) dan penolakan (nafy). Dinamakan demikian
karena masing-masing dari kelima sifat tersebut menafikan (menolak) dari Dzat
Allah 'Azza wa Jalla hal-hal yang tidak layak bagi-Nya. |
|
الصِّفَةُ السَّابِعَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْقُدْرَةُ |
SIFAT KETUJUH DARI SIFAT-SIFAT
YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-QUDRAH (MAHAKUASA)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
تُؤَثِّرُ فِي الْمُمْكِنِ الْوُجُودَ أَوِ الْعَدَمَ، |
Ia adalah sifat yang
memberikan pengaruh pada perkara yang mungkin (mumkin), baik
mewujudkannya maupun meniadakannya. |
|
فَتَتَعَلَّقُ
بِالْمَعْدُومِ فَتُوجِدُهُ، كَتَعَلُّقِهَا بِكَ قَبْلَ وُجُودِكَ، |
Maka ia berkaitan dengan
sesuatu yang tiada (ma'dum) lalu mewujudkannya, seperti keterkaitannya
dengan dirimu sebelum engkau terwujud. |
|
وَتَتَعَلَّقُ
بِالْمَوْجُودِ فَتُعْدِمُهُ، كَتَعَلُّقِهَا بِالْجِسْمِ الَّذِي أَرَادَ
اللَّهُ إِعْدَامَهُ فَيَصِيرُ بِهَا مَعْدُومًا، أَيْ: لَا شَيْءَ. |
Dan ia (juga) berkaitan
dengan sesuatu yang sudah ada (maujud) lalu meniadakannya, seperti
keterkaitannya dengan benda yang Allah kehendaki ketiadaannya, sehingga
dengan sifat tersebut benda itu menjadi tiada, yakni tidak ada sama sekali. |
|
وَهَذَا
التَّعَلُّقُ تَنْجِيزِيٌّ بِمَعْنَى أَنَّهَا تَعَلَّقَتْ بِالْفِعْلِ،
وَالتَّعَلُّقُ التَّنْجِيزِيُّ حَادِثٌ، |
Keterkaitan ini disebut
ta'alluq Tanjizi (fungsi pelaksaanan secara aktual), dengan pengertian
bahwa sifat tersebut telah beraksi secara nyata (bil fi'li). Dan
ta'alluq Tanjizi ini bersifat baru (hadits). |
|
وَلَهَا
تَعَلُّقٌ صُلُوحِيٌّ قَدِيمٌ، وَهُوَ صَلَاحِيَّتُهَا فِي الْأَزَلِ
لِلْإِيجَادِ، |
Dan sifat Qudrah
juga memiliki ta'alluq Suluhi Qadim (fungsi kepatutan/potensi yang tak
berawal), yaitu kepatutannya pada zaman azali untuk mewujudkan sesuatu. |
|
فَهِيَ
صَالِحَةٌ فِي الْأَزَلِ، لِأَنْ تُوجِدَ زَيْدًا طَوِيلًا أَوْ قَصِيرًا أَوْ
عَرِيضًا وَصَالِحَةٌ لِإِعْطَائِهِ الْعِلْمَ، |
Maka sifat tersebut patut
(berpotensi) sejak zaman azali untuk mewujudkan Zaid dalam keadaan tinggi,
pendek, atau lebar, dan patut pula untuk memberinya ilmu pengetahuan. |
|
وَتَعَلُّقُهَا
التَّنْجِيزِيُّ مُخْتَصٌّ بِالْحَالِ الَّذِي عَلَيْهِ زَيْدٌ. |
Adapun ta'alluq Tanjizi-nya
hanya khusus pada keadaan (nyata) yang dialami Zaid. |
|
فَلَهَا
تَعَلُّقَانِ: تَعَلُّقٌ صُلُوحِيٌّ قَدِيمٌ، وَهُوَ مَا مَرَّ وَتَعَلُّقٌ
تَنْجِيزِيٌّ حَادِثٌ، وَهُوَ تَعَلُّقُهَا بِالْمَعْدُومِ، فَتُوجِدُهُ
وَبِالْمَوْجُودِ فَتُعْدِمُهُ. |
Maka sifat ini memiliki dua
jenis ta'alluq [secara umum]: Ta'alluq Suluhi Qadim sebagaimana yang
telah lalu penjelasannya, dan ta'alluq Tanjizi Hadits, yaitu
keterkaitannya dengan hal yang tiada lalu mewujudkannya, dan dengan hal yang
sudah wujud lalu meniadakannya. |
|
وَهَذَا
أَعْنِي تَعَلُّقَهَا بِالْمَوْجُودِ وَبِالْمَعْدُومِ تَعَلُّقٌ حَقِيقِيٌّ، |
Dan hal ini—maksudku
keterkaitannya dengan yang wujud maupun yang tiada [untuk mengubah
statusnya]—adalah ta'alluq yang hakiki. |
|
وَلَهَا
تَعَلُّقٌ مَجَازِيٌّ، وَهُوَ تَعَلُّقُهَا بِالْمَوْجُودِ بَعْدَ وُجُودِهِ
وَقَبْلَ عَدَمِهِ، كَتَعَلُّقِهَا بِنَا بَعْدَ وُجُودِنَا وَقَبْلَ عَدَمِنَا، |
Di samping itu, ia (juga)
memiliki ta'alluq secara majasi (metaforis), yaitu keterkaitannya dengan
suatu hal yang wujud setelah keberadaannya namun sebelum ketiadaannya,
seperti keterkaitannya dengan kita setelah kita hidup (wujud) dan sebelum
kita tiada (mati). |
|
وَيُسَمَّى
تَعَلُّقَ قَبْضَةٍ، بِمَعْنَى: أَنَّ الْمَوْجُودَ فِي قَبْضَةِ الْقُدْرَةِ
إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَبْقَاهُ عَلَى وُجُودِهِ وَإِنْ شَاءَ أَعْدَمَهُ بِهَا. |
Hal ini dinamakan ta'alluq Qabdhoh
(keterkaitan dalam genggaman), yang bermakna: bahwa makhluk tersebut berada
di dalam genggaman kekuasaan-Nya; jika Allah berkehendak, Dia membiarkannya
tetap ada, dan jika Dia berkehendak, Dia meniadakannya dengan kekuasaan-Nya
itu. |
|
وَكَتَعَلُّقِهَا
بِالْمَعْدُومِ قَبْلَ أَنْ يُرِيدَ اللَّهُ تَعَالَى وُجُودَهُ كَتَعَلُّقِهَا
بِزَيْدٍ فِي زَمَنِ الطُّوفَانِ، |
Begitu pula keterkaitannya
dengan sesuatu yang tiada sebelum Allah Ta'ala menghendaki keberadaannya,
seperti keterkaitan-Nya dengan Zaid (yang belum lahir) pada masa peristiwa
banjir bandang (di zaman Nabi Nuh). |
|
فَهُوَ
تَعَلُّقُ قَبْضَةٍ أَيْضًا، بِمَعْنَى: أَنَّ الْمَعْدُومَ فِي قَبْضَةِ
الْقُدْرَةِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَبْقَاهُ عَلَى عَدَمِهِ، وَإِنْ شَاءَ
أَخْرَجَهُ مِنَ الْعَدَمِ إِلَى الْوُجُودِ. |
Maka ini pun disebut
ta'alluq Qabdhoh, yang bermakna: bahwa hal yang tiada itu berada di
dalam genggaman kekuasaan-Nya; jika Allah berkehendak, Dia akan membiarkannya
tetap tiada, dan jika Dia berkehendak, Dia akan mengeluarkannya dari
ketiadaan menuju alam wujud. |
|
وَكَتَعَلُّقِهَا
بِنَا بَعْدَ مَوْتِنَا وَقَبْلَ الْبَعْثِ فَيُسَمَّى تَعَلُّقَ قَبْضَةٍ
أَيْضًا، بِمَعْنَى مَا تَقَدَّمَ. |
Dan juga keterkaitannya
dengan kita setelah kematian kita dan sebelum (hari) kebangkitan; hal ini pun
disebut ta'alluq Qabdhoh, dengan makna yang sama seperti penjelasan
sebelumnya. |
|
فَلَهَا
سَبْعُ تَعَلُّقَاتٍ: |
Maka, secara rinci sifat Qudrah
itu memiliki tujuh (tahapan) ta'alluq: |
|
1. تَعَلُّقٌ
صُلُوحِيٌّ قَدِيمٌ. |
1. Ta'alluq Suluhi Qadim
(potensi sejak zaman azali). |
|
2. وَتَعَلُّقُ
قَبْضَةٍ: وَهُوَ تَعَلُّقُهَا بِنَا قَبْلَ أَنْ يُرِيدَ اللَّهُ وُجُودَنَا. |
2. Ta'alluq Qabdhoh
pertama: yaitu keterkaitannya dengan kita sebelum Allah menghendaki
keberadaan kita. |
|
3. وَتَعَلُّقٌ
بِالْفِعْلِ: وَهُوَ إِيجَادُ اللَّهِ تَعَالَى الشَّيْءَ بِهَا. |
3. Ta'alluq bil Fi'li
(aksi nyata): yaitu tindakan Allah Ta'ala mewujudkan sesuatu dengannya (Qudrah). |
|
4. وَتَعَلُّقُ
قَبْضَةٍ: وَهُوَ تَعَلُّقُهَا بِالشَّيْءِ بَعْدَ وُجُودِهِ، وَقَبْلَ أَنْ
يُرِيدَ اللَّهُ عَدَمَهُ. |
4. Ta'alluq Qabdhoh
kedua: yaitu keterkaitannya dengan sesuatu setelah ia wujud, namun sebelum
Allah menghendaki ketiadaannya. |
|
5. وَتَعَلُّقٌ
بِالْفِعْلِ: وَهُوَ إِعْدَامُ اللَّهِ الشَّيْءَ بِهَا. |
5. Ta'alluq bil Fi'li
kedua: yaitu tindakan Allah meniadakan sesuatu dengannya. |
|
6. وَتَعَلُّقُ
قَبْضَةٍ: بَعْدَ عَدَمِهِ وَقَبْلَ الْبَعْثِ. |
6. Ta'alluq Qabdhoh
ketiga: yaitu setelah ketiadaan sesuatu dan sebelum datangnya hari
kebangkitan. |
|
7. وَتَعَلُّقٌ
بِالْفِعْلِ: وَهُوَ إِيجَادُ اللَّهِ لَنَا يَوْمَ الْبَعْثِ. |
7. Ta'alluq bil Fi'li
ketiga: yaitu Allah mewujudkan (membangkitkan) kita kelak pada Hari
Kebangkitan. |
|
لَكِنَّ
التَّعَلُّقَ الْحَقِيقِيَّ مِنْ ذَلِكَ تَعَلُّقَانِ: هُوَ إِيجَادُ اللَّهِ
بِهَا وَإِعْدَامُهُ بِهَا. |
Akan tetapi, ta'alluq
hakiki (yang berupa aksi nyata mengubah status) dari keseluruhan hal tersebut
hanyalah dua: yaitu wujudnya perbuatan Allah mewujudkan dan meniadakan
sesuatu melaluinya. |
|
وَهَذَا عَلَى
التَّفْصِيلِيِّ، |
Dan ini adalah pembagian
berdasarkan rincian (tafsili). |
|
وَأَمَّا
الْإِجْمَالِيُّ فَلَهَا تَعَلُّقَانِ كَمَا هُوَ الشَّائِعُ: تَعَلُّقٌ
صُلُوحِيٌّ، وَتَعَلُّقٌ تَنْجِيزِيٌّ، |
Adapun secara global (ijmali),
Qudrah hanya memiliki dua ta'alluq sebagaimana yang populer: Ta'alluq Suluhi
dan Ta'alluq Tanjizi. |
|
لَكِنَّ
التَّنْجِيزِيَّ خَاصٌّ بِالْإِيجَادِ وَبِالْإِعْدَامِ، |
Namun ta'alluq Tanjizi
ini secara spesifik hanya berkaitan dengan tindakan mewujudkan dan
meniadakan. |
|
وَأَمَّا
تَعَلُّقُ الْقَبْضَةِ فَلَا يُوصَفُ بِالتَّنْجِيزِيِّ وَلَا بِالصُّلُوحِيِّ
الْقَدِيمِ. |
Adapun ta'alluq Qabdhoh,
ia tidak disifati dengan Tanjizi maupun Suluhi Qadim. |
|
وَمَا
تَقَدَّمَ أَنَّهَا تَتَعَلَّقُ بِالْوُجُودِ وَبِالْعَدَمِ هُوَ رَأْيُ
الْجُمْهُورِ، |
Dan penjelasan yang telah
lewat bahwa Qudrah berkaitan dengan wujud maupun tiada, adalah
pendapat mayoritas ulama (jumhur). |
|
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: لَا تَتَعَلَّقُ بِالْعَدَمِ، فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ، عَدَمَ
شَخْصٍ مَنَعَ عَنْهُ الْإِمْدَادَاتِ الَّتِي هِيَ سَبَبٌ فِي بَقَائِهِ. |
Sementara sebagian ulama
berpendapat: Qudrah tidak berkaitan dengan ketiadaan ('adam).
Maka apabila Allah menghendaki ketiadaan seseorang, Dia (sebatas) menahan
pasokan kelangsungan (imdadat) darinya, yang mana hal itu menjadi
sebab bagi keberlangsungan hidupnya. |
|
الصِّفَةُ الثَّامِنَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْإِرَادَةُ |
SIFAT KEDELAPAN DARI SIFAT-SIFAT
YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-IRADAH (MAHA BERKEHENDAK)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ، |
Ia adalah sifat yang
menentukan (mukhasshish) suatu hal yang mungkin (makhluk) dengan
sebagian kemungkinan yang jaiz (boleh) baginya. |
|
فَزَيْدٌ
مَثَلًا يَجُوزُ عَلَيْهِ الطُّولُ وَالْقِصَرُ، فَالْإِرَادَةُ خَصَّصَتْهُ
بِالطُّولِ مَثَلًا، |
Maka Zaid, misalnya, jaiz
baginya keadaan tinggi maupun pendek, namun sifat Iradah-lah yang
menentukannya dengan keadaan tinggi, misalnya. |
|
وَأَمَّا
الْقُدْرَةُ فَهِيَ تُبْرِزُ الطُّولَ مِنَ الْعَدَمِ إِلَى الْوُجُودِ،
فَالْإِرَادَةُ تُخَصِّصُ وَالْقُدْرَةُ تُبْرِزُ. |
Adapun Qudrah
(kekuasaan), ia berfungsi memunculkan keadaan tinggi itu dari ketiadaan
menuju wujud. Maka, Iradah bertugas menentukan, dan Qudrah
bertugas memunculkan (mewujudkan). |
|
وَالْمُمْكِنَاتُ
الَّتِي تَتَعَلَّقُ بِهَا الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ سِتَّةٌ: الْوُجُودُ
وَالْعَدَمُ وَالصِّفَاتُ، كَالطُّولِ وَالْقِصَرِ وَالْأَزْمِنَةِ
وَالْأَمْكِنَةِ وَالْجِهَاتِ، |
Dan perkara-perkara mumkin
(mungkin) yang berkaitan dengan Qudrah dan Iradah itu ada enam:
Wujud, Tiada, Sifat (seperti tinggi dan pendek), Waktu, Tempat, dan Arah. |
|
وَتُسَمَّى:
الْمُمْكِنَاتِ الْمُتَقَابِلَاتِ، |
(Keenam hal ini) dinamakan Al-Mumkinat
Al-Mutaqabilat (Kemungkinan-kemungkinan yang saling berlawanan). |
|
فَالْوُجُودُ
يُقَابِلُ الْعَدَمَ، وَالطُّولُ يُقَابِلُ الْقِصَرَ، وَجِهَةُ فَوْقُ
تُقَابِلُ جِهَةَ تَحْتُ، وَمَكَانُ كَذَا كَمِصْرَ يُقَابِلُ غَيْرَهُ
كالشَّامِ مَثَلًا. |
Maka sifat wujud berlawanan
dengan tiada, tinggi berlawanan dengan pendek, arah atas berlawanan dengan
arah bawah, dan suatu tempat—seperti Mesir—berlawanan dengan (tempat)
selainnya, seperti Syam, misalnya. |
|
وَحَاصِلُ
ذَلِكَ: أَنَّ زَيْدًا قَبْلَ وُجُودِهِ يَجُوزُ عَلَيْهِ أَنْ يَبْقَى عَلَى
عَدَمِهِ وَيَجُوزُ أَنْ يُوجَدَ فِي هَذَا الزَّمَانِ، |
Dan kesimpulan hal
tersebut: Bahwa Zaid sebelum keberadaannya, jaiz baginya tetap dalam
ketiadaannya, dan jaiz pula ia diwujudkan di masa ini. |
|
فَإِذَا
وُجِدَ فَقَدْ خَصَّصَتِ الْإِرَادَةُ وُجُودَهُ بَدَلًا عَنْ عَدَمِهِ،
وَالْقُدْرَةُ أَبْرَزَتِ الْوُجُودَ. |
Maka ketika ia terwujud,
(artinya) sifat Iradah telah menentukan wujudnya alih-alih
ketiadaannya, dan sifat Qudrah telah memunculkan wujud tersebut. |
|
وَيَجُوزُ
أَنْ يُوجَدَ فِي زَمَنِ الطُّوفَانِ وَفِي غَيْرِهِ، فَالَّذِي خَصَّصَ
وُجُودَهُ فِي هَذَا الزَّمَانِ دُونَ غَيْرِهِ هُوَ: الْإِرَادَةُ، |
Dan (sebelumnya) jaiz
baginya terwujud pada masa banjir bandang atau di masa selainnya, maka yang
menentukan wujudnya di masa ini (dan) bukan di masa lainnya adalah sifat Iradah. |
|
وَيَجُوزُ
أَنْ يَكُونَ طَوِيلًا أَوْ قَصِيرًا، فَالَّذِي خَصَّصَ طُولَهُ بَدَلًا عَنِ
الْقِصَرِ الْإِرَادَةُ، |
Dan jaiz ia dalam keadaan
tinggi atau pendek, maka yang menentukan keadaan tingginya alih-alih pendek
adalah Iradah. |
|
وَيَجُوزُ
أَنْ يَكُونَ فِي جِهَةِ فَوْقُ، فَالَّذِي خَصَّصَهُ فِي جِهَةِ تَحْتُ
كَالْأَرْضِ الْإِرَادَةُ. |
Dan jaiz (pula) ia berada
di arah atas, maka yang menentukannya berada di arah bawah, seperti
(berpijak) di bumi, adalah Iradah. |
|
وَالْقُدْرَةُ
وَالْإِرَادَةُ صِفَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالَى مُوجِدَتَانِ، لَوْ
كُشِفَ عَنَّا الْحِجَابُ لَرَأَيْنَاهُمَا، |
Qudrah dan Iradah adalah dua sifat yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala yang bersifat mewujudkan (memiliki wujud).
Seandainya penutup (hijab) disingkap dari kita, niscaya kita akan dapat
melihat keduanya. |
|
وَلَا
تَعَلُّقَ لَهُمَا إِلَّا بِالْمُمْكِنِ، |
Dan keduanya sama sekali
tidak berkaitan kecuali pada perkara yang mungkin (mumkin) saja. |
|
فَلَا
يَتَعَلَّقَانِ بِالْمُسْتَحِيلِ كَالشَّرِيكِ تَنَزَّهَ اللَّهُ تَعَالَى
عَنْهُ وَلَا بِالْوَاجِبِ كَذَاتِهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ. |
Maka keduanya tidak
berkaitan dengan perkara yang mustahil, seperti adanya sekutu—Maha Suci Allah
Ta'ala darinya—dan tidak pula (berkaitan) dengan perkara yang wajib, seperti
Dzat-Nya Ta'ala dan Sifat-sifat-Nya. |
|
وَمِنَ
الْجَهْلِ قَوْلُ مَنْ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا
لِأَنَّهُ لَا تَعَلُّقَ لِلْقُدْرَةِ بِالْمُسْتَحِيلِ، وَاتِّخَاذُ الْوَلَدِ
مُسْتَحِيلٌ. |
Maka merupakan suatu
kebodohan ucapan orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu kuasa untuk
mengambil anak," sebab Qudrah tidak berkaitan dengan hal
mustahil, sedangkan mengangkat anak adalah kemustahilan (bagi Allah). |
|
وَلَا
يُقَالُ: إِنَّهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا عَلَى اتِّخَاذِ الْوَلَدِ كَانَ
عَاجِزًا. |
Dan tidak boleh diucapkan:
"Sesungguhnya apabila Dia tidak kuasa mengambil anak, berarti Dia adalah
lemah." |
|
لِأَنَّا
نَقُولُ: إِنَّمَا يَلْزَمُ الْعَجْزُ لَوْ كَانَ الْمُسْتَحِيلُ مِنْ وَظِيفَةِ
الْقُدْرَةِ وَلَمْ تَتَعَلَّقْ بِهِ مَعَ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْ وَظِيفَتِهَا
إِلَّا الْمُمْكِنُ. |
Karena kita katakan: Sifat
lemah itu baru melekat jika perkara mustahil tersebut merupakan (bagian dari)
fungsi/tugas Qudrah, lalu Qudrah tersebut tidak berkaitan
dengannya. Padahal, tidak ada (perkara lain) yang menjadi fungsi Qudrah
melainkan perkara yang mungkin (mumkin) saja. |
|
وَلِلْإِرَادَةِ
تَعَلُّقَانِ: |
Dan sifat Iradah
memiliki dua ta'alluq (keterkaitan): |
|
تَعَلُّقٌ
صُلُوحِيٌّ قَدِيمٌ وَهُوَ صَلَاحِيَّتُهَا لِلتَّخْصِيصِ أَزَلًا، |
Pertama: Ta'alluq Suluhi
Qadim, yaitu kepatutan (potensi)-nya untuk menentukan sejak zaman azali. |
|
فَزَيْدٌ
الطَّوِيلُ أَوِ الْقَصِيرُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عَلَى غَيْرِ مَا هُوَ
عَلَيْهِ بِاعْتِبَارِ صَلَاحِيَّةِ الْإِرَادَةِ، |
Maka Zaid yang tinggi atau
pendek, boleh (mungkin) saja keberadaannya tidak seperti keadaannya sekarang
ditinjau dari sisi kepatutan (potensi) Iradah. |
|
فَهِيَ
صَالِحَةٌ لِأَنْ يَكُونَ زَيْدٌ سُلْطَانًا وَأَنْ يَكُونَ زَبَّالًا
بِاعْتِبَارِ التَّعَلُّقِ الصُّلُوحِيِّ. |
Maka sifat Iradah
itu patut (berpotensi) menjadikan Zaid sebagai seorang sultan, atau
menjadikannya sebagai tukang sampah jika ditinjau dari ta'alluq Suluhi
ini. |
|
وَلَهَا
تَعَلُّقٌ تَنْجِيزِيٌّ قَدِيمٌ، وَهُوَ تَخْصِيصُ اللَّهِ تَعَالَى الشَّيْءَ
بِالصِّفَةِ الَّتِي هُوَ عَلَيْهَا، |
Kedua: Dan ia (juga)
memiliki Ta'alluq Tanjizi Qadim (kepastian di zaman azali), yaitu
penentuan Allah Ta'ala terhadap sesuatu pada sifat (keadaan) yang sedang
dialaminya (sekarang). |
|
فَالْعِلْمُ
الَّذِي اتَّصَفَ بِهِ بِإِرَادَتِهِ، فَتَخْصِيصُهُ بِالْعِلْمِ مَثَلًا
قَدِيمٌ، وَيُسَمَّى تَعَلُّقًا تَنْجِيزِيًّا قَدِيمًا، |
Maka, ilmu (yang ada pada
Zaid), ia disifati dengannya berkat kehendak-Nya (Iradah). Sehingga
penentuannya (berupa diberikannya Zaid) ilmu tersebut adalah bersifat Qadim
(telah dipastikan sejak zaman azali), dan ini dinamakan ta'alluq Tanjizi
Qadim. |
|
وَصَلَاحِيَّتُهَا
لِتَخْصِيصِهِ بِالْعِلْمِ وَغَيْرِهِ بِاعْتِبَارِ ذَاتِهَا بِقَطْعِ النَّظَرِ
عَنِ التَّخْصِيصِ بِالْفِعْلِ يُعْنِي تَعَلُّقًا صُلُوحِيًّا قَدِيمًا. |
Adapun potensi (kepatutan)
sifat Iradah untuk menentukannya dengan ilmu atau dengan selainnya,
ditinjau dari sisi wujud sifat itu sendiri tanpa memandang pada aspek
penentuan secara aktual, (itulah yang) dinamakan ta'alluq Suluhi Qadim. |
|
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ لَهَا تَعَلُّقٌ تَنْجِيزِيٌّ حَادِثٌ، وَهُوَ تَخْصِيصُ زَيْدٍ
بِالطُّولِ مَثَلًا حِينَ يُوجَدُ بِالْفِعْلِ. |
Dan sebagian ulama berkata:
Bahwa sifat Iradah juga memiliki ta'alluq Tanjizi Hadits
(aktual di masa kini), yaitu ditentukannya Zaid dengan (sifat) tinggi,
misalnya, pada saat ia terwujud secara aktual (lahir di dunia). |
|
فَعَلَى هَذَا
يَكُونُ لَهَا ثَلَاثُ تَعَلُّقَاتٍ، لَكِنَّ التَّحْقِيقَ أَنَّ هَذَا
الثَّالِثَ لَيْسَ تَعَلُّقًا بَلْ هُوَ إِظْهَارٌ لِلتَّعَلُّقِ
التَّنْجِيزِيِّ الْقَدِيمِ. |
Maka berdasarkan pendapat
ini, sifat Iradah memiliki tiga ta'alluq. Akan tetapi, pandangan yang tahqiq
(kuat) menyatakan bahwa ta'alluq ketiga ini sejatinya bukanlah sebuah
ta'alluq baru, melainkan ia hanyalah (sekadar) proses penampakan/pengungkapan
(izhhar) dari ta'alluq Tanjizi Qadim (kepastian sejak zaman
azali) tersebut. |
|
وَتَعَلُّقُ
الْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ عَامٌّ لِكُلِّ مُمْكِنٍ حَتَّى إِنَّ الْخَطَرَاتِ
الَّتِي تَخْطُرُ عَلَى قَلْبِ الشَّخْصِ مُخَصَّصَةٌ بِإِرَادَتِهِ تَعَالَى
وَمَخْلُوقَةٌ بِقُدْرَتِهِ تَعَالَى كَمَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ الْمَلْوِيُّ فِي
بَعْضِ كُتُبِهِ. |
Dan cakupan (ta'alluq) Qudrah
serta Iradah ini umum pada setiap hal yang mungkin (mumkin).
Sampai-sampai, segala lintasan pikiran (khatharat) yang terlintas di
dalam hati seseorang itu pun ditentukan oleh Iradah-Nya Ta'ala dan
diciptakan oleh Qudrah-Nya Ta'ala, sebagaimana yang dituturkan oleh
Syekh Al-Malawi dalam salah satu kitabnya. |
|
وَاعْلَمْ
أَنَّ نِسْبَةَ التَّخْصِيصِ لِلْإِرَادَةِ وَالْإِبْرَازِ وَالْإِيجَادِ
لِلْقُدْرَةِ مَجَازٌ، |
Dan ketahuilah bahwa
penyandaran fungsi penentuan (takhshish) kepada sifat Iradah,
serta fungsi pemunculan dan pewujudan kepada sifat Qudrah, (pada
hakikatnya) adalah kiasan (majasi) belaka. |
|
وَالْمُخَصِّصُ
حَقِيقَةً هُوَ اللَّهُ تَعَالَى بِإِرَادَتِهِ وَالْمُبْرِزُ وَالْمُوجِدُ
حَقِيقَةً هُوَ اللَّهُ تَعَالَى جَلَّ وَعَلَا بِقُدْرَتِهِ. |
Sebab, Sang Penentu yang
hakiki adalah Allah Ta'ala (sebagai Dzat) dengan Iradah-Nya, dan Sang
Pemuncul serta Sang Pewujud yang hakiki adalah Allah Ta'ala Jalla wa 'Ala
(sebagai Dzat) dengan Qudrah-Nya. |
|
فَقَوْلُ
الْعَامَّةِ: الْقُدْرَةُ تَفْعَلُ بِفُلَانٍ كَذَا، إِنْ أَرَادَ الْقَائِلُ
أَنَّ الْفِعْلَ لِلْقُدْرَةِ حَقِيقَةً أَوْ لَهَا وَلِلذَّاتِ كَفَرَ
وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ تَعَالَى، |
Maka, ucapan masyarakat
awam: "Kekuasaan (Qudrah) sedang berbuat ini dan itu pada si
fulan", apabila sang pengucap tersebut memaksudkan bahwa perbuatan
tersebut benar-benar milik sifat Qudrah secara hakiki, atau milik
sifat (Qudrah) sekaligus milik Dzat (sebagai sekutu), maka ia kafir—Wal
'iyadzu billahi Ta'ala (kita berlindung kepada Allah Ta'ala). |
|
بَلِ
الْفِعْلُ لِذَاتِهِ تَعَالَى بِقُدْرَتِهِ. |
Sebaliknya (yang benar
adalah): perbuatan itu mutlak milik Dzat-Nya Ta'ala dengan menggunakan
(sifat) Qudrah-Nya. |
|
الصِّفَةُ التَّاسِعَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْعِلْمُ |
SIFAT KESEMBILAN DARI SIFAT-SIFAT
YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-'ILM (MAHA MENGETAHUI)
|
|
وَهُوَ صِفَةٌ
قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى مَوْجُودَةٌ، يَنْكَشِفُ بِهَا
الْمَعْلُومُ انْكِشَافًا عَلَى وَجْهِ الْإِحَاطَةِ مِنْ غَيْرِ سَبْقِ خَفَاءٍ. |
Ia adalah sifat qadim
(tak berawal) yang menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, dan ia berwujud, yang mana
dengannya segala sesuatu yang diketahui (ma'lum) tersingkap secara
paripurna dan meliputi segalanya, tanpa didahului oleh kesamaran
(ketidaktahuan). |
|
وَتَتَعَلَّقُ
بِالْوَاجِبَاتِ وَالْجَائِزَاتِ وَالْمُسْتَحِيلَاتِ، |
Dan sifat 'Ilm ini
berkaitan (berta'alluq) dengan perkara yang wajib, perkara yang jaiz
(mungkin), maupun perkara yang mustahil. |
|
فَيَعْلَمُ
ذَاتَهُ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ بِعِلْمِهِ، |
Maka Dia Ta'ala mengetahui
Dzat-Nya maupun Sifat-sifat-Nya dengan ilmu-Nya. |
|
وَيَعْلَمُ
الْمَوْجُودَاتِ كُلَّهَا وَالْمَعْدُومَاتِ كُلَّهَا بِعِلْمِهِ، |
Dan Dia mengetahui seluruh
hal yang telah wujud (ada) maupun seluruh hal yang tiada dengan ilmu-Nya. |
|
وَيَعْلَمُ
الْمُسْتَحِيلَاتِ، بِمَعْنَى أَنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ الشَّرِيكَ مُسْتَحِيلٌ
عَلَيْهِ تَعَالَى، وَيَعْلَمُ أَنَّهُ لَوْ وُجِدَ لَتَرَتَّبَ عَلَيْهِ
فَسَادٌ، تَنَزَّهَ اللَّهُ عَنِ الشَّرِيكِ وَتَعَالَى عُلُوًّا كَبِيرًا. |
Dan Dia mengetahui
perkara-perkara yang mustahil, dalam arti Dia mengetahui bahwa adanya sekutu
itu adalah mustahil bagi-Nya Ta'ala, dan Dia mengetahui bahwa seandainya
sekutu itu ada, niscaya akan timbul kerusakan karenanya. Mahasuci Allah dari
(memiliki) sekutu, dan Mahatinggi Dia dengan ketinggian yang agung. |
|
وَلَهُ
تَعَلُّقٌ تَنْجِيزِيٌّ قَدِيمٌ فَقَطْ، |
Dan sifat 'Ilm ini
hanya memiliki ta'alluq Tanjizi Qadim (keterkaitan yang telah
aktual/pasti sejak zaman azali) saja. |
|
فَاللَّهُ
تَعَالَى يَعْلَمُ هَذِهِ الْمَذْكُورَاتِ أَزَلًا عِلْمًا تَامًّا لَا عَلَى
سَبِيلِ الظَّنِّ وَلَا عَلَى سَبِيلِ الشَّكِّ، لِأَنَّ الظَّنَّ وَالشَّكَّ
مُسْتَحِيلَانِ عَلَيْهِ تَعَالَى. |
Maka Allah Ta'ala
mengetahui hal-hal yang disebutkan ini di zaman azali dengan pengetahuan yang
sempurna; bukan sebatas dzan (dugaan/sangkaan) dan bukan pula sebatas
syak (keraguan). Karena dugaan dan keraguan adalah hal yang mustahil bagi-Nya
Ta'ala. |
|
وَمَعْنَى
قَوْلِهِمْ: مِنْ غَيْرِ سَبْقِ خَفَاءٍ: أَنَّهُ تَعَالَى يَعْلَمُ
الْأَشْيَاءَ أَزَلًا، وَلَيْسَ اللَّهُ تَعَالَى كَانَ يَجْهَلُهَا ثُمَّ
عَلِمَهَا، تَنَزَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْ ذَلِكَ. |
Dan makna ucapan para ulama
"tanpa didahului oleh kesamaran" adalah: bahwa Dia Ta'ala telah
mengetahui segala sesuatu sejak zaman azali, dan bukan berarti Allah Ta'ala
sebelumnya tidak mengetahui hal itu lalu (baru kemudian) Dia mengetahuinya. Mahasuci
Dia Subhanahu wa Ta'ala dari hal tersebut. |
|
وَأَمَّا
الْحَادِثُ فَيَجْهَلُ الشَّيْءَ ثُمَّ يَعْلَمُهُ. |
Adapun makhluk (hal yang
baru), maka ia pada mulanya bodoh (tidak tahu) terhadap sesuatu barulah
kemudian ia mengetahuinya. |
|
وَلَيْسَ
لِلْعِلْمِ تَعَلُّقٌ صُلُوحِيٌّ بِمَعْنَى: أَنَّهُ صَالِحٌ لِأَنْ يَنْكَشِفَ
بِهِ كَذَا، لِأَنَّهُ يَقْتَضِي أَنَّ كَذَا لَمْ يَنْكَشِفْ بِالْفِعْلِ،
وَعَدَمُ انْكِشَافِهِ بِالْعِلْمِ جَهْلٌ، تَنَزَّهَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ. |
Dan sifat 'Ilm tidak
memiliki ta'alluq Suluhi (potensi/kepatutan) dalam arti: ia
berpotensi/berpeluang untuk menyingkap hal ini dan itu. Karena pemahaman
tersebut melazimkan arti bahwa hal tersebut belumlah tersingkap (diketahui)
secara aktual. Padahal belum tersingkapnya sesuatu bagi sifat 'Ilm
merupakan sebuah kebodohan, (yang mana) Allah Ta'ala Mahasuci dari sifat
tersebut. |
|
الصِّفَةُ الْعَاشِرَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: الْحَيَاةُ |
SIFAT KESEPULUH DARI SIFAT-SIFAT
YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: AL-HAYAT (MAHAHIDUP)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
تُصَحِّحُ لِمَنْ قَامَتْ بِهِ الْإِدْرَاكَ كَالْعِلْمِ وَالسَّمْعِ
وَالْبَصَرِ، أَيْ: يَصِحُّ أَنْ يَتَّصِفَ بِذَلِكَ. |
Ia adalah sifat yang
menjadikan sah (mungkin/valid) bagi zat yang disifatinya untuk memiliki idrak
(kemampuan menangkap/merespon), seperti sifat 'Ilmu, Sama' (mendengar), dan
Bashar (melihat). Yakni: menjadi sah bagi zat tersebut untuk disifati dengan
(sifat-sifat) itu. |
|
وَلَا
يَلْزَمُ مِنَ الْحَيَاةِ الِاتِّصَافُ بِالْإِدْرَاكِ بِالْفِعْلِ. |
Dan dari sifat hayat
(hidup) ini tidak melazimkan harus (serta merta) disifati dengan idrak
(respon inderawi/kognitif) secara aktual [misalnya orang hidup namun sedang
tidur atau lumpuh inderanya]. |
|
وَهِيَ لَا
تَتَعَلَّقُ بِشَيْءٍ مَوْجُودٍ أَوْ مَعْدُومٍ. |
Dan sifat ini (hayat) tidak
memiliki keterkaitan (ta'alluq) dengan sesuatu apa pun, baik yang
berwujud maupun yang tiada. |
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى وُجُوبِ الْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ وَالْعِلْمِ وَالْحَيَاةِ:
وُجُودُ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ: |
Dalil yang menetapkan
wajibnya sifat Qudrah, Iradah, 'Ilm, dan Hayat: adalah wujud keberadaan makhluk-makhluk
ini. |
|
لِأَنَّهُ
لَوِ انْتَفَى شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ لَمَا وُجِدَ مَخْلُوقٌ،
فَلَمَّا وُجِدَتِ الْمَخْلُوقَاتُ عَرَفْنَا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مُتَّصِفٌ
بِهَذِهِ الصِّفَاتِ. |
Karena seandainya salah
satu saja dari keempat sifat ini ditiadakan, niscaya tidak akan ada satu pun
makhluk yang terwujud. Maka ketika makhluk-makhluk ini nyata-nyata wujud,
tahulah kita bahwa Allah Ta'ala mutlak tersifati dengan sifat-sifat ini. |
|
وَوَجْهُ
تَوَقُّفِ وُجُوبِ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ عَلَى هَذِهِ الْأَرْبَعِ أَنَّ
الَّذِي يَفْعَلُ شَيْئًا لَا يَفْعَلُهُ إِلَّا إِذَا كَانَ عَالِمًا
بِالْفِعْلِ، |
Adapun alasan logis mengapa
wujudnya makhluk-makhluk ini bergantung pada keempat sifat ini adalah: Bahwa
pihak yang mengerjakan sesuatu, ia tidak akan sanggup melakukannya kecuali
jika ia mengetahui perbuatan tersebut (punya ilmu), |
|
ثُمَّ يُرِيدُ
الْأَمْرَ الَّذِي يَفْعَلُهُ، وَبَعْدَ إِرَادَتِهِ يُبَاشِرُ فِعْلَهُ
بِقُدْرَتِهِ، وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الْفَاعِلَ لَا بُدَّ وَأَنْ يَكُونَ
حَيًّا. |
lalu ia menghendaki hal
yang akan dikerjakannya itu (punya iradah), dan setelah ia
menghendakinya barulah ia memproses perbuatan tersebut dengan kemampuannya
(punya qudrah). Dan merupakan suatu hal yang dimaklumi bahwa sang
pelaku itu pastilah harus (dalam keadaan) hidup (hayat). |
|
وَالْعِلْمُ
وَالْإِرَادَةُ وَالْقُدْرَةُ تُسَمَّى صِفَاتِ التَّأْثِيرِ لِتَوَقُّفِ
التَّأْثِيرِ عَلَيْهَا. |
Dan sifat 'Ilm, Iradah,
serta Qudrah ini dinamakan "Sifat-sifat Ta'tsir"
(yang memberi dampak pewujudan), karena terwujudnya ciptaan (ta'tsir)
bergantung pada ketiganya. |
|
لِأَنَّ
الَّذِي يُرِيدُ شَيْئًا أَوْ يَقْصِدُهُ لَا بُدَّ وَأَنْ يَكُونَ عَالِمًا
بِهِ قَبْلَ قَصْدِهِ لَهُ، |
Karena pihak yang
menghendaki sesuatu atau menyengajanya, pastilah harus mengetahui hal itu
(terlebih dahulu) sebelum ia menyengajanya. |
|
ثُمَّ بَعْدَ
قَصْدِهِ لَهُ يُبَاشِرُ فِعْلَهُ،
مَثَلًا إِذَا كَانَ شَيْءٌ فِي بَيْتِكَ، وَأَرَدْتَ أَخْذَهُ، فَعِلْمُكَ
سَابِقٌ عَلَى إِرَادَتِكَ لِأَخْذِهِ، وَبَعْدَ إِرَادَتِكَ أَخْذَهُ
تَأْخُذُهُ بِالْفِعْلِ. |
Kemudian, barulah setelah
ia menyengajanya ia memproses mengerjakannya. Sebagai contoh: jika ada suatu
benda di rumahmu dan engkau berkeinginan mengambilnya, maka pengetahuanmu
mendahului kehendakmu untuk mengambil. Lalu setelah engkau berkehendak
mengambilnya, barulah engkau mengambilnya secara aktual. |
|
فَتَعَلُّقُ
هَذِهِ الصِّفَاتِ عَلَى التَّرْتِيبِ فِي حَقِّ الْحَادِثِ، فَأَوَّلًا يُوجَدُ
الْعِلْمُ بِالشَّيْءِ ثُمَّ قَصْدُهُ ثُمَّ فِعْلُهُ. |
Maka, keterkaitan (ta'alluq)
sifat-sifat ini (dengan perbuatan) yang berdasarkan urutan tersebut (hanya)
berlaku pada hak makhluk (hal yang baru). Yaitu, mula-mula ada pengetahuan
mengenai sesuatu, kemudian niat, lalu perbuatannya. |
|
وَأَمَّا فِي
حَقِّهِ تَعَالَى فَلَا تَرْتِيبَ فِي صِفَاتِهِ إِلَّا فِي التَّعَقُّلِ، |
Adapun pada hak-Nya Ta'ala,
maka tidak ada urutan (waktu secara kronologis) pada sifat-sifat-Nya;
melainkan urutan tersebut semata-mata pada proses nalar pikiran (ta'aqqul)
saja. |
|
فَأَوَّلًا
تَتَعَقَّلُ أَنَّ الْعِلْمَ سَابِقٌ ثُمَّ الْإِرَادَةَ ثُمَّ الْقُدْرَةَ، |
Maka mula-mula engkau
menalar bahwa ilmu (pengetahuan) itu mendahului, lalu iradah, kemudian
qudrah. |
|
أَمَّا فِي
التَّأْثِيرِ وَالْخَارِجِ فَلَا تَرْتِيبَ فِي صِفَاتِهِ تَعَالَى، |
Adapun dalam proses
pewujudan dan di alam kenyataan (luar), sama sekali tidak ada urutan-urutan
waktu pada sifat-sifat-Nya Ta'ala. |
|
فَلَا
يُقَالُ: تَعَلَّقَ الْعِلْمُ بِالْفِعْلِ، ثُمَّ الْإِرَادَةُ ثُمَّ
الْقُدْرَةُ لِأَنَّ هَذَا فِي حَقِّ الْحَادِثِ، وَإِنَّمَا التَّرْتِيبُ
بِحَسَبِ تَعَقُّلِنَا فَقَطْ. |
Sehingga tidak boleh
dikatakan: "Ilmu berkaitan (ta'alluq) dengan perbuatan, lalu
disusul Iradah, kemudian disusul Qudrah." Karena susunan
(waktu) seperti itu hanyalah pada hak (kemampuan) makhluk. Sesungguhnya
urutan itu hanya berdasarkan (pendekatan) nalar kita semata. |
|
الصِّفَةُ الْحَادِيَةَ
عَشْرَةَ وَالثَّانِيَةَ عَشْرَةَ مِنْ صِفَاتِهِ تَعَالَى: السَّمْعُ
وَالْبَصَرُ |
SIFAT KESEBELAS DAN KEDUA BELAS
DARI SIFAT-SIFAT-NYA TA'ALA: AL-SAM' (MAHA MENDENGAR) DAN AL-BASHAR (MAHA
MELIHAT)
|
|
وَهُمَا
صِفَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالَى، يَتَعَلَّقَانِ بِكُلِّ مَوْجُودٍ،
أَيْ: يَنْكَشِفُ بِهِمَا كُلُّ مَوْجُودٍ وَاجِبًا كَانَ أَوْ جَائِزًا. |
Keduanya adalah dua sifat
yang menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, yang berkaitan (berta'alluq) dengan
setiap hal yang berwujud (maujud). Yakni: dengan kedua sifat tersebut,
setiap yang berwujud menjadi tersingkap (jelas bagi-Nya), baik wujudnya itu
berstatus wajib maupun jaiz (mungkin). |
|
وَالسَّمْعُ
وَالْبَصَرُ يَتَعَلَّقَانِ بِذَاتِهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ، |
Sifat Sam' dan Bashar
berkaitan dengan Dzat-Nya Ta'ala beserta sifat-sifat-Nya. |
|
أَيْ: إِنَّ
ذَاتَهُ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ مُنْكَشِفَةٌ لَهُ تَعَالَى بِسَمْعِهِ وَبَصَرِهِ
زِيَادَةً عَلَى الِانْكِشَافِ بِعِلْمِهِ، |
Yakni: sesungguhnya
Dzat-Nya Ta'ala beserta sifat-sifat-Nya itu tersingkap bagi-Nya Ta'ala
melalui pendengaran dan penglihatan-Nya, sebagai penyingkapan tambahan di
luar ketersingkapan melalui ilmu-Nya. |
|
وَزَيْدٌ
وَعَمْرٌو وَالْحَائِطُ يَسْمَعُ اللَّهُ تَعَالَى ذَوَاتَهَا، وَيُبْصِرُهَا، |
Begitu pula Zaid, 'Amr, dan
tembok; Allah Ta'ala mendengar dzat-dzat tersebut dan (sekaligus) melihatnya. |
|
وَيَسْمَعُ
صَوْتَ صَاحِبِ الصَّوْتِ وَيُبْصِرُهُ، أَيِ: الصَّوْتَ. |
Dan Dia mendengar suara
dari si pemilik suara sekaligus melihatnya, yakni melihat suara tersebut. |
|
فَإِنْ
قُلْتَ: سَمَاعُ الصَّوْتِ ظَاهِرٌ، وَأَمَّا سَمَاعُ ذَاتِ زَيْدٍ وَذَاتِ
الْحَائِطِ غَيْرُ ظَاهِرٍ، |
Maka jika engkau bertanya:
"Mendengar suara adalah hal yang jelas (masuk akal), namun mendengar
dzat Zaid dan dzat tembok adalah hal yang tidak jelas (sulit dinalar). |
|
وَكَذَلِكَ
تَعَلُّقُ الْبَصَرِ بِالْأَصْوَاتِ لِأَنَّ الْأَصْوَاتَ تُسْمَعُ فَقَطْ. |
Demikian pula halnya
keterkaitan penglihatan dengan suara-suara, karena suara itu (normalnya)
hanya bisa didengar saja." |
|
قُلْنَا:
يَجِبُ عَلَيْنَا الْإِيمَانُ بِأَنَّهُمَا مُتَعَلِّقَانِ بِكُلِّ مَوْجُودٍ. |
Kami jawab: "Wajib
bagi kita untuk mengimani bahwa kedua sifat tersebut (pasti) berkaitan dengan
segala hal yang berwujud. |
|
وَأَمَّا
كَيْفِيَّةُ التَّعَلُّقِ فَهِيَ مَجْهُولَةٌ لَنَا، |
Adapun bagaimana tata cara
(kaifiyyah) keterkaitannya, maka hal itu tidaklah kita ketahui." |
|
فَاللَّهُ
تَعَالَى يَسْمَعُ ذَاتَ زَيْدٍ وَلَا نَعْرِفُ كَيْفِيَّةَ تَعَلُّقِ السَّمْعِ
بِهَا، |
Maka Allah Ta'ala mendengar
dzat Zaid, dan kita tidak mengetahui hakikat cara keterkaitan pendengaran-Nya
dengan dzat tersebut. |
|
وَلَيْسَ
الْمُرَادُ أَنَّهُ يَسْمَعُ مَشْيَ ذَاتِ زَيْدٍ، لِأَنَّ سَمَاعَ مَشْيِهِ
دَاخِلٌ فِي سَمَاعِ الْأَصْوَاتِ، وَاللَّهُ تَعَالَى يَسْمَعُ الْأَصْوَاتَ
كُلَّهَا، |
Dan maksud (dari pernyataan
ini) bukanlah bahwa Dia mendengar langkah kaki dzat Zaid, karena mendengar
langkah kakinya sudah masuk dalam cakupan kategori mendengar suara-suara,
sedangkan Allah Ta'ala (sudah pasti) mendengar seluruh suara. |
|
بَلِ
الْمُرَادُ أَنَّهُ يَسْمَعُ ذَاتَ زَيْدٍ وَجُثَّتَهُ زِيَادَةً عَلَى سَمَاعِ
مَشْيِهِ مَثَلًا، |
Melainkan maksudnya adalah
bahwa Dia mendengar dzat Zaid dan jasad fisiknya itu sendiri, sebagai hal
yang terpisah (tambahan) dari sekadar mendengar langkah kakinya, misalnya. |
|
لَكِنْ لَا
نَعْرِفُ كَيْفِيَّةَ تَعَلُّقِ سَمَاعِ اللَّهِ تَعَالَى بِنَفْسِ الذَّاتِ، |
Akan tetapi, kita tidak
mengetahui bagaimana tata cara keterkaitan pendengaran Allah Ta'ala terhadap
esensi dzat itu. |
|
وَهَذَا مَا
كُلِّفَ بِهِ الشَّخْصُ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ. |
Dan inilah (batas
pengetahuan) yang diwajibkan atas setiap individu mukalaf, baik laki-laki
maupun perempuan. Dan hanya kepada Allah (kita memohon) taufik. |
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى السَّمْعِ وَالْبَصَرِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَهُوَ
السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾. |
Dalil Atas Sifat Al-Sam'
dan Al-Bashar: Yaitu
firman-Nya Ta'ala: "Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura: 11). |
|
وَاعْلَمْ
أَنَّ تَعَلُّقَ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ بِالنِّسْبَةِ لِلْحَوَادِثِ تَعَلُّقٌ
صُلُوحِيٌّ قَدِيمٌ قَبْلَ وُجُودِهَا، |
Dan ketahuilah bahwa
keterkaitan (ta'alluq) sifat Sam' dan Bashar terhadap
hal-hal yang baru (makhluk) adalah berupa ta'alluq Suluhi Qadim
(potensi sejak zaman azali) sebelum keberadaan makhluk tersebut. |
|
وَبَعْدَ
وُجُودِهَا تَعَلُّقٌ تَنْجِيزِيٌّ حَادِثٌ، |
Dan setelah wujudnya
makhluk, maka berupa ta'alluq Tanjizi Hadits (keterkaitan aktual yang
baru). |
|
أَيْ:
إِنَّهَا بَعْدَ وُجُودِهَا مُنْكَشِفَةٌ لَهُ تَعَالَى بِسَمْعِهِ وَبَصَرِهِ
زِيَادَةً عَلَى الِانْكِشَافِ بِالْعِلْمِ، فَلَهُمَا تَعَلُّقَانِ، |
Yakni: bahwa makhluk
tersebut setelah terwujud menjadi tersingkap bagi-Nya Ta'ala melalui
pendengaran dan penglihatan-Nya, sebagai penyingkapan tambahan di luar
ketersingkapan melalui ilmu. Maka, kedua sifat ini memiliki dua jenis
ta'alluq (terhadap makhluk). |
|
وَأَمَّا
بِالنِّسْبَةِ لَهُ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ فَتَعَلُّقٌ تَنْجِيزِيٌّ قَدِيمٌ، |
Adapun keterkaitannya
terhadap (Dzat)-Nya Ta'ala beserta sifat-sifat-Nya, maka ia berupa ta'alluq Tanjizi
Qadim (aktual sejak zaman azali). |
|
بِمَعْنَى
أَنَّ ذَاتَهُ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ مُنْكَشِفَةٌ لَهُ تَعَالَى أَزَلًا
بِسَمْعِهِ وَبَصَرِهِ، |
Maknanya adalah bahwa
Dzat-Nya Ta'ala dan sifat-sifat-Nya telah tersingkap bagi-Nya Ta'ala sejak
azali melalui pendengaran dan penglihatan-Nya. |
|
فَيَسْمَعُ
تَعَالَى ذَاتَهُ وَجَمِيعَ صِفَاتِهِ الْوُجُودِيَّةِ مِنْ قُدْرَةٍ وَسَمْعٍ
وَغَيْرِهِمَا، وَلَا نَعْرِفُ كَيْفِيَّةَ التَّعَلُّقِ، |
Maka Dia Ta'ala mendengar
Dzat-Nya dan seluruh sifat wujudiyyah-Nya—berupa sifat Qudrah, Sam',
dan lain-lainnya—namun kita tidak mengetahui tata cara keterkaitannya
tersebut. |
|
وَيُبْصِرُ
تَعَالَى ذَاتَهُ وَصِفَاتِهِ الْوُجُودِيَّةِ مِنْ قُدْرَةٍ وَبَصَرٍ
وَغَيْرِهِمَا، وَلَا نَدْرِي كَيْفِيَّةَ التَّعَلُّقِ. |
Dan Dia Ta'ala juga melihat
Dzat-Nya beserta sifat-sifat wujudiyyah-Nya—berupa sifat Qudrah,
Bashar, dan lain-lainnya—dan kita pun tidak mengetahui tata cara
keterkaitannya. |
|
وَمَا
تَقَدَّمَ أَنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ يَتَعَلَّقَانِ بِكُلِّ مَوْجُودٍ هُوَ
رَأْيُ السَّنُوسِيِّ وَمَنْ تَبِعَهُ، وَهُوَ الْمُرَجَّحُ. |
Dan penjelasan terdahulu
bahwa sifat Sam' dan Bashar berkaitan dengan setiap hal yang
berwujud, merupakan pendapat Imam as-Sanusi dan ulama yang mengikutinya. Dan
ini adalah pendapat yang kuat (al-murajjah). |
|
وَقِيلَ:
إِنَّ السَّمْعَ لَا يَتَعَلَّقُ إِلَّا بِالْأَصْوَاتِ وَالْبَصَرَ لَا
يَتَعَلَّقُ إِلَّا بِالْمُبْصَرَاتِ. |
Sementara ada pula
(pendapat lemah) yang menyatakan: Bahwa pendengaran hanya berkaitan dengan
suara-suara saja, dan penglihatan hanya berkaitan dengan benda-benda visual
saja. |
|
وَسَمْعُ
اللَّهِ تَعَالَى لَيْسَ بِأُذُنٍ وَلَا صِمَاخٍ، وَبَصَرُهُ لَيْسَ بِحَدَقَةٍ
وَلَا أَجْفَانٍ، تَنَزَّهَ وَتَعَالَى عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا. |
Dan pendengaran Allah
Ta'ala tidaklah (menggunakan) telinga maupun lubang telinga. Demikian pula
penglihatan-Nya, tidaklah (menggunakan) bola mata maupun kelopak mata.
Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari hal-hal tersebut dengan ketinggian
yang seagung-agungnya. |
|
الصِّفَةُ الثَّالِثَةَ
عَشْرَةَ مِنْ صِفَاتِهِ تَعَالَى: الْكَلَامُ |
SIFAT KETIGA BELAS DARI
SIFAT-SIFAT-NYA TA'ALA: AL-KALAM (MAHA BERFIRMAN/BERBICARA)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، |
Ia adalah sifat qadim
(tak berawal) yang menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, tidak berupa huruf dan tidak
pula berupa suara. |
|
مُنَزَّهَةٌ
عَنِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ وَالْإِعْرَابِ وَالْبِنَاءِ، بِخِلَافِ
كَلَامِ الْحَوَادِثِ. |
Sifat ini suci (terbebas)
dari adanya (unsur) pendahuluan dan pengakhiran (urutan kata), serta terbebas
dari i'rab (perubahan akhir kata) maupun bina' (tetapnya akhir
kata), berbeda halnya dengan perkataan makhluk (hal yang baru). |
|
وَلَيْسَ
الْمُرَادُ بِكَلَامِهِ تَعَالَى الْوَاجِبِ لَهُ تَعَالَى الْأَلْفَاظَ
الشَّرِيفَةَ الْمُنَزَّلَةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، |
Dan yang dimaksud dengan
Kalam-Nya Ta'ala yang wajib bagi-Nya Ta'ala itu belumlah lafal-lafal mulia
yang diturunkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. |
|
لِأَنَّ
هَذِهِ حَادِثَةٌ وَالصِّفَةُ الْقَائِمَةُ بِذَاتِهِ تَعَالَى قَدِيمَةٌ، |
Karena (susunan
lafal-lafal) tersebut adalah hal yang baru (haditsah), sementara Sifat
yang menetap pada Dzat-Nya Ta'ala itu bersifat qadim (tak berawal). |
|
وَهَذِهِ
مُشْتَمِلَةٌ عَلَى تَقَدُّمٍ وَتَأَخُّرٍ وَإِعْرَابٍ وَسُوَرٍ وَآيَاتٍ، |
Di samping itu,
(lafal-lafal) tersebut juga memuat adanya urutan mendahului dan mengakhiri, i'rab,
serta (pembagian) surah dan ayat. |
|
وَالصِّفَةُ
الْقَدِيمَةُ خَالِيَةٌ عَنْ جَمِيعِ ذَلِكَ، فَلَيْسَ فِيهَا آيَاتٌ وَلَا
سُوَرٌ وَلَا إِعْرَابٌ، |
Sedangkan Sifat yang Qadim
itu sama sekali terlepas dari semua hal tersebut, sehingga di dalamnya tidak
ada (pembagian) ayat, surah, maupun i'rab. |
|
لِأَنَّ
هَذِهِ تَكُونُ لِلْكَلَامِ الْمُشْتَمِلِ عَلَى حُرُوفٍ وَأَصْوَاتٍ،
وَالصِّفَةُ الْقَدِيمَةُ مُنَزَّهَةٌ عَنِ الْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ كَمَا
تَقَدَّمَ، |
Karena sesungguhnya
(ciri-ciri) tersebut hanya berlaku bagi perkataan yang tersusun atas
huruf-huruf dan suara-suara. Sementara Sifat yang Qadim suci dari
huruf-huruf dan suara-suara, sebagaimana yang telah berlalu (penjelasannya). |
|
وَلَيْسَتْ
هَذِهِ الْأَلْفَاظُ الشَّرِيفَةُ دَالَّةً عَلَى الصِّفَةِ الْقَدِيمَةِ
بِمَعْنَى أَنَّ الصِّفَةَ الْقَدِيمَةَ تُفْهَمُ مِنْهَا، |
Dan lafal-lafal yang mulia
ini (Al-Qur'an secara lafal) tidaklah menunjukkan Sifat yang Qadim
dalam pengertian bahwa Sifat yang Qadim tersebut dipahami secara
langsung darinya. |
|
بَلْ مَا
يُفْهَمُ مِنْ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ مُسَاوٍ لِمَا يُفْهَمُ مِنَ الصِّفَةِ
الْقَدِيمَةِ، لَوْ كُشِفَ عَنَّا الْحِجَابُ وَسَمِعْنَاهَا. |
Melainkan, makna yang dapat
dipahami dari lafal-lafal (Al-Qur'an) tersebut kedudukannya persis seimbang/selaras
dengan makna yang dipahami dari Sifat yang Qadim, seandainya penutup
(hijab) disingkap dari kita lalu kita mendengarnya secara langsung. |
|
فَحَاصِلُهُ:
أَنَّ الْأَلْفَاظَ هَذِهِ تَدُلُّ عَلَى مَعْنًى، وَهَذَا الْمَعْنَى مُسَاوٍ
لِمَا يُفْهَمُ مِنَ الْكَلَامِ الْقَدِيمِ الْقَائِمِ بِذَاتِهِ تَعَالَى، |
Maka kesimpulannya:
Sesungguhnya lafal-lafal (Al-Qur'an) ini menunjukkan suatu makna, dan makna
ini persis selaras dengan apa yang dipahami dari Kalam Qadim yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala. |
|
فَاحْرِصْ
عَلَى هَذَا الْفَرْقِ، فَإِنَّهُ يَغْلَطُ فِيهِ كَثِيرٌ. |
Maka perhatikanlah dengan
sungguh-sungguh perbedaan ini, karena banyak orang yang keliru dalam
memahaminya. |
|
وَيُسَمَّى
كُلٌّ مِنَ الصِّفَةِ الْقَدِيمَةِ وَالْأَلْفَاظِ الشَّرِيفَةِ: قُرْآنًا،
وَكَلَامَ اللَّهِ، |
Dan masing-masing dari
Sifat yang Qadim maupun susunan lafal-lafal mulia itu sama-sama
dinamakan sebagai: Al-Qur'an, dan Kalamullah (Firman Allah). |
|
إِلَّا أَنَّ
الْأَلْفَاظَ الشَّرِيفَةَ مَخْلُوقَةٌ مَكْتُوبَةٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، |
Hanya saja, lafal-lafal
mulia tersebut berstatus makhluk (ciptaan), yang tertulis di Lauh
al-Mahfuzh. |
|
نَزَلَ بِهَا
جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ نَزَلَتْ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ
مَحَلٍّ فِي سَمَاءِ الدُّنْيَا، كُتِبَتْ فِي صُحُفٍ وَوُضِعَتْ فِيهِ. |
Malaikat Jibril 'alaihis
salam turun membawanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
setelah (sebelumnya lafal-lafal itu) diturunkan pada malam Lailatul Qadr
di Baitul 'Izzah, yakni suatu tempat di langit dunia, yang telah
dituliskan ke dalam lembaran-lembaran (shuhuf) lalu diletakkan di
sana. |
|
قِيلَ:
نَزَلَتْ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ دُفْعَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عِشْرِينَ سَنَةً. |
Dikatakan (ada pendapat
menyatakan): Ia diturunkan ke Baitul 'Izzah sekaligus dalam satu
waktu, kemudian barulah diturunkan (berangsur-angsur) kepada Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam selama rentang waktu dua puluh tahun. |
|
وَقِيلَ: فِي
ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ. وَقِيلَ: فِي خَمْسٍ وَعِشْرِينَ. |
Ada yang mengatakan
(pendapat lain): Dalam waktu dua puluh tiga tahun. Dan ada yang mengatakan:
Dalam waktu dua puluh lima tahun. |
|
وَقِيلَ:
كَانَ يَنْزِلُ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ بِقَدْرِ مَا
يَنْزِلُ كُلَّ سَنَةٍ، وَلَمْ يَنْزِلْ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ دُفْعَةً
وَاحِدَةً، |
Dan ada pula yang
mengatakan: Ia diturunkan ke Baitul 'Izzah pada malam Lailatul Qadr
seukuran dengan kadar yang akan diturunkan setiap tahunnya, sehingga tidak
diturunkan ke Baitul 'Izzah sekaligus. |
|
وَالَّذِي
نَزَلَ عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّفْظُ وَالْمَعْنَى. |
Dan adapun yang turun
(disampaikan) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu berupa
lafal beserta maknanya sekaligus. |
|
وَقِيلَ:
نَزَلَ عَلَيْهِ الْمَعْنَى فَقَطْ. |
Walau ada pula yang
berpendapat: Yang turun kepada beliau hanyalah berupa makna saja. |
|
وَاخْتَلَفَ
الْقَائِلُونَ بِهَذَا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ عَبَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَعْنَى بِالْأَلْفَاظِ مِنْ عِنْدِهِ، |
Dan orang-orang yang
berpegang pada pendapat (kedua) ini saling berselisih; sebagian mereka
mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyuarakan makna
tersebut dengan menggunakan lafal-lafal (bahasa) yang murni dari beliau
sendiri. |
|
وَقِيلَ:
الَّذِي عَبَّرَ عَنْهَا جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - |
Dan dikatakan pula
(pendapat lain): Yang menyuarakan makna tersebut ke dalam lafal adalah
Malaikat Jibril 'alaihis salam. |
|
وَالتَّحْقِيقُ
أَنَّهَا نَزَلَتْ لَفْظًا وَمَعْنًى. |
Namun, pendapat yang paling
tahqiq (kuat dan akurat) adalah: Bahwa Al-Qur'an itu diturunkan (baik)
secara lafal maupun maknanya (sekaligus dari Allah). |
|
وَبِالْجُمْلَةِ
فَالصِّفَةُ الْقَائِمَةُ بِذَاتِهِ تَعَالَى قَدِيمَةٌ لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلَا
صَوْتٍ. |
Kesimpulannya, Sifat
(Kalam) yang menetap pada Dzat-Nya Ta'ala itu adalah Qadim, yang tidak
berupa susunan huruf maupun suara. |
|
وَاسْتَشْكَلَ
الْمُعْتَزِلَةُ وُجُودَ كَلَامٍ مِنْ غَيْرِ حُرُوفٍ؟ |
Kemudian, kaum Muktazilah
mempermasalahkan (dan menolak) adanya suatu kalam (perkataan) yang tanpa
huruf? |
|
فَأَجَابَ
أَهْلُ السُّنَّةِ بِأَنَّ حَدِيثَ النَّفْسِ كَلَامٌ يَتَكَلَّمُ بِهِ
الشَّخْصُ فِي نَفْسِهِ مِنْ غَيْرِ حَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، |
Maka para ulama Ahlusunah
menjawab: Bahwa haditsun nafs (perkataan hati/batin) itu sejatinya
adalah suatu kalam (bentuk perkataan) yang seseorang ucapkan di dalam dirinya
tanpa menggunakan huruf dan tanpa menggunakan suara. |
|
فَقَدْ وُجِدَ
كَلَامٌ مِنْ غَيْرِ حَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، |
Dengan demikian, telah
terbukti adanya wujud kalam (perkataan) tanpa huruf maupun suara. |
|
وَلَيْسَ
مُرَادُ أَهْلِ السُّنَّةِ تَشْبِيهَ كَلَامِهِ تَعَالَى بِحَدِيثِ النَّفْسِ،
لِأَنَّ كَلَامَهُ تَعَالَى قَدِيمٌ وَحَدِيثَ النَّفْسِ حَادِثٌ، |
Dan bukanlah maksud kaum
Ahlusunah (dengan analogi ini) untuk menyamakan Kalam-Nya Ta'ala dengan suara
hati makhluk. Sebab, Kalam-Nya Ta'ala itu Qadim, sementara suara hati
manusia itu hadits (baru). |
|
بَلْ
مُرَادُهُمُ الرَّدُّ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ فِي قَوْلِهِمْ: لَا يُوجَدُ
كَلَامٌ مِنْ غَيْرِ حَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ. |
Melainkan, tujuan mereka
murni untuk membantah kaum Muktazilah dalam ucapan mereka (yang mengklaim
bahwa): "Tidak mungkin wujud sebuah perkataan melainkan harus bersuara
dan berhuruf." |
|
وَدَلِيلُ
وُجُوبِ الْكَلَامِ لَهُ تَعَالَى قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَكَلَّمَ
اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا﴾ [النساء: 164]. فَقَدْ أَثْبَتَ لِنَفْسِهِ كَلَامًا. |
Dan dalil atas wajibnya
sifat Kalam bagi-Nya Ta'ala
adalah firman-Nya Ta'ala: "Dan Allah telah berbicara kepada Musa
dengan langsung." (QS. An-Nisa: 164). Maka sungguh Dia telah
menetapkan keberadaan Kalam bagi Dzat-Nya. |
|
وَالْكَلَامُ
يَتَعَلَّقُ بِمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْعِلْمُ مِنَ الْوَاجِبِ وَالْجَائِزِ
وَالْمُسْتَحِيلِ، |
Dan (sifat) Kalam ini
berkaitan (berta'alluq) dengan perkara yang mana (sifat) Ilmu juga
berkaitan dengannya; baik perkara yang wajib, jaiz (mungkin), maupun
mustahil. |
|
لَكِنَّ
تَعَلُّقَ الْعِلْمِ بِهَا تَعَلُّقُ انْكِشَافٍ، بِمَعْنَى أَنَّهَا
مُنْكَشِفَةٌ لَهُ تَعَالَى بِعِلْمِهِ |
Hanya saja, keterkaitan
(sifat) Ilmu dengan perkara-perkara tersebut adalah ta'alluq penyingkapan (inkisyaf),
dalam arti bahwa perkara tersebut tersingkap bagi-Nya Ta'ala melalui
Ilmu-Nya. |
|
وَتَعَلُّقَ
الْكَلَامِ بِهَا تَعَلُّقُ دَلَالَةٍ، بِمَعْنَى أَنَّهُ لَوْ كُشِفَ عَنَّا
الْحِجَابُ وَسَمِعْنَا الْكَلَامَ الْقَدِيمَ لَفَهِمْنَاهَا مِنْهُ. |
Sedangkan keterkaitan
(sifat) Kalam terhadap perkara tersebut adalah ta'alluq penunjukan (dalalah),
dalam arti: seandainya hijab (tabir kegaiban) disingkap dari kita lalu kita
dapat mendengar Kalam Qadim tersebut, niscaya kita akan mampu memahami
perkara-perkara tersebut darinya. |
|
الصِّفَةُ الرَّابِعَةَ
عَشْرَةَ مِنْ صِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ لَهُ تَعَالَى: كَوْنُهُ تَعَالَى
قَادِرًا |
SIFAT KEEMPAT BELAS DARI
SIFAT-SIFAT YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: KAUNUHU TA'ALA QADIRAN (KEADAAN-NYA
TA'ALA MAHAKUASA)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى غَيْرُ مَوْجُودَةٍ وَلَا مَعْدُومَةٍ، |
Ia adalah sebuah sifat yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, yang tidak berwujud (nyata) dan tidak pula
tiada (secara mutlak). |
|
وَهِيَ غَيْرُ
الْقُدْرَةِ، بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْقُدْرَةِ تَلَازُمٌ، |
Sifat ini berbeda dengan
sifat Qudrah. Namun, di antara sifat ini dan sifat Qudrah terdapat
kelaziman (keterikatan yang tak terpisahkan). |
|
فَمَتَى
وُجِدَتِ الْقُدْرَةُ فِي ذَاتٍ وُجِدَتْ فِيهَا الصِّفَةُ الْمُسَمَّاةُ
بِالْكَوْنِ قَادِرًا سَوَاءٌ كَانَتِ الذَّاتُ قَدِيمَةً أَوْ حَادِثَةً. |
Maka kapan pun sifat Qudrah
(kemampuan) terdapat pada suatu dzat, pasti terdapat pula padanya sifat yang
dinamakan Kaunuhu Qadiran (keadaan yang mampu), baik dzat tersebut qadim
(tak berawal/Allah) maupun hadits (baru/makhluk). |
|
فَذَاتُ
زَيْدٍ خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا الْقُدْرَةَ عَلَى الْفِعْلِ، وَخَلَقَ
فِيهَا صِفَةً تُسَمَّى: كَوْنَ زَيْدٍ قَادِرًا، |
Sebagai contoh pada dzat
Zaid; Allah Ta'ala menciptakan pada dirinya sifat kemampuan (qudrah)
untuk berbuat, dan Allah menciptakan (pula) padanya sifat yang dinamakan Kauna
Zaidin Qadiran (keadaan Zaid yang mampu). |
|
وَهَذِهِ
الصِّفَةُ تُسَمَّى - حَالًا - وَالْقُدْرَةُ عِلَّةٌ فِيهَا فِي حَقِّ
الْحَوَادِثِ، |
Dan sifat ini (secara
istilah) dinamakan Hal (keadaan abstrak). Dan sifat qudrah
merupakan sebab ('illat) bagi wujudnya sifat (keadaan) ini pada hak
makhluk (hal yang baru). |
|
وَأَمَّا فِي
حَقِّهِ تَعَالَى فَلَا يُقَالُ: الْقُدْرَةُ عِلَّةٌ فِي كَوْنِ اللَّهِ
تَعَالَى قَادِرًا، |
Adapun pada hak-Nya Ta'ala,
maka tidak boleh dikatakan: "Sifat Qudrah adalah sebab ('illat)
bagi wujudnya Keadaan Allah Ta'ala Mahakuasa." |
|
بَلْ يُقَالُ:
بَيْنَ الْقُدْرَةِ وَكَوْنِهِ تَعَالَى قَادِرًا تَلَازُمٌ. |
Melainkan harus diucapkan:
"Di antara sifat Qudrah dan Keadaan-Nya Ta'ala Mahakuasa itu
semata-mata terdapat kelaziman (keterkaitan logis)." |
|
وَقَالَتِ
الْمُعْتَزِلَةُ بِالتَّلَازُمِ بَيْنَ قُدْرَةِ الْحَادِثِ وَكَوْنِ الْحَادِثِ
قَادِرًا، |
Dan kaum Muktazilah juga
berpendapat adanya kelaziman antara sifat qudrah (kemampuan) makhluk
dan keadaan makhluk tersebut yang mampu. |
|
إِلَّا
أَنَّهُمْ لَا يَقُولُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ الصِّفَةَ الثَّانِيَةَ، |
Hanya saja, mereka
(Muktazilah) tidak mengakui bahwa sifat yang kedua (hal) ini
diciptakan oleh Allah. |
|
بَلْ مَتَى
خَلَقَ اللَّهُ الْقُدْرَةَ فِي الْحَادِثِ نَشَأَ عَنْهَا صِفَةٌ تُسَمَّى
كَوْنَهُ قَادِرًا مِنْ غَيْرِ خَلْقٍ. |
Sebaliknya, (mereka
berkata): Kapan pun Allah menciptakan sifat qudrah pada makhluk,
otomatis timbul darinya sifat yang dinamakan kaunuhu qadiran
(keadaannya mampu) dengan sendirinya tanpa ada proses penciptaan. |
|
الصِّفَةُ الْخَامِسَةَ
عَشْرَةَ مِنْ صِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ لَهُ تَعَالَى: كَوْنُهُ تَعَالَى
مُرِيدًا |
SIFAT KELIMA BELAS DARI
SIFAT-SIFAT YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA: KAUNUHU TA'ALA MURIDAN (KEADAAN-NYA
TA'ALA MAHA BERKEHENDAK)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، غَيْرُ مَوْجُودَةٍ، وَلَا مَعْدُومَةٍ،
وَتُسَمَّى حَالًا، |
Ia adalah sifat yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, tidak berwujud nyata dan tidak pula tiada
mutlak, serta dinamakan Hal. |
|
وَهِيَ غَيْرُ
الْإِرَادَةِ سَوَاءٌ كَانَتِ الذَّاتُ قَدِيمَةً أَوْ حَادِثَةً، |
Sifat ini berbeda dengan
sifat Iradah (kehendak), baik (ketika ia berada) pada dzat yang qadim
(Allah) maupun dzat yang hadits (makhluk). |
|
فَذَاتُ
زَيْدٍ خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا الْإِرَادَةَ لِلْفِعْلِ، وَخَلَقَ
فِيهَا صِفَةً تُسَمَّى كَوْنَ زَيْدٍ مُرِيدًا، |
Maka pada dzat Zaid, Allah
Ta'ala menciptakan sifat iradah untuk berbuat, dan Dia menciptakan
(pula) padanya sifat yang dinamakan kauna Zaidin muridan (keadaan Zaid
berkehendak). |
|
وَمَا
تَقَدَّمَ مِنَ الْخِلَافِ بَيْنَ الْمُعْتَزِلَةِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ فِي
الْكَوْنِ قَادِرًا يَجْرِي مِثْلُهُ فِي الْكَوْنِ مُرِيدًا. |
Dan perbedaan pendapat yang
telah berlalu antara kaum Muktazilah dan Ahlusunah mengenai sifat Kaunuhu
Qadiran, berlaku serupa pembahasannya pada sifat Kaunuhu Muridan. |
|
الصِّفَةُ السَّادِسَةَ
عَشْرَةَ مِنْ صِفَاتِهِ تَعَالَى: كَوْنُهُ تَعَالَى عَالِمًا |
SIFAT KEENAM BELAS DARI
SIFAT-SIFAT-NYA TA'ALA: KAUNUHU TA'ALA 'ALIMAN (KEADAAN-NYA TA'ALA MAHA
MENGETAHUI)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى غَيْرُ مَوْجُودَةٍ وَلَا مَعْدُومَةٍ، وَهِيَ
غَيْرُ الْعِلْمِ، |
Ia adalah sifat yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, tidak berwujud nyata dan tidak pula tiada
mutlak, serta sifat ini berbeda dengan sifat 'Ilm (pengetahuan). |
|
وَيَجْرِي
هَذَا فِي الْحَادِثِ، وَمِثَالُهُ مَا تَقَدَّمَ وَالْخِلَافُ بَيْنَ
الْمُعْتَزِلَةِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ جَارٍ فِيهِ. |
Hal ini berlaku (juga) pada
makhluk, contohnya sama seperti yang telah lewat penjelasannya, dan perbedaan
pendapat antara kaum Muktazilah dan Ahlusunah juga berlaku padanya. |
|
الصِّفَةُ السَّابِعَةَ
عَشْرَةَ الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: كَوْنُهُ تَعَالَى حَيًّا |
SIFAT KETUJUH BELAS YANG WAJIB
BAGI-NYA TA'ALA: KAUNUHU TA'ALA HAYYAN (KEADAAN-NYA TA'ALA MAHAHIDUP)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى غَيْرُ مَوْجُودَةٍ وَلَا مَعْدُومَةٍ، وَهِيَ
غَيْرُ الْحَيَاةِ، وَفِيهِ جَمِيعُ مَا تَقَدَّمَ. |
Ia adalah sifat yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, tidak berwujud nyata dan tidak pula tiada
mutlak. Ia berbeda dengan sifat Hayat (hidup), dan berlaku pada
pembahasan sifat ini seluruh hal-hal yang telah lalu. |
|
الصِّفَةُ الثَّامِنَةَ
عَشْرَةَ الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: كَوْنُهُ تَعَالَى سَمِيعًا |
SIFAT KEDELAPAN BELAS YANG WAJIB
BAGI-NYA TA'ALA: KAUNUHU TA'ALA SAMI'AN (KEADAAN-NYA TA'ALA MAHA MENDENGAR)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى غَيْرُ مَوْجُودَةٍ وَلَا مَعْدُومَةٍ، وَهِيَ
غَيْرُ السَّمْعِ، وَفِيهِ جَمِيعُ الَّذِي تَقَدَّمَ. |
Ia adalah sifat yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, tidak berwujud nyata dan tidak pula tiada
mutlak. Sifat ini berbeda dengan sifat Sam' (pendengaran), dan berlaku
pada (pembahasan) sifat ini seluruh hal yang telah lalu. |
|
الصِّفَةُ التَّاسِعَةَ
عَشْرَةَ الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى: كَوْنُهُ تَعَالَى بَصِيرًا |
SIFAT KESEMBILAN BELAS YANG WAJIB
BAGI-NYA TA'ALA: KAUNUHU TA'ALA BASHIRAN (KEADAAN-NYA TA'ALA MAHA MELIHAT)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى غَيْرُ مَوْجُودَةٍ وَلَا مَعْدُومَةٍ، وَهِيَ
غَيْرُ الْبَصَرِ، وَفِيهِ جَمِيعُ مَا تَقَدَّمَ. |
Ia adalah sifat yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, tidak berwujud nyata dan tidak pula tiada
mutlak. Sifat ini berbeda dengan sifat Bashar (penglihatan), dan
berlaku pada (pembahasan) sifat ini seluruh hal yang telah lalu. |
|
الصِّفَةُ الْعِشْرُونَ
وَهِيَ تَمَامُ مَا يَجِبُ لَهُ تَعَالَى عَلَى التَّفْصِيلِ وَهِيَ كَوْنُهُ
تَعَالَى مُتَكَلِّمًا |
SIFAT KEDUA PULUH—DAN INI ADALAH
PENYEMPURNA (PENUTUP) DARI SELURUH SIFAT YANG WAJIB BAGI-NYA TA'ALA SECARA
TERPERINCI—YAITU: KAUNUHU TA'ALA MUTAKALLIMAN (KEADAAN-NYA TA'ALA MAHA
BERFIRMAN/BERBICARA)
|
|
وَهِيَ صِفَةٌ
قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى غَيْرُ مَوْجُودَةٍ، وَلَا مَعْدُومَةٍ وَهِيَ
غَيْرُ الْكَلَامِ، وَفِيهِ جَمِيعُ مَا تَقَدَّمَ. |
Ia adalah sifat yang
menetap pada Dzat-Nya Ta'ala, tidak berwujud nyata dan tidak pula tiada
mutlak. Sifat ini berbeda dengan sifat Kalam (firman/perkataan), dan
berlaku pada (pembahasan) sifat ini seluruh hal yang telah lalu. |
|
تَنْبِيهٌ |
CATATAN
PENTING (TANBIH)
|
|
مَا تَقَدَّمَ
مِنَ: الْقُدْرَةِ، وَالْإِرَادَةِ، وَالْعِلْمِ، وَالْحَيَاةِ، وَالسَّمْعِ،
وَالْبَصَرِ، وَالْكَلَامِ، |
Sifat-sifat yang telah
lewat penjelasannya, yaitu: Qudrah, Iradah, 'Ilm, Hayat,
Sam', Bashar, dan Kalam, |
|
يُسَمَّى
صِفَاتِ الْمَعَانِي مِنْ إِضَافَةِ الْعَامِّ لِلْخَاصِّ، أَوِ الْإِضَافَةِ
الْبَيَانِيَّةِ، |
Dinamakan "Sifat
Ma'ani" (Sifat-sifat yang memiliki wujud/makna). Penamaan ini termasuk
dalam bab Idhafah al-'Amm lil Khas (penyandaran lafal yang umum kepada
yang khusus) atau Idhafah Bayaniyyah (penyandaran untuk memberi
penjelasan). |
|
وَمَا
بَعْدَهَا وَهُوَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا ...إِلَخْ، تُسَمَّى صِفَاتٍ
مَعْنَوِيَّةً نِسْبَةً لِلْمَعَانِي، |
Sedangkan sifat-sifat
setelahnya, yaitu Kaunuhu Ta'ala Qadiran (Keadaan-Nya Ta'ala
Mahakuasa)... dan seterusnya, dinamakan "Sifat Ma'nawiyyah" (Sifat
Keadaan) sebagai bentuk penisbatan kepada Sifat Ma'ani. |
|
لِأَنَّهَا
تُلَازِمُهَا فِي الْقَدِيمِ، وَتَنْشَأُ عَنْهَا فِي الْحَادِثِ عَلَى مَا
تَقَدَّمَ. |
Hal ini dikarenakan Sifat
Ma'nawiyyah tersebut senantiasa melazimi (melekat tak terpisahkan dari) Sifat
Ma'ani pada Dzat yang Qadim (Allah), dan ia timbul dari Sifat Ma'ani
pada dzat yang hadits (makhluk), berdasarkan penjelasan yang telah
berlalu. |
|
هَذَا،
وَزَادَ الْمَاتُرِيدِيَّةُ فِي صِفَاتِ الْمَعَانِي صِفَةً ثَامِنَةً،
وَسَمَّوْهَا: التَّكْوِينَ، |
Di samping itu, golongan
Al-Maturidiyyah menambahkan sifat kedelapan ke dalam kelompok Sifat Ma'ani,
dan mereka menamakannya: Sifat At-Takwin (Maha
Mewujudkan/Menciptakan). |
|
وَهِيَ صِفَةٌ
مَوْجُودَةٌ كَبَقِيَّةِ صِفَاتِ الْمَعَانِي لَوْ كُشِفَ عَنَّا الْحِجَابُ
لَرَأَيْنَاهَا كَمَا نَرَى صِفَاتِ الْمَعَانِي لَوْ كُشِفَ عَنَّا الْحِجَابُ. |
Ia adalah sifat yang
berwujud (nyata) seperti halnya sifat-sifat Ma'ani lainnya, yang seandainya
hijab disingkap dari kita niscaya kita akan dapat melihatnya, sebagaimana
kita (akan) melihat sifat-sifat Ma'ani seandainya hijab disingkap dari kita. |
|
وَاعْتَرَضَهُمُ
الْأَشَاعِرَةُ بِأَنْ مَا فَائِدَةُ التَّكْوِينِ بَعْدَ الْقُدْرَةِ؛ لِأَنَّ
الْمَاتُرِيدِيَّةَ يَقُولُونَ: إِنَّ اللَّهَ يُوجِدُ وَيُعْدِمُ
بِالتَّكْوِينِ. |
Lalu golongan
Al-Asy'ariyyah melontarkan bantahan/keberatan kepada mereka dengan berkata:
"Apa fungsinya sifat Takwin ini setelah adanya sifat Qudrah?"
Karena golongan Al-Maturidiyyah berpendapat: Bahwa Allah itu mewujudkan dan
meniadakan (sesuatu) dengan menggunakan sifat Takwin. |
|
فَأَجَابُوا
بِأَنَّ الْقُدْرَةَ تُهَيِّئُ الْمُمْكِنَ لِلْوُجُودِ أَيْ تُصَيِّرُهُ
قَابِلًا لِلْوُجُودِ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ، وَالتَّكْوِينُ بَعْدَ ذَلِكَ
يُوجِدُهُ بِالْفِعْلِ. |
Maka mereka (Maturidiyyah)
menjawab: Bahwa sifat Qudrah itu bertugas mempersiapkan hal yang
mungkin (mumkin) menuju wujud, yakni menjadikannya berpotensi menerima
wujud setelah sebelumnya tiada. Kemudian setelah itu, barulah sifat Takwin
yang mewujudkannya secara aktual. |
|
وَرَدَّهُ
الْأَشَاعِرَةُ بِأَنَّ الْمُمْكِنَ قَابِلٌ لِلْوُجُودِ مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ. |
Namun golongan
Al-Asy'ariyyah menolak (argumen) tersebut dengan menyatakan: Bahwa hal yang
mungkin (mumkin) itu pada dasarnya sudah (memiliki) kesiapan/potensi
menerima wujud tanpa membutuhkan campur tangan sesuatu (sifat penyiap) apa
pun. |
|
وَمِنْ أَجْلِ
كَوْنِهِمْ زَادُوا هَذِهِ الصِّفَةَ قَالُوا: إِنَّ صِفَاتِ الْأَفْعَالِ
قَدِيمَةٌ كَالْخَلْقِ وَالْإِحْيَاءِ وَالرِّزْقِ وَالْإِمَاتَةِ، |
Dan lantaran mereka
(golongan Al-Maturidiyyah) menambahkan sifat (Takwin) ini, mereka pun
berpendapat: Sesungguhnya Sifat-sifat Perbuatan (Sifat Al-Af'al) itu
bersifat Qadim (tak berawal), seperti penciptaan, penghidupan,
pemberian rezeki, dan pematian. |
|
لِأَنَّ
هَذِهِ الْأَلْفَاظَ أَسْمَاءٌ لِلتَّكْوِينِ الَّذِي هُوَ صِفَةٌ مَوْجُودَةٌ
عِنْدَهُمْ، وَالتَّكْوِينُ قَدِيمٌ، فَتَكُونُ صِفَاتُ الْأَفْعَالِ قَدِيمَةً، |
Sebab, lafal-lafal ini
(hakikatnya) adalah nama-nama (lain) bagi sifat Takwin, yang mana sifat
Takwin itu adalah sifat yang berwujud menurut pandangan mereka. Dan
(mengingat) sifat Takwin itu Qadim, maka otomatis sifat-sifat
perbuatan itu pun menjadi Qadim. |
|
وَعِنْدَ
الْأَشَاعِرَةِ صِفَاتُ الْأَفْعَالِ حَادِثَةٌ، لِأَنَّهَا أَسْمَاءٌ
لِتَعَلُّقَاتِ الْقُدْرَةِ |
Sedangkan menurut golongan
Al-Asy'ariyyah, Sifat-sifat Perbuatan itu adalah hal yang baru (haditsah),
karena (nama-nama) itu hanyalah sebutan bagi fungsi keterkaitan (ta'alluqat)
dari sifat Qudrah. |
|
فَالْإِحْيَاءُ
اسْمٌ لِتَعَلُّقِ الْقُدْرَةِ بِالْحَيَاةِ، وَالرِّزْقُ اسْمٌ لِتَعَلُّقِ
الْقُدْرَةِ بِالْمَرْزُوقِ، |
Maka,
"menghidupkan" (al-ihya') adalah sebutan bagi keterkaitan
sifat Qudrah dengan (terciptanya) kehidupan, "memberi
rezeki" (ar-rizq) adalah sebutan bagi keterkaitan sifat Qudrah
dengan orang yang diberi rezeki, |
|
وَالْخَلْقُ
اسْمٌ لِتَعَلُّقِهَا بِالْمَخْلُوقِ، وَالْإِمَاتَةُ اسْمٌ لِتَعَلُّقِهَا
بِالْمَوْتِ، وَتَعَلُّقَاتُ الْقُدْرَةِ عِنْدَهُمْ حَادِثَةٌ. |
"mencipta" (al-khalq)
adalah sebutan bagi keterkaitannya dengan makhluk, dan "mematikan"
(al-imatah) adalah sebutan bagi keterkaitannya dengan kematian.
Sementara keterkaitan (ta'alluqat) dari sifat Qudrah itu
sendiri menurut mereka (golongan Asy'ariyyah) adalah hal yang baru (haditsah). |
|
بَيَانُ الصِّفَاتِ
الْمُسْتَحِيلَةِ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى |
PENJELASAN SIFAT-SIFAT YANG
MUSTAHIL PADA HAK ALLAH TA'ALA
|
|
وَمِنَ
الْخَمْسِينَ عِشْرُونَ أَضْدَادُ هَذِهِ الْعِشْرِينَ هِيَ: |
Dan di antara (rincian)
kelima puluh (akidah tersebut) adalah dua puluh (sifat) yang menjadi
kebalikan (dhidd) dari kedua puluh (sifat wajib) ini, yaitu: |
|
الْأُولَى:
الْعَدَمُ ضِدُّ الْوُجُودِ. |
Pertama: Al-'Adam (Ketiadaan), yaitu lawan
dari Al-Wujud (Ada). |
|
الثَّانِيَةُ:
الْحُدُوثُ ضِدُّ الْقِدَمِ. |
Kedua: Al-Huduts (Baru/Ada permulaan),
yaitu lawan dari Al-Qidam (Mahadahulu/Tanpa permulaan). |
|
وَالثَّالِثَةُ:
الْفَنَاءُ ضِدُّ الْبَقَاءِ. |
Ketiga: Al-Fana' (Binasa/Ada akhirnya),
yaitu lawan dari Al-Baqa' (Mahakekal/Tanpa akhir). |
|
وَالرَّابِعَةُ:
الْمُمَاثَلَةُ ضِدُّ الْمُخَالَفَةِ. |
Keempat: Al-Mumatsalah (Serupa dengan
makhluk), yaitu lawan dari Al-Mukhalafah (Berbeda dengan makhluk). |
|
يَسْتَحِيلُ
عَلَيْهِ تَعَالَى أَنْ يُمَاثِلَ الْحَوَادِثَ فِي شَيْءٍ مِمَّا اتَّصَفُوا
بِهِ، |
Mustahil bagi-Nya Ta'ala
menyerupai hal-hal yang baru (makhluk) dalam hal sekecil apa pun dari
sifat-sifat yang melekat pada mereka. |
|
فَلَا يَمُرُّ
عَلَيْهِ تَعَالَى زَمَانٌ، وَلَيْسَ لَهُ مَكَانٌ، وَلَيْسَ لَهُ حَرَكَةٌ
وَلَا سُكُونٌ، وَلَا يَتَّصِفُ بِأَلْوَانٍ وَلَا بِجِهَةٍ، |
Maka Dia Ta'ala tidak
dilalui oleh (putaran) zaman (waktu), Dia tidak menempati tempat, tidak
berlaku bagi-Nya gerakan maupun diam, dan tidak pula disifati dengan
warna-warni maupun arah. |
|
فَلَا
يُقَالُ: فَوْقَ الْجِرْمِ وَلَا عَنْ يَمِينِ الْجِرْمِ، وَلَيْسَ لَهُ
تَعَالَى جِهَةٌ، |
Maka tidak boleh dikatakan:
"(Allah) berada di atas suatu benda fisik," atau "di sebelah
kanan benda fisik." Sebab, Dia Ta'ala tidak terikat oleh arah. |
|
فَلَا
يُقَالُ: إِنِّي تَحْتَ اللَّهِ، فَقَوْلُ الْعَامَّةِ إِنِّي تَحْتَ رَبِّنَا،
أَوْ إِنَّ رَبِّي فَوْقِي كَلَامٌ مُنْكَرٌ يُخَافُ عَلَى مَنْ يَعْتَقِدُهُ
الْكُفْرُ. |
Sehingga tidak boleh
diucapkan: "Sesungguhnya aku berada di bawah Allah." Maka ucapan
masyarakat awam (yang lazim di dengar): "Aku berlindung di bawah
(naungan) Tuhan kita," atau "Tuhanku berada di atasku," adalah
perkataan yang mungkar, yang sangat dikhawatirkan dapat menjerumuskan orang
yang meyakininya (secara harfiah) ke dalam jurang kekufuran. |
|
الْخَامِسَةُ:
الِاحْتِيَاجُ إِلَى مَحَلٍّ، أَيْ: ذَاتٍ يَقُومُ بِهَا، أَوْ إِلَى مُخَصِّصٍ
أَيْ: مُوجِدٍ - تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ - وَهَذَا ضِدُّ الْقِيَامِ
بِنَفْسِهِ. |
Kelima: Al-Ihtiyaj
(Membutuhkan/Bergantung) pada suatu tempat bernaung (mahall), yakni
suatu zat agar Dia bisa berpijak di atasnya; atau bergantung pada mukhasshish,
yakni sosok pencipta. Mahasuci Allah dari hal-hal demikian! Dan ini adalah
lawan dari sifat Al-Qiyamu bi Nafsihi (Berdiri Sendiri). |
|
السَّادِسَةُ:
التَّعَدُّدُ بِمَعْنَى التَّرْكِيبِ فِي الذَّاتِ أَوِ الصِّفَاتِ أَوْ وُجُودِ
نَظِيرٍ فِي الذَّاتِ أَوِ الصِّفَاتِ أَوِ الْأَفْعَالِ، وَهَذِهِ ضِدُّ
الْوَحْدَانِيَّةِ. |
Keenam: At-Ta'addud (Berbilang/Majemuk)
yang bermakna tersusunnya Dzat dan Sifat-sifat dari bagian-bagian; atau
adanya tandingan bagi-Nya, baik dalam Dzat, Sifat-sifat, maupun Perbuatan (Af'al).
Dan ini adalah lawan dari sifat Al-Wahdaniyyah (Maha Esa). |
|
السَّابِعَةُ:
الْعَجْزُ وَهُوَ ضِدُّ الْقُدْرَةِ: فَيَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى الْعَجْزُ
عَنْ مُمْكِنٍ مَا مِنَ الْمُمْكِنَاتِ. |
Ketujuh: Al-'Ajz (Lemah), yaitu lawan dari
sifat Al-Qudrah (Mahakuasa). Maka mustahil bagi-Nya Ta'ala bersifat
lemah dari mewujudkan satu hal saja dari perkara-perkara yang mungkin (mumkinat). |
|
الثَّامِنَةُ:
الْكَرَاهَةُ، وَهِيَ ضِدُّ الْإِرَادَةِ: فَيَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى أَنْ
يُوجِدَ شَيْئًا مِنَ الْعَالَمِ مَعَ كَرَاهَتِهِ لَهُ أَيْ: عَدَمِ
إِرَادَتِهِ، |
Kedelapan: Al-Karahah (Terpaksa), yaitu
lawan dari sifat Al-Iradah (Maha Berkehendak). Maka mustahil bagi-Nya
Ta'ala mewujudkan sesuatu dari alam semesta ini dalam keadaan Dia terpaksa
(membencinya), yakni Dia tidak menghendakinya. |
|
فَالْمَوْجُودَاتُ
الْمُمْكِنَاتُ أَوْجَدَهَا اللَّهُ تَعَالَى بِإِرَادَتِهِ وَاخْتِيَارِهِ. |
Sebaliknya, makhluk-makhluk
yang (statusnya) mungkin wujud ini diwujudkan oleh Allah Ta'ala semata-mata
dengan kehendak dan pilihan-Nya. |
|
وَيُؤْخَذُ
مِنْ وُجُوبِ الْإِرَادَةِ لَهُ تَعَالَى أَنَّ وُجُودَ الْمَخْلُوقَاتِ لَيْسَ
بِطَرِيقِ التَّعْلِيلِ وَلَا بِطَرِيقِ الطَّبْعِ. |
Dan dipetik pelajaran dari
wajibnya sifat Iradah (Maha Berkehendak) bagi-Nya Ta'ala: Bahwa
terwujudnya makhluk-makhluk ini bukanlah melalui jalan sebab-akibat otomatis
(ta'lil), dan bukan pula melalui jalan tabiat alami (thab'). |
|
وَالْفَرْقُ
بَيْنَهُمَا: أَنَّ الْمَوْجُودَ بِطَرِيقِ التَّعْلِيلِ كُلَّمَا وُجِدَتْ
عِلَّتُهُ وُجِدَ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ عَلَى شَيْءٍ آخَرَ، |
Adapun perbedaan di antara
keduanya adalah: Sesungguhnya sesuatu yang tercipta melalui jalan ta'lil
itu bermakna: setiap kali penyebabnya ('illat) terwujud, maka
serta-merta akibatnya akan wujud bersamanya tanpa harus bergantung pada
prasyarat lain. |
|
كَحَرَكَةِ
الْأُصْبُعِ فَإِنَّهَا عِلَّةٌ لِحَرَكَةِ الْخَاتَمِ مَتَى وُجِدَتْ وُجِدَتِ
الثَّانِيَةُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ عَلَى شَيْءٍ آخَرَ. |
Hal ini ibarat gerakan jari
tangan, maka sungguh ia menjadi sebab ('illat) atas bergeraknya cincin
yang melingkar padanya; kapan pun gerakan pertama wujud, niscaya gerakan
kedua (cincin) akan langsung wujud bersamanya tanpa bergantung pada syarat
lain. |
|
وَأَنَّ
الْمَوْجُودَ بِطَرِيقِ الطَّبْعِ، يَتَوَقَّفُ عَلَى شَرْطٍ وَانْتِفَاءِ
مَانِعٍ كَالنَّارِ، |
Dan adapun sesuatu yang
tercipta melalui jalan thab' (tabiat alami) itu bermakna: pewujudannya
bergantung pada adanya syarat dan hilangnya segala rintangan (penghalang);
seperti watak api, |
|
فَإِنَّهَا
لَا تُحْرِقُ إِلَّا بِشَرْطِ الْمُمَاسَّةِ لِلْحَطَبِ وَانْتِفَاءِ الْبَلَلِ
الَّذِي هُوَ الْمَانِعُ مِنْ إِحْرَاقِهَا، |
Maka sesungguhnya ia tidak
akan bisa membakar melainkan dengan syarat api itu menyentuh kayu bakar, dan
hilangnya unsur basah yang menjadi penghalang proses pembakaran. |
|
فَالنَّارُ
تُحْرِقُ بِطَبِيعَتِهَا عِنْدَ الْقَائِلِينَ بِالطَّبِيعَةِ لَعَنَهُمُ
اللَّهُ. |
Maka, (mereka berpendapat)
api itu membakar murni menggunakan kekuatan tabiat alaminya. Itulah keyakinan
para penganut paham natur (kaum penganut tabiat/materi)—semoga Allah melaknat
mereka. |
|
بَلِ الْحَقُّ
أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَخْلُقُ الْإِحْرَاقَ فِي الْحَطَبِ عِنْدَ
مُمَاسَّتِهِ النَّارَ، |
Padahal, kebenaran yang
hakiki adalah: Bahwa Allah Ta'ala-lah yang menciptakan (efek) hangus pada
kayu bakar secara bertepatan (momennya) ketika api menyentuh kayu tersebut. |
|
كَمَا
يَخْلُقُ حَرَكَةَ الْخَاتَمِ عِنْدَ وُجُودِ حَرَكَةِ الْأُصْبُعِ، |
Sebagaimana Dia pulalah
yang menciptakan (fakta) gerakan cincin bertepatan dengan adanya (fakta)
gerakan jari. |
|
فَلَا وُجُودَ
لِشَيْءٍ بِالتَّعْلِيلِ وَلَا بِالطَّبْعِ خِلَافًا لِلْقَائِلِينَ بِذَلِكَ. |
Maka tidak ada pewujudan
(penciptaan) sesuatu apa pun yang terjadi melalui jalan ta'lil
(otomatis) maupun jalan thab' (tabiat materi), dan ini menentang kaum
yang berkeyakinan demikian. |
|
وَيَسْتَحِيلُ
عَلَيْهِ تَعَالَى أَنْ يَكُونَ عِلَّةً فِي الْعَالَمِ نَشَأَ عَنْهُ بِغَيْرِ
اخْتِيَارِهِ، |
Dan mustahil bagi-Nya
Ta'ala berstatus sebagai 'illat (sebab otomatis) atas terciptanya alam
semesta ini, sehingga alam semesta timbul dari-Nya tanpa adanya pilihan
kehendak-Nya (ikhtiyar). |
|
أَوْ يَكُونَ
طَبِيعَةً وُجِدَ الْعَالَمُ بِطَبِيعَتِهِ، تَنَزَّهَ اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ
وَتَعَالَى عُلُوًّا كَبِيرًا. |
Atau (mustahil) Dia
dianggap sebagai entitas alam/tabiat yang mana wujud alam semesta terjadi
dengan dorongan tabiat-Nya. Mahasuci Allah dari hal-hal tersebut, dan
Mahatinggi Dia dengan ketinggian yang agung. |
|
التَّاسِعَةُ:
الْجَهْلُ، فَيَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى الْجَهْلُ بِمُمْكِنٍ مِنَ
الْمُمْكِنَاتِ |
Kesembilan: Al-Jahl (Bodoh), maka mustahil
bagi-Nya Ta'ala bersifat bodoh (tidak mengetahui) terhadap perkara apa pun
dari hal-hal yang mungkin (mumkinat). |
|
سَوَاءٌ
كَانَ: بَسِيطًا: وَهُوَ عَدَمُ الْعِلْمِ بِالشَّيْءِ. |
Baik itu Jahl Basith
(Kebodohan sederhana): yakni sama sekali tidak memiliki pengetahuan (kosong)
akan sesuatu. |
|
أَوْ
مُرَكَّبًا: وَهُوَ إِدْرَاكُ الشَّيْءِ عَلَى خِلَافِ مَا هُوَ عَلَيْهِ، |
Maupun Jahl Murakkab
(Kebodohan majemuk): yakni meyakini/menangkap pemahaman tentang sesuatu namun
menyalahi hakikat yang sebenarnya (salah kaprah). |
|
وَيَسْتَحِيلُ
عَلَيْهِ تَعَالَى الْغَفْلَةُ وَالذُّهُولُ، وَهَذَا ضِدُّ الْعِلْمِ. |
Dan mustahil bagi-Nya
Ta'ala sifat lalai dan lupa, dan ini merupakan lawan dari sifat Al-'Ilm
(Maha Mengetahui). |
|
الْعَاشِرَةُ:
الْمَوْتُ، وَهُوَ ضِدُّ الْحَيَاةِ. |
Kesepuluh: Al-Maut (Mati), yaitu lawan dari
sifat Al-Hayat (Mahahidup). |
|
الْحَادِيَةَ
عَشْرَةَ: الصَّمَمُ، وَهُوَ ضِدُّ السَّمْعِ. |
Kesebelas: Ash-Shamam (Tuli), yaitu lawan
dari sifat As-Sam' (Maha Mendengar). |
|
الثَّانِيَةَ
عَشْرَةَ: الْعَمَى، وَهُوَ ضِدُّ الْبَصَرِ. |
Kedua Belas: Al-'Ama (Buta), yaitu lawan dari
sifat Al-Bashar (Maha Melihat). |
|
الثَّالِثَةَ
عَشْرَةَ: الْخَرَسُ وَفِي مَعْنَاهُ الْبَكَمُ، وَهُوَ ضِدُّ الْكَلَامِ. |
Ketiga Belas: Al-Kharas (Bisu) yang mana sifat Al-Bakam
(kelu/gagu) semakna dengannya, yaitu lawan dari sifat Al-Kalam (Maha
Berfirman). |
|
الرَّابِعَةَ
عَشْرَةَ: كَوْنُهُ تَعَالَى عَاجِزًا وَهُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ تَعَالَى قَادِرًا. |
Keempat Belas: Kaunuhu Ta'ala 'Ajizan
(Keadaan-Nya Ta'ala lemah), yaitu lawan dari sifat Kaunuhu Ta'ala Qadiran
(Keadaan-Nya Ta'ala Mahakuasa). |
|
الْخَامِسَةَ
عَشْرَةَ: كَوْنُهُ تَعَالَى كَارِهًا وَهُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ تَعَالَى مُرِيدًا. |
Kelima Belas: Kaunuhu Ta'ala Karihan
(Keadaan-Nya Ta'ala terpaksa), yaitu lawan dari sifat Kaunuhu Ta'ala
Muridan (Keadaan-Nya Ta'ala Maha Berkehendak). |
|
السَّادِسَةَ
عَشْرَةَ: كَوْنُهُ تَعَالَى جَاهِلًا، وَهُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ تَعَالَى عَالِمًا. |
Keenam Belas: Kaunuhu Ta'ala Jahilan
(Keadaan-Nya Ta'ala bodoh), yaitu lawan dari sifat Kaunuhu Ta'ala 'Aliman
(Keadaan-Nya Ta'ala Maha Mengetahui). |
|
السَّابِعَةَ
عَشْرَةَ: كَوْنُهُ تَعَالَى مَيِّتًا، وَهُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ تَعَالَى حَيًّا. |
Ketujuh Belas: Kaunuhu Ta'ala Mayyitan
(Keadaan-Nya Ta'ala mati), yaitu lawan dari sifat Kaunuhu Ta'ala Hayyan
(Keadaan-Nya Ta'ala Mahahidup). |
|
الثَّامِنَةَ
عَشْرَةَ: كَوْنُهُ تَعَالَى أَصَمَّ وَهُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ تَعَالَى سَمِيعًا. |
Kedelapan Belas: Kaunuhu Ta'ala Ashamma
(Keadaan-Nya Ta'ala tuli), yaitu lawan dari sifat Kaunuhu Ta'ala Sami'an
(Keadaan-Nya Ta'ala Maha Mendengar). |
|
التَّاسِعَةَ
عَشْرَةَ: كَوْنُهُ تَعَالَى أَعْمَى، وَهُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ تَعَالَى بَصِيرًا. |
Kesembilan Belas: Kaunuhu Ta'ala A'ma (Keadaan-Nya
Ta'ala buta), yaitu lawan dari sifat Kaunuhu Ta'ala Bashiran
(Keadaan-Nya Ta'ala Maha Melihat). |
|
الْعِشْرُونَ:
كَوْنُهُ تَعَالَى أَبْكَمَ، وَفِي مَعْنَاهُ الْخَرَسُ وَهُوَ ضِدُّ كَوْنِهِ
تَعَالَى مُتَكَلِّمًا. |
Kedua Puluh: Kaunuhu Ta'ala Abkama
(Keadaan-Nya Ta'ala kelu/gagu), dan Al-Kharas (bisu) semakna
dengannya, yaitu lawan dari sifat Kaunuhu Ta'ala Mutakalliman
(Keadaan-Nya Ta'ala Maha Berfirman). |
|
فَهَذِهِ
الْعِشْرُونَ كُلُّهَا مُسْتَحِيلَاتٌ عَلَيْهِ تَعَالَى. |
Maka, keseluruhan dua puluh
sifat ini merupakan kemustahilan bagi-Nya Ta'ala. |
|
وَاعْلَمْ
أَنَّ دَلِيلَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْعِشْرِينَ الْوَاجِبَةِ يُثْبِتُهَا لَهُ
تَعَالَى وَيَنْفِي عَنْهُ ضِدَّهَا. |
Dan ketahuilah bahwa dalil
bagi masing-masing dari dua puluh sifat yang wajib tersebut, secara otomatis
menetapkan (sifat wajib itu) bagi-Nya Ta'ala dan sekaligus menafikan
(menolak) sifat kebalikannya dari-Nya. |
|
وَأَدِلَّةُ
السَّبْعِ الْمَعَانِي هِيَ أَدِلَّةُ السَّبْعِ الْمَعْنَوِيَّةِ. |
Dan dalil-dalil bagi tujuh
Sifat Ma'ani (hakikatnya) adalah dalil-dalil bagi tujuh Sifat Ma'nawiyyah
juga. |
|
فَهَذِهِ
أَرْبَعُونَ عَقِيدَةً يَجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى مِنْهَا عِشْرُونَ وَيَنْتَفِي
عَنْهُ تَعَالَى عِشْرُونَ وَعِشْرُونَ دَلِيلًا إِجْمَالِيًّا كُلُّ دَلِيلٍ
أَثْبَتَ صِفَةً وَنَفَى ضِدَّهَا. |
Maka (genaplah) ini menjadi
empat puluh akidah: Di mana wajib bagi Allah Ta'ala dua puluh sifat darinya,
dan tertolak dari-Nya Ta'ala dua puluh sifat (lainnya), beserta dua puluh
dalil global (ijmali), yang mana tiap-tiap dalil berfungsi menetapkan
satu sifat (wajib) dan menolak kebalikannya. |
|
تَنْبِيهٌ |
CATATAN PENTING (TANBIH)
|
|
قَالَ
بَعْضُهُمْ: الْأَشْيَاءُ أَرْبَعَةٌ: مَوْجُودَاتٌ، وَمَعْدُومَاتٌ،
وَأَحْوَالٌ، وَاعْتِبَارَاتٌ. |
Sebagian ulama berkata:
Sesuatu (Al-Asyya') itu ada empat macam: hal-hal yang wujud (ada),
hal-hal yang tiada, Ahwal (keadaan di antara ada dan tiada), dan I'tibarat
(anggapan pikiran). |
|
فَالْمَوْجُودَاتُ،
كَذَاتِ زَيْدٍ الَّتِي تَرَاهَا. |
Maka hal yang wujud (ada)
adalah seperti tubuh fisik Zaid yang engkau lihat. |
|
وَالْمَعْدُومَاتُ،
كَوَلَدِكَ قَبْلَ أَنْ يُخْلَقَ. |
Hal yang tiada adalah
seperti anakmu sebelum ia diciptakan. |
|
وَالْأَحْوَالُ،
كَالْكَوْنِ قَادِرًا. |
Ahwal (keadaan) adalah seperti 'keadaan yang
mampu' (Al-Kaun Qadiran). |
|
وَالِاعْتِبَارَاتُ،
كَثُبُوتِ الْقِيَامِ لِزَيْدٍ. |
Dan I'tibarat
(anggapan pikiran) adalah seperti tetapnya anggapan 'berdiri' bagi Zaid. |
|
وَعَلَى هَذَا
أَعْنِي كَوْنَ الْأَشْيَاءِ أَرْبَعَةً، جَرَى السَّنُوسِيُّ فِي الصُّغْرَى
لِأَنَّهُ أَثْبَتَ الْأَحْوَالَ، وَجَعَلَ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةَ عِشْرِينَ، |
Berpijak pada hal ini—yakni
anggapan bahwa segala sesuatu itu terbagi empat—Imam as-Sanusi berpegang
teguh di dalam kitab As-Sughra. Sebab, beliau menetapkan (mengakui)
adanya Ahwal sehingga beliau menjadikan sifat-sifat yang wajib
berjumlah dua puluh. |
|
وَجَرَى فِي
غَيْرِهَا عَلَى نَفْيِ الْأَحْوَالِ، وَهُوَ الْحَقُّ. |
Namun di dalam kitab-kitab
beliau yang lain, beliau berpegang pada pendapat yang menolak adanya Ahwal.
Dan inilah pendapat yang benar (Al-Haqq). |
|
فَعَلَى هَذَا
تَكُونُ الصِّفَاتُ ثَلَاثَةَ عَشَرَ لِأَنَّهُ يَسْقُطُ مِنْهَا السَّبْعُ
الْمَعْنَوِيَّةُ، وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا إِلَى آخِرِهَا، |
Maka berdasarkan pendapat
(yang menolak Ahwal) ini, jumlah sifat (yang wajib) menjadi tiga belas
saja. Karena tujuh sifat Ma'nawiyyah menjadi gugur darinya, yaitu
sifat 'Keadaan-Nya Ta'ala Mahakuasa' dan seterusnya. |
|
فَلَيْسَ لَهُ
تَعَالَى صِفَةٌ تُسَمَّى كَوْنَهُ قَادِرًا، لِأَنَّ الْحَقَّ نَفْيُ
الْأَحْوَالِ. |
Sehingga tidak ada bagi-Nya
Ta'ala sifat yang dinamakan 'Keadaan-Nya Mahakuasa', karena pendapat yang
benar adalah menolak wujudnya Ahwal. |
|
فَعَلَى هَذَا
تَكُونُ الْأَشْيَاءُ ثَلَاثَةً: مَوْجُودَاتٍ وَمَعْدُومَاتٍ وَاعْتِبَارَاتٍ، |
Dan atas dasar ini pula,
segala sesuatu itu hanya terbagi tiga macam: hal yang wujud (ada), hal yang
tiada, dan anggapan pikiran. |
|
وَإِذَا
سَقَطَ مِنَ الْعِشْرِينَ الْوَاجِبَةِ سَبْعٌ مَعْنَوِيَّةٌ يَسْقُطُ مِنَ
الْأَضْدَادِ سَبْعٌ أَيْضًا، |
Dan apabila telah gugur
tujuh sifat Ma'nawiyyah dari dua puluh sifat yang wajib, maka gugur
pula tujuh sifat dari kebalikan-kebalikannya. |
|
فَلَيْسَ
هُنَاكَ صِفَةٌ تُسَمَّى الْكَوْنَ عَاجِزًا إِلَى آخِرِهَا، فَلَا يُحْتَاجُ
إِلَى عَدِّهَا مِنَ الْمُسْتَحِيلَاتِ فَتَكُونُ الْمُسْتَحِيلَاتُ ثَلَاثَةَ
عَشَرَ أَيْضًا، |
Maka tidak ada di sana
sifat yang dinamakan 'Keadaan yang lemah' dan seterusnya, sehingga tidak
perlu lagi menghitungnya ke dalam kelompok sifat-sifat mustahil. Dengan
demikian, jumlah sifat-sifat mustahil pun menjadi tiga belas saja. |
|
هَذَا إِنْ
عُدَّ الْوُجُودُ صِفَةً وَهُوَ رَأْيُ غَيْرِ الْأَشْعَرِيِّ. |
Ketentuan ini berlaku jika Wujud
(Ada) dihitung sebagai sebuah sifat tersendiri, dan ini adalah pendapat ulama
selain Imam al-Asy'ari. |
|
وَأَمَّا
عَلَى رَأْيِ الْأَشْعَرِيِّ فَالْوُجُودُ عَيْنُ الْمَوْجُودِ، فَوُجُودُهُ
تَعَالَى عَيْنُ ذَاتِهِ، فَيَكُونُ الْوُجُودُ لَيْسَ بِصِفَةٍ، |
Adapun menurut pendapat
Imam al-Asy'ari, wujud adalah hakikat dari sesuatu yang ada itu sendiri. Maka
wujud-Nya Ta'ala adalah hakikat Dzat-Nya sendiri, sehingga wujud itu tidak
dianggap sebagai sebuah sifat (yang terpisah dari Dzat). |
|
فَتَكُونُ
الصِّفَاتُ الْوَاجِبَةُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ الْقِدَمَ وَالْبَقَاءَ
وَالْمُخَالَفَةَ وَالْقِيَامَ بِنَفْسِهِ وَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِالِاسْتِغْنَاءِ
الْمُطْلَقِ وَالْوَحْدَانِيَّةَ، وَالْقُدْرَةَ وَالْإِرَادَةَ وَالْعِلْمَ،
وَالْحَيَاةَ، وَالسَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْكَلَامَ |
Maka (menurut beliau)
jumlah sifat wajib menjadi dua belas saja, yaitu: Qidam, Baqa',
Mukhalafah, Qiyamuhu bi Nafsihi—yang bisa juga disebut dengan
istilah Kemandirian Mutlak—Wahdaniyyah, Qudrah, Iradah, 'Ilm,
Hayat, Sam', Bashar, dan Kalam. |
|
وَتَسْقُطُ
الْمَعْنَوِيَّةُ لِأَنَّ ثُبُوتَهَا مَبْنِيٌّ عَلَى الْقَوْلِ بِالْأَحْوَالِ،
وَالْحَقُّ خِلَافُهُ. |
Dan gugurlah sifat-sifat Ma'nawiyyah
karena penetapannya dibangun di atas pendapat yang mengakui adanya Ahwal
(keadaan), padahal kebenaran justru bertentangan dengannya. |
|
وَإِنْ
أَرَدْتَ أَنْ تُعَلِّمَ صِفَاتِهِ تَعَالَى لِلْعَامَّةِ، فَأَثْبِتْ بِهَا
أَسْمَاءً مُشْتَقَّةً مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْكُورَاتِ، |
Dan jika engkau hendak
mengajarkan sifat-sifat-Nya Ta'ala kepada masyarakat awam, maka tetapkanlah
nama-nama yang dibentuk dari sifat-sifat yang telah disebutkan itu. |
|
فَيُقَالُ:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى: مَوْجُودٌ، قَدِيمٌ، مُخَالِفٌ لِلْحَوَادِثِ،
مُسْتَغْنٍ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَاحِدٌ، قَادِرٌ، مُرِيدٌ، عَالِمٌ، حَيٌّ،
سَمِيعٌ، بَصِيرٌ، مُتَكَلِّمٌ، وَيُعَلَّمُونَ أَضْدَادَهَا. |
Maka diucapkan:
Sesungguhnya Allah Ta'ala itu Mawjud (Maha Ada), Qadim
(Mahadahulu), Mukhalif lil Hawadits (Berbeda dengan makhluk), Mustaghnin
'an Kulli Syai' (Maha Mandiri dari segala sesuatu), Wahid (Maha
Esa), Qadir (Mahakuasa), Murid (Maha Berkehendak), 'Alim
(Maha Mengetahui), Hayy (Mahahidup), Sami' (Maha Mendengar), Bashir
(Maha Melihat), dan Mutakallim (Maha Berfirman). Dan ajarkanlah pula
kepada mereka kebalikan-kebalikannya. |
|
وَاعْلَمْ
أَنَّ بَعْضَ الْأَشْيَاخِ فَرَّقَ بَيْنَ الْأَحْوَالِ وَالِاعْتِبَارَاتِ |
Dan ketahuilah bahwa
sebagian guru besar membedakan antara Ahwal (keadaan) dan I'tibarat
(anggapan pikiran). |
|
فَقَالَ:
الْحَالُ وَالِاعْتِبَارُ كُلٌّ مِنْهُمَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَلَا مَعْدُومٍ،
بَلْ لَهُ تَحَقُّقٌ فِي نَفْسِهِ |
Ia berkata: "Hal
maupun I'tibar, masing-masing dari keduanya itu tidak berwujud nyata
dan tidak pula tiada mutlak, melainkan ia benar-benar ada pada dirinya
sendiri. |
|
إِلَّا أَنَّ
الْحَالً لَهُ تَعَلُّقٌ وَقِيَامٌ بِالذَّاتِ، وَالِاعْتِبَارَ لَا تَعَلُّقَ
لَهُ بِالذَّاتِ |
Hanya saja, Hal
(keadaan) memiliki keterikatan dan tempat berpijak pada sebuah zat, sedangkan
I'tibar (anggapan) tidak memiliki keterikatan dengan zat." |
|
وَيَقُولُ:
إِنَّ الِاعْتِبَارَ يَتَحَقَّقُ فِي غَيْرِ الْأَذْهَانِ. |
Dan ia (juga) berkata:
"Sesungguhnya I'tibar (anggapan) itu benar-benar ada di luar
benak pikiran manusia." |
|
وَاعْتُرِضَ
عَلَيْهِ بِأَنَّ الِاعْتِبَارَ صِفَةٌ، وَإِذَا كَانَ لَا تَعَلُّقَ لَهُ
بِالذَّاتِ وَيَتَحَقَّقُ فِي غَيْرِ الْأَذْهَانِ فَأَيْنَ مَوْصُوفُهُ، |
Namun pendapat ini dibantah
dengan alasan bahwa I'tibar itu adalah sebuah sifat. Maka jika ia
tidak memiliki keterikatan dengan zat padahal ia diyakini ada di luar pikiran
(di alam nyata), lalu di manakah subjek yang disifatinya? |
|
وَالصِّفَةُ
لَا تَقُومُ بِنَفْسِهَا بَلْ لَا بُدَّ لَهَا مِنْ مَوْصُوفٍ، |
Padahal, sebuah sifat itu
tidak akan bisa berdiri sendiri, melainkan pastilah membutuhkan subjek (zat)
yang disifati. |
|
فَالْحَقُّ
أَنَّ الِاعْتِبَارَاتِ لَا تَحَقُّقَ لَهَا إِلَّا فِي الذِّهْنِ، وَهِيَ
قِسْمَانِ: |
Maka pendapat yang benar
adalah bahwa I'tibarat (anggapan-anggapan) itu tidak ada wujudnya
kecuali hanya di dalam pikiran saja. Dan ia terbagi menjadi dua bagian: |
|
اعْتِبَارٌ
اخْتِرَاعِيٌّ: وَهُوَ الَّذِي لَا أَصْلَ لَهُ فِي الْوُجُودِ، كَفَرْضِكَ
الْكَرِيمَ بَخِيلًا وَالْجَاهِلَ عَالِمًا. |
Pertama, I'tibar
Ikhtira'i (anggapan rekaan murni): yaitu anggapan yang tidak memiliki
asal-usul di alam nyata, seperti pengandaianmu bahwa orang yang dermawan itu
pelit, dan orang yang bodoh itu pandai. |
|
وَاعْتِبَارٌ
انْتِزَاعِيٌّ: وَهُوَ الَّذِي لَهُ أَصْلٌ فِي الْخَارِجِ، كَثُبُوتِ قِيَامِ
زَيْدٍ، فَإِنَّهُ مُنْتَزَعٌ مِنْ قَوْلِكَ: زَيْدٌ قَائِمٌ، وَاتِّصَافُ
زَيْدٍ بِالْقِيَامِ ثَابِتٌ فِي الْخَارِجِ. |
Kedua, I'tibar Intiza'i
(anggapan yang ditarik dari kenyataan): yaitu anggapan yang memiliki
asal-usul di alam nyata, seperti tetapnya anggapan 'berdiri' bagi Zaid.
Anggapan ini diambil dari ucapanmu "Zaid sedang berdiri," sementara
posisi berdiri pada diri Zaid itu memang nyata ada wujudnya di alam luar
(kenyataan). |
|
الْعَقِيدَةُ
الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ: الْجَائِزُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى |
AKIDAH KEEMPAT PULUH SATU: SIFAT
JAIZ (BOLEH) PADA HAK ALLAH TA'ALA
|
|
فَيَجِبُ
عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَجُوزُ فِي
حَقِّهِ أَنْ يَخْلُقَ الْخَيْرَ وَالشَّرَّ، |
Maka wajib atas setiap
mukalaf untuk meyakini bahwa bagi Allah Ta'ala itu bersifat jaiz
(boleh/mungkin) pada hak-Nya untuk menciptakan kebaikan dan keburukan. |
|
فَيَجُوزُ
أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَخْلُقُ الْإِسْلَامَ فِي زَيْدٍ، وَالْكُفْرَ فِي
عَمْرٍو، وَالْعِلْمَ فِي أَحَدِهِمَا، وَالْجَهْلَ فِي الْآخَرِ. |
Maka, jaiz bagi Allah
Ta'ala untuk menciptakan keislaman pada diri Zaid, dan (menciptakan)
kekufuran pada diri 'Amr; serta menciptakan ilmu pengetahuan pada salah satu
dari keduanya, dan kebodohan pada yang lainnya. |
|
وَمِمَّا
يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَيْضًا عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنَّ الْأُمُورَ خَيْرَهَا
وَشَرَّهَا بِقَضَاءٍ وَقَدَرٍ. |
Dan di antara hal yang juga
wajib diyakini oleh setiap mukalaf adalah bahwa segala sesuatu—baik yang baik
maupun yang buruk—berjalan dengan Qadha dan Qadar. |
|
وَاخْتُلِفَ
فِي مَعْنَى: الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ: |
Dan ulama berselisih
pendapat mengenai definisi dari Qadha dan Qadar: |
|
فَقِيلَ:
الْقَضَاءُ: إِرَادَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَتَعَلُّقُهَا الْأَزَلِيُّ، |
Pendapat Pertama
mengatakan: Qadha
adalah kehendak (Iradah) Allah Ta'ala beserta fungsinya
(keterkaitannya) di zaman azali. |
|
وَالْقَدَرُ:
إِيجَادُ اللَّهِ تَعَالَى الْأَشْيَاءَ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ، |
Sedangkan Qadar adalah
pewujudan Allah Ta'ala terhadap segala sesuatu agar sesuai dengan
kehendak-Nya tersebut. |
|
فَإِرَادَةُ
اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقَةُ أَزَلًا بِأَنَّكَ تَصِيرُ عَالِمًا أَوْ
سُلْطَانًا قَضَاءٌ، |
Maka, kehendak Allah Ta'ala
yang telah berkaitan sejak azali bahwa engkau akan menjadi orang yang alim
(berilmu) atau seorang penguasa adalah Qadha. |
|
وَإِيجَادُ
الْعِلْمِ فِيكَ بَعْدَ وُجُودِكَ أَوِ السُّلْطَنَةِ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ
قَدَرٌ. |
Dan (fakta) diwujudkannya
ilmu pada dirimu setelah engkau lahir, atau (diberikannya) kekuasaan agar
sesuai dengan kehendak tersebut, dinamakan Qadar. |
|
وَقِيلَ:
الْقَضَاءُ: عِلْمُ اللَّهِ الْأَزَلِيُّ وَتَعَلُّقُهُ بِالْمَعْلُومِ، |
Pendapat Kedua
mengatakan: Qadha
adalah Ilmu Allah yang azali beserta keterkaitannya dengan hal yang diketahui
(ma'lum). |
|
وَالْقَدَرُ:
إِيجَادُ اللَّهِ الْأَشْيَاءَ عَلَى وَفْقِ الْعِلْمِ، |
Sedangkan Qadar adalah
pewujudan Allah terhadap segala sesuatu agar sesuai dengan Ilmu-Nya tersebut. |
|
فَعِلْمُ
اللَّهِ الْمُتَعَلِّقُ أَزَلًا بِأَنَّ الشَّخْصَ يَصِيرُ عَالِمًا بَعْدَ
وُجُودِهِ قَضَاءٌ، وَإِيجَادُ الْعِلْمِ فِيهِ بَعْدَ وُجُودِهِ قَدَرٌ. |
Maka, Ilmu Allah yang
berkaitan sejak azali bahwa seseorang akan menjadi alim setelah keberadaannya
adalah Qadha. Dan (fakta) diwujudkannya ilmu pada dirinya setelah ia
lahir adalah Qadar. |
|
وَعَلَى كُلٍّ
مِنَ الْقَوْلَيْنِ، فَالْقَضَاءُ قَدِيمٌ لِأَنَّهُ صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِهِ
تَعَالَى، إِمَّا الْإِرَادَةُ أَوِ الْعِلْمُ، |
Dan berdasarkan kedua
pendapat tersebut, maka Qadha itu bersifat Qadim (tak berawal)
karena ia merupakan salah satu dari sifat-sifat-Nya Ta'ala, entah itu
(berupa) sifat Iradah maupun sifat 'Ilm. |
|
وَالْقَدَرُ
حَادِثٌ، لِأَنَّهُ الْإِيجَادُ، وَالْإِيجَادُ مِنْ تَعَلُّقَاتِ الْقُدْرَةِ
وَتَعَلُّقَاتُ الْقُدْرَةِ حَادِثَةٌ. |
Sedangkan Qadar
bersifat Hadits (baru), karena ia adalah tindakan pewujudan, sementara
pewujudan adalah bagian dari fungsi keterkaitan sifat Qudrah, dan
fungsi keterkaitan sifat Qudrah (secara aktual) itu bersifat hadits
(terjadi pada waktunya). |
|
وَالدَّلِيلُ
عَلَى أَنَّ الْمُمْكِنَاتِ جَائِزَةٌ فِي حَقِّهِ تَعَالَى:
أَنَّهُ اتُّفِقَ عَلَى جَوَازِهَا، |
Dan dalil yang
menunjukkan bahwa hal-hal yang mungkin (mumkinat) itu berstatus jaiz
(boleh dilakukan atau ditinggalkan) pada hak-Nya Ta'ala adalah: Bahwa telah disepakati ke-jaiz-an
hal-hal tersebut. |
|
فَلَوْ وَجَبَ
عَلَيْهِ تَعَالَى فِعْلُ شَيْءٍ مِنْهَا لَانْقَلَبَ الْجَائِزُ وَاجِبًا، |
Maka seandainya wajib
bagi-Nya Ta'ala untuk melakukan sesuatu darinya, niscaya sesuatu yang status
asalnya jaiz akan berubah menjadi wajib. |
|
وَلَوْ
امْتَنَعَ عَلَيْهِ فِعْلُ شَيْءٍ مِنْهَا لَانْقَلَبَ الْجَائِزُ مُسْتَحِيلًا،
وَانْقِلَابُ الْجَائِزِ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحِيلًا بَاطِلٌ. |
Dan seandainya mustahil
(terlarang) bagi-Nya untuk melakukan sesuatu darinya, niscaya sesuatu yang
jaiz akan berubah menjadi mustahil. Padahal berbaliknya status perkara yang
jaiz menjadi wajib atau mustahil adalah hal yang batil (tidak masuk akal). |
|
وَبِهَذَا
تَعْلَمُ أَنَّهُ تَعَالَى: لَا يَجِبُ عَلَيْهِ شَيْءٌ خِلَافًا
لِلْمُعْتَزِلَةِ فِي قَوْلِهِمْ: |
Dan dengan argumentasi ini
engkau dapat mengetahui bahwa: Tidak ada sesuatu pun yang wajib bagi-Nya
Ta'ala. Hal ini sangat bertentangan dengan kaum Muktazilah dalam ucapan
mereka: |
|
إِنَّ اللَّهَ
تَعَالَى يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَفْعَلَ الصَّلَاحَ بِالْعَبْدِ، فَيَجِبُ
عَلَيْهِ تَعَالَى أَنْ يَرْزُقَهُ، |
"Sesungguhnya Allah
Ta'ala wajib melakukan hal yang terbaik (ash-shalah) bagi hamba,
sehingga wajib bagi-Nya Ta'ala untuk memberinya rezeki." |
|
وَهَذَا زُورٌ
عَلَيْهِ تَعَالَى وَكَذِبٌ، تَنَزَّهَ اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ، |
Dan ucapan ini adalah
sebuah kebohongan besar dan kedustaan atas nama-Nya Ta'ala. Mahasuci Allah
dari hal tersebut. |
|
فَخَلْقُهُ
الْإِيمَانَ فِي زَيْدٍ مَثَلًا وَإِعْطَاؤُهُ الْعِلْمَ مِنْ فَضْلِهِ مِنْ
غَيْرِ وُجُوبٍ. |
Maka, tindakan Allah
menciptakan keimanan pada diri Zaid—misalnya—dan pemberian-Nya akan ilmu
pengetahuan kepadanya, murni merupakan anugerah (fadhl) dari-Nya tanpa
adanya unsur kewajiban sedikit pun. |
|
وَمِمَّا
يُرَدُّ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ أَنَّ الْأَطْفَالَ يَنْزِلُ بِهِمُ الضَّرَرُ
مِنَ الْأَسْقَامِ وَالْأَمْرَاضِ، |
Dan di antara hal yang
mematahkan argumen kaum Muktazilah adalah fakta bahwa anak-anak kecil pun
acap kali tertimpa penderitaan berupa rasa sakit dan berbagai penyakit, |
|
وَهَذَا لَا
صَلَاحَ فِيهِ لِلْأَطْفَالِ، وَلَوْ كَانَ الصَّلَاحُ وَاجِبًا عَلَيْهِ
تَعَالَى لَمَا نَزَلَ الضَّرَرُ بِالْأَطْفَالِ، |
Dan hal ini (penyakit) sama
sekali tidak mengandung "hal yang terbaik" bagi anak-anak tersebut.
Seandainya melakukan yang terbaik itu wajib bagi-Nya Ta'ala, niscaya
penderitaan tidak akan pernah menimpa anak-anak kecil. |
|
لِأَنَّهُمْ
يَقُولُونَ: إِنَّ اللَّهَ لَا يَتْرُكُ الْوَاجِبَ عَلَيْهِ تَعَالَى، لِأَنَّ
تَرْكَ الْوَاجِبِ عَلَيْهِ نَقْصٌ، وَاللَّهُ تَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنِ
النَّقْصِ بِالْإِجْمَاعِ. |
Karena mereka (Muktazilah
sendiri) berkata: "Sesungguhnya Allah tidak akan pernah meninggalkan
kewajiban-Nya, sebab meninggalkan kewajiban adalah suatu kekurangan, dan
Allah Ta'ala Mahasuci dari sifat kurang berdasarkan kesepakatan
(ijmak)." |
|
وَإِثَابَتُهُ
تَعَالَى لِلْمُطِيعِ فَضْلٌ مِنْهُ وَعِقَابُهُ لِلْعَاصِي عَدْلٌ مِنْهُ، |
Dan pemberian pahala
dari-Nya Ta'ala kepada orang yang taat adalah murni anugerah dari-Nya,
sementara pemberian siksa dari-Nya kepada orang yang bermaksiat adalah murni
(bentuk) keadilan-Nya. |
|
إِذْ لَا
تَنْفَعُهُ تَعَالَى طَاعَةٌ وَلَا تَضُرُّهُ مَعْصِيَةٌ، لِأَنَّهُ النَّافِعُ
الضَّارُّ |
Sebab, tidak ada ketaatan
yang dapat memberi keuntungan bagi-Nya Ta'ala, dan tidak ada kemaksiatan yang
dapat memberi kerugian (bahaya) bagi-Nya. Karena sungguh hanya Dia-lah yang
secara hakiki Sang Pemberi manfaat dan Penimpa mudarat. |
|
وَإِنَّمَا
هَذِهِ الطَّاعَاتُ وَالْمَعَاصِي عَلَامَةٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى
يُثِيبُ وَيُعَاقِبُ مَنِ اتَّصَفَ بِهِمَا. |
Sesungguhnya, berbagai
bentuk ketaatan dan kemaksiatan ini hanyalah sekadar tanda (indikator) bahwa
Allah Ta'ala akan memberi pahala atau memberi siksa kepada siapa saja yang
tersifati dengan keduanya. |
|
فَمَنْ
أَرَادَ قُرْبَهُ وَفَّقَهُ لِلطَّاعَةِ، وَمَنْ أَرَادَ خِذْلَانَهُ وَبُعْدَهُ
خَلَقَ فِيهِ الْمَعْصِيَةَ، |
Maka, barang siapa yang Dia
kehendaki kedekatannya (dengan-Nya), niscaya Dia memberinya taufik untuk
senantiasa taat. Dan barang siapa yang Dia kehendaki kehinaannya serta
jauhnya ia (dari rahmat-Nya), niscaya Dia menciptakan kemaksiatan di dalam
dirinya. |
|
فَجَمِيعُ
الْأُمُورِ مِنْ أَفْعَالِ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ بِخَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى، |
Maka seluruh urusan, baik
yang berupa perbuatan baik maupun perbuatan buruk, itu (semuanya) atas
ciptaan Allah Ta'ala. |
|
لِأَنَّهُ
تَعَالَى خَلَقَ الْعَبْدَ وَمَا عَمِلَهُ الْعَبْدُ لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ﴾ الصَّافَّاتِ. |
Karena Dia Ta'ala-lah yang
telah menciptakan hamba beserta apa yang dikerjakan oleh hamba tersebut,
bersandar pada firman-Nya 'Azza wa Jalla: "Padahal Allah-lah yang
menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. Ash-Shaffat:
96). |
|
وَمِمَّا
يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى: يَجُوزُ أَنْ يُرَى فِي الْآخِرَةِ
لِلْمُؤْمِنِينَ: |
Dan di antara hal yang
wajib diyakini adalah bahwa Allah Ta'ala itu: jaiz (mungkin) untuk dilihat di
akhirat kelak bagi orang-orang mukmin. |
|
لِأَنَّ
اللَّهَ تَعَالَى عَلَّقَ الرُّؤْيَةَ عَلَى اسْتِقْرَارِ الْجَبَلِ فِي
قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي﴾
الْأَعْرَافِ، |
Karena Allah Ta'ala
mengaitkan kemungkinan melihat-Nya dengan "tetap tegaknya gunung",
sebagaimana dalam firman-Nya Ta'ala: "Maka jika ia (gunung itu) tetap
berada di tempatnya, niscaya engkau dapat melihat-Ku." (QS.
Al-A'raf: 143). |
|
وَاسْتِقْرَارُ
الْجَبَلِ جَائِزٌ، فَيَكُونُ الْمُعَلَّقُ عَلَيْهِ مِنَ الرُّؤْيَةِ جَائِزًا،
لِأَنَّ الْمُعَلَّقَ عَلَى الْجَائِزِ جَائِزٌ. |
Dan "tetap tegaknya
gunung" itu adalah hal yang jaiz (mungkin secara akal). Maka, sesuatu
yang dikaitkan dengannya—yakni melihat Allah—berstatus jaiz pula. Karena apa
pun yang digantungkan (dikaitkan) syaratnya pada hal yang jaiz, maka statusnya
ikut menjadi jaiz. |
|
لَكِنَّ
رُؤْيَتَنَا لَهُ تَعَالَى بِلَا كَيْفٍ، أَيْ: لَيْسَتْ كَرُؤْيَةِ بَعْضِنَا
بَعْضًا، |
Akan tetapi, penglihatan
kita kepada-Nya Ta'ala kelak itu bila kaif (tanpa tata cara fisik
ruang dan waktu). Yakni: tidaklah sama seperti penglihatan sebagian kita
terhadap orang lain. |
|
فَلَا يُرَى
تَعَالَى فِي جِهَةٍ وَلَا بِلَوْنٍ وَلَا يُرَى تَعَالَى جِسْمًا - تَنَزَّهَ
اللَّهُ وَتَعَالَى عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا، |
Maka Dia Ta'ala tidaklah
dilihat dalam suatu arah, tidak dengan warna, dan tidak pula Dia Ta'ala
dilihat sebagai sebuah bentuk fisik (jisim). Mahasuci Allah dan
Mahatinggi Dia dari hal-hal tersebut dengan ketinggian yang seagung-agungnya. |
|
وَنَفَى
الرُّؤْيَةَ لِلَّهِ تَعَالَى الْمُعْتَزِلَةُ قَبَّحَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى،
وَهِيَ مِنْ عَقَائِدِهِمُ الزَّائِغَةِ الْبَاطِلَةِ. |
Sementara itu kaum
Muktazilah—semoga Allah Ta'ala menghinakan mereka—menolak kemungkinan melihat
Allah Ta'ala. Dan penolakan ini merupakan bagian dari akidah mereka yang
menyimpang lagi batil. |
|
وَمِنْ
عَقَائِدِهِمُ الْفَاسِدَةِ أَيْضًا قَوْلُهُمْ: إِنَّ الْعَبْدَ يَخْلُقُ
أَفْعَالَ نَفْسِهِ |
Dan di antara akidah mereka
yang rusak pula adalah ucapan mereka: "Sesungguhnya hamba (manusia) itu
menciptakan perbuatannya sendiri secara mutlak." |
|
وَلِأَجْلِ
قَوْلِهِمْ هَذَا يُسَمَّوْنَ بِالْقَدَرِيَّةِ، لِأَنَّهُمْ يَقُولُونَ:
بِأَنَّ أَفْعَالَ الْعَبْدِ بِقُدْرَتِهِ |
Lantaran ucapan inilah
mereka dinamakan kelompok Qadariyyah. Sebab mereka mengatakan: Bahwa
seluruh perbuatan hamba itu tercipta berkat Qudrah (kemampuan) hamba
itu sendiri. |
|
كَمَا
سُمِّيَتِ الطَّائِفَةُ الْقَائِلُونَ بِأَنَّ الْعَبْدَ مَجْبُورٌ عَلَى
الْأَفْعَالِ الَّتِي يَفْعَلُهَا بِالْجَبْرِيَّةِ، نِسْبَةً إِلَى قَوْلِهِمْ:
بِجَبْرِ الْعَبْدِ وَقَهْرِهِ، وَهِيَ عَقِيدَةٌ زَائِغَةٌ أَيْضًا. |
Sebagaimana dinamakan pula
kelompok yang mengatakan bahwa "hamba itu dikendalikan/dipaksa penuh
atas segala perbuatan yang dilakukannya" dengan nama kelompok Jabriyyah.
Hal ini disandarkan pada ucapan mereka: bahwa hamba itu dipaksa (jabr)
dan ditekan (qahr). Dan ini pun (sama-sama) akidah yang menyimpang. |
|
وَالْحَقُّ
أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَخْلُقُ أَفْعَالَ نَفْسِهِ، وَلَيْسَ مَجْبُورًا، بَلْ
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَخْلُقُ الْأَفْعَالَ الصَّادِرَةَ مِنَ الْعَبْدِ مَعَ
كَوْنِ الْعَبْدِ لَهُ اخْتِيَارٌ فِيهَا. |
Adapun kebenaran (yang
hakiki) adalah: hamba itu tidak menciptakan perbuatannya sendiri, namun ia
juga tidak dipaksa. Melainkan, Allah Ta'ala-lah yang menciptakan segala
perbuatan yang bersumber dari hamba tersebut, bersamaan dengan keadaan hamba
yang tetap memiliki hak kebebasan memilih (ikhtiyar) di dalamnya. |
|
قَالَ
السَّعْدُ فِي شَرْحِ الْعَقَائِدِ: وَهَذَا الِاخْتِيَارُ لَا يُمْكِنُ أَنْ
يُعَبَّرَ عَنْهُ بِعِبَارَةٍ، |
Imam as-Sa'd (At-Taftazani)
berkata di dalam kitab Syarh al-'Aqa'id: "Dan hak kebebasan
memilih (ikhtiyar) ini tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata
(untuk didefinisikan secara presisi). |
|
بَلِ
الشَّخْصُ يَجِدُ بَيْنَ حَرَكَةِ يَدِهِ إِذَا حَرَّكَهَا هُوَ وَبَيْنَ مَا
إِذَا حَرَّكَهَا الْهَوَاءُ قَهْرًا عَنْهُ فَرْقًا. |
Melainkan, setiap orang
pasti (secara alamiah) dapat merasakan perbedaan yang nyata antara gerakan
tangannya ketika ia menggerakkannya sendiri (dengan kehendaknya), dengan
ketika tangannya bergerak akibat tertiup angin (di luar kehendaknya)." |
|
وَمِنَ
الْجَائِزِ عَلَيْهِ تَعَالَى: إِرْسَالُ جَمِيعِ الرُّسُلِ: |
Dan termasuk dari hal yang
jaiz (boleh/mungkin) bagi-Nya Ta'ala adalah: Mengutus seluruh Rasul. |
|
فَإِرْسَالُهُ
تَعَالَى لَهُمْ - عَلَيْهِمْ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ - بِفَضْلِهِ
لَا بِطَرِيقِ الْوُجُوبِ لِأَنَّهُ تَعَالَى لَا يَجِبُ عَلَيْهِ شَيْءٌ كَمَا
مَرَّ. |
Maka pengutusan-Nya
terhadap mereka—semoga selawat dan salam yang paling utama senantiasa
tercurah atas mereka—adalah murni karena anugerah-Nya, bukan karena jalan
kewajiban. Sebab, tidak ada sesuatu pun yang menjadi kewajiban yang
memberatkan bagi-Nya Ta'ala, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya. |
|
وَمِمَّا
يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَنَّ أَفْضَلَ الْمَخْلُوقَاتِ عَلَى الْإِطْلَاقِ
نَبِيُّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى أَهْلِ
بَيْتِهِ أَجْمَعِينَ. |
Dan di antara hal yang
(juga) wajib diyakini adalah: Bahwa makhluk yang paling mulia secara mutlak
(di atas segalanya) adalah Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam,
beserta keluarga beliau dan seluruh ahli bait beliau. |
|
وَيَلِيهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ بَقِيَّةُ أُولِي
الْعَزْمِ، وَهُمْ سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيمُ، فَسَيِّدُنَا مُوسَى، فَسَيِّدُنَا
عِيسَى، فَسَيِّدُنَا نُوحٌ، |
Dan menyusul kedudukan
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dalam segi keutamaan adalah sisa
para rasul Ulul Azmi, yaitu: Sayyidina Ibrahim, kemudian Sayyidina Musa,
kemudian Sayyidina 'Isa, kemudian Sayyidina Nuh. |
|
وَهُمْ فِي
الْأَفْضَلِيَّةِ عَلَى هَذَا التَّرْتِيبِ، وَكَوْنُهُمْ خَمْسَةً: نَبِيُّنَا
- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَالْأَرْبَعَةُ بَعْدَهُ هُوَ
الصَّحِيحُ. |
Mereka berada dalam
tingkatan keutamaan berdasarkan urutan ini. Dan penetapan bahwa jumlah Ulul
Azmi itu ada lima—(yaitu) Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam dan
keempat rasul setelahnya (dalam urutan di atas)—adalah pendapat yang paling
sahih. |
|
وَقِيلَ:
أُولُو الْعَزْمِ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ، وَيَلِي أُولِي الْعَزْمِ فِي
الْأَفْضَلِيَّةِ بَقِيَّةُ الرُّسُلِ، ثُمَّ بَقِيَّةُ الْأَنْبِيَاءِ عَلَى
نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ الْمَلَائِكَةُ. |
Meskipun ada pula (pendapat
lain) yang mengatakan bahwa jumlah rasul Ulul Azmi lebih dari itu. Dan
menyusul kedudukan Ulul Azmi dalam keutamaan adalah sisa para Rasul lainnya,
kemudian sisa para Nabi lainnya—semoga selawat dan salam tercurah kepada nabi
kita dan kepada mereka semua—kemudian (barulah) disusul oleh para Malaikat. |
|
وَيَجِبُ أَنْ
يُعْتَقَدَ: أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَيَّدَهُمْ بِالْمُعْجِزَاتِ وَاخْتَصَّ
نَبِيَّنَا - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِأَنَّهُ خَاتَمُ الرُّسُلِ،
وَبِأَنَّ شَرْعَهُ لَا يُنْسَخُ حَتَّى يَنْقَضِيَ الزَّمَنُ. |
Dan wajib diyakini: Bahwa
Allah Ta'ala membekali dan menolong para utusan itu dengan mukjizat-mukjizat,
serta Dia mengistimewakan nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam
sebagai penutup para rasul, dan (mengistimewakan bahwa) syariat beliau tidak
akan pernah dihapus (di-naskh) sampai berakhirnya zaman (kiamat). |
|
وَعِيسَى
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَعْدَ نُزُولِهِ يَحْكُمُ بِشَرْعِ
نَبِيِّنَا، فَقِيلَ: يَأْخُذُهُ مِنَ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَقِيلَ:
يَذْهَبُ إِلَى الْقَبْرِ الشَّرِيفِ فَيَتَعَلَّمُهُ مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. |
Dan Nabi 'Isa 'alaihis
shalatu wassalam kelak setelah turunnya kembali (ke bumi), beliau akan
memutuskan perkara menggunakan hukum syariat Nabi kita. Ada yang berpendapat:
Beliau akan menimba (mempelajari syariat itu) dari Al-Qur'an dan Sunah. Ada
pula yang mengatakan: Beliau akan mendatangi makam mulia (Rasulullah) lalu
mempelajari syariat itu langsung dari beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. |
|
وَاعْلَمْ
أَنَّهُ يُنْسَخُ بَعْضُ شَرْعِ نَبِيِّنَا بِبَعْضِهِ الْآخَرِ، كَمَا نُسِخَ
وُجُوبُ كَوْنِ عِدَّةِ الْمَرْأَةِ الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا سَنَةً
بِوُجُوبِ كَوْنِهَا أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا، وَلَا نَقْضَ فِي ذَلِكَ. |
Dan ketahuilah, bahwa
diperbolehkan apabila sebagian hukum syariat nabi kita ini dihapus (diganti)
oleh aturan dari syariat beliau yang lainnya (atas perintah Allah).
Sebagaimana dihapusnya ketetapan masa idah wanita yang ditinggal mati
suaminya yang (awalnya) satu tahun, lalu diganti dengan kewajiban beridah
selama empat bulan sepuluh hari. Dan hal (nasakh) semacam ini sama
sekali tidak merusak kesempurnaan (syariat tersebut). |
|
وَيَجِبُ
أَيْضًا عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى أَنْ يَعْرِفَ الرُّسُلَ
الْمَذْكُورَةَ فِي الْقُرْآنِ تَفْصِيلًا وَيُصَدِّقَ بِهِمْ تَفْصِيلًا، |
Dan wajib pula atas setiap
mukalaf, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mengetahui para Rasul yang
disebutkan di dalam Al-Qur'an secara terperinci (satu per satu namanya) dan
membenarkan (mengimani) mereka secara terperinci. |
|
وَأَمَّا
غَيْرُهُمْ فَيَجِبُ الْإِيمَانُ بِهِمْ إِجْمَالًا، |
Adapun selain mereka (yang
namanya tidak disebutkan dalam Al-Qur'an), maka wajib mengimani mereka secara
global (bahwa Allah memiliki nabi dan rasul lain). |
|
لَكِنْ نَقَلَ
السَّعْدُ فِي شَرْحِ الْمَقَاصِدِ أَنَّهُ يَكْفِي الْإِجْمَالُ لَكِنَّهُ لَمْ
يُتَّبَعْ، |
Meskipun Imam as-Sa'd
menukil (pendapat) di dalam kitab Syarh al-Maqashid bahwa keimanan
secara global (terhadap seluruh rasul) itu sudah mencukupi, akan tetapi
pendapat tersebut tidak diikuti (oleh mayoritas ulama). |
|
وَنَظَمَهَا
بَعْضُهُمْ فَقَالَ: |
Dan sebagian ulama menyusun
nama-nama nabi (yang wajib diketahui) tersebut ke dalam bait syair seraya
berkata: |
|
حَتْمٌ عَلَى
كُلِّ ذِي التَّكْلِيفِ مَعْرِفَةٌ ۞
بِأَنْبِيَاءَ عَلَى التَّفْصِيلِ قَدْ عُلِمُوا |
Suatu kewajiban atas
setiap mukalaf untuk mengetahui
¤ Para nabi secara terperinci yang telah
diketahui namanya. |
|
فِي تِلْكَ
حُجَّتُنَا مِنْهُمْ ثَمَانِيَةٌ ۞ مِنْ بَعْدِ
عَشْرٍ وَيَبْقَى سَبْعَةٌ وَهُمُو |
Di dalam (ayat) 'Tilka
Hujjatuna' terdapat delapan belas nama nabi ¤ Dan tersisa tujuh nabi lagi, dan
mereka adalah: |
|
إِدْرِيسُ
هُودٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَكَذَا ۞ ذُو
الْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمُوا |
Idris, Hud, Syu'aib, dan
juga Shalih ¤ Dzulkifli, Adam, lalu ditutup dengan (Nabi) Al-Mukhtar
(Nabi Muhammad). |
|
وَمِمَّا
يَجِبُ اعْتِقَادُهُ: أَنَّ أَصْحَابَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَفْضَلُ الْقُرُونِ، ثُمَّ التَّابِعُونَ لَهُمْ، ثُمَّ أَتْبَاعُ
التَّابِعِينَ. |
Dan di antara hal yang
wajib diyakini: Bahwa para sahabat beliau shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah generasi yang paling utama, kemudian generasi yang mengikuti mereka
(Tabi'in), lalu generasi pengikut Tabi'in (Tabi'ut Tabi'in). |
|
وَأَفْضَلُ
الصَّحَابَةِ أَبُو بَكْرٍ فَعُمَرُ فَعُثْمَانُ فَعَلِيٌّ عَلَى هَذَا
التَّرْتِيبِ، |
Dan sahabat yang paling
utama adalah Abu Bakar, kemudian 'Umar, kemudian 'Utsman, lalu
'Ali—berdasarkan urutan ini. |
|
لَكِنْ قَالَ
الْعَلْقَمِيُّ: سَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ وَأَخُوهَا سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيمُ
أَفْضَلُ مِنَ الصَّحَابَةِ عَلَى الْإِطْلَاقِ حَتَّى مِنَ الْخُلَفَاءِ
الْأَرْبَعَةِ، |
Akan tetapi, Imam
al-'Alqami berkata: Sayyidah Fathimah beserta saudara lelakinya, Sayyidina
Ibrahim, adalah lebih utama daripada seluruh sahabat secara mutlak, bahkan
(lebih utama) dari Khulafaur Rasyidin yang empat. |
|
وَكَانَ
سَيِّدُنَا مَالِكٌ يَقُولُ: لَا أُفَضِّلُ عَلَى بَضْعَةِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدًا، |
Dan (sebelumnya) Sayyidina
Imam Malik (juga) pernah berkata: "Aku tidak pernah mengutamakan seorang
pun berada di atas belahan jiwa (darah daging) Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam." |
|
وَهَذَا هُوَ
الَّذِي يَجِبُ اعْتِقَادُهُ، وَنَلْقَى اللَّهَ عَلَيْهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
تَعَالَى. |
Dan (pendapat) inilah yang
wajib untuk diyakini, dan kita (berharap) akan berjumpa dengan Allah dalam
keadaan meyakini hal ini, insyaallah Ta'ala. |
|
وَمِمَّا
يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَيْضًا: أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ
فِي مَكَّةَ وَتُوُفِّيَ فِي الْمَدِينَةِ. وَيَجِبُ عَلَى الْآبَاءِ أَنْ
يُعَلِّمُوا أَوْلَادَهُمْ ذَلِكَ. |
Dan di antara hal yang
wajib diyakini pula: Bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dilahirkan
di Makkah dan wafat di Madinah. Dan wajib bagi para orang tua untuk
mengajarkan hal tersebut kepada anak-anak mereka. |
|
قَالَ
الْأَجْهُورِيُّ: وَيَجِبُ عَلَى الشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ نَسَبَهُ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أَبِيهِ وَمِنْ جِهَةِ أُمِّهِ،
وَسَيَأْتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى ذِكْرُ ذَلِكَ فِي الْخَاتِمَةِ. |
Imam al-Ajhuri berkata:
"Dan wajib bagi setiap orang untuk mengetahui nasab beliau shallallahu
'alaihi wa sallam, baik dari jalur ayahnya maupun dari jalur
ibunya." Dan insyaallah Ta'ala kelak akan datang penyebutan hal tersebut
di bagian penutup kitab (Khatimah). |
|
وَيَنْبَغِي
أَنْ يَعْرِفَ كُلُّ شَخْصٍ: عَدَدَ أَوْلَادِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَتَرْتِيبَهُمْ فِي الْوِلَادَةِ. |
Dan sepatutnya setiap orang
mengetahui: jumlah putra-putri beliau shallallahu 'alaihi wa sallam
beserta urutan kelahiran mereka. |
|
لِأَنَّهُ
يَنْبَغِي لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ سَادَاتِهِ وَهُمْ سَادَاتُ الْأُمَّةِ، |
Karena sepatutnya seseorang
itu mengenali para panutannya (pemimpinnya), dan mereka (anak-anak Nabi)
adalah para pemuka umat ini. |
|
لَكِنْ لَمْ
يُصَرِّحُوا فِيمَا رَأَيْتُ بِوُجُوبِ ذَلِكَ أَوْ نَدْبِهِ، لَكِنَّ قِيَاسَ
نَظَائِرِهِ الْوُجُوبُ. |
Namun, sejauh yang aku
(Penulis) lihat, para ulama belum menegaskan secara eksplisit apakah hal ini
hukumnya wajib atau sunah. Akan tetapi, jika diqiyaskan (dianalogikan) dengan
kasus-kasus yang serupa, (maka hukumnya mengarah pada) wajib. |
|
وَأَوْلَادُهُ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةٌ، ثَلَاثَةُ ذُكُورٍ وَأَرْبَعُ
إِنَاثٍ عَلَى الصَّحِيحِ، |
Dan putra-putri beliau shallallahu
'alaihi wa sallam berjumlah tujuh orang; tiga orang putra dan empat orang
putri menurut pendapat yang sahih. |
|
وَتَرْتِيبُهُمْ
فِي الْوِلَادَةِ: الْقَاسِمُ، وَهُوَ أَوَّلُ أَوْلَادِهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ زَيْنَبُ، ثُمَّ رُقَيَّةُ، ثُمَّ فَاطِمَةُ، ثُمَّ
أُمُّ كُلْثُومٍ، ثُمَّ عَبْدُ اللَّهِ، |
Dan urutan mereka dalam
kelahiran adalah: Al-Qasim—dan dia adalah putra sulung (pertama) beliau shallallahu
'alaihi wa sallam—kemudian Zainab, kemudian Ruqayyah, kemudian Fathimah,
kemudian Ummu Kultsum, kemudian 'Abdullah. |
|
وَهُوَ
الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَبِالطَّاهِرِ، فَهُمَا لَقَبَانِ لِعَبْدِ اللَّهِ
لَا اسْمَانِ لِشَخْصَيْنِ مُغَايِرَيْنِ لَهُ، |
Dan 'Abdullah inilah yang
dijuluki At-Thayyib (Yang Baik) dan At-Thahir (Yang Suci).
Maka, kedua sebutan itu merupakan gelar bagi 'Abdullah, bukan (sebagai) nama
bagi dua orang yang berbeda darinya. |
|
وَكُلُّهُمْ
مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيجَةَ، وَالسَّابِعُ سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيمُ مِنْ
مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ. |
Dan kesemua (enam anak)
tersebut lahir dari rahim Sayyidah Khadijah. Sedangkan anak ketujuh, (yaitu)
Sayyidina Ibrahim, lahir dari Mariah al-Qibthiyyah. |
|
هَذَا
وَلْنَرْجِعْ إِلَى تَمَامِ الْعَقَائِدِ. |
Demikianlah (pembahasan
sisipan ini). Dan mari kita kembali (fokus) pada penyempurnaan (rincian 50)
Akidah. |
|
• الثَّانِيَةُ
وَالْأَرْبَعُونَ: الصِّدْقُ لِلرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي
جَمِيعِ أَقْوَالِهِمْ. |
• Akidah Keempat Puluh
Dua: Sifat Jujur (Ash-Shidq) bagi para Rasul 'alaihimus shalatu
wassalam dalam seluruh ucapan mereka. |
|
• الثَّالِثَةُ
وَالْأَرْبَعُونَ: الْأَمَانَةُ، أَيْ: عِصْمَتُهُمْ مِنَ الْوُقُوعِ فِي
مُحَرَّمٍ أَوْ فِي مَكْرُوهٍ. |
• Akidah Keempat Puluh
Tiga: Sifat Terpercaya (Al-Amanah). Yakni: keterjagaan mereka ('ishmah)
dari terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan maupun yang dimakruhkan. |
|
• الرَّابِعَةُ
وَالْأَرْبَعُونَ: تَبْلِيغُ مَا أُمِرُوا بِتَبْلِيغِهِ لِلْخَلْقِ. |
• Akidah Keempat Puluh
Empat: Sifat Menyampaikan (At-Tabligh) terhadap segala apa yang
diperintahkan kepada mereka untuk disampaikan kepada makhluk. |
|
• الْخَامِسَةُ
وَالْأَرْبَعُونَ: الْفَطَانَةُ. |
• Akidah Keempat Puluh
Lima: Sifat Cerdas (Al-Fathanah). |
|
فَهَذِهِ
الْأَرْبَعَةُ تَجِبُ لَهُمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِمَعْنَى
أَنَّهُ لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهَا، |
Maka, keempat sifat ini
berstatus Wajib bagi mereka 'alaihimus shalatu wassalam, dalam
arti bahwa akal tidak bisa membayangkan ketiadaannya (pada diri mereka). |
|
وَيَتَوَقَّفُ
الْإِيمَانُ عَلَى مَعْرِفَةِ ذَلِكَ عَلَى الْخِلَافِ بَيْنَ السَّنُوسِيِّ
وَغَيْرِهِ. |
Dan keabsahan iman
seseorang bergantung pada pengetahuannya terhadap (kewajiban) hal ini,
berdasarkan perbedaan pendapat antara Imam as-Sanusi dan ulama selainnya
(sebagaimana penjelasan terdahulu). |
|
وَيَسْتَحِيلُ
عَلَيْهِمْ - عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - أَضْدَادُ هَذِهِ
الْأَرْبَعَةِ وَهِيَ: الْكَذِبُ وَالْخِيَانَةُ بِفِعْلِ مُحَرَّمٍ أَوْ
مَكْرُوهٍ أَوِ الْكِتْمَانُ لِشَيْءٍ مِمَّا أُمِرُوا بِتَبْلِيغِهِ
وَالْبَلَادَةُ. |
Dan berstatus Mustahil
atas diri mereka 'alaihimus shalatu wassalam (memiliki) kebalikan dari
keempat sifat tersebut, yaitu: sifat Dusta (Al-Kadzib), Khianat
(dengan melakukan perbuatan haram atau makruh), Menyembunyikan sesuatu (Al-Kitman)
dari apa yang diperintahkan untuk disampaikan, dan Bodoh (Al-Baladah). |
|
فَهَذِهِ
الْأَرْبَعَةُ تَسْتَحِيلُ عَلَيْهِمْ - عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ -
بِمَعْنَى أَنَّهُ لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهَا، |
Maka, keempat (sifat buruk)
ini mustahil atas mereka 'alaihimus shalatu wassalam, dalam arti bahwa
akal tidak dapat membayangkan wujudnya (sifat tersebut pada diri mereka). |
|
وَيَتَوَقَّفُ
الْإِيمَانُ عَلَى مَعْرِفَتِهَا عَلَى مَا تَقَدَّمَ، فَهَذِهِ تِسْعٌ
وَأَرْبَعُونَ عَقِيدَةً. |
Dan keabsahan iman
seseorang bergantung pula pada pengetahuannya terhadap (kemustahilan) hal
ini, berdasarkan penjelasan yang telah lewat. Maka, (genaplah) ini menjadi
empat puluh sembilan akidah. |
|
وَتَمَامُ
الْخَمْسِينَ: جَوَازُ وُقُوعِ الْأَعْرَاضِ الْبَشَرِيَّةِ بِهِمْ الَّتِي لَا
تُؤَدِّي إِلَى نَقْصٍ فِي مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ. |
Dan sebagai penyempurna
akidah yang kelima puluh adalah: Boleh/jaiz terjadinya sifat-sifat
kemanusiaan (al-a'radh al-basyariyyah) pada diri mereka, yang tidak
sampai mengakibatkan berkurangnya derajat (kemuliaan) mereka yang tinggi
(seperti sakit ringan, lapar, tidur, dsb). |
|
أَدِلَّةُ صِفَاتِ
الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ |
DALIL-DALIL SIFAT PARA RASUL 'ALAIHIMUS
SHALATU WASSALAM
|
|
وَدَلِيلُ
وُجُوبِ الصِّدْقِ لَهُمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: |
Dan dalil wajibnya sifat Ash-Shidq
(Jujur) bagi mereka 'alaihimus shalatu wassalam adalah: |
|
أَنَّهُمْ
لَوْ كَذَبُوا لَكَانَ خَبَرُ اللَّهِ تَعَالَى كَاذِبًا، |
Bahwa seandainya mereka
berdusta, niscaya kabar (firman) Allah Ta'ala itu juga menjadi dusta. |
|
لِأَنَّ
اللَّهَ تَعَالَى صَدَّقَ دَعْوَاهُمُ الرِّسَالَةَ بِإِظْهَارِ الْمُعْجِزَةِ
عَلَى أَيْدِيهِمْ، |
Karena sesungguhnya Allah
Ta'ala telah membenarkan pengakuan kerasulan mereka dengan menampakkan
mukjizat melalui tangan mereka. |
|
وَالْمُعْجِزَةُ
نَازِلَةٌ مَنْزِلَةَ قَوْلِهِ تَعَالَى: صَدَقَ عَبْدِي فِي كُلِّ مَا
يُبَلِّغُ عَنِّي. |
Dan (tampakny) mukjizat
tersebut menempati posisi seolah-olah firman-Nya Ta'ala: "Hamba-Ku
telah benar (jujur) dalam segala hal yang ia sampaikan dari-Ku." |
|
وَتَوْضِيحُهُ:
أَنَّ الرَّسُولَ إِذَا أَتَى قَوْمَهُ وَقَالَ: أَنَا رَسُولٌ إِلَيْكُمْ مِنَ
اللَّهِ، |
Dan penjelasan (lebih
lanjutnya): Bahwa seorang rasul apabila mendatangi kaumnya dan berkata,
"Aku adalah utusan Allah kepada kalian," |
|
وَقَالُوا
لَهُ: مَا الدَّلِيلُ عَلَى رِسَالَتِكَ؟ وَقَالَ لَهُمْ: انْشِقَاقُ هَذَا
الْجَبَلِ مَثَلًا، |
Lalu kaumnya menantang,
"Apa bukti atas kerasulanmu?" Dan ia menjawab kepada mereka,
"Terbelahnya gunung ini," misalnya. |
|
فَإِذَا
قَالُوا لَهُ: ائْتِ بِمَا قُلْتَ يَشُقُّ اللَّهُ الْجَبَلَ عِنْدَ قَوْلِهِمُ
الْمَذْكُورِ، تَصْدِيقًا لِدَعْوَى الرَّسُولِ الرِّسَالَةَ، |
Maka apabila mereka berkata
kepadanya, "Buktikanlah apa yang kau ucapkan," lalu Allah seketika
membelah gunung tersebut saat mereka mengucapkan hal itu, sebagai bentuk
pembenaran terhadap pengakuan sang rasul atas kerasulannya, |
|
فَشَقُّ
اللَّهِ تَعَالَى الْجَبَلَ نَازِلٌ مَنْزِلَةَ قَوْلِهِ تَعَالَى: صَدَقَ
عَبْدِي فِي كُلِّ مَا يُبَلِّغُ عَنِّي، |
Maka (tindakan) Allah
Ta'ala membelah gunung itu menempati posisi seolah-olah Dia berfirman: "Hamba-Ku
telah benar (jujur) dalam segala hal yang ia sampaikan dari-Ku." |
|
فَلَوْ كَانَ
الرَّسُولُ كَاذِبًا لَكَانَ هَذَا الْخَبَرُ كَاذِبًا، وَالْكَذِبُ عَلَيْهِ
تَعَالَى مُحَالٌ، |
Maka seandainya utusan
tersebut berdusta, niscaya kabar (pembenaran dari Allah) ini pun menjadi
dusta. Padahal, (sifat) dusta itu mustahil bagi-Nya Ta'ala. |
|
فَيَكُونُ
كَذِبُ الرُّسُلِ مُحَالًا، وَإِذَا انْتَفَى عَنْهُمُ الْكَذِبُ ثَبَتَ لَهُمُ
الصِّدْقُ. |
Dengan demikian, dustanya
para rasul adalah suatu kemustahilan. Dan apabila sifat dusta telah tertolak
dari mereka, maka otomatis terbuktilah kewajiban sifat jujur bagi mereka. |
|
وَأَمَّا
دَلِيلُ الْأَمَانَةِ، أَيْ: عِصْمَتِهِمْ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا مِنْ مُحَرَّمٍ
أَوْ مَكْرُوهٍ: |
Adapun dalil (wajibnya
sifat) Al-Amanah (Terpercaya)—yakni keterjagaan mereka secara lahir
dan batin dari hal yang diharamkan maupun dimakruhkan—adalah: |
|
أَنَّهُمْ
لَوْ خَانُوا بِارْتِكَابِ مُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوهٍ لَكُنَّا مَأْمُورِينَ
بِمِثْلِ مَا يَفْعَلُونَهُ، |
Bahwa seandainya mereka
berkhianat dengan melakukan perbuatan haram atau makruh, niscaya kita
(sebagai umat) akan diperintahkan pula untuk melakukan hal yang sama seperti
yang mereka lakukan (karena kita disuruh meneladani mereka). |
|
وَلَا يَصِحُّ
أَنْ نُؤْمَرَ بِمُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوهٍ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا
يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ، |
Padahal, tidak dibenarkan
(secara agama maupun akal) jika kita diperintahkan untuk melakukan hal yang
haram atau makruh, karena Allah Ta'ala tidak akan pernah memerintahkan
perbuatan keji. |
|
فَتَعَيَّنَ
أَنَّهُمْ لَمْ يَفْعَلُوا إِلَّا الطَّاعَةَ إِمَّا وَاجِبَةً أَوْ
مَنْدُوبَةً، |
Maka pastilah (terbukti)
bahwa mereka tidak pernah melakukan apa pun melainkan bentuk ketaatan semata,
baik yang berstatus wajib maupun sunah (mandub). |
|
وَلَا
تَدْخُلُ أَفْعَالُهُمُ الْمُبَاحَاتِ، لِأَنَّهُمْ إِذَا فَعَلُوا الْمُبَاحَ
يَكُونُ لِبَيَانِ الْجَوَازِ. |
Dan perbuatan-perbuatan
mereka tidaklah masuk dalam kategori sekadar hal "mubah" (boleh).
Sebab, apabila mereka melakukan sesuatu yang asalnya mubah, (niat) hal itu
(bernilai ibadah) guna menjelaskan kebolehan hukumnya (kepada umat). |
|
وَأَمَّا
دَلِيلُ التَّبْلِيغِ: فَلِأَنَّهُمْ لَوْ كَتَمُوا لَكُنَّا مَأْمُورِينَ
بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ، |
Adapun dalil (wajibnya
sifat) At-Tabligh (Menyampaikan) adalah: Karena seandainya mereka
menyembunyikan (risalah), niscaya kita pun akan diperintahkan untuk
menyembunyikan ilmu (karena meneladani mereka). |
|
وَلَا يَصِحُّ
أَنْ نَكْتُمَ الْعِلْمَ، لِأَنَّ كَاتِمَهُ مَلْعُونٌ فَتَعَيَّنَ أَنَّهُمْ
لَمْ يَكْتُمُوا، فَثَبَتَ لَهُمُ التَّبْلِيغُ. |
Padahal, tidak dibenarkan
bagi kita untuk menyembunyikan ilmu, karena orang yang menyembunyikan ilmu
itu dilaknat. Maka pastilah mereka tidak pernah menyembunyikannya, sehingga
terbuktilah kewajiban sifat Tabligh bagi mereka. |
|
وَأَمَّا
دَلِيلُ الْفَطَانَةِ، أَيِ: الْحِذْقِ لَهُمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ: |
Adapun dalil (wajibnya
sifat) Al-Fathanah (Cerdas), yakni kecakapan bagi mereka 'alaihimus
shalatu wassalam adalah: |
|
فَلِأَنَّهُمْ
لَوِ انْتَفَتْ عَنْهُمُ الْفَطَانَةُ لَمَا قَدَرُوا أَنْ يُقِيمُوا حُجَّةً
عَلَى الْخَصْمِ، |
Karena seandainya sifat
cerdas itu tidak ada pada mereka, niscaya mereka tidak akan mampu membangun
argumen (hujah) untuk mematahkan musuh penentang. |
|
لَكِنَّ
إِقَامَةَ الْحُجَجِ مِنْهُمْ عَلَى الْخَصْمِ دَلَّ عَلَيْهَا الْقُرْآنُ فِي
غَيْرِ مَوْضِعٍ، وَإِقَامَةُ الْحُجَجِ لَا تَكُونُ إِلَّا مِنَ الْفَطِنِ. |
Akan tetapi, (fakta)
kemampuan penegakan argumen oleh mereka untuk mematahkan musuh itu telah
ditunjukkan (buktinya) oleh Al-Qur'an di banyak tempat. Sedangkan penegakan
argumen (yang kuat) tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang yang berotak
cerdas. |
|
وَأَمَّا
دَلِيلُ جَوَازِ وُقُوعِ الْأَعْرَاضِ الْبَشَرِيَّةِ بِهِمْ: |
Adapun dalil jaiz
(boleh/mungkin) terjadinya sifat-sifat kemanusiaan (seperti sakit, lapar,
lelah) pada diri mereka adalah: |
|
فَلِأَنَّهُمْ
لَا يَزَالُونَ يَتَرَقَّوْنَ فِي الْمَرَاتِبِ الْعَلِيَّةِ، وَوُقُوعُ
الْأَمْرَاضِ بِهِمْ مَثَلًا زِيَادَةٌ فِي مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ، |
Karena mereka senantiasa
terus menanjak dalam tingkatan-tingkatan derajat yang tinggi, dan tertimpanya
mereka oleh penyakit, misalnya, (berfungsi sebagai) sarana penambah derajat
tinggi mereka. |
|
وَلِأَجْلِ
أَنْ يَتَسَلَّى بِهِمْ غَيْرُهُمْ، وَيَعْرِفَ الْعَاقِلُ أَنَّ الدُّنْيَا
لَيْسَتْ دَارَ جَزَاءٍ لِأَحْبَابِهِ، |
Dan juga agar orang selain
mereka dapat mengambil pelipur lara (penghiburan/teladan saat tertimpa ujian)
dengan melihat mereka. Serta agar orang yang berakal menyadari bahwa dunia
ini bukanlah negeri balasan (yang sejati) bagi para kekasih-Nya. |
|
إِذْ لَوْ
كَانَتْ دَارَ جَزَاءٍ لِأَحْبَابِهِ لَمَا أَصَابَهُمْ شَيْءٌ مِنْ
تَكَدُّرَاتِهَا - |
Sebab, seandainya dunia ini
adalah tempat ganjaran/balasan bagi para kekasih-Nya, niscaya tidak akan ada
sedikit pun kekeruhan (penderitaan duniawi) yang menimpa mereka. |
|
صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَسَلَّمَ، وَعَلَى رَئِيسِهِمُ الْأَعْظَمِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ أَجْمَعِينَ. |
Semoga selawat serta salam
dari Allah senantiasa tercurah kepada mereka, dan kepada pemimpin agung
mereka (yakni) Sayyidina Muhammad, serta kepada keluarga, sahabat, dan
seluruh ahli baitnya. |
|
|
|
|
|
|
|
الْعَقَائِدُ
السَّمْعِيَّةُ |
AKIDAH-AKIDAH SAM'IYYAH
(BERDASARKAN WAHYU/RIWAYAT)
|
|
وَقَدْ
تَمَّتِ الْخَمْسُونَ عَقِيدَةً بِأَدِلَّتِهَا الشَّرِيفَةِ، |
Dan sungguh telah genap
lima puluh akidah (wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan Rasul) beserta
dalil-dalilnya yang mulia. |
|
وَلْنَذْكُرْ
لَكَ شَيْئًا مِمَّا يَجِبُ اعْتِقَادُهُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي أَدِلَّتُهَا
سَمْعِيَّةٌ: |
Maka mari kami sebutkan
kepadamu sebagian hal yang wajib diyakini dari perkara-perkara yang landasan
dalilnya bersifat sam'iyyah (berdasarkan wahyu Al-Qur'an dan
As-Sunah): |
|
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ يَجِبُ الْإِيمَانُ بِأَنَّ لِنَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ حَوْضًا |
Ketahuilah, sesungguhnya
wajib mengimani bahwa Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki
sebuah telaga (Haudh). |
|
وَالْجَهْلُ
بِكَوْنِهِ بَعْدَ الصِّرَاطِ أَوْ قَبْلَهُ لَا يَضُرُّ، |
Dan ketidaktahuan tentang
apakah posisi telaga itu berada setelah melewati jembatan Shirath atau
sebelumnya, tidaklah membahayakan (status keimanan seseorang). |
|
تَرِدُهُ
الْخَلَائِقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَهُوَ غَيْرُ الْكَوْثَرِ الَّذِي هُوَ
نَهْرٌ فِي الْجَنَّةِ. |
Seluruh makhluk (dari umat
beliau) akan mendatangi telaga tersebut pada hari kiamat. Dan telaga ini
berbeda dengan Al-Kautsar, karena Al-Kautsar adalah sebuah
sungai di dalam surga. |
|
وَمِمَّا
يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَنَّهُ يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي فَصْلِ
الْقَضَاءِ حِينَ تَقِفُ النَّاسُ |
Dan di antara hal yang
wajib diyakini adalah: Bahwa beliau (Nabi Muhammad) akan memberikan syafaat
(pertolongan) pada hari kiamat di saat Fashlul Qadha' (proses
penentuan keputusan); yakni ketika umat manusia berdiri lama (di Padang
Mahsyar) |
|
وَيَتَمَنَّوْنَ
الِانْصِرَافَ وَلَوْ لِلنَّارِ، فَيَشْفَعُ فِي انْصِرَافِهِمْ مِنَ
الْمَوْقِفِ، |
Dan mereka sangat
mendambakan untuk segera diberangkatkan (dari tempat tersebut) meskipun harus
(berangkat) menuju neraka. Maka beliau memberikan syafaat agar mereka segera
diberangkatkan dari tempat pemberhentian itu (untuk dihisab). |
|
وَهَذِهِ
الشَّفَاعَةُ مُخْتَصَّةٌ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. |
Dan Syafaat (Agung) ini
dikhususkan secara mutlak hanya bagi beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. |
|
وَمِمَّا
يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَنَّ الْوُقُوعَ فِي الْكَبَائِرِ غَيْرُ مُكَفِّرٍ، وَلَا
يُوجِبُ الْكُفْرَ، |
Dan di antara hal yang
wajib diyakini: Bahwa terjerumus ke dalam dosa-dosa besar itu tidak lantas
mengkafirkan pelakunya, dan tidak pula mewajibkan (memvonis) kekufuran
atasnya. |
|
وَتَجِبُ
التَّوْبَةُ حَالًا مِنَ الذَّنْبِ وَلَوْ صَغِيرَةً عَلَى الْمُعْتَمَدِ
فِيهَا، |
Namun, wajib hukumnya untuk
segera bertaubat dari suatu dosa meskipun itu adalah dosa kecil, berdasarkan
pendapat yang muktamad (kuat dan dipegangi) dalam masalah ini. |
|
وَلَا
تَنْتَقِضُ التَّوْبَةُ بِعَوْدَةٍ إِلَى الذَّنْبِ، بَلْ يَجِبُ لِهَذَا
الذَّنْبِ تَوْبَةٌ جَدِيدَةٌ. |
Dan sebuah taubat itu
tidaklah menjadi batal (gugur pahalanya) hanya karena orang tersebut kembali
mengulangi dosanya. Melainkan, wajib baginya untuk melakukan taubat yang baru
lagi demi (menghapus) dosa yang baru ini. |
|
وَيَجِبُ
عَلَى الشَّخْصِ أَنْ يَجْتَنِبَ الْكِبْرَ وَالْحَسَدَ وَالْغِيبَةَ |
Dan wajib atas setiap orang
untuk menjauhi sifat sombong (kibr), dengki (hasad), dan
menggunjing (ghibah). |
|
لِقَوْلِهِ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّ لِأَبْوَابِ السَّمَاءِ حُجَّابًا
يَرُدُّونَ أَعْمَالَ أَهْلِ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَالْغِيبَةِ |
Hal ini berdasarkan sabda
beliau 'alaihis shalatu wassalam: "Sesungguhnya pintu-pintu
langit itu memiliki para penjaga yang akan menolak amal perbuatan orang yang
sombong, pendengki, dan penggunjing." |
|
أَيْ:
يَمْنَعُونَهَا مِنَ الصُّعُودِ، فَلَا تُقْبَلُ. |
Yakni: malaikat penjaga
tersebut mencegah amal-amal (buruk) itu naik ke atas, sehingga amal tersebut
tidak diterima. |
|
وَالْحَسَدُ:
تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْغَيْرِ سَوَاءٌ كَانَ تَمَنَّى أَنْ تَأْتِيَ لَهُ
- أَيْ: لِلْحَاسِدِ - أَوْ: لَا. |
Definisi Hasad (dengki)
adalah: Mengharapkan
hilangnya nikmat dari orang lain. Baik ia mengharapkan agar nikmat itu
berpindah kepadanya—yakni kepada si pendengki—maupun tidak (sekadar ingin
melihat saudaranya hancur). |
|
وَالْكِبْرُ:
بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْصُ الْخَلْقِ، |
Definisi Kibr (sombong)
adalah: Menolak
kebenaran (batharul haqq) dan meremehkan manusia (ghamshul khalq). |
|
وَمَعْنَى
بَطَرِ الْحَقِّ رَدُّهُ عَلَى قَائِلِهِ، وَمَعْنَى: غَمْصِ الْخَلْقِ
الِاسْتِهْزَاءُ بِهِمْ. |
Dan makna menolak kebenaran
adalah membantah (dan mengembalikannya mentah-mentah) kepada si pengucapnya.
Sedangkan makna meremehkan manusia adalah mengolok-olok (merendahkan) mereka. |
|
وَيَجِبُ
أَيْضًا أَنْ يَتْرُكَ النَّمِيمَةَ، وَهِيَ السَّعْيُ بَيْنَ النَّاسِ عَلَى
وَجْهِ الْإِفْسَادِ، |
Dan wajib pula baginya
untuk meninggalkan perbuatan namimah (adu domba). Yaitu berjalan ke
sana kemari di antara manusia dengan tujuan merusak (hubungan harmonis
mereka). |
|
لِأَنَّهُ
وَرَدَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ بِفَتْحِ الْقَافِ، وَتَشْدِيدِ
التَّاءِ الْمُثَنَّاةِ مِنْ فَوْقُ بَعْدَهَا أَلِفٌ وَآخِرُهَا تَاءٌ
مُثَنَّاةٌ مِنْ فَوْقُ أَيْضًا. |
Karena telah diriwayatkan
sebuah hadis: "Tidak akan masuk surga seorang qattat." (Cara
membacanya adalah) dengan memfathahkan huruf Qaf, lalu men-tasydid-kan
huruf Ta (bertitik dua di atas), setelahnya huruf alif, dan diakhiri
juga dengan huruf Ta bertitik dua di atas. (Qattat maknanya
adalah pengadu domba). |
|
وَمَحَلُّ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ حُرْمَةِ الْحَسَدِ إِنْ لَمْ تَكُنِ النِّعْمَةُ حَامِلَةً
لِلْمَحْسُودِ عَلَى الْفُجُورِ |
Dan titik letak keharaman
dari perbuatan hasad (dengki) yang telah disebutkan tadi adalah: Jika nikmat
tersebut tidak sampai mendorong si penerima nikmat (orang yang didengki) pada
kefasikan (maksiat). |
|
وَإِلَّا
جَازَ تَمَنِّي زَوَالِ النِّعْمَةِ عَنْهُ. |
Jika sebaliknya (nikmat itu
justru digunakan untuk bermaksiat), maka jaiz (diperbolehkan) untuk
mengharapkan hilangnya nikmat tersebut darinya. |
|
وَمِمَّا
يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَنَّ بَعْضَ مَنِ ارْتَكَبَ الْكَبَائِرَ يُعَذَّبُ وَلَوْ
وَاحِدًا. |
Dan di antara hal yang
wajib diyakini (untuk membenarkan ancaman Allah): Bahwa sebagian orang
(mukmin) yang melakukan dosa besar pasti akan diazab (disiksa terlebih
dahulu), meskipun (yang disiksa itu) hanya satu orang saja. |
|
خَاتِمَةٌ فِي تَعْرِيفِ
الْإِيمَانِ |
PENUTUP:
TENTANG DEFINISI IMAN
|
|
لُغَةً:
مُطْلَقُ التَّصْدِيقِ، |
Secara bahasa
(Etimologi): Bermakna Tashdiq
(Pembenaran/Kepercayaan) secara mutlak. |
|
وَمِنْهُ
قَوْلُهُ تَعَالَى حِكَايَةً عَنْ أَوْلَادِ يَعْقُوبَ: ﴿وَمَا أَنْتَ
بِمُؤْمِنٍ لَنَا﴾. |
Dan di antara (contoh
penggunaan makna bahasa) tersebut adalah firman-Nya Ta'ala yang menceritakan
ucapan putra-putra (Nabi) Ya'qub: "Dan engkau sekali-kali tidak akan
pernah percaya (membenarkan) kami." (QS. Yusuf: 17). |
|
وَشَرْعًا:
التَّصْدِيقُ بِجَمِيعِ مَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ. |
Secara syariat
(Terminologi): Pembenaran
(pengakuan batin) terhadap segala sesuatu yang dibawa oleh Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam. |
|
وَاخْتُلِفَ
فِي مَعْنَى التَّصْدِيقِ بِذَلِكَ، |
Dan para ulama berselisih
pendapat mengenai makna Tashdiq (pembenaran) tersebut. |
|
فَقَالَ
بَعْضُهُمْ: هُوَ الْمَعْرِفَةُ، |
Sebagian ulama berpendapat:
Ia (Tashdiq) adalah Al-Ma'rifah (Pengetahuan murni). |
|
فَكُلُّ مَنْ
عَرَفَ مَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ
مُؤْمِنٌ، |
Maka siapa saja yang
mengetahui (kebenaran) apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam, berarti ia adalah seorang mukmin. |
|
وَيَرِدُ
عَلَى هَذَا التَّفْسِيرِ أَنَّ الْكَافِرَ عَارِفٌ، وَلَيْسَ بِمُؤْمِنٍ، |
Namun, tafsiran (pendapat)
ini dibantah dengan argumen bahwa orang kafir pun mengetahui hal tersebut
(kebenaran Nabi), padahal ia bukanlah seorang mukmin (karena sekadar tahu
tapi tidak menerima). |
|
وَهَذَا
التَّفْسِيرُ أَيْضًا لَا يُنَاسِبُ قَوْلَ الْجُمْهُورِ: إِنَّ الْمُقَلِّدَ
مُؤْمِنٌ مَعَ أَنَّهُ لَيْسَ بِعَارِفٍ. |
Selain itu, tafsiran ini
juga tidak selaras dengan pendapat mayoritas ulama (Jumhur) yang menyatakan:
"Bahwa seorang muqallid (orang yang sekadar ikut-ikutan tanpa
tahu dalil) itu tetap berstatus mukmin, padahal sejatinya ia tidak memiliki ma'rifah
(pengetahuan yang mendalam berlandaskan dalil)." |
|
فَالتَّحْقِيقُ:
تَفْسِيرُ التَّصْدِيقِ بِأَنَّهُ: حَدِيثُ النَّفْسِ التَّابِعُ لِلْجَزْمِ، |
Maka pendapat yang paling Tahqiq
(kuat dan akurat) adalah: Menafsirkan Tashdiq (pembenaran) itu
sebagai: Haditsun Nafs (ikrar di dalam batin) yang mengikuti (berpijak
pada) Jazm (keyakinan yang mantap dan pasti). |
|
سَوَاءٌ كَانَ
بِجَزْمٍ عَنْ دَلِيلٍ وَيُسَمَّى مَعْرِفَةً أَوْ عَنِ التَّقْلِيدِ. |
Baik keyakinan mantap itu
didasarkan pada dalil/argumen—yang tingkatan ini dinamakan Ma'rifah—ataupun
(hanya) didasarkan pada taklid (ikut-ikutan buta). |
|
فَيَخْرُجُ
الْكَافِرُ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ حَدِيثُ النَّفْسِ، |
Maka dengan definisi (ikrar
batin) ini, orang kafir dikeluarkan (tidak diakui sebagai mukmin), karena ia
tidak memiliki ikrar di dalam batinnya. |
|
لِأَنَّ
مَعْنَى حَدِيثِ النَّفْسِ أَنْ تَقُولَ: رَضِيتُ بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - |
Karena makna Haditsun
Nafs (ikrar dalam batin) itu adalah engkau mengucapkan (di dalam hatimu):
"Aku rida (dan menerima sepenuhnya) terhadap segala apa yang dibawa oleh
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." |
|
وَنَفْسُ
الْكَافِرِ لَا تَقُولُ ذَلِكَ، |
Sedangkan batin (hati)
orang kafir sama sekali tidak mengucapkan hal tersebut. |
|
وَدَخَلَ
الْمُقَلِّدُ فَإِنَّهُ عِنْدَهُ حَدِيثُ نَفْسٍ تَابِعٌ لِلْجَزْمِ، وَإِنْ
لَمْ يَكُنْ جَزْمُهُ عَنْ دَلِيلٍ. |
Dan dengan definisi ini
pula, seorang muqallid (orang awam yang bertaklid) dapat masuk (diakui
sebagai mukmin). Karena sesungguhnya ia memiliki ikrar dalam batin yang
berpijak pada keyakinan mantap, sekalipun keyakinannya itu tidak berlandaskan
pada dalil. |
|
نَسَبُ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِفَتُهُ |
NASAB (GARIS KETURUNAN) NABI SHALLALLAHU
'ALAIHI WA SALLAM DAN SIFAT (FISIK) BELIAU
|
|
وَمِمَّا
يَجِبُ الْإِيمَانُ بِهِ أَيْضًا مَعْرِفَةُ نَسَبِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أَبِيهِ وَمِنْ جِهَةِ أُمِّهِ: |
Dan di antara hal yang
wajib diimani pula adalah mengetahui nasab beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam, baik dari jalur ayahnya maupun dari jalur ibunya: |
|
فَأَمَّا
نَسَبُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أَبِيهِ فَهُوَ:
سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ
هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ كَعْبِ بْنِ
لُؤَيٍّ بِالْهَمْزِ وَتَرْكِهِ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ
النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ
مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ. |
Maka adapun nasab beliau shallallahu
'alaihi wa sallam dari jalur ayahnya, beliau adalah: Sayyidina Muhammad
bin 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin Qushay bin
Kilab bin Ka'ab bin Lu'ay (bisa dibaca dengan huruf hamzah ataupun tanpanya)
bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin
Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'add bin 'Adnan. |
|
وَالْإِجْمَاعُ
مُنْعَقِدٌ عَلَى هَذَا النَّسَبِ إِلَى عَدْنَانَ، وَلَيْسَ فِيمَا بَعْدَهُ
إِلَى آدَمَ طَرِيقٌ صَحِيحٌ فِيمَا يُنْقَلُ. |
Dan kesepakatan ulama
(ijmak) telah bulat atas (kesahihan) urutan nasab ini hingga sampai kepada
'Adnan. Dan tidak ada jalur periwayatan yang berstatus sahih secara mutlak
mengenai nasab setelahnya ('Adnan) hingga bersambung kepada Nabi Adam. |
|
وَأَمَّا
نَسَبُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِهَةِ أُمِّهِ فَهِيَ آمِنَةُ
بِنْتُ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ زُهْرَةَ، |
Dan adapun nasab beliau shallallahu
'alaihi wa sallam dari jalur ibunya, beliau (ibunda Nabi) adalah: Aminah
binti Wahb bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah. |
|
وَعَبْدُ
مَنَافٍ هَذَا غَيْرُ عَبْدِ مَنَافٍ جَدِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بْنِ كِلَابٍ أَحَدِ أَجْدَادِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَتَجْتَمِعُ مَعَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمُّهُ فِي جَدِّهِ
كِلَابٍ. |
Dan 'Abdu Manaf (dalam
jalur ibu) ini berbeda dengan 'Abdu Manaf (dalam jalur ayah yang merupakan)
kakek beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. (Silsilah ibunda beliau
berlanjut kepada) bin Kilab, yang merupakan salah satu kakek moyang beliau shallallahu
'alaihi wa sallam. Maka nasab ibunda beliau bertemu dengan nasab beliau shallallahu
'alaihi wa sallam pada kakek moyangnya, yakni Kilab. |
|
وَيَجِبُ أَنْ
يُعْلَمَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضُ مُشْرَبٌ
بِحُمْرَةٍ عَلَى مَا قَالَهُ بَعْضُهُمْ. |
Dan wajib pula untuk
diketahui bahwa (warna kulit) beliau shallallahu 'alaihi wa sallam itu
putih kemerah-merahan (abyadh musyrab bi humrah), berdasarkan apa yang
diucapkan oleh sebagian ulama. |
|
وَهَذَا آخِرُ
مَا يَسَّرَ اللَّهُ بِهِ مِنْ فَضْلِهِ. |
Dan inilah akhir dari apa
yang telah Allah mudahkan (penyusunannya) berkat anugerah-Nya. |
|
وَصَلَّى
اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَعَلَى
أَهْلِ بَيْتِهِ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ
الْغَافِلُونَ، |
Dan semoga selawat (rahmat
takzim) dari Allah senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad,
beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh ahli baitnya, setiap kali
orang-orang yang berzikir mengingat-Nya, dan setiap kali orang-orang yang
lalai melupakan-Nya. |
|
وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. |
Dan segala puji hanyalah
milik Allah, Tuhan semesta alam. |
