- Diposting oleh : TALAQQI KUTUB TURATS
- pada tanggal : Juli 27, 2026
CATATAN
KECIL TENTANG
PENDAPAT YANG DIRIDAI
(Terjemah Kitab Risalah Aqwal Mardiyyah)
Karya
Syekh Sulaiman Ar-Rasuli
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي تَوَحَّدَ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَعُتْرَتِهِ مَا دَامَتِ الشَّمْسُ فِي سَمَاءِ اللَّهِ
وَالْعُلَمَاءُ فِي أَرْضِهِ.
Segala puji bagi Allah yang
Maha Esa pada zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Selawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, hamba dan utusan-Nya,
serta kepada keluarga, sahabat, istri-istri, dan keturunannya, selama matahari
masih bersinar di langit Allah dan para ulama masih berdakwah di bumi-Nya.
وَبَعْدُ،
فَهَذِهِ الْأَقْوَالُ الْمَرْضِيَّةُ - الْمُشْتَمِلَةُ عَلَى الْأَسْئِلَةِ
وَالْأَجْوِبَةِ - فِي الْعَقَائِدِ الدِّينِيَّةِ - الَّتِي جَمَعْتُهَا
لِلتَّلَامِذَةِ الْأَوَّلِيَّةِ - فِي مَدَارِسِ التَّرْبِيَّةِ
الْإِسْلَامِيَّةِ - هَدَانَا اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ
- بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَرَسُولِ اللَّهِ الْكَرِيمِ
-.
آمِينَ .... آمِينَ .... آمِينَ ... يَا مُجِيبَ السَّائِلِينَ.
Amma ba'du. Kitab Al-Aqwal Al-Mardhiyyah ini
berisi kumpulan tanya jawab seputar akidah agama yang aku susun khusus untuk
para santri tingkat dasar di madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah.
Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua ke jalan yang lurus, berkat
kedudukan junjungan kita, Nabi Muhammad, utusan Allah yang mulia. Amin...
Amin... Amin... Wahai Zat yang mengabulkan doa para pemohon.
وَالسَّلَامُ،
جَامِعُهَا خَادِمُ الْعِلْمِ الشَّرِيفِ فِي مَدْرَسَةِ التَّرْبِيَّةِ
الْإِسْلَامِيَّةِ الْمِنْكَابَاوِيَّةِ الْفَقِيرُ الْحَقِيرُ سُلَيْمَانُ بْنُ
الْمَرْحُومِ مُحَمَّدُ الرَّسُولِي جَنْدُونْج غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
وَلِوَالِدَيْهِ، آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Wassalam. Penyusun risalah ini adalah seorang
pelayan ilmu yang mulia di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Minangkabau, seorang
hamba yang fakir dan hina; Sulaiman bin Al-Marhum Muhammad Ar-Rasuli Canduang.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya. Amin, ya
Rabbal 'alamin.
١٠ جُمَادَى
الْآخِرَةِ ١٣٥١ هِجْرِيَّة
10 Jumadil Akhir
1351 Hijriah
١٠ أُكْتُوبَر
١٩٣٢ مِيلَادِيَّة
10 Oktober 1932
Masehi
الْمُقَدِّمَةُ الْأُولَى فِي الْأَحْكَامِ
Mukadimah Pertama: Pembahasan
Tentang Hukum
س: مَا
مَعْنَى الْحُكْمِ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan hukum?
ج:
وَمَعْنَى الْحُكْمِ إِثْبَاتُ أَمْرٍ أَوْ نَفْيُهُ، كَإِثْبَاتِ التَّحَيُّزِ
لِلْجِرْمِ، وَالْوُجُوبِ لِلصَّلَاةِ، وَالتَّسْخِينِ لِلنَّارِ.
Jawab: Hukum adalah menetapkan sesuatu pada
sesuatu yang lain, atau meniadakannya. Contohnya seperti menetapkan adanya
ruang untuk sebuah benda padat (jisim), menetapkan kewajiban untuk ibadah
salat, dan menetapkan sifat memanaskan pada api.
س:
كَمْ أَقْسَامُ الْحُكْمِ؟
Tanya: Ada berapa pembagian hukum itu?
ج:
وَالْحُكْمُ يَنْقَسِمُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ : ١. عَقْلِيٌّ ٢. شَرْعِيٌّ ٣.
عَادِيٌّ
Jawab: Hukum terbagi menjadi tiga macam, yaitu:
- Hukum 'Aqli (Berdasarkan akal
pikiran).
- Hukum Syar'i (Berdasarkan ketetapan
syariat/agama).
- Hukum 'Adi (Berdasarkan
kebiasaan/hukum alam).
الْحُكْمُ الْعَقْلِيُّ
Hukum 'Aqli (Berdasarkan Akal)
س: مَا
مَعْنَى الْحُكْمِ الْعَقْلِيِّ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan hukum 'Aqli?
ج:
وَالْحُكْمُ الْعَقْلِيُّ مَا يُدْرِكُ الْعَقْلُ ثُبُوتَهُ أَوْ نَفْيَهُ بِلَا
تَوَقُّفٍ عَلَى تَكَرُّرٍ وَلَا وَضْعِ وَاضِعٍ، كَإِدْرَاكِ ثُبُوتِ وُجُوبِ
الْقُدْرَةِ لِلَّهِ تَعَالَى. خَرَجَ بِهِ الْحُكْمُ الْعَادِيُّ فَإِنَّهُ
يَتَوَقَّفُ عَلَى تَكَرُّرٍ، كَالشِّبَعِ بِالْأَكْلِ. خَرَجَ بِهِ الْحُكْمُ
الشَّرْعِيُّ فَإِنَّهُ يَتَوَقَّفُ عَلَى وَضْعِ وَاضِعٍ، كَوُجُوبِ الصَّلَاةِ.
Jawab: Hukum 'Aqli adalah sesuatu yang dapat
dipahami oleh akal kita, baik tentang ketetapannya maupun ketiadaannya, tanpa
harus bergantung pada kebiasaan yang berulang dan tanpa bergantung pada aturan
yang dibuat oleh pembuat hukum. Contohnya, akal kita dapat memahami dan
menetapkan bahwa Allah pasti memiliki sifat Kuasa.
Dari definisi ini, tidak
termasuk di dalamnya hukum 'Adi (kebiasaan) karena ia butuh kejadian
yang berulang (seperti rasa kenyang karena makan). Tidak termasuk juga hukum
Syar'i (agama) karena ia bergantung pada aturan pembuat syariat (seperti
wajibnya salat).
س:
كَمْ أَقْسَامُ الْحُكْمِ الْعَقْلِيِّ؟
Tanya: Ada berapa pembagian hukum 'Aqli?
ج:
وَالْحُكْمُ الْعَقْلِيُّ يَنْحَصِرُ فِي ثَلَاثَةٍ : ١. الْوُجُوبُ ٢.
الْإِسْتِحَالَةُ ٣. الْجَوَازُ
Jawab: Hukum 'Aqli terbatas pada tiga macam saja,
yaitu:
- Wajib (Pasti ada).
- Mustahil (Tidak mungkin ada).
- Jaiz (Mungkin saja ada, dan mungkin
juga tidak).
س: مَا
مَعْنَى الْوُجُوبِ فِي الْعَقْلِ؟
Tanya: Apa arti wajib menurut hukum akal?
ج:
فَالْوَاجِبُ مَا لَا يَصِحُّ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ، كَالتَّحَيُّزِ لِلْجِرْمِ.
Jawab: Wajib adalah sesuatu yang akal kita tidak
bisa menerima jika ia tidak ada. Contohnya, sebuah benda padat pasti memakan
tempat atau ruang.
س: مَا
مَعْنَى الْإِسْتِحَالَةِ فِي الْعَقْلِ؟
Tanya: Apa arti mustahil menurut hukum akal?
ج:
فَالْمُسْتَحِيلُ مَا لَا يَصِحُّ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ، كَالْجِرْمِ الْخَالِي
عَنِ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ.
Jawab: Mustahil adalah sesuatu yang akal kita
tidak bisa menerima jika ia ada. Contohnya, membayangkan ada sebuah benda yang
tidak bergerak tapi sekaligus tidak diam dalam satu waktu yang bersamaan. (Hal
itu mustahil, karena benda pasti sedang diam atau bergerak).
س: مَا
مَعْنَى الْجَوَازِ فِي الْعَقْلِ؟
Tanya: Apa arti jaiz menurut hukum akal?
ج:
فَالْجَائِزُ فِي الْعَقْلِ مَا يَصِحُّ فِي الْعَقْلِ وُجُودُهُ وَعَدَمُهُ عَلَى
السَّوَاءِ.
Jawab: Jaiz adalah sesuatu yang akal kita bisa
menerimanya, baik ia ada maupun tidak ada, dengan kemungkinan yang sama
besarnya. (Artinya boleh-boleh saja).
الْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ
Hukum Syar'i (Berdasarkan
Syariat/Agama)
س: مَا
مَعْنَى الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan hukum Syar'i?
ج:
وَالْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ هُوَ خِطَابُ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقُ
بِأَفْعَالِ الْمُكَلَّفِ عَلَى سَبِيلِ الطَّلَبِ أَوِ التَّخْيِيرِ.
Jawab: Hukum Syar'i adalah firman
(perintah/ketentuan) Allah yang berkaitan langsung dengan perbuatan seorang
mukalaf (orang Islam yang sudah balig dan berakal), baik berupa tuntutan untuk
mengerjakan atau meninggalkan, maupun berupa pilihan untuk bebas melakukannya.
س:
كَمْ أَقْسَامُ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ؟
Tanya: Ada berapa pembagian hukum Syar'i?
ج:
وَالْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ يَنْقَسِمُ إِلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ : ١. وَاجِبٌ ٢.
حَرَامٌ ٣. سُنَّةٌ ٤. مَكْرُوهٌ ٥. إِبَاحَةٌ
Jawab: Hukum Syar'i terbagi menjadi lima macam,
yaitu:
- Wajib
- Haram
- Sunnah
- Makruh
- Mubah (Boleh)
س: مَا
مَعْنَى الْوَاجِبِ؟
Tanya: Apa arti wajib?
ج:
فَالْوَاجِبُ مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ.
Jawab: Wajib adalah perbuatan yang jika
dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan mendapat hukuman (dosa).
س: مَا
مَعْنَى الْحَرَامِ؟
Tanya: Apa arti haram?
ج:
فَالْحَرَامُ مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ امْتِثَالاً وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ.
Jawab: Haram adalah perbuatan yang jika
ditinggalkan dengan niat patuh kepada Allah akan mendapat pahala, dan jika
dikerjakan mendapat hukuman (dosa).
س: مَا
مَعْنَى السُّنَّةِ؟
Tanya: Apa arti sunnah?
ج:
فَالسُّنَّةُ مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ.
Jawab: Sunnah adalah perbuatan yang jika
dikerjakan mendapat pahala, namun jika ditinggalkan tidak dihukum (tidak
berdosa).
س: مَا
مَعْنَى الْمَكْرُوهِ؟
Tanya: Apa arti makruh?
ج:
فَالْمَكْرُوهُ مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ امْتِثَالاً وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى
فِعْلِهِ.
Jawab: Makruh adalah perbuatan yang jika
ditinggalkan dengan niat patuh kepada Allah akan mendapat pahala, namun jika
dikerjakan tidak dihukum (tidak berdosa).
س: مَا
مَعْنَى الْإِبَاحَةِ؟
Tanya: Apa arti mubah (kebolehan)?
ج:
فَالْإِبَاحَةُ مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ، أَيْ
مَا لَا يَتَعَلَّقُ بِفِعْلِهِ وَتَرْكِهِ ثَوَابٌ وَلَا عِقَابٌ.
Jawab: Mubah adalah sesuatu yang jika dikerjakan
diberi pahala dan jika ditinggalkan tidak dihukum. (Penjelasan: Maksud
sebenarnya adalah, perbuatan mubah itu sifatnya netral; tidak ada kaitan pahala
maupun dosa di dalamnya, baik ia dikerjakan maupun ditinggalkan).
الْحُكْمُ الْعَادِيُّ
Hukum 'Adi (Berdasarkan Hukum
Alam atau Kebiasaan)
س: مَا
مَعْنَى الْحُكْمِ الْعَادِيِّ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan hukum 'Adi?
ج:
وَالْحُكْمُ الْعَادِيُّ هُوَ إِثْبَاتُ الرَّبْطِ بَيْنَ أَمْرٍ وُجُودًا أَوْ
عَدَمًا بِوَاسِطَةِ تَكَرُّرِ الْقَرَائِنِ بَيْنَهُمَا عَلَى الْحِسِّ،
كَإِثْبَاتِ الْإِحْرَاقِ لِلنَّارِ وَالشِّبَعِ لِلطَّعَامِ.
Jawab: Hukum 'Adi adalah menetapkan adanya ikatan
hubungan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya, baik keberadaannya
maupun ketiadaannya, yang didasarkan pada kejadian berulang-ulang yang dapat
diamati oleh pancaindra. Contohnya seperti menetapkan bahwa api menyebabkan
terbakar dan makanan menyebabkan kenyang.
س:
كَمْ أَقْسَامُ الْحُكْمِ الْعَادِيِّ؟
Tanya: Ada berapa pembagian hukum 'Adi?
ج:
وَالْحُكْمُ الْعَادِيُّ يَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ.
Jawab: Hukum 'Adi terbagi menjadi empat macam.
س: مَا
هِيَ؟
Tanya: Apa sajakah keempat macam itu?
ج:
١. رَبْطُ وُجُودٍ بِوُجُودٍ، كَرَبْطِ
وُجُودِ الشِّبَعِ بِوُجُودِ الْأَكْلِ.
٢. رَبْطُ عَدَمٍ بِعَدَمٍ، كَرَبْطِ
عَدَمِ الشِّبَعِ بِعَدَمِ الْأَكْلِ.
٣. رَبْطُ وُجُودٍ بِعَدَمٍ،
كَرَبْطِ وُجُودِ الْجُوعِ بِعَدَمِ الْأَكْلِ.
٤. رَبْطُ عَدَمٍ بِوُجُودٍ،
كَرَبْطِ عَدَمِ الْجُوعِ بِوُجُودِ الْأَكْلِ.
Jawab:
- Mengaitkan adanya sesuatu
dengan adanya sesuatu yang lain. Contoh: Adanya rasa kenyang
dikaitkan dengan adanya aktivitas makan.
- Mengaitkan tidak adanya sesuatu
dengan tidak adanya sesuatu yang lain. Contoh: Tidak adanya rasa
kenyang dikaitkan dengan tidak adanya aktivitas makan.
- Mengaitkan adanya sesuatu
dengan tidak adanya sesuatu yang lain. Contoh: Adanya rasa lapar
dikaitkan dengan tidak adanya aktivitas makan.
- Mengaitkan tidak adanya sesuatu
dengan adanya sesuatu yang lain. Contoh: Tidak adanya rasa lapar
dikaitkan dengan adanya aktivitas makan.
الْمُقَدِّمَةُ
الثَّانِيَةُ فِي حُكْمِ الْعَقَائِدِ
Mukadimah Kedua: Pembahasan
Tentang Hukum Akidah
س: مَا
الْمُرَادُ بِعِلْمِ الْعَقَائِدِ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan ilmu akidah?
ج:
هُوَ عِلْمٌ يُعْلَمُ بِهِ مَا يَجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى وَمَا يَسْتَحِيلُ
عَلَيْهِ وَمَا يَجُوزُ لَهُ مِنَ الصِّفَاتِ، وَكَذَلِكَ فِي حَقِّ الرُّسُلِ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.
Jawab: Ilmu akidah adalah ilmu untuk mengetahui
sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Ta'ala, serta
sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi para rasul 'alaihimussalam.
س: مَا
حُكْمُ الشَّرْعِ فِي الِاشْتِغَالِ بِهِ؟
Tanya: Apa hukum syariat dalam mempelajari ilmu
akidah ini?
ج:
هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ مِنَ الْمُكَلَّفِينَ.
Jawab: Hukum mempelajarinya adalah fardu ain
(wajib secara individu) bagi setiap mukalaf (orang Islam yang sudah balig dan
berakal sehat).
س: مَا
حُكْمُ الشَّخْصِ الَّذِي لَمْ يَعْتَقِدْ بِهَذِهِ الْعَقَائِدِ؟
Tanya: Apa hukum bagi orang yang tidak meyakini
akidah ini?
ج:
هُوَ كَافِرٌ بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ خَالِدٌ فِي النَّارِ، نَعُوذُ بِاللَّهِ.
Jawab: Orang tersebut dihukumi kafir kepada Allah
dan Rasul-Nya, serta akan kekal di dalam neraka. Na'udzu billah (kita
berlindung kepada Allah dari hal itu).
أَوَّلُ الْوَاجِبَاتِ
Kewajiban Pertama
س: مَا
أَوَّلُ الْوَاجِبَاتِ عَلَى الْمُكَلَّفِينَ؟
Tanya: Apa kewajiban pertama bagi seorang
mukalaf?
ج:
هُوَ الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ إِجْمَالًا وَبِسِتَّةِ الْأَرْكَانِ
تَفْصِيلًا.
Jawab: Kewajiban pertamanya adalah beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya secara garis besar (ijmal), serta beriman kepada
enam rukun iman secara terperinci (tafshil).
س: مَا
مَعْنَى الْإِيمَانِ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan iman?
ج:
هُوَ تَصْدِيقُ الْقَلْبِ بِجَمِيعِ مَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَعْلُومِ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ.
Jawab: Iman adalah membenarkan dan meyakini
dengan sepenuh hati segala sesuatu yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam yang termasuk ke dalam hal-hal pokok agama yang memang
wajib diketahui (seperti wajibnya salat, haramnya zina, dll).
س:
كَمْ أَرْكَانُ الْإِيمَانِ؟
Tanya: Ada berapa rukun iman?
ج:
هِيَ سِتَّةٌ : ١. الْإِيمَانُ بِاللَّهِ تَعَالَى. ٢. الْإِيمَانُ بِالرُّسُلِ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. ٣. الْإِيمَانُ بِالْمَلَائِكَةِ. ٤.
الْإِيمَانُ بِالْكُتُبِ. ٥. الْإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ. ٦. الْإِيمَانُ
بِالْقَدَرِ، خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى.
Jawab: Rukun iman ada enam, yaitu:
- Beriman kepada Allah Ta'ala.
- Beriman kepada para rasul 'alaihimussalam.
- Beriman kepada para malaikat.
- Beriman kepada kitab-kitab suci (yang
diturunkan Allah).
- Beriman kepada hari kiamat.
- Beriman kepada qada dan qadar
(ketentuan/takdir), baik takdir yang baik maupun yang buruk, bahwa
semuanya berasal dari Allah Ta'ala.
الْإِيمَانُ بِاللَّهِ
تَعَالَى
Beriman Kepada Allah Ta'ala
س: مَا
مَعْنَى الْإِيمَانِ بِاللَّهِ تَعَالَى؟
Tanya: Apa makna beriman kepada Allah Ta'ala?
ج:
هُوَ أَنْ نَعْتَقِدَ اعْتِقَادًا جَازِمًا بِوُجُوبِ مَا يَجِبُ لَهُ تَعَالَى
وَاسْتِحَالَةِ مَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى إِجْمَالًا وَتَفْصِيلًا
وَجَوَازِ مَا يَجُوزُ لَهُ تَعَالَى.
Jawab: Maknanya adalah kita meyakini dengan penuh
kemantapan tanpa keraguan tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah Ta'ala
dan sifat-sifat yang mustahil bagi-Nya, baik secara garis besar maupun
terperinci, serta meyakini sifat yang jaiz bagi-Nya.
الْوَاجِبَاتُ لِلَّهِ
تَعَالَى
Sifat-Sifat yang Wajib Bagi
Allah Ta'ala
س: مَا
الْوَاجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى إِجْمَالًا؟
Tanya: Apa saja sifat yang wajib bagi Allah Ta'ala
secara garis besar?
ج:
هُوَ جَمِيعُ الصِّفَاتِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى كَمَالَاتِهِ تَعَالَى وَلَا
نَعْلَمُ عَدَدَهَا.
Jawab: Secara garis besar, wajib meyakini bahwa
Allah memiliki seluruh sifat yang menunjukkan kesempurnaan-Nya, yang jumlahnya
tidak terhingga dan tidak kita ketahui batasannya.
س: مَا
الْوَاجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى تَفْصِيلًا؟
Tanya: Apa saja sifat yang wajib bagi Allah Ta'ala
secara terperinci?
ج:
هُوَ الْعِشْرُونَ صِفَةً.
Jawab: Secara terperinci, sifat wajib bagi Allah
berjumlah dua puluh sifat.
س:
كَمْ أَقْسَامُ الْوَاجِبَاتِ لِلَّهِ تَعَالَى تَفْصِيلًا؟
Tanya: Ada berapa bagian sifat-sifat yang wajib
bagi Allah Ta'ala secara terperinci tersebut?
ج:
وَتَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ :
١. نَفْسِيَّةٌ (مَا لَا يُعْقَلُ الذَّاتُ
بِدُونِهَا).
٢. سَلْبِيَّةٌ (عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ مَا
لَا يَلِيقُ بِذَاتِهِ تَعَالَى).
٣. مَعَانِيٌّ (صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ
قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، لَوْ رُفِعَ الْحِجَابُ عَنَّا لَرَأَيْنَاهَا).
٤. مَعْنَوِيَّةٌ (عِبَارَةٌ عَنْ صِفَةٍ
ثُبُوتِيَّةٍ مُلَازِمَةٍ لِصِفَاتِ الْمَعَانِي).
Jawab: Sifat-sifat tersebut terbagi menjadi empat
macam, yaitu:
- Nafsiyyah: Sifat yang berkaitan murni dengan
Zat Allah, yang Zat-Nya tidak bisa dipahami keberadaannya jika tanpa sifat
ini.
- Salbiyyah: Sifat yang meniadakan segala sesuatu
yang tidak layak disematkan pada Zat Allah Ta'ala.
- Ma'ani: Sifat-sifat yang benar-benar ada (wujudiyyah)
dan tegak pada Zat Allah Ta'ala, yang seandainya tirai penutup
(hijab) dibuka dari mata kita, niscaya kita akan dapat melihatnya.
- Ma'nawiyyah: Sifat-sifat berupa kondisi yang
merupakan akibat atau keniscayaan yang selalu menyertai sifat-sifat Ma'ani.
الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ
Sifat Nafsiyyah
س: مَا
الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى؟
Tanya: Apa sifat Nafsiyyah yang wajib bagi Allah Ta'ala?
ج:
هِيَ الْوُجُودُ فَقَطْ، وَمَعْنَاهُ ظَاهِرٌ.
Jawab: Sifat Nafsiyyah itu hanya satu, yaitu Al-Wujud
(Ada), dan maknanya sudah sangat jelas.
الصِّفَةُ السَّلْبِيَّةُ
Sifat Salbiyyah
س:
كَمِ الصِّفَةُ السَّلْبِيَّةُ الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى؟
Tanya: Ada berapa sifat Salbiyyah yang wajib bagi
Allah Ta'ala?
ج:
هِيَ خَمْسُ صِفَاتٍ.
Jawab: Sifat Salbiyyah ada lima.
س: مَا
الْأُولَى مِنْهَا؟
Tanya: Apa sifat Salbiyyah yang pertama?
ج:
هُوَ الْقِدَمُ، وَمَعْنَاهُ عَدَمُ الْأَوَّلِيَّةِ لِوُجُودِهِ تَعَالَى.
Jawab: Sifat Al-Qidam (Terdahulu).
Maknanya adalah keberadaan Allah Ta'ala tidak memiliki permulaan atau
titik awal.
س: مَا
الثَّانِيَةُ مِنَ السَّلْبِيَّةِ؟
Tanya: Apa sifat Salbiyyah yang kedua?
ج:
هُوَ الْبَقَاءُ، وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ الْآخِرِيَّةِ لِوُجُودِهِ
تَعَالَى.
Jawab: Sifat Al-Baqa' (Kekal). Maknanya
adalah keberadaan Allah Ta'ala tidak memiliki akhir atau kesudahan.
س: مَا
الثَّالِثَةُ مِنْ تِلْكَ الصِّفَةِ؟
Tanya: Apa sifat Salbiyyah yang ketiga?
ج:
هِيَ مُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ، وَهِيَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ
مُمَاثَلَتِهِ تَعَالَى لِشَيْءٍ مِنَ الْحَوَادِثِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ
وَالْأَفْعَالِ. (فَلَا تَكُونُ ذَاتُهُ الْعَلِيَّةُ جِرْمًا أَوْ عَرَضًا، وَلَا
تَكُونُ فِي جِهَةٍ لِلْجِرْمِ أَوْ لَهُ هُوَ جِهَةٌ أَوْ يَتَقَيَّدُ بِمَكَانٍ
أَوْ زَمَانٍ أَوْ تَتَّصِفُ ذَاتُهُ الْعَلِيَّةُ بِالْحَوَادِثِ أَوْ
بِالصِّغَرِ أَوِ الْكِبَرِ أَوْ يَتَّصِفُ بِالْأَعْرَاضِ فِي الْأَفْعَالِ
وَالْأَحْكَامِ).
Jawab: Sifat Mukhalafatuhu lil-Hawadits (Berbeda
dengan makhluk). Maknanya adalah Allah sama sekali tidak serupa dengan sesuatu
apa pun yang baru diciptakan (makhluk), baik dalam Zat, sifat, maupun
perbuatan-Nya.
(Oleh karena itu, Zat-Nya
yang Maha Tinggi bukanlah berupa jasad/benda, bukan pula sifat yang menumpang
pada benda. Allah tidak menempati suatu arah, dan sesuatu yang lain tidak
menjadi arah bagi-Nya. Allah tidak terikat oleh tempat maupun waktu, dan Zat-Nya
yang Maha Tinggi tidak disifati dengan perubahan-perubahan, tidak berukuran
kecil maupun besar, dan perbuatan serta hukum-Nya tidak terkena pengaruh
layaknya sifat-sifat makhluk).
س: مَا
الرَّابِعَةُ مِنَ الصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ؟
Tanya: Apa sifat Salbiyyah yang keempat?
ج:
هِيَ قِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ، وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ افْتِقَارِهِ
إِلَى مَحَلٍّ يَقُومُ بِهِ، كَالْأَبْيَضِ مَثَلًا أَوْ إِلَى مُخَصِّصٍ
يُخَصِّصُهُ أَيْ مُوجِدٍ يُوجِدُهُ تَعَالَى.
Jawab: Sifat Qiyamuhu bin-Nafsihi (Berdiri
Sendiri). Maknanya adalah Allah tidak bergantung/membutuhkan suatu tempat untuk
bersandar (seperti warna putih yang butuh benda untuk ditempeli), dan Allah
juga tidak membutuhkan pencipta yang mewujudkan keberadaan-Nya.
س: مَا
الْخَامِسَةُ مِنْهَا؟
Tanya: Apa sifat Salbiyyah yang kelima?
ج:
هِيَ الْوَحْدَانِيَّةُ، وَهِيَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ التَّعَدُّدِ فِي ذَاتِهِ
وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ.
Jawab: Sifat Al-Wahdaniyyah (Maha Esa).
Maknanya adalah tidak ada keberbilangan (lebih dari satu/berjumlah) pada Zat,
sifat, maupun perbuatan-Nya.
س: مَا
مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ؟
Tanya: Apa makna Keesaan pada Zat-Nya?
ج:
هِيَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ التَّرْكِيبِ وَعَدَمِ النَّظِيرِ فِي ذَاتِهِ
الْعَلِيَّةِ.
Jawab: Maknanya adalah Zat-Nya yang Maha Tinggi
tidak tersusun dari bagian-bagian (seperti anggota badan yang terangkai), dan
tidak ada satu pun yang menandingi atau menyamai Zat-Nya.
س: مَا
مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الصِّفَاتِ؟
Tanya: Apa makna Keesaan pada sifat-Nya?
ج:
هِيَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ تَعَدُّدِ الصِّفَةِ الْمُتَّفِقَةِ فِي الْإِسْمِ
وَالْمَعْنَى، كَالْقُدْرَتَيْنِ وَالْإِرَادَتَيْنِ، وَعَدَمِ الصِّفَةِ مِثْلِ
صِفَاتِهِ تَعَالَى لِغَيْرِهِ.
Jawab: Maknanya adalah sifat Allah tidak
berbilang untuk jenis sifat yang nama dan maknanya sama (misalnya mustahil
Allah memiliki dua sifat Kuasa atau dua sifat Berkehendak), dan tidak ada
makhluk mana pun yang memiliki sifat yang menyamai kesempurnaan sifat-sifat
Allah Ta'ala.
س: مَا
مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الْأَفْعَالِ؟
Tanya: Apa makna Keesaan pada perbuatan-Nya?
ج:
هِيَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ الْفِعْلِ لِغَيْرِهِ تَعَالَى سَوَاءٌ عَلَى وَجْهِ
الِاسْتِقْلَالِ أَوْ عَلَى وَجْهِ الْمُعَاوَنَةِ وَالْمُشَارَكَةِ، تَعَالَى
اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ.
Jawab: Maknanya adalah tidak ada satu pun makhluk
yang dapat menciptakan perbuatan secara mandiri (tanpa kehendak Allah), dan
tidak ada pula yang mampu membantu atau bermitra (berkongsi) dengan Allah dalam
menciptakan suatu perbuatan. Maha Suci Allah dari hal-hal demikian.
س:
هَلْ يُسَمَّى مَا صَدَرَ مِنَّا فِعْلًا حَقِيقَةً؟
Tanya: Apakah perbuatan yang kita lakukan disebut
perbuatan (fi'il) secara hakikat?
ج:
وَمَا صَدَرَ مِنَّا يُسَمَّى فِعْلًا ظَاهِرًا لَا حَقِيقَةً بَلْ يُسَمَّى
كَسْبًا حَقِيقَةً.
Jawab: Apa yang lahir dari diri kita hanyalah
disebut perbuatan secara lahiriah (tampak luar) saja, bukan perbuatan secara
hakikat. Sebenarnya, pada hakikatnya perbuatan kita itu disebut sebagai kasb
(usaha).
س: مَا
الْفَرْقُ بَيْنَ الْفِعْلِ وَالْكَسْبِ؟
Tanya: Apa perbedaan antara fi'il
(perbuatan) dan kasb (usaha)?
ج:
الْفِعْلُ هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ تَعَلُّقِ قُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى
بِالْمَقْدُورِ مِنْ حَيْثُ الْإِيجَادِ، كَمِثْلِ نُزُولِ الْمَطَرِ مِنَ
السَّمَاءِ، وَالْكَسْبُ هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ تَعَلُّقِ قُدْرَةِ الْعَبْدِ
بِالْمَقْدُورِ مِنْ حَيْثُ الِاقْتِرَانِ، كَمِثْلِ الزَّرْعِ بِثَمَرٍ.
Jawab: Fi'il adalah berfungsinya Kekuasaan
Allah Ta'ala terhadap sesuatu dalam hal menciptakannya dari tidak ada
menjadi ada (contoh: Allah menurunkan hujan dari langit). Sedangkan kasb
adalah berfungsinya kemampuan hamba terhadap suatu pekerjaan dalam hal
berikhtiar atau berupaya melakukan perbuatan tersebut (contoh: seseorang
bercocok tanam demi mendapatkan buah, di mana hamba hanya berikhtiar
menyertainya, sementara yang menumbuhkannya adalah Allah).
الصِّفَةُ الْمَعَانِي
Sifat Ma'ani (Sifat-Sifat yang
Ada Wujudnya pada Zat)
س:
كَمِ الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى مِنْ صِفَاتِ الْمَعَانِي؟
Tanya: Ada berapa sifat Ma'ani yang wajib bagi
Allah Ta'ala?
ج:
وَيَجِبُ لَهُ تَعَالَى مِنْ صِفَاتِ الْمَعَانِي سَبْعُ صِفَاتٍ.
Jawab: Sifat Ma'ani yang wajib bagi Allah Ta'ala
berjumlah tujuh sifat.
س: مَا
الْأُولَى مِنْهَا؟
Tanya: Apa sifat yang pertama?
ج:
هِيَ الْقُدْرَةُ أَيْ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى
تُؤَثِّرُ فِي الْمُمْكِنِ بِالْإِيجَادِ وَالْإِعْدَامِ.
Jawab: Sifat Al-Qudrah (Maha Kuasa). Yakni
suatu sifat yang benar-benar ada dan tegak pada Zat Allah Ta'ala, yang
berfungsi memberi pengaruh pada hal-hal yang mungkin terjadi (mumkin/jaiz),
baik dalam hal menciptakannya (mengadakan) maupun meniadakannya.
س: مَا
الثَّانِيَةُ مِنْ صِفَاتِ الْمَعَانِي؟
Tanya: Apa sifat Ma'ani yang kedua?
ج:
هِيَ الْإِرَادَةُ أَيْ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى
تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ لَهُ، كَالْكَعْبَةِ مَثَلًا، يَجُوزُ
أَنْ تُوجَدَ فِي مَكَّةَ وَفِي غَيْرِهَا، فَالْإِرَادَةُ تُخَصِّصُ وُجُودَهَا
فِي مَكَّةَ حَرَّسَهَا اللَّهُ مِنْ كُلِّ سُوءٍ.
Jawab: Sifat Al-Iradah (Maha Berkehendak).
Yakni suatu sifat yang benar-benar ada dan tegak pada Zat Allah Ta'ala,
yang berfungsi menentukan hal-hal yang mungkin terjadi dengan berbagai
kemungkinannya. Contohnya bangunan Kakbah; secara akal mungkin saja ia
diciptakan di Makkah atau di tempat lain. Maka sifat Iradah inilah yang
menentukan dan mengkhususkan keberadaannya di Makkah (semoga Allah senantiasa
menjaganya dari segala keburukan).
س:
بِمَاذَا يَتَعَلَّقُ كُلٌّ مِنَ الْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ؟
Tanya: Terkait dengan hal apakah sifat Qudrah dan
Iradah tersebut bekerja?
ج:
يَتَعَلَّقُ كُلٌّ مِنْهُمَا بِجَمِيعِ الْمُمْكِنَاتِ لَكِنَّ تَعَلُّقَ
الْقُدْرَةِ عَلَى وَجْهِ التَّأْثِيرِ وَتَعَلُّقَ الْإِرَادَةِ عَلَى وَجْهِ
التَّخْصِيصِ.
Jawab: Keduanya berkaitan dengan seluruh hal yang
berstatus "mungkin terjadi" (mumkinat). Bedanya, keterkaitan
sifat Qudrah (Kuasa) adalah dalam hal mewujudkannya (mencipta),
sedangkan keterkaitan sifat Iradah (Kehendak) adalah dalam hal
menentukan pilihannya (mengkhususkan).
س: مَا
الثَّالِثَةُ مِنَ السَّبْعَةِ الْوَاجِبَةِ لَهُ تَعَالَى؟
Tanya: Apa sifat yang ketiga dari tujuh sifat
wajib tersebut?
ج:
هُوَ الْعِلْمُ أَيْ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى تَنْكَشِفُ
بِهَا الْوَاجِبَاتُ وَالْمُسْتَحِيلَاتُ وَالْجَائِزَاتُ انْكِشَافًا لَا
يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ.
Jawab: Sifat Al-'Ilm (Maha Mengetahui).
Yakni sifat yang benar-benar ada dan tegak pada Zat Allah Ta'ala, yang
dengannya segala hal yang wajib, yang mustahil, dan yang jaiz menjadi
tersingkap (diketahui) dengan pengetahuan yang mutlak kebenarannya serta tidak
mungkin keliru.
س:
بِمَاذَا يَتَعَلَّقُ؟
Tanya: Terkait dengan hal apakah sifat Ilmu ini?
ج:
يَتَعَلَّقُ بِجَمِيعِ الْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحِيلَاتِ وَالْجَائِزَاتِ،
فَوُجُوبُ الْقُدْرَةِ لِلَّهِ تَعَالَى، وَاسْتِحَالَةُ الْعَجْزِ عَلَيْهِ
تَعَالَى، وَوُجُودُ الْعَالَمِ مَثَلًا، مُنْكَشِفَةٌ لَهُ تَعَالَى.
Jawab: Sifat Ilmu berkaitan (mencakup) seluruh
hal yang wajib, mustahil, dan jaiz. Sebagai contoh: wajibnya sifat Kuasa bagi
Allah, mustahilnya sifat lemah bagi-Nya, serta adanya alam semesta ini;
semuanya tersingkap dan diketahui secara sempurna oleh Allah Ta'ala.
س: مَا
الرَّابِعَةُ مِنْ صِفَاتِ الْمَعَانِي؟
Tanya: Apa sifat Ma'ani yang keempat?
ج:
وَالرَّابِعَةُ مِنْهَا هِيَ الْحَيَاةُ أَيْ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ
بِذَاتِهِ تَعَالَى يَصِحُّ مِمَّنْ قَامَتْ بِهِ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْإِدْرَاكِ
وَلَا تَتَعَلَّقُ بِشَيْءٍ.
Jawab: Sifat Al-Hayat (Maha Hidup). Yakni
sifat yang benar-benar ada dan tegak pada Zat Allah Ta'ala, yang
melayakkan Zat pemiliknya untuk bisa memiliki kemampuan menyadari (seperti
mengetahui, mendengar, melihat), dan sifat Hidup ini tidak berkaitan dengan
suatu objek di luarnya.
س: مَا
مَعْنَى كَوْنِهِ لَا تَتَعَلَّقُ بِشَيْءٍ؟
Tanya: Apa makna dari pernyataan "sifat
Hidup tidak berkaitan dengan sesuatu apa pun"?
ج:
وَمَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَا تَقْتَضِي أَمْرًا زَائِدًا عَلَى قِيَامِهِ
بِمَحَلِّهِ، بِخِلَافِ الصِّفَةِ الْمُتَعَلِّقَةِ مَثَلًا، فَإِنَّهُ يَقْتَضِي
أَمْرًا زَائِدًا عَلَى قِيَامِهِ بِمَحَلِّهِ. أَلَا تَرَى أَنَّهُ بَعْدَ
قِيَامِهِ بِمَحَلِّهِ يَطْلُبُ أَمْرًا يَعْلَمُهُ، وَكَذَلِكَ الْقُدْرَةُ
وَالْإِرَادَةُ وَنَحْوُهُمَا.
Jawab: Maknanya adalah, sifat Hidup tidak
menuntut adanya hal lain di luar keberadaannya pada Zat Allah. Hal ini berbeda
dengan sifat-sifat lain yang memiliki objek sasaran. Bukankah bisa dipahami
bahwa sifat Ilmu, ketika telah tegak pada Zat-Nya, menuntut adanya objek yang
diketahui? Begitu juga sifat Qudrah (Kuasa) dan Iradah (Kehendak), menuntut
adanya sesuatu yang diciptakan dan dikehendaki. (Sedangkan sifat Hidup cukup
berdiri sendiri tanpa objek).
س: مَا
الصِّفَةُ الْخَامِسَةُ مِنَ السَّبْعَةِ؟
Tanya: Apa sifat yang kelima dari ketujuh sifat
itu?
ج:
هِيَ السَّمْعُ أَيْ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَنْكَشِفُ
بِهَا الْمَوْجُودَاتُ كُلُّهَا انْكِشَافًا زَائِدًا عَلَى الْانْكِشَافِ
الْحَاصِلِ بِالْعِلْمِ.
Jawab: Sifat As-Sama' (Maha Mendengar).
Yakni sifat yang benar-benar ada dan tegak pada Zat Allah Ta'ala, yang
dengannya segala sesuatu yang ada menjadi tersingkap (terdengar) dengan
penyingkapan yang berbeda/bertambah dari sekadar penyingkapan yang dihasilkan
oleh sifat Ilmu.
س: مَا
السَّادِسَةُ مِنْ صِفَاتِ الْمَعَانِي؟
Tanya: Apa sifat Ma'ani yang keenam?
ج:
هِيَ الْبَصَرُ أَيْ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَنْكَشِفُ
بِهَا جَمِيعُ الْمَوْجُودَاتِ انْكِشَافًا زَائِدًا عَلَى الْانْكِشَافِ
الْحَاصِلِ بِالْعِلْمِ وَالسَّمْعِ.
Jawab: Sifat Al-Bashar (Maha Melihat).
Yakni sifat yang benar-benar ada dan tegak pada Zat Allah Ta'ala, yang
dengannya segala sesuatu yang ada menjadi tersingkap (terlihat) dengan
penyingkapan yang berbeda/bertambah dari penyingkapan yang dihasilkan oleh
sifat Ilmu dan sifat Mendengar.
س:
بِمَاذَا يَتَعَلَّقُ كُلٌّ مِنْهُمَا؟
Tanya: Terkait dengan objek apakah sifat
Mendengar dan Melihat itu bekerja?
ج:
يَتَعَلَّقُ كُلٌّ مِنْهُمَا بِجَمِيعِ الْمَوْجُودَاتِ ذَوَاتِهَا وَصِفَاتِهَا،
فَيَسْمَعُ اللَّهُ ذَاتَهُ وَصِفَاتَهُ وَذَوَاتَنَا وَكَذَلِكَ يُبْصِرُ اللَّهُ
ذَلِكَ كُلَّهُ.
Jawab: Keduanya berkaitan dengan seluruh hal yang
mewujud, baik berupa wujud zat maupun sifat-sifatnya. Maka, Allah mendengar Zat
dan sifat-Nya sendiri, serta mendengar wujud-wujud kita semua. Demikian pula
Allah melihat itu semua.
س: مَا
السَّابِعَةُ مِنَ السَّبْعَةِ؟
Tanya: Apa sifat yang ketujuh?
ج:
هُوَ الْكَلَامُ الَّذِي لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ وَلَا نَحْوِهِمَا وَهُوَ
صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى دَالَّةٌ عَلَى جَمِيعِ
الْأَشْيَاءِ.
Jawab: Sifat Al-Kalam (Maha
Berfirman/Berbicara). Yakni firman yang tidak terdiri dari huruf, tidak
bersuara, dan tidak serupa dengan perkataan makhluk. Ia adalah sifat yang
benar-benar ada dan tegak pada Zat Allah Ta'ala, yang berfungsi
memberikan petunjuk/keterangan tentang segala sesuatu.
س:
بِمَاذَا يَتَعَلَّقُ الْكَلَامُ؟
Tanya: Terkait dengan hal apakah sifat Kalam ini?
ج:
يَتَعَلَّقُ بِمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْعِلْمُ مِنَ الْوَاجِبَاتِ
وَالْمُسْتَحِيلَاتِ وَالْجَائِزَاتِ لَكِنَّ تَعَلُّقَ الدَّلَالَةِ لَا
تَعَلُّقَ الْانْكِشَافِ كَتَعَلُّقِ الْعِلْمِ فَيَدُلُّ كَلَامُهُ تَعَالَى
عَلَى وُجُوبِ نَحْوِ الْقُدْرَةِ لِلَّهِ تَعَالَى وَاسْتِحَالَةِ نَحْوِ
الْعَجْزِ عَلَيْهِ وَكَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى جَوَازِ الْجَائِزَاتِ.
Jawab: Sifat Kalam berkaitan dengan semua objek
yang dijangkau oleh sifat Ilmu; yaitu hal-hal yang wajib, mustahil, dan jaiz.
Bedanya, fungsi keterkaitan sifat Kalam adalah sebagai petunjuk (dalalah),
bukan sebagai penyingkap (inkisyaf) layaknya sifat Ilmu. Oleh karena
itu, firman Allah Ta'ala dapat menunjukkan wajibnya sifat-sifat seperti Qudrah
(Kuasa) bagi Allah, kemustahilan sifat-sifat kelemahan bagi-Nya, dan
menunjukkan pula status boleh/mungkin dari hal-hal yang jaiz.
س:
هَلِ اللَّفْظُ الْمُنَزَّلُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سُمِّيَ كَلَامَ اللَّهِ، وَالْحَالُ أَنَّهُ هُوَ اللَّفْظُ
بِالْحَرْفِ وَالصَّوْتِ؟
Tanya: Apakah lafal (Al-Qur'an) yang diturunkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
dinamakan Kalam Allah, padahal ia berupa susunan huruf dan suara?
ج:
نَعَمْ، سُمِّيَ اللَّفْظُ الْمَذْكُورُ بِكَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى لَكِنْ
بِكَلَامِهِ اللَّفْظِيِّ لَا بِكَلَامِهِ النَّفْسِيِّ الَّذِي هُوَ الصِّفَةُ
الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى.
Jawab: Benar, lafal tersebut dinamakan Kalam
(Firman) Allah Ta'ala, tetapi ia adalah Kalam Lafzhi (firman yang
telah diwujudkan dalam bentuk lafal atau bacaan), bukan Kalam Nafsi
(firman yang murni pada Zat Allah) yang merupakan sifat wajib bagi-Nya.
س: مَا
الْفَرْقُ بَيْنَ الْكَلَامِ النَّفْسِيِّ وَالْكَلَامِ اللَّفْظِيِّ؟
Tanya: Apa perbedaan antara Kalam Nafsi
dan Kalam Lafzhi?
ج:
وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْكَلَامَ النَّفْسِيَّ هُوَ الْمَعْنَى
الْقَائِمُ بِالذَّاتِ الْخَالِي عَنِ الْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ وَنَحْوِهِمَا
لَكِنْ لَوْ رُفِعَ عَنَّا الْحِجَابُ لَسَمِعْنَاهُ وَفَهِمْنَاهُ، وَالْكَلَامُ
اللَّفْظِيُّ هُوَ اللَّفْظُ بِالْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ، مَثَلًا إِذَا قُلْتَ
بِلِسَانِكَ "الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ" فَهُوَ الْكَلَامُ
اللَّفْظِيُّ، وَمَا قَامَ وَثَبَتَ فِي قَلْبِكَ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى مَا
يَدُلُّ عَلَيْهِ لَفْظُ "الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ" فَهُوَ
الْكَلَامُ النَّفْسِيُّ. فَعُلِمَ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكَلَامَ اللَّفْظِيَّ
غَيْرُ الْكَلَامِ النَّفْسِيِّ لَكِنْ مَدْلُولُهُمَا وَاحِدٌ.
Jawab: Perbedaannya: Kalam Nafsi adalah
makna mutlak yang ada pada Zat Allah, yang bersih dari susunan huruf, suara,
dan sejenisnya. Namun andaikata tabir penutup diangkat dari panca indra kita,
niscaya kita bisa mendengarnya dan memahaminya.
Sedangkan Kalam Lafzhi
adalah lafal yang tersusun dari huruf dan suara. Sebagai perumpamaan manusia:
Jika melalui lisanmu engkau mengucapkan "Alhamdulillahi rabbil
'alamin", itu adalah kalam lafzhi. Sementara makna yang hadir dan
menetap di dalam batin/pikiranmu yang merujuk pada ucapan "Alhamdulillahi
rabbil 'alamin" tadi, itulah perumpamaan kalam nafsi. Dari
penjelasan ini dapat dipahami bahwa Kalam Lafzhi memiliki bentuk yang
berbeda dengan Kalam Nafsi, namun makna yang dikandung oleh keduanya
adalah sama.
س:
هَلْ كُلُّ مَنْ لَهُ الْكَلَامُ النَّفْسِيُّ لَهُ الْكَلَامُ اللَّفْظِيُّ؟
Tanya: Apakah setiap pihak yang memiliki ucapan
dalam batin/hakikat (kalam nafsi) pasti mampu menampakkan ucapan
lisannya (kalam lafzhi)?
ج: لَا
يَلْزَمُ ذَلِكَ بِخِلَافِ الْعَكْسِ. أَلَا تَرَى أَنَّ بَعْضَ مَنْ ثَبَتَ لَهُ
الْكَلَامُ النَّفْسِيُّ قَدْ تَمْنَعُهُ مِنَ الْكَلَامِ اللَّفْظِيِّ آفَةٌ مِنَ
الْآفَاتِ.
Jawab: Belum tentu demikian. Berbeda halnya jika
dibalik (yang berucap di lisan pasti punya maksud batin). Bukankah bisa
disaksikan bahwa ada orang yang memiliki maksud/ucapan dalam batinnya, namun ia
terhalang untuk mengungkapkannya lewat lisan karena suatu cacat/hambatan
(seperti bisu)?
الدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ
جَمِيعِ ذَلِكَ
Dalil Wajibnya Semua Sifat
Tersebut
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ جَمِيعِ الصِّفَاتِ الْمَذْكُورَاتِ لَهُ تَعَالَى؟
Tanya: Apa dalil/bukti (logis) diwajibkannya
seluruh sifat yang telah disebutkan itu bagi Allah Ta'ala?
ج:
وَالدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ تِلْكَ الصِّفَاتِ حُدُوثُ الْعَالَمِ أَيْ وُجُودُهُ
بَعْدَ الْعَدَمِ.
Jawab: Dalil wajibnya sifat-sifat tersebut adalah
kenyataan bahwa alam semesta ini hadits (baru), yakni keberadaannya baru
ada setelah sebelumnya tiada.
س:
كَيْفَ وَجْهُ دَلَالَةِ حُدُوثِ الْعَالَمِ عَلَى وُجُوبِ تِلْكَ الصِّفَاتِ لَهُ
تَعَالَى؟
Tanya: Bagaimana cara membuktikan bahwa alam yang
baru tercipta ini bisa menjadi dalil atas wajibnya sifat-sifat tersebut bagi
Allah Ta'ala?
ج:
وَوَجْهُهَا أَنَّ الْعَالَمَ مُتَغَيِّرٌ وَكُلُّ مُتَغَيِّرٍ حَادِثٌ أَيْ
وُجُودٌ بَعْدَ الْعَدَمِ وَكُلُّ حَادِثٍ لَابُدَّ مِنْ مُحْدِثٍ فَيَلْزَمُ
أَنَّ الْعَالَمَ لَابُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَلَابُدَّ لِلْمُحْدِثِ مِنَ
الصِّفَاتِ الْمَذْكُورَاتِ إِذْ لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ أَنْ يُوجَدَ
الْفِعْلُ مِمَّنْ يَتَّصِفُ بِضِدِّ تِلْكَ الصِّفَاتِ كَالْعَجْزِ وَالْمَوْتِ
وَنَحْوِهِمَا فَيَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ الْمُحْدِثُ مُتَّصِفًا بِجَمِيعِ
الصِّفَاتِ الْمَذْكُورَاتِ، وَهُوَ الْمَطْلُوبُ.
Jawab: Logika pembuktiannya adalah: Alam semesta
ini sifatnya berubah-ubah. Segala sesuatu yang berubah-ubah pastilah sesuatu
yang baru (ada setelah tiada). Setiap yang baru, pasti membutuhkan Pencipta
yang mengadakannya. Maka, kesimpulannya, alam semesta ini pasti membutuhkan
Pencipta.
Sang Pencipta secara mutlak
harus memiliki sifat-sifat kesempurnaan tersebut. Sebab, akal tidak bisa
menerima bila ada suatu maha karya atau ciptaan yang agung dari sosok yang
memiliki sifat lemah, mati, atau kekurangan lainnya. Oleh karena itu, Sang Pencipta
wajib disifati dengan seluruh sifat kesempurnaan tadi, dan inilah titik
kesimpulan yang ingin dicapai.
س:
هَلْ يَدُلُّ حُدُوثُ الْعَالَمِ عَلَى وُجُوبِ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ
وَالْكَلَامِ لَهُ تَعَالَى؟
Tanya: Apakah terciptanya alam yang baru ini juga
menjadi dalil bagi wajibnya sifat Mendengar, Melihat, dan Berfirman bagi Allah Ta'ala?
ج: لَا
يَدُلُّ حُدُوثُ الْعَالَمِ عَلَى تِلْكَ الصِّفَاتِ دَلَالَةً قَوِيَّةً بَلْ
دَلَالَةٌ ضَعِيفَةٌ. وَلِذَلِكَ يُقَوَّى بِقَوْلِهِ تَعَالَى "وَهُوَ
السَّمِيعُ الْبَصِيرُ"، "وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا".
Jawab: Terciptanya alam secara akal rasional
tidak memberikan pembuktian yang kuat secara langsung terhadap ketiga sifat
tersebut, melainkan pembuktian yang lemah. Oleh sebab itu, ketiga sifat ini
dikuatkan oleh dalil wahyu (Al-Qur'an), yakni melalui firman Allah Ta'ala:
وَهُوَ
السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(Dan Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat).
Dan juga firman-Nya:
وَكَلَّمَ
اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
(Dan Allah benar-benar
berbicara secara langsung kepada Musa).
س:
بِمَاذَا يُعْلَمُ أَنَّ اسْمَ الْمُحْدِثِ لِلْعَالَمِ هُوَ لَفْظُ الْجَلَالَةِ
- اللَّهُ -؟
Tanya: Lalu dari mana kita mengetahui bahwa nama
dari Sang Pencipta alam semesta ini adalah lafaz yang agung; yaitu
"Allah"?
ج:
يُعْلَمُ ذَلِكَ مِنْ أَخْبَارِ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
الَّذِينَ يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِمُ الْكَذِبُ لِأَنَّ حُدُوثَ الْعَالَمِ لَا
يَدُلُّ إِلَّا عَلَى وُجُودِ الْمُحْدِثِ لَا عَلَى اسْمِهِ وَهُوَ لَفْظُ
الْجَلَالَةِ (اللَّهُ) - وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
Jawab: Nama tersebut kita ketahui dari
penyampaian wahyu para rasul 'alaihimussalam, yang sangat mustahil bagi
mereka untuk berdusta. Hal ini dikarenakan keberadaan alam semesta yang baru
ini secara akal hanya menuntun kita pada bukti bahwa "Tuhan Pencipta itu
pasti ada", namun alam tidak bisa memberitahu siapa nama-Nya. Nama-Nya—yaitu
lafaz yang agung "Allah"—diketahui mutlak bersumber dari wahyu. — Wallahu
a'lam bish-shawab (Dan Allah Yang lebih mengetahui kebenarannya).
الصِّفَةُ
الْمَعْنَوِيَّةُ
Sifat Ma'nawiyyah (Keadaan yang
Menyertai Sifat Ma'ani)
س:
كَمِ الصِّفَةُ الْمَعْنَوِيَّةُ الْوَاجِبَةُ لَهُ تَعَالَى؟
Tanya: Ada berapa sifat Ma'nawiyyah yang wajib
bagi Allah Ta'ala?
ج:
هِيَ سَبْعُ صِفَاتٍ: ١. كَوْنُهُ قَادِرًا ٢. كَوْنُهُ مُرِيدًا ٣. كَوْنُهُ
عَالِمًا ٤. كَوْنُهُ حَيًّا ٥. كَوْنُهُ سَمِيعًا ٦. كَوْنُهُ بَصِيرًا ٧.
كَوْنُهُ مُتَكَلِّمًا
Jawab: Sifat Ma'nawiyyah berjumlah tujuh sifat,
yaitu:
- Keadaan-Nya Yang Maha Kuasa.
- Keadaan-Nya Yang Maha Berkehendak.
- Keadaan-Nya Yang Maha Mengetahui.
- Keadaan-Nya Yang Maha Hidup.
- Keadaan-Nya Yang Maha Mendengar.
- Keadaan-Nya Yang Maha Melihat.
- Keadaan-Nya Yang Maha Berfirman.
س: مَا
مَعْنَى كَوْنِهِ تَعَالَى قَادِرًا إِلَى آخِرِهِ؟
Tanya: Apa makna dari "Keadaan-Nya Maha
Kuasa" hingga sifat terakhir tersebut?
ج:
وَمَعْنَى كَوْنِهِ قَادِرًا هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ قِيَامِ الْقُدْرَةِ بِذَاتِهِ
تَعَالَى، وَكَذَلِكَ مَعْنَى كَوْنِهِ مُرِيدًا وَعَالِمًا وَحَيًّا وَسَمِيعًا
وَبَصِيرًا وَمُتَكَلِّمًا هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ قِيَامِ الْإِرَادَةِ وَالْعِلْمِ
وَالْحَيَاةِ وَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَالْكَلَامِ بِذَاتِهِ تَعَالَى، فَعُلِمَ
مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الصِّفَةَ مُلَازِمَةٌ لِتِلْكَ الصِّفَاتِ، لَا ثُبُوتَ
لَهَا فِي الْخَارِجِ عَنِ الذِّهْنِ.
Jawab: Makna "Keadaan-Nya Maha Kuasa"
merupakan sekadar ungkapan status yang menjelaskan berdirinya sifat Qudrah
(Kuasa) pada Zat Allah Ta'ala. Begitu pula makna Keadaan-Nya Yang
Berkehendak, Mengetahui, Hidup, Mendengar, Melihat, dan Berfirman; semuanya
merupakan ungkapan penjelas atas keberadaan dan berdirinya sifat Iradah,
Ilmu, Hayat, Sama', Bashar, dan Kalam pada
Zat-Nya.
Dari sini dapat dipahami
bahwa sifat-sifat Ma'nawiyyah ini kedudukannya hanya selalu menyertai (menjadi
keniscayaan) dari sifat-sifat Ma'ani. Sifat Ma'nawiyyah hanya berupa kondisi
logis di dalam pikiran, dan tidak memiliki wujud tambahan secara fisik di luar
dari Zat dan sifat Ma'ani tersebut.
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ الصِّفَاتِ الْمَعْنَوِيَّةِ لَهُ تَعَالَى؟
Tanya: Apa dalil wajibnya sifat-sifat Ma'nawiyyah
ini bagi Allah Ta'ala?
ج:
هُوَ يُعْلَمُ مِنَ الدَّلِيلِ عَلَى صِفَاتِ الْمَعَانِي.
Jawab: Dalilnya sudah bisa diketahui secara
langsung karena ia mengikuti dan satu paket dengan dalil-dalil yang mewajibkan
sifat-sifat Ma'ani sebelumnya.
الصِّفَةُ
الْمُسْتَحِيلَةُ
Sifat Mustahil (Sifat yang
Tidak Mungkin Ada pada Allah)
س: مَا
الصِّفَةُ الْمُسْتَحِيلَةُ عَلَيْهِ تَعَالَى إِجْمَالًا؟
Tanya: Apa saja sifat yang mustahil bagi Allah Ta'ala
secara garis besar?
ج:
يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى جَمِيعُ الصِّفَاتِ النَّقَائِضِ الَّتِي لَا
يَعْلَمُ عَدَدَهَا إِلَّا اللَّهُ.
Jawab: Mustahil bagi Allah Ta'ala memiliki
seluruh sifat kekurangan (yang merupakan kebalikan dari sifat kesempurnaan-Nya)
yang jumlahnya tidak ada yang mengetahui selain Allah.
س: مَا
الصِّفَةُ الْمُسْتَحِيلَةُ عَلَيْهِ تَعَالَى تَفْصِيلًا؟
Tanya: Apa saja sifat yang mustahil bagi Allah Ta'ala
secara terperinci?
ج:
يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ تَعَالَى أَضْدَادُ الْعِشْرِينَ الْوَاجِبَةِ الْأُولَى
(أَيْ صِفَاتِ الْمَعَانِي).
Jawab: Secara terperinci, mustahil bagi Allah Ta'ala
memiliki sifat-sifat yang menjadi kebalikan dari dua puluh sifat wajib
sebelumnya (termasuk di dalamnya kebalikan dari sifat-sifat Ma'ani).
س:
كَمْ أَقْسَامُ الصِّفَةِ الْمُسْتَحِيلَةِ عَلَيْهِ تَعَالَى؟
Tanya: Ada berapa pembagian sifat mustahil bagi
Allah Ta'ala?
ج:
وَتَنْقَسِمُ هَذِهِ الصِّفَةُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ : ١. أَضْدَادُ
الصِّفَةِ النَّفْسِيَّةِ. ٢. أَضْدَادُ الصِّفَةِ السَّلْبِيَّةِ. ٣. أَضْدَادُ
صِفَاتِ الْمَعَانِي. ٤. أَضْدَادُ الصِّفَاتِ الْمَعْنَوِيَّةِ.
Jawab: Sifat-sifat mustahil ini terbagi menjadi
empat macam, yaitu:
- Kebalikan dari sifat Nafsiyyah.
- Kebalikan dari sifat Salbiyyah.
- Kebalikan dari sifat Ma'ani.
- Kebalikan dari sifat Ma'nawiyyah.
س: مَا
ضِدُّ الصِّفَةِ النَّفْسِيَّةِ؟
Tanya: Apa kebalikan dari sifat Nafsiyyah?
ج:
هُوَ الْعَدَمُ، وَمَعْنَاهُ عَدَمُ وُجُودِ اللَّهِ، تَعَالَى اللَّهُ عَنْ
ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا وَهُوَ ضِدُّ الْوُجُودِ.
Jawab: Yaitu sifat Al-'Adam (Tiada).
Maknanya adalah tidak adanya wujud Allah. Maha Suci Allah dari dugaan semacam
itu dengan kesucian yang setinggi-tingginya. Sifat tiada ini adalah kebalikan
dari sifat Al-Wujud (Ada).
س:
كَمْ أَضْدَادُ الصِّفَةِ السَّلْبِيَّةِ؟
Tanya: Ada berapa kebalikan dari sifat Salbiyyah?
ج:
هِيَ خَمْسُ صِفَاتٍ : ١. الْحُدُوثُ. ٢. الْفَنَاءُ. ٣. الْمُمَاثَلَةُ. ٤.
الْقِيَامُ بِغَيْرِهِ. ٥. التَّعَدُّدُ.
Jawab: Ada lima sifat mustahil, yaitu:
- Al-Huduts (Baru/Ada permulaan).
- Al-Fana' (Rusak/Ada akhir).
- Al-Mumatsalah (Serupa dengan makhluk).
- Al-Qiyam bi Ghairihi (Bergantung pada selain-Nya).
- At-Ta'addud (Berbilang/Lebih dari satu).
س: مَا
مَعْنَى الْحُدُوثِ؟
Tanya: Apa makna Al-Huduts?
ج:
هُوَ الْوُجُودُ بَعْدَ الْعَدَمِ بِأَنْ يَكُونَ لِوُجُودِهِ ابْتِدَاءٌ وَهُوَ
نَقِيضُ الْقِدَمِ.
Jawab: Al-Huduts adalah keberadaan yang
ada setelah sebelumnya tiada, yang berarti eksistensi Allah dianggap memiliki
titik permulaan (seperti makhluk). Ini adalah kebalikan dari sifat Al-Qidam
(Terdahulu tanpa permulaan).
س: مَا
مَعْنَى الْفَنَاءِ؟
Tanya: Apa makna Al-Fana'?
ج:
هُوَ طُرُوُّ الْعَدَمِ لِوُجُودِهِ بِأَنْ يَكُونَ لِوُجُودِهِ انْتِهَاءٌ وَهُوَ
نَقِيضُ الْبَقَاءِ.
Jawab: Al-Fana' adalah datangnya ketiadaan
pada eksistensi-Nya, yang berarti eksistensi Allah dianggap memiliki batas
akhir atau kesudahan. Ini adalah kebalikan dari sifat Al-Baqa' (Kekal).
س: مَا
مَعْنَى الْمُمَاثَلَةِ؟
Tanya: Apa makna Al-Mumatsalah?
ج:
هُوَ مُمَاثَلَتُهُ تَعَالَى لِشَيْءٍ مِنَ الْحَوَادِثِ فِي الذَّاتِ أَوِ
الصِّفَاتِ أَوِ الْأَفْعَالِ وَهُوَ نَقِيضُ الْمُخَالَفَةِ. (بِأَنْ يَكُونَ
جِرْمًا أَوْ عَرَضًا يَقُومُ بِغَيْرِهِ، أَوْ يَكُونَ فِي جِهَةٍ لِلْجِرْمِ
أَوْ لَهُ هُوَ جِهَةٌ، أَوْ يَتَقَيَّدَ بِمَكَانٍ أَوْ زَمَانٍ، أَوْ تَتَّصِفَ
ذَاتُهُ الْعَلِيَّةُ بِالْحَوَادِثِ، أَوْ بِالصِّغَرِ أَوِ الْكِبَرِ، أَوْ
يَتَّصِفَ بِالْأَعْرَاضِ فِي الْأَفْعَالِ وَالْأَحْكَامِ).
Jawab: Al-Mumatsalah berarti Allah Ta'ala
menyerupai sesuatu dari hal-hal yang baru (makhluk), baik keserupaan pada
Zat-Nya, sifat-Nya, maupun pada perbuatan-Nya. Ini adalah kebalikan dari sifat Mukhalafatuhu
lil Hawadits (Maha Berbeda dengan makhluk).
(Keserupaan tersebut misalnya
dibayangkan bahwa: Zat-Nya berupa fisik benda, atau sifat-Nya menumpang pada
suatu benda, Ia berada di suatu arah dari sebuah benda, atau Ia sendiri
memiliki arah (atas, bawah, dll), terikat oleh ruang dan waktu, Zat-Nya yang
Maha Tinggi disifati dengan perubahan kejadian, disifati dengan ukuran kecil
atau besar, atau perbuatan dan hukum-hukum-Nya terpengaruh oleh kondisi yang
baru layaknya makhluk).
س: مَا
مَعْنَى الْقِيَامِ بِغَيْرِهِ؟
Tanya: Apa makna Al-Qiyam bi Ghairihi?
ج:
هُوَ الِافْتِقَارُ إِلَى مَحَلٍّ يَقُومُ بِهِ أَوْ مُخَصِّصٍ يُخَصِّصُهُ أَيْ
فَاعِلٍ يُوجِدُهُ وَهُوَ نَقِيضُ الْقِيَامِ بِنَفْسِهِ.
Jawab: Al-Qiyam bi Ghairihi berarti
membutuhkan suatu tempat atau media untuk bersandar (layaknya warna butuh
barang untuk diwarnai), atau membutuhkan penentu (mukhasshish) yang
mewujudkan dan menciptakan keberadaan-Nya. Ini adalah kebalikan dari sifat Qiyamuhu
bin-Nafsihi (Berdiri Sendiri).
س: مَا
مَعْنَى التَّعَدُّدِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ؟
Tanya: Apa makna At-Ta'addud (Lebih dari
satu) pada Zat, sifat, dan perbuatan?
ج:
هُوَ أَنْ يَكُونَ ذَاتُهُ مُرَكَّبًا مِنَ الْأَجْزَاءِ، أَوْ يَكُونَ لَهُ
النَّظِيرُ فِي ذَاتِهِ، أَوْ يَكُونَ لَهُ تَعَالَى صِفَتَانِ مُتَّفِقَتَانِ فِي
الْإِسْمِ وَالْمَعْنَى، أَوْ يَكُونَ لِغَيْرِهِ تَعَالَى صِفَةٌ كَمِثْلِ
صِفَاتِهِ، أَوْ يَكُونَ لِغَيْرِهِ فِعْلٌ مِنَ الْأَفْعَالِ عَلَى وَجْهِ
الِاسْتِقْلَالِ أَوْ عَلَى وَجْهِ الْمُعَاوَنَةِ وَهُوَ نَقِيضُ
الْوَحْدَانِيَّةِ.
Jawab: At-Ta'addud berarti Zat Allah
dianggap tersusun dari gabungan bagian-bagian, atau ada tandingan yang menyamai
Zat-Nya, atau dibayangkan Allah memiliki dua sifat yang memiliki kesamaan dalam
nama maupun maknanya (contoh: punya dua qudrah), atau ada pihak selain-Nya yang
memiliki sifat menyamai sifat-sifat-Nya, atau ada pihak selain-Nya yang dapat
menciptakan sebuah perbuatan secara mutlak mandiri (tanpa kehendak Allah)
maupun yang bertindak membantu perbuatan Allah. Ini semua adalah mustahil dan
merupakan kebalikan dari sifat Al-Wahdaniyyah (Maha Esa).
أَضْدَادُ صِفَاتِ
الْمَعَانِي
Kebalikan dari Sifat Ma'ani
س:
كَمْ أَضْدَادُ صِفَاتِ الْمَعَانِي؟
Tanya: Ada berapa sifat mustahil yang menjadi
kebalikan dari sifat Ma'ani?
ج:
هِيَ سَبْعُ صِفَاتٍ : ١. الْعَجْزُ. ٢. الْكَرَاهَةُ. ٣. الْجَهْلُ. ٤.
الْمَوْتُ. ٥. الْعَمَى. ٦. الصَّمَمُ. ٧. الْبَكَمُ.
Jawab: Sifat-sifat mustahil tersebut ada tujuh,
yaitu:
- Al-'Ajz (Lemah).
- Al-Karahah (Terpaksa/Tanpa Kehendak).
- Al-Jahl (Bodoh).
- Al-Maut (Mati).
- Al-'Ama (Buta).
- Ash-Shamam (Tuli).
- Al-Bakam (Bisu).
س: مَا
مَعْنَى الْعَجْزِ؟
Tanya: Apa makna Al-'Ajz?
ج:
وَهُوَ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِالْعَاجِزِ لَا يَتَأَتَّى مَعَهَا
إِيجَادٌ وَلَا إِعْدَامٌ وَهِيَ ضِدُّ الْقُدْرَةِ.
Jawab: Al-'Ajz (Lemah) adalah sebuah sifat
yang ada dan melekat pada pihak yang lemah, di mana ia tidak akan sanggup untuk
menciptakan (mengadakan) sesuatu atau meniadakannya. Ini adalah kebalikan dari
sifat Al-Qudrah (Maha Kuasa).
س: مَا
مَعْنَى الْكَرَاهَةِ؟
Tanya: Apa makna Al-Karahah?
ج:
وَهُوَ عَدَمُ الْقَصْدِ فِي الْإِيجَادِ وَالْإِعْدَامِ، بِأَنْ يُوجَدَ شَيْءٌ
مِنَ الْعَالَمِ مَعَ كَرَاهَتِهِ تَعَالَى لِوُجُودِهِ، أَوْ مَعَ الْغُفْلَةِ،
أَوِ الذُّهُولِ، أَوْ بِالتَّعْلِيلِ، أَوْ بِالطَّبْعِ وَهُوَ نَقِيضُ
الْإِرَادَةِ.
(وَالتَّعْلِيلُ وَالطَّبْعُ أَنْ يَنْشَأَ
عَنِ الشَّيْءِ شَيْءٌ آخَرُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ لَهُ إِرَادَةٌ
وَاخْتِيَارٌ، لَكِنْ بِلَا تَوَقُّفٍ عَلَى وُجُودِ شَرْطٍ وَانْتِفَاءِ مَانِعٍ
كَمَا فِي حَرَكَةِ الْأَصَابِعِ مَعَ حَرَكَةِ الْخَاتِمِ. وَتَوَقُّفٍ عَلَى
وُجُودِ شَرْطٍ وَانْتِفَاءِ مَانِعٍ فِي الثَّانِي كَمَا فِي النَّارِ،
فَإِنَّهَا تُؤَثِّرُ فِي الْحَرْقِ بِطَبْعِهَا أَيْ حَقِيقَتِهَا لَكِنْ
بِشَرْطِ الْمُمَاسَّةِ وَانْتِفَاءِ الْبُلُولَةِ. وَهُمَا عِنْدَ الْقَائِلِينَ
بِهِمَا قَبَّحَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى، لَا عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَهُمْ
أَهْلُ النَّاجِيَةِ مِنَ النَّارِ.)
Jawab: Al-Karahah (Terpaksa) adalah
ketiadaan niat (maksud) dalam mengadakan atau meniadakan sesuatu. Artinya
dibayangkan bahwa ada sebagian alam semesta yang terwujud padahal Allah
benci/terpaksa terhadap keberadaannya, atau wujud karena kelalaian-Nya, atau
ketidaksengajaan-Nya, atau terjadi murni karena hubungan sebab-akibat (Ta'lil),
maupun karena watak alami (Thab'). Ini adalah kebalikan dari sifat Al-Iradah
(Maha Berkehendak).
(Penjelasan ringkas dari
penyusun kitab: Ta'lil dan Thab' bermakna timbulnya sesuatu dari sesuatu yang
lain murni secara otomatis tanpa adanya kehendak dan pilihan bebas.
Perbedaannya, Ta'lil terjadi secara otomatis tanpa butuh syarat dan tanpa
terhalang apa pun, seperti bergeraknya cincin karena pergerakan jari di waktu
yang bersamaan. Sedangkan Thab' [watak alami] terjadi otomatis namun menuntut
adanya syarat dan ketiadaan penghalang. Contohnya api, ia mampu membakar murni
karena watak aslinya panas, namun dengan syarat ia harus bersentuhan langsung
dan benda tersebut tidak basah. Kedua konsep filsafat penyebab alam ini [Ta'lil
dan Thab'] hanya diyakini oleh mereka yang tersesat—semoga Allah menjelekkan
pemahaman mereka—dan bukan merupakan keyakinan golongan Ahlusunah yang
merupakan golongan yang selamat dari neraka).
س: مَا
الَّذِي يَدْخُلُ فِي مَعْنَى الْجَهْلِ وَهُوَ نَقِيضُ الْعِلْمِ أَيْضًا؟
Tanya: Apa saja yang tercakup ke dalam makna Al-Jahl
(Kebodohan) yang juga mustahil bagi Allah (sebagai kebalikan dari sifat Maha
Mengetahui)?
ج:
وَهُوَ الظَّنُّ، وَالْوَهْمُ، وَالشَّكُّ، وَالنَّظَرُ، وَالنَّظَرِيُّ،
وَالنِّسْيَانُ، وَالنَّوْمُ.
Jawab: Yang tercakup di dalamnya adalah: Zhann
(sangkaan/dugaan kuat), Wahm (asumsi lemah/ilusi), Syakk
(keraguan/ragu-ragu), Nazhar (proses memikirkan atau meneliti sesuatu), Nazhariyy
(pengetahuan yang didapat setelah dianalisa/dipikirkan secara logis), Nisyan
(lupa), dan tidur. (Semua ini mustahil bagi Allah).
س: مَا
مَعْنَى الْمَوْتِ؟
Tanya: Apa makna Al-Maut?
ج:
وَهُوَ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِالْمَيِّتِ تَمْنَعُ اتِّصَافَهُ
بِالْإِدْرَاكِ، لَوْ رُفِعَ الْحِجَابُ عَنَّا لَرَأَيْنَاهَا وَهِيَ ضِدُّ
الْحَيَاةِ.
Jawab: Al-Maut (Mati) adalah kondisi/sifat
ketiadaan nyawa yang ada pada pihak yang mati, yang menghalanginya dari
kemampuan menyadari segala sesuatu. Seandainya tirai gaib diangkat dari kita,
niscaya kita akan dapat melihat/membedakan keadaan ini. Sifat ini kebalikan dari
Al-Hayat (Maha Hidup).
س: مَا
مَعْنَى الْعَمَى؟
Tanya: Apa makna Al-'Ama?
ج:
وَهُوَ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِالذَّاتِ تَمْنَعُ الْبَصَرَ وَهُوَ ضِدُّ
الْبَصَرِ.
Jawab: Al-'Ama (Buta) adalah suatu cacat
atau kondisi pada zat yang menghalangi penglihatan. Ini kebalikan dari Al-Bashar
(Maha Melihat).
س: مَا
مَعْنَى الصَّمَمِ؟
Tanya: Apa makna Ash-Shamam?
ج:
وَهُوَ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِالذَّاتِ تَمْنَعُ السَّمْعَ وَهُوَ ضِدُّ
السَّمْعِ.
Jawab: Ash-Shamam (Tuli) adalah suatu
cacat atau kondisi pada zat yang menghalangi pendengaran. Ini kebalikan dari As-Sama'
(Maha Mendengar).
س: مَا
مَعْنَى الْبَكَمِ؟
Tanya: Apa makna Al-Bakam?
ج:
وَهُوَ صِفَةٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِالذَّاتِ تَمْنَعُ مِنَ الْكَلَامِ وَهُوَ
ضِدُّ الْكَلَامِ.
Jawab: Al-Bakam (Bisu) adalah suatu cacat
atau kondisi pada zat yang menghalanginya untuk bisa berbicara. Ini kebalikan
dari Al-Kalam (Maha Berfirman/Berbicara).
أَضْدَادُ الصِّفَاتِ
الْمَعْنَوِيَّةِ
Kebalikan dari Sifat
Ma'nawiyyah
س:
كَمْ أَضْدَادُ الصِّفَةِ الْمَعْنَوِيَّةِ؟
Tanya: Ada berapa sifat mustahil yang menjadi
kebalikan dari sifat Ma'nawiyyah?
ج:
هِيَ سَبْعُ صِفَاتٍ : ١. كَوْنُهُ عَاجِزًا. ٢. كَوْنُهُ كَارِهًا. ٣. كَوْنُهُ
جَاهِلًا. ٤. كَوْنُهُ مَيِّتًا. ٥. كَوْنُهُ أَعْمَى. ٦. كَوْنُهُ أَصَمَّ. ٧.
كَوْنُهُ أَبْكَمَ.
Jawab: Ada tujuh keadaan mustahil, yaitu:
- Keadaan-Nya yang lemah.
- Keadaan-Nya yang terpaksa (tidak
berkehendak).
- Keadaan-Nya yang bodoh.
- Keadaan-Nya yang mati.
- Keadaan-Nya yang buta.
- Keadaan-Nya yang tuli.
- Keadaan-Nya yang bisu.
س: مَا
مَعْنَى كَوْنِهِ عَاجِزاً إِلَى آخِرِهِ؟
Tanya: Apa makna ungkapan "Keadaan-Nya yang
lemah" hingga keadaan yang terakhir (bisu) tersebut?
ج:
وَمَعْنَى كَوْنِهِ عَاجِزاً هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ قِيَامِ الْعَجْزِ بِذَاتِهِ
تَعَالَى، وَكَذَلِكَ كَوْنُهُ كَارِهًا وَجَاهِلًا وَمَيِّتًا وَأَعْمَى
وَأَصَمَّ وَأَبْكَمَ، هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ قِيَامِ الْكَرَاهَةِ وَالْجَهْلِ
وَالْمَوْتِ وَالْعَمَى وَالصَّمَمِ وَالْبَكَمِ بِذَاتِهِ تَعَالَى، عَنْ ذَلِكَ
عُلُوًّا كَبِيرًا.
Jawab: Makna "Keadaan-Nya yang lemah"
hanyalah sekadar penamaan (ungkapan) logis yang menjelaskan seandainya sifat Al-'Ajz
(kelemahan) itu tegak pada Zat Allah Ta'ala. Demikian juga keadaan-Nya
yang terpaksa, bodoh, mati, buta, tuli, dan bisu; semuanya itu hanyalah
ungkapan penjelas atas keberadaan sifat terpaksa, bodoh, mati, buta, tuli, dan
bisu itu sendiri pada Zat-Nya. Maha Suci Allah dari sifat-sifat mustahil tersebut
dengan kesucian yang setinggi-tingginya.
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى اسْتِحَالَةِ هَذِهِ الصِّفَاتِ عَلَيْهِ تَعَالَى؟
Tanya: Apa bukti atau dalil kemustahilan
sifat-sifat cacat tersebut bagi Allah Ta'ala?
ج:
وَالدَّلِيلُ عَلَيْهَا يُمْكِنُ أَنْ يُفْهَمَ مِنَ الدَّلِيلِ عَلَى وُجُوبِ
صِفَاتِ الْمَعَانِي وَالْمَعْنَوِيَّةِ. كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ١.
"إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ". ٢. "إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ
خَبِيرٌ". ٣. "هُوَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ".
Jawab: Dalil kemustahilannya secara otomatis
sudah dapat dipahami dari dalil-dalil yang mewajibkan sifat-sifat Ma'ani dan
Ma'nawiyyah sebelumnya. Sebagaimana dipertegas oleh firman Allah Ta'ala:
1.
إِنَّ اللَّهَ
سَمِيعٌ بَصِيرٌ
(Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat).
2.
إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ
(Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal).
3.
هُوَ الْحَيُّ
الَّذِي لَا يَمُوتُ
(Dan bertawakallah kepada
Allah Yang Maha Hidup, yang tidak akan pernah mati).
س:
كَيْفَ ذَلِكَ؟
Tanya: Bagaimana logikanya (kenapa bisa langsung
dipahami dari dalil sifat wajib)?
ج:
إِذَا وَجَبَتْ صِفَةٌ مِنَ الصِّفَاتِ لِذَاتِهِ تَعَالَى، اسْتَحَالَ أَنْ
يَتَّصِفَ ذَلِكَ الذَّاتُ بِضِدِّهَا لِأَنَّ الضَّدَّيْنِ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي
ذَاتٍ وَاحِدَةٍ.
Jawab: Logikanya sangat jelas: Jika suatu sifat
kesempurnaan (seperti Kuasa/Hidup) telah terbukti wajib dan pasti ada pada Zat
Allah Ta'ala, maka sangat mustahil Zat tersebut disifati dengan
kebalikannya (seperti Lemah/Mati). Sebab, dua sifat yang saling bertolak
belakang tidak mungkin bisa berkumpul dan bersatu pada satu zat di waktu yang
sama.
الْجَائِزُ لَهُ تَعَالَى
Sifat Jaiz Bagi Allah Ta'ala
س: مَا
الْجَائِزُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى؟
Tanya: Apa yang menjadi sifat Jaiz (boleh-boleh
saja) bagi Allah Ta'ala?
ج:
وَهُوَ فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ، فَيَدْخُلُ فِي ذَلِكَ الثَّوَابُ
وَالْعِقَابُ وَبَعْثُ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
وَالصَّلَاحُ وَالْأَصْلَحُ لِلْعَبْدِ، فَلَا يَجِبُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ عَلَى
اللَّهِ تَعَالَى وَلَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ أَيْضًا. كَمَا قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى: "وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ".
Jawab: Sifat jaiz bagi Allah adalah: فِعْلُ
كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ
(Melakukan segala hal yang mungkin terjadi, atau membiarkannya/tidak
melakukannya).
Termasuk ke dalam perbuatan jaiz
ini adalah: Memberikan pahala, menjatuhkan hukuman, mengutus para nabi 'alaihimussalam,
serta menciptakan sesuatu yang sifatnya baik (ash-shalah) atau yang
paling baik (al-ashlah) bagi hamba-Nya. Semua hal tersebut sama sekali
tidak wajib bagi Allah, dan tidak mustahil pula bagi-Nya (murni merupakan
pilihan bebas-Nya). Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
وَيَغْفِرُ
لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ
(Dan Dia mengampuni siapa
saja yang Dia kehendaki, serta menyiksa siapa saja yang Dia kehendaki).
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ؟
Tanya: Apa dalil tentang kebolehan hal tersebut?
ج:
وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ أَنَّهُ لَوْ وَجَبَ عَلَيْهِ تَعَالَى شَيْءٌ مِنْهُ أَوِ
اسْتَحَالَ عَلَيْهِ عَقْلًا لَانْقَلَبَ الْمُمْكِنُ أَوِ الْجَائِزُ وَاجِبًا
أَوْ مُسْتَحِيلًا وَذَلِكَ لَا يُعْقَلُ، أَيْ لَا يَصِحُّ فِي الْعَقْلِ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
Jawab: Dalilnya adalah, seandainya ada
perbuatan-perbuatan (seperti menciptakan sesuatu) yang dihukumi
"wajib" atau dihukumi "mustahil" secara akal bagi Allah,
maka sesuatu yang sifat dasar asalnya memang "mungkin terjadi" (mumkin/jaiz)
akan mendadak berubah status esensinya menjadi "pasti terjadi" (wajib)
atau "pasti tidak terjadi" (mustahil). Perubahan hakikat
esensi secara paksa seperti ini sangatlah tidak rasional dan tidak bisa
diterima oleh akal sehat. Wallahu a'lam bish-shawab.
الْإِيمَانُ بِالرُّسُلِ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
Beriman Kepada Para Rasul 'alaihimussalam
س: مَا
مَعْنَى الْإِيمَانِ بِالرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa makna beriman kepada para rasul 'alaihimussalam?
ج:
وَهُوَ أَنْ نَعْتَقِدَ اعْتِقَادًا جَازِمًا بِأَنَّ لِلَّهِ تَعَالَى رُسُلًا
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الَّذِينَ لَا نَعْلَمُ عَدَدَهُمْ،
وَنَعْتَقِدُ أَيْضًا بِأَنَّهُ يَجِبُ لَهُمْ أَرْبَعُ صِفَاتٍ وَيَسْتَحِيلُ
عَلَيْهِمْ أَرْبَعُ صِفَاتٍ أَيْضًا وَهِيَ أَضْدَادُ الْأَرْبَعَةِ الْأُولَى،
وَيَجُوزُ فِي حَقِّهِمْ صِفَةٌ وَاحِدَةٌ.
Jawab: Maknanya adalah kita meyakini dengan penuh
kemantapan bahwa Allah Ta'ala memiliki utusan-utusan (rasul) 'alaihimussalam
yang jumlah pastinya tidak kita ketahui. Kita juga wajib meyakini bahwa mereka
memiliki empat sifat wajib, empat sifat mustahil (yang merupakan kebalikan dari
sifat wajib tersebut), serta satu sifat jaiz (mungkin/boleh) bagi mereka.
(مُلَاحَظَةٌ:
وَالرَّسُولُ هُوَ إِنْسَانٌ أُوحِيَ إِلَيْهِ بِالشَّرْعِ وَأُمِرَ بِتَبْلِيغِهِ
إِلَى الْأُمَّةِ الْمُؤَيَّدِ بِالْمُعْجِزَاتِ أَيِ الْأُمُورِ الْخَارِقَةِ
لِلْعَادَةِ الَّتِي يَعْجِزُ عَنْهَا جَمِيعُ الْخَلَائِقِ كَانْفِجَارِ الْمَاءِ
مِنْ بَيْنَ أَصَابِعِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.)
(Catatan:
Rasul adalah seorang manusia laki-laki yang diberi wahyu berupa syariat agama
dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat, serta didukung dengan
mukjizat. Mukjizat adalah kejadian luar biasa yang sama sekali tidak mungkin
bisa dilakukan oleh makhluk mana pun, seperti mukjizat memancarnya air dari
celah jari-jemari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam).
الصِّفَاتُ الْوَاجِبَةُ
لِلرُّسُلِ
Sifat-Sifat yang Wajib Bagi
Para Rasul
س: مَا
الْأَرْبَعَةُ الْوَاجِبَةُ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa saja empat sifat yang wajib bagi para
rasul 'alaihimussalam?
ج:
هِيَ : ١. الصِّدْقُ ٢. التَّبْلِيغُ ٣. الْأَمَانَةُ ٤. الْفَطَانَةُ
Jawab: Empat sifat tersebut adalah:
- Ash-Shidq (Jujur/Benar)
- At-Tabligh (Menyampaikan)
- Al-Amanah (Dapat dipercaya)
- Al-Fathanah (Cerdas/Pintar)
س: مَا
مَعْنَى الصِّدْقِ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa makna Ash-Shidq bagi para rasul
'alaihimussalam?
ج:
وَهُوَ مُطَابَقَةُ خَبَرِهِمْ لِلْوَاقِعِ سَوَاءٌ كَانَ دُنْيَوِيًّا أَمْ
أُخْرَوِيًّا.
Jawab: Maknanya adalah kebenaran setiap ucapan
mereka yang selalu sesuai dengan kenyataan, baik itu kabar mengenai urusan
dunia maupun urusan akhirat.
س: مَا
مَعْنَى التَّبْلِيغِ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa makna At-Tabligh bagi para
rasul 'alaihimussalam?
ج:
وَهُوَ تَبْلِيغُ مَا أُمِرُوا بِتَبْلِيغِهِ إِلَى قَوْمِهِمْ، وَأَمَّا مَا
أُمِرُوا بِكِتْمَانِهِ فَلَا يُبَلِّغُونَهُ.
Jawab: Maknanya adalah mereka selalu menyampaikan
segala wahyu yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada umatnya. Adapun
rahasia yang diperintahkan oleh Allah untuk disembunyikan (bukan untuk umat),
maka mereka tidak akan menyampaikannya.
س: مَا
مَعْنَى الْأَمَانَةِ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa makna Al-Amanah bagi para rasul
'alaihimussalam?
ج:
وَهُوَ حِفْظُ ظَوَاهِرِهِمْ وَبَوَاطِنِهِمْ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ
وَالْمُحَرَّمَاتِ.
Jawab: Maknanya adalah mereka selalu terjaga dan
memelihara lahir dan batin mereka dari terjerumus ke dalam perbuatan yang
dibenci agama (makruh), apalagi perbuatan yang dilarang (haram). (Ini
dikenal dengan sebutan sifat Maksum; dipelihara dari dosa).
(مُلَاحَظَةٌ: فَإِنْ
قَالَ قَائِلٌ إِذَا كَانَ الْعِصْيَانُ مُسْتَحِيلًا فِي حَقِّ الْأَنْبِيَاءِ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، فَكَيْفَ أَكَلَ آدَمُ مِنَ الشَّجَرَةِ
الَّتِي نُهِيَ عَنْهَا؟ فَالْجَوَابُ إِنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَكَلَ
مِنَ الشَّجَرَةِ الَّتِي نُهِيَ عَنْهَا بِطَرِيقِ النِّسْيَانِ، قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى "وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ
لَهُ عَزْمًا" وَالنَّاسِي غَيْرُ عَاصٍ وَلَا مُؤَاخَذٍ. وَأَمَّا نِسْبَةُ
الْعِصْيَانِ إِلَيْهِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى "وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى
ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى" فَلِصُدُورِ صُورَةِ
الْمُخَالَفَةِ عَنْهُ بِنَاءً عَلَى النِّسْيَانِ النَّاشِئِ عَنْ عَدَمِ
التَّحَفُّظِ التَّامِّ عَنْهُ، وَالْمُخَالَفَةُ الَّتِي تَصْدُرُ نِسْيَانًا لَا
تُعَدُّ فِي حَقِّ النَّاسِ عِصْيَانًا، وَعُدَّتْ مَعْصِيَّةً فِي حَقِّ آدَمَ
نَظَرًا لِشَرَفِ رُتْبَتِهِ وَعِظَمِ مَنْزِلَتِهِ، وَالْخَطَأُ الصَّغِيرُ
يُسْتَعْظَمُ مِنَ الْكَبِيرِ. وَأَمَّا مُؤَاخَذَةُ الْمَوْلَى سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى لِآدَمَ عَلَى ذَلِكَ بِإِهْبَاطِهِ إِلَى هَذِهِ الدِّيَارِ
وَاعْتِرَافِ آدَمَ بِالذَّنْبِ وَإِشْفَاقِهِ مِنْهُ وَمُثَابَرَتِهِ عَلَى
الِاسْتِغْفَارِ، فَذَلِكَ لِتَزْدَادَ دَرَجَتُهُ عُلُوًّا وَثَوَابُهُ
وَأَجْرُهُ نُمُوًّا. وَيُقَاسُ عَلَى ذَلِكَ مَا يُنْسَبُ لِسَائِرِ
الْأَنْبِيَاءِ مِنَ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي فَإِنَّهَا ذُنُوبٌ بِالْإِضَافَةِ
إِلَى عُلُوِّ مَنَاصِبِهِمْ وَمَعَاصٍ بِالنِّسْبَةِ إِلَى كَمَالِ طَاعَتِهِمْ
لَا أَنَّهَا كَذُنُوبِ غَيْرِهِمْ، وَمَعَاصِيهِمْ لِأَنَّهَا صَادِرَةٌ مِنْهُمْ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِمَّا عَلَى طَرِيقِ التَّأَوُّلِ أَوْ عَلَى
طَرِيقِ السَّهْوِ وَعَدَمِ التَّعَمُّدِ. وَأَمَّا اعْتِرَافُهُمْ بِهَا
وَاسْتِغْفَارُهُمْ مِنْهَا فَلِزِيَادَةِ مَعْرِفَتِهِمْ بِمَوْلَاهُمْ وَشِدَّةِ
وَرَعِهِمْ وَتَقْوَاهُمْ، وَلِيَزْدَادُوا أَجْرًا وَقُرْبَةً وَعُلُوًّا فِي
الدَّرَجَةِ وَالرُّتْبَةِ، انْتَهَى.)
(Catatan:
Jika ada yang bertanya, "Apabila para nabi mustahil berbuat maksiat
(dosa), lalu bagaimana penjelasannya tentang Nabi Adam yang memakan buah dari
pohon yang jelas-jelas dilarang baginya?" Jawabannya: Nabi Adam
'alaihissalam memakan buah terlarang itu karena faktor lupa. Allah Ta'ala
berfirman:
وَلَقَدْ
عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا
(Dan
sungguh, telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami
tidak mendapati kemauan yang kuat padanya). [QS. Thaha: 115]
Seseorang
yang melakukan sesuatu karena lupa tidaklah disebut sebagai pemaksiat dan tidak
pula dihukum dosa. Adapun adanya penyebutan kata "maksiat/durhaka"
yang dialamatkan kepada beliau di dalam firman Allah Ta'ala:
وَعَصَى
آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى
(Dan
durhakalah Adam kepada Tuhannya, maka sesatlah dia. Kemudian Tuhannya
memilihnya, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk). [QS. Thaha:
121-122]
Maksudnya
adalah karena munculnya tindakan yang "secara wujud/bentuk
lahiriahnya" berupa pelanggaran, yang didasari oleh sifat lupa akibat
kelengahannya dalam menjaga kewaspadaan secara penuh. Sebuah pelanggaran yang
terjadi murni karena lupa, jika dilakukan oleh manusia biasa, tidak akan
dinilai sebagai sebuah maksiat. Akan tetapi, hal itu dinilai sebagai
"maksiat" bagi Nabi Adam semata-mata dengan menimbang betapa mulianya
kedudukan dan tingginya derajat beliau. (Ada sebuah kaidah: Kesalahan kecil
akan dinilai sangat besar jika dilakukan oleh orang besar).
Adapun
sanksi dari Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Adam berupa menurunkannya dari
surga ke alam dunia ini, lalu diikuti dengan pengakuan dosa Adam, rasa takutnya
yang mendalam, dan kegigihannya dalam beristigfar; semua proses itu skenarionya
bertujuan agar derajat beliau semakin diangkat tinggi, serta pahala ketaatannya
makin berlipat ganda.
Hal yang
sama juga berlaku (diqiyaskan) pada berbagai sebutan "dosa/maksiat"
yang disandarkan kepada nabi-nabi yang lain. Itu disebut dosa hanya karena
diukur dari betapa tingginya jabatan mereka, dan disebut maksiat jika
dikomparasikan dengan kesempurnaan ketaatan mereka. Bukan berarti dosa itu
murni seperti maksiat yang dilakukan orang lain pada umumnya. Tindakan yang
lahir dari para nabi 'alaihimussalam terjadi semata-mata karena hasil ijtihad
(penafsiran) yang meleset atau karena faktor kelupaan dan ketidaksengajaan.
Adapun
tangisan, pengakuan dosa, dan istigfar mereka yang tanpa henti itu justru
menunjukkan bertambahnya kedalaman makrifat (pengenalan) mereka terhadap
Tuhannya, betapa luar biasanya sifat wara' (kehati-hatian) dan takwa mereka,
serta bertujuan agar ganjaran pahala, kedekatan, dan pangkat mereka di sisi
Allah kian melonjak tinggi. Sekian penjelasan ini).
س: مَا
مَعْنَى الْفَطَانَةِ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa makna Al-Fathanah bagi para
rasul 'alaihimussalam?
ج:
وَهُوَ الذَّكَاءُ وَالْحِذْقُ بِأَنْ يَكُونَ فِيهِمْ قُدْرَةٌ عَلَى إِلْزَامِ
الْخُصُومِ وَمُحَاجَّتِهِمْ وَإِبْطَالِ دَعَاوِيهِمْ.
Jawab: Maknanya adalah kecerdasan dan kelihaian
daya tangkap. Yakni mereka memiliki kemampuan nalar dan argumen berdebat yang
telak untuk mematahkan musuh-musuhnya, membungkam bantahan mereka, dan
membatalkan klaim-klaim palsu yang mereka buat.
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى وُجُوبِ الصِّفَاتِ الْأَرْبَعَةِ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa dalil wajibnya keempat sifat tersebut
bagi para rasul 'alaihimussalam?
ج:
وَهُوَ أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَتَّصِفُوا بِتِلْكَ الصِّفَاتِ لَمْ يَكُونُوا رُسُلًا
مِنَ اللَّهِ تَعَالَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ إِذْ لَا يَصِحُّ فِي
الْعَقْلِ أَنْ يَخْتَارَ مِنْ خَلْقِهِ رَجُلًا كَاذِبًا أَوْ كَاتِمًا أَوْ
خَائِنًا أَوْ بَلِيدًا لِتَبْلِيغِ الرِّسَالَةِ وَدَعْوَةِ الْأُمَّةِ إِلَى
سَلَامَةِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Jawab: Dalilnya adalah: Seandainya mereka tidak
memiliki sifat-sifat mulia tersebut, niscaya tidak mungkin mereka dipilih
menjadi utusan Allah Ta'ala Yang Maha Mengetahui hal gaib maupun yang
nyata. Sebab, akal sehat sangat tidak bisa menerima jika Allah memilih
hamba-Nya yang pembohong, penyembunyi kebenaran, pengkhianat, atau berotak
bodoh untuk mengemban misi penyampaian wahyu dan mengajak umat menuju jalan
keselamatan dunia dan akhirat.
الْمُسْتَحِيلَاتُ عَلَى
الرُّسُلِ
Sifat-Sifat yang Mustahil Bagi
Para Rasul
س: مَا
الْأَرْبَعَةُ الْمُسْتَحِيلَةُ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa saja empat sifat yang mustahil bagi
para rasul 'alaihimussalam?
ج:
هُوَ : ١. الْكَذِبُ ٢. الْكِتْمَانُ ٣. الْخِيَانَةُ ٤. الْبَلَادَةُ
Jawab: Empat sifat mustahil itu adalah:
- Al-Kadzib (Bohong/Dusta)
- Al-Kitman (Menyembunyikan kebenaran)
- Al-Khiyanah (Khianat/Tidak dapat dipercaya)
- Al-Baladah (Bodoh/Dungu)
س: مَا
مَعْنَى الْكَذِبِ؟
Tanya: Apa makna Al-Kadzib?
ج:
وَهُوَ عَدَمُ مُطَابَقَةِ الْخَبَرِ لِلْوَاقِعِ.
Jawab: Maknanya adalah ucapan atau kabar yang
disampaikan tidak sesuai dengan fakta (kenyataannya).
س: مَا
مَعْنَى الْكِتْمَانِ؟
Tanya: Apa makna Al-Kitman?
ج:
وَهُوَ عَدَمُ التَّبْلِيغِ لِمَا أُمِرُوا بِتَبْلِيغِهِ.
Jawab: Maknanya adalah tidak menyampaikan ajaran
atau wahyu yang telah diperintahkan untuk disampaikan kepada umat.
س: مَا
مَعْنَى الْخِيَانَةِ؟
Tanya: Apa makna Al-Khiyanah?
ج:
وَهِيَ فِعْلُ شَيْءٍ مِمَّا نُهُوا عَنْهُ مِنَ الْمَكْرُوهَاتِ
وَالْمُحَرَّمَاتِ.
Jawab: Maknanya adalah melakukan perbuatan yang
jelas-jelas dilarang oleh agama, baik berupa hal-hal yang makruh maupun yang
diharamkan.
س: مَا
مَعْنَى الْبَلَادَةِ؟
Tanya: Apa makna Al-Baladah?
ج:
وَهُوَ عَدَمُ مَلَكَةٍ يَقْتَدِرُ بِهَا عَلَى إِلْزَامِ الْخُصُومِ.
Jawab: Maknanya adalah kelemahan akal atau tidak
memiliki kecerdasan dalam berdebat sehingga tidak sanggup mematahkan argumen
musuh-musuhnya.
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى اسْتِحَالَةِ هَذِهِ الصِّفَاتِ الْأَرْبَعَةِ عَلَيْهِمُ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa dalil mustahilnya keempat sifat ini
bagi para rasul 'alaihimussalam?
ج:
الدَّلِيلُ عَلَيْهَا يُعْلَمُ مِنْ دَلِيلِ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ لَهُمْ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.
Jawab: Dalil kemustahilannya sudah bisa diketahui
dan dipahami secara langsung dari pemahaman dalil sifat-sifat wajib bagi mereka
sebelumnya. (Artinya, karena mustahil mereka tidak memiliki sifat wajib, maka
otomatis mustahil mereka memiliki sifat-sifat kebalikan ini).
الْجَائِزُ فِي حَقِّهِمْ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
Sifat Jaiz Bagi Para Rasul 'alaihimussalam
س: مَا
الْجَائِزُ فِي حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Apa yang menjadi sifat Jaiz (boleh-boleh
saja) bagi para rasul 'alaihimussalam?
ج:
وَيَجُوزُ فِي حَقِّهِمْ وُقُوعُ الْأَعْرَاضِ الْبَشَرِيَّةِ بِهِمِ الَّتِي لَا
تُؤَدِّي إِلَى نَقْصٍ فِي مَرْتَبَتِهِمِ الْعَلِيَّةِ كَالْمَرَضِ وَالْأَكْلِ
وَالشُّرْبِ وَالنَّوْمِ وَغَيْرِ ذَلِكَ.
Jawab: Boleh dan mungkin saja terjadi pada diri
mereka yang namanya Al-A'radh Al-Basyariyyah (keadaan-keadaan
manusiawi), dengan syarat keadaan tersebut sama sekali tidak menjatuhkan
derajat dan martabat mereka yang mulia. Contoh sifat manusiawi ini adalah sakit
ringan, butuh makan dan minum, tidur, beristri, dan lain sebagainya.
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ؟
Tanya: Apa dalilnya?
ج:
وَهُوَ مُشَاهَدَةُ وُقُوعِهَا بِهِمْ مِمَّنْ عَاصَرُوا بِهِمْ وَوَصَلَ
إِلَيْنَا بِالْخَبَرِ الْمُتَوَاتِرِ.
Jawab: Buktinya adalah kesaksian riil akan
terjadinya hal-hal kemanusiaan tersebut dari orang-orang (sahabat) yang hidup
sezaman dengan mereka. Kemudian kabar kesaksian tersebut sampai kepada kita
melalui jalur riwayat yang mutawatir (diriwayatkan oleh jumlah orang yang
sangat banyak secara estafet dari generasi ke generasi, sehingga mustahil
mereka sepakat untuk berbohong).
س:
كَيْفَ وَقَعَتْ بِهِمُ الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ وَالْحَالُ أَنَّهُمْ أَحَبُّ
النَّاسِ إِلَيْهِ تَعَالَى؟
Tanya: Bagaimana bisa sifat-sifat manusiawi yang
identik dengan kelemahan (seperti sakit) menimpa mereka, padahal mereka adalah
manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala?
ج:
وَذَلِكَ إِمَّا لِتَعْظِيمِ أُجُورِهِمْ كَمَا فِي الْأَمْرَاضِ أَوْ
لِلتَّشْرِيعِ كَمَا فِي السَّهْوِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ لِتَسْلِيَّةِ غَيْرِهِمْ
عَنِ الدُّنْيَا أَوْ لِلتَّنْبِيهِ بِخِسَّةِ قَدْرِهَا عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى
حَيْثُ لَا يَرْضَى أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الدُّنْيَا دَارَ جَزَاءٍ لِأَنْبِيَائِهِ
وَأَوْلِيَائِهِ.
Jawab: Semua itu terjadi karena menyimpan hikmah
yang besar; bisa jadi untuk melipatgandakan pahala kesabaran mereka (seperti
saat mereka menderita sakit), atau untuk menjadi jalan terbentuknya sebuah
hukum syariat (seperti saat nabi lupa jumlah rakaat dalam salat, sehingga
turunlah syariat tentang sujud sahwi), atau untuk menghibur hati umatnya agar
tidak terlalu sedih dalam menghadapi cobaan dunia (karena nabi pun diuji dengan
musibah), atau sebagai peringatan tentang betapa hina dan murahnya nilai dunia
ini di sisi Allah Ta'ala, sehingga Allah tidak rida menjadikan dunia
yang fana ini sebagai tempat turunnya ganjaran kebahagiaan sejati bagi para
nabi dan para kekasih-Nya.
س:
هَلْ يَعْلَمُ أَحَدٌ مِنَّا عَدَدَ الْأَنْبِيَاءِ وَأَسْمَاءَهُمْ؟
Tanya: Apakah ada di antara kita yang mampu
mengetahui jumlah pasti dan nama-nama seluruh nabi?
ج: لَا
يَعْلَمُ أَحَدٌ مِنَّا عَدَدَهُمْ وَأَسْمَاءَهُمْ لَكِنْ تَجِبُ عَلَيْنَا
مَعْرِفَةُ أَسْمَاءِ الرُّسُلِ الَّذِينَ ذُكِرُوا فِي الْقُرْآنِ.
Jawab: Tidak ada satu pun dari kita yang
mengetahui jumlah persis serta nama-nama mereka keseluruhannya. Akan tetapi,
kita diwajibkan untuk mengenal dan mengetahui nama-nama rasul yang telah
disebutkan secara tegas di dalam Al-Qur'an.
س: مَا
أَسْمَاؤُهُمْ؟
Tanya: Siapa sajakah nama-nama mereka?
ج:
آدَمُ، إِدْرِيسٌ، نُوحٌ، هُودٌ، صَالِحٌ، إِلْيَسَعُ، ذُو الْكِفْلِ، إِلْيَاسُ،
يُونُسُ، أَيُّوبُ، إِبْرَاهِيمُ، إِسْمَاعِيلُ، إِسْحَاقُ، يَعْقُوبُ، يُوسُفُ،
لُوطٌ، دَاوُدُ، سُلَيْمَانُ، شُعَيْبٌ، مُوسَى، هَارُونُ، زَكَرِيَّا، يَحْيَى،
عِيسَى، مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ وَسَلَّمَ.
Jawab: (Ada 25 Rasul), yaitu:
Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh,
Ilyasa', Zulkifli, Ilyas, Yunus, Ayyub, Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, Yusuf,
Lut, Daud, Sulaiman, Syuaib, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad shallallahu
'alaihi wa 'alaihim wa sallam.
الْإِيمَانُ
بِالْمَلَائِكَةِ
Beriman Kepada Malaikat
س: مَا
مَعْنَى الْإِيمَانِ بِالْمَلَائِكَةِ؟
Tanya: Apa makna beriman kepada para malaikat?
ج:
وَهُوَ التَّصْدِيقُ بِوُجُودِهِمْ وَبِأَنَّهُمْ أَجْسَامٌ عُلْوِيَّةٌ
مُشَكَّلَةٌ بِمَا شَاءُوا مِنَ الْأَشْكَالِ، وَبِأَنَّهُمْ لَا يُوصَفُونَ
بِذُكُورَةٍ وَلَا أُنُوثَةٍ وَلَا بِوَلَدٍ (مُلَاحَظَةٌ:
أَيْ لَيْسُوا وَالِدِينَ وَلَا مَوْلُودِينَ)
وَلَا بِأَكْلٍ وَلَا بِشُرْبٍ وَلَوَازِمِهِمَا مِنَ الْبَوْلِ
وَالتَّغَوُّطِ وَالْمُخَاطِ وَالرِّيحِ وَالْجُوعِ وَالْعَطَشِ، وَإِنَّمَا
قُوتُهُمُ الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ، وَإِنَّهُمْ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ بَلْ
يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ بِهِ وَيَتْرُكُونَ مَا يُنْهَوْنَ عَنْهُ دَائِمًا
وَلَا يَنَامُونَ.
Jawab: Maknanya adalah membenarkan (meyakini)
keberadaan mereka. Meyakini bahwa mereka adalah jasad-jasad bercahaya (bersifat
langit/gaib) yang dapat menjelma dalam wujud apa pun yang mereka kehendaki
(atas izin Allah). Meyakini bahwa mereka tidak disifati dengan jenis kelamin
laki-laki maupun perempuan, dan tidak beranak-pinak (Catatan:
Artinya mereka tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan).
Meyakini pula bahwa mereka
tidak makan, tidak minum, dan terbebas dari segala konsekuensi sifat manusiawi
seperti buang air kecil, buang air besar, mengeluarkan ingus, buang angin,
serta tidak merasakan lapar maupun haus. Makanan dan energi mereka hanyalah
zikir dan tasbih. Mereka juga tidak pernah mendurhakai Allah; mereka selalu
senantiasa mengerjakan apa pun yang diperintahkan kepada mereka, meninggalkan
apa pun yang dilarang, dan mereka tidak pernah tidur.
س:
هَلْ يَعْلَمُ أَحَدٌ مِنَ الْخَلَائِقِ عَدَدَهُمْ؟
Tanya: Apakah ada salah satu dari makhluk yang
mengetahui jumlah pasti mereka?
ج: لَا
يَعْلَمُ عَدَدَهُمْ إِلَّا اللَّهُ الْعَالِمُ الْغَيْبَ وَالشَّهَادَةَ، لَكِنْ
يَجِبُ عَلَيْنَا مَعْرِفَةُ أَسْمَاءِ الْعَشَرَةِ مِنْهُمْ.
Jawab: Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka
melainkan Allah Yang Maha Mengetahui alam gaib dan alam nyata. Namun, kita
diwajibkan untuk mengenal dan mengetahui nama sepuluh malaikat di antara
mereka.
س: مَا
أَسْمَاؤُهُمْ؟
Tanya: Siapa saja nama kesepuluh malaikat
tersebut?
ج:
هُمْ : ١. جِبْرَائِيلُ ٢. مِيكَائِيلُ ٣. إِسْرَافِيلُ ٤. عِزْرَائِيلُ ٥.
مُنْكَرٌ ٦. نَكِيرٌ ٧. رَقِيبٌ ٨. عَتِيدٌ ٩. مَالِكُ الزَّبَانِيَّةِ ١٠.
مَالِكُ رِضْوَانَ.
Jawab: Mereka adalah:
- Jibril
- Mikail
- Israfil
- Izrail
- Munkar
- Nakir
- Raqib
- Atid
- Malik Az-Zabaniyyah (Penjaga Neraka)
- Malik Ridhwan (Penjaga Surga)
وَظِيفَةُ الْمَلَائِكَةِ
الْعَشَرَةِ
Tugas Sepuluh Malaikat Utama
س: مَا
وَظِيفَتُهُمْ؟
Tanya: Apa sajakah tugas-tugas mereka?
ج:
·
وَجِبْرَائِيلُ:
أَنْزَلَ الْوَحْيَ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى إِلَى الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.
·
وَمِيكَائِيلُ:
قَسَمَ الْأَرْزَاقَ بَيْنَ الْحَيَوَانِ وَالْأَمْطَارَ بَيْنَ الْبُلْدَانِ.
·
وَإِسْرَافِيلُ:
يَنْفُخُ فِي الصُّورِ عِنْدَ إِمَاتَةِ الْخَلَائِقِ وَإِحْيَائِهِمْ.
·
وَعِزْرَائِيلُ:
يُخْرِجُ أَرْوَاحَ الْخَلَائِقِ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
·
وَمُنْكَرٌ
وَنَكِيرٌ: يَسْأَلَانِ الْمَيِّتَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ انْصِرَافِ النَّاسِ
عَنْهُ.
Jawab:
- Jibril: Bertugas menurunkan wahyu dari Allah Ta'ala
kepada para nabi 'alaihimussalam.
- Mikail: Bertugas membagikan rezeki kepada
seluruh makhluk hidup (hewan/manusia) dan membagikan curah hujan ke
berbagai negeri.
- Israfil: Bertugas meniup sangkakala (terompet)
pada saat mematikan seluruh makhluk (kiamat) dan pada saat membangkitkan
mereka kembali.
- Izrail: Bertugas mencabut (mengeluarkan) ruh
para makhluk, mulai dari zaman Nabi Adam hingga hari kiamat.
- Munkar dan Nakir: Keduanya bertugas menanyai mayit di
dalam kuburnya, tepat setelah orang-orang (pengantar jenazah) pergi
meninggalkannya.
(مُلَاحَظَةٌ:
وَيُسْأَلُ الْمَيِّتُ وَلَوْ تَمَزَّقَتْ أَعْضَاؤُهُ أَوْ أَكَلَتْهُ السِّبَاعُ
فِي أَجْوَافِهَا، إِذْ لَا يَبْعُدُ أَنَّ اللَّهَ يُعِيدُ لَهُ الرُّوحَ فِي
أَعْضَائِهِ وَلَوْ كَانَتْ مُتَفَرِّقَةً، لِأَنَّ قُدْرَةَ اللَّهِ صَالِحَةٌ
لِذَلِكَ. وَحِكْمَةُ السُّؤَالِ إِظْهَارُ مَا كَتَمَهُ الْعِبَادُ مِنْ إِيمَانٍ
أَوْ كُفْرٍ أَوْ طَاعَةٍ أَوْ عِصْيَانٍ، فَالْمُؤْمِنُونَ الطَّائِعُونَ
يُبَاهِي اللَّهُ بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، وَغَيْرُهُمْ يُفْضَحُونَ عِنْدَ
الْمَلَائِكَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: "مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا
لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ" وَإِنَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ، انْتَهَى.)
(Catatan:
Seorang mayit akan tetap ditanyai di alam kubur [barzakh], sekalipun jasadnya
telah hancur berkeping-keping, atau telah habis dimakan oleh binatang buas dan
berada di dalam perut mereka. Sebab, tidaklah mustahil bagi Allah untuk
mengembalikan ruh kepada anggota-anggota tubuh mayit tersebut meskipun
posisinya sedang terpencar-pencar. Kekuasaan Allah sangat mampu untuk melakukan
hal itu.
Adapun
hikmah dari pertanyaan kubur ini adalah untuk menyingkap dan menampakkan apa
yang selama ini disembunyikan oleh hamba di dunia; apakah ia menyembunyikan
keimanan atau kekufuran, ketaatan atau kemaksiatan. Bagi kaum mukmin yang taat,
Allah akan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Sebaliknya, bagi
selain mereka (orang kafir/munafik), mereka akan dipermalukan di hadapan para
malaikat. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta'ala:
مَا
يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak
ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas
yang selalu hadir." (QS. Qaf: 18).
Sesungguhnya
setiap hamba memang selalu didampingi oleh malaikat pengawas yang mencatat
amalannya. Sekian penjelasan ini).
·
وَرَقِيبٌ
وَعَتِيدٌ: يَكْتُبَانِ أَعْمَالَ الْعِبَادِ خَيْرَهَا وَشَرَّهَا.
·
وَمَالِكُ
الزَّبَانِيَّةِ: يَسُودُ فِي النَّارِ.
·
وَمَالِكُ
رِضْوَانَ: يَسُودُ فِي الْجَنَّةِ، جَعَلَنَا اللَّهُ مِنْ أَهْلِهَا آمِينَ يَا
رَبَّ الْعَالَمِينَ.
(Lanjutan Jawaban Tugas
Malaikat):
- Raqib dan Atid: Keduanya bertugas mencatat amal
perbuatan hamba, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
- Malik Az-Zabaniyyah: Bertugas menjadi pemimpin/penjaga di
neraka.
- Malik Ridhwan: Bertugas menjadi pemimpin/penjaga di
surga. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk penghuni surga. Amin,
ya Rabbal 'alamin.
س: مَا
وَظِيفَةُ بَاقِيهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ؟
Tanya: Lalu, apa tugas malaikat-malaikat yang
lainnya 'alaihimussalam?
ج:
وَظِيفَتُهُمْ وَأَعْمَالُهُمْ مُتَنَوِّعَةٌ، فَمِنْهُمْ رَاكِعٌ وَمِنْهُمْ
سَاجِدٌ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ.
Jawab: Tugas dan pekerjaan mereka sangat
bermacam-macam. Ada sebagian malaikat yang tugasnya senantiasa rukuk, ada yang
senantiasa sujud (beribadah tiada henti), dan berbagai tugas gaib lainnya.
الْإِيمَانُ بِالْكُتُبِ
السَّمَاوِيَّةِ
Beriman Kepada Kitab-Kitab
Samawi (Kitab Langit/Suci)
س: مَا
مَعْنَى الْإِيمَانِ بِالْكُتُبِ السَّمَاوِيَّةِ؟
Tanya: Apa makna beriman kepada kitab-kitab
samawi?
ج:
وَهُوَ التَّصْدِيقُ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَزَّلَ الْكُتُبَ عَلَى رُسُلِهِ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَبِأَنَّ كُلَّ مَا تَضَمَّنَتْهُ فَهُوَ
حَقٌّ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى.
Jawab: Maknanya adalah meyakini sepenuhnya bahwa
Allah Ta'ala telah menurunkan kitab-kitab suci kepada para rasul-Nya 'alaihimussalam,
dan meyakini pula bahwa seluruh kandungan isi kitab-kitab tersebut (pada
asalnya) adalah kebenaran yang mutlak bersumber dari Allah Ta'ala.
س:
كَمْ نَزَّلَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى رُسُلِهِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
كِتَابًا؟
Tanya: Berapa banyak kitab suci yang telah
diturunkan oleh Allah Ta'ala kepada para rasul-Nya 'alaihimussalam?
ج:
أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مِائَةَ
صَحِيفَةٍ وَأَرْبَعَةَ كُتُبٍ.
Jawab: Allah telah menurunkan kepada para rasul 'alaihimussalam
sebanyak seratus lembaran (Suhuf) dan empat buah Kitab besar.
س: مَا
مِائَةُ صَحِيفَةٍ؟
Tanya: Kepada siapa sajakah seratus lembaran
(Suhuf) tersebut diberikan?
ج:
·
أُنْزِلَ عَلَى
آدَمَ عَشْرُ صَحَائِفَ.
·
وَعَلَى شِيثٍ
خَمْسُونَ صَحِيفَةً.
·
وَعَلَى
إِدْرِيسَ ثَلَاثُونَ صَحِيفَةً.
·
وَعَلَى
إِبْرَاهِيمَ عَشْرُ صَحَائِفَ.
Jawab:
- Diturunkan kepada Nabi Adam sebanyak
10 Suhuf (lembaran).
- Diturunkan kepada Nabi Syits sebanyak
50 Suhuf.
- Diturunkan kepada Nabi Idris sebanyak
30 Suhuf.
- Diturunkan kepada Nabi Ibrahim
sebanyak 10 Suhuf.
س: مَا
الْكُتُبُ الْأَرْبَعَةُ؟
Tanya: Dan kepada siapa sajakah empat Kitab besar
itu diberikan?
ج:
·
التَّوْرَاةُ
لِمُوسَى.
·
وَالْإِنْجِيلُ
لِعِيسَى.
·
وَالزَّبُورُ
لِدَاوُدَ.
·
وَالْفُرْقَانُ
لِسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ وَسَلَّمَ.
Jawab:
- Kitab Taurat diturunkan kepada
Nabi Musa.
- Kitab Injil diturunkan kepada
Nabi Isa.
- Kitab Zabur diturunkan kepada
Nabi Daud.
- Kitab Al-Furqan (Al-Qur'an)
diturunkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa
'alaihim wa sallam.
الْإِيمَانُ بِالْيَوْمِ
الْآخِرِ
Beriman Kepada Hari Akhir
(Kiamat)
س: مَا
مَعْنَى الْإِيمَانِ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ أَيْ يَوْمِ الْقِيَامَةِ؟
Tanya: Apa makna beriman kepada Hari Akhir (Hari
Kiamat)?
ج:
وَهُوَ التَّصْدِيقُ بِوُجُودِهِ وَبِجَمِيعِ مَا يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ.
Jawab: Maknanya adalah meyakini sepenuhnya akan
kedatangan hari tersebut, beserta seluruh rentetan peristiwa yang mencakup di
dalamnya.
س: مَا
الَّذِي يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ؟
Tanya: Apa sajakah peristiwa-peristiwa yang
mencakup di dalamnya?
ج:
وَهُوَ كَثِيرَةٌ، فَمِنْهَا : ١. الْبَعْثُ ٢. وَالْحَشْرُ ٣. وَالْمَحْشَرُ ٤.
وَأَخْذُ الْعِبَادِ صُحُفَهُمْ ٥. وَحِسَابُ اللَّهِ لِلْعِبَادِ عَلَى مَا
وَقَعَ مِنْهُمْ ٦. وَوَزْنُ الْأَعْمَالِ ٧. وَالْمِيزَانُ ٨. وَالشَّفَاعَةُ
الْعُظْمَى لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاصَّةً ٩.
وَالشَّفَاعَةُ الْأُخْرَى لِلْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالصُّلَحَاءِ
وَالْعُلَمَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالْآبَاءِ فِي أَوْلَادِهِمْ وَالْأَوْلَادِ فِي
آبَائِهِمْ ١٠. وَمِنْهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ ١١. وَالْحَوْضُ ١٢.
وَرُؤْيَةُ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ ١٣. وَالْجَنَّةُ، جَعَلَنَا
اللَّهُ مِنْ أَهْلِهَا ١٤. وَالنَّارُ، نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْهَا.
Jawab: Peristiwanya sangat banyak, di antaranya
adalah:
- Al-Ba'ts (Kebangkitan).
- Al-Hasyr (Penggiringan).
- Al-Mahsyar (Padang Mahsyar/Tempat berkumpul).
- Penerimaan buku catatan amal oleh para
hamba.
- Al-Hisab (Perhitungan Allah terhadap amal
perbuatan hamba).
- Penimbangan amal perbuatan.
- Al-Mizan (Timbangan amal).
- Syafaat Uzhma (Syafaat/Pertolongan terbesar) yang
khusus diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Syafaat lainnya yang diberikan oleh
para nabi, para wali, orang-orang saleh, para ulama, para syuhada, serta
syafaat orang tua untuk anaknya, dan anak untuk orang tuanya.
- Ash-Shirath Al-Mustaqim (Jembatan penyeberangan).
- Al-Haudh (Telaga Nabi).
- Ru'yatullah (Orang-orang mukmin melihat Allah Jalla
wa 'Azza).
- Al-Jannah (Surga). Semoga Allah menjadikan kita
sebagai penghuninya.
- An-Naar (Neraka). Kita berlindung kepada
Allah darinya.
س: مَا
مَعْنَى الْبَعْثِ؟
Tanya: Apa makna Al-Ba'ts (Kebangkitan)?
ج:
وَهُوَ إِحْيَاءُ الْأَمْوَاتِ وَإِخْرَاجُهُمْ مِنْ قُبُورِهِمْ بِأَنْ يُوجِدَ
اللَّهُ الْأَجْسَامَ بَعْدَ عَدَمِ الْبَعْضِ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهَا
الْأَصْلِيَّةِ.
Jawab: Maknanya adalah menghidupkan kembali
orang-orang yang telah mati dan mengeluarkan mereka dari kubur. Prosesnya
dengan cara Allah mewujudkan kembali seluruh jasad secara utuh beserta
bagian-bagian aslinya, setelah sebelumnya sebagian jasad tersebut telah hancur
dan tiada.
س: مَا
مَعْنَى الْحَشْرِ؟
Tanya: Apa makna Al-Hasyr (Penggiringan)?
ج:
وَهُوَ السَّوْقُ لِلْخَلْقِ جَمِيعًا إِلَى الْمَوْقِفِ.
Jawab: Maknanya adalah menggiring seluruh makhluk
secara massal menuju suatu tempat perhentian (Padang Mahsyar).
س: مَا
مَعْنَى الْمَوْقِفِ أَيِ الْمَحْشَرِ؟
Tanya: Apa makna dari Al-Mauqif atau
Padang Mahsyar?
ج:
وَهُوَ الْمَوْضِعُ الَّذِي يَقِفُونَ فِيهِ مِنَ الْأَرْضِ الْمُبْدَلَةِ فَإِنَّ
الْأَرْضَ تُبْدَلُ وَذَلِكَ بِأَنْ تَنْعَدِمَ عَيْنُ هَذِهِ الْأَرْضِ
وَيَخْلُقَ اللَّهُ أَرْضًا غَيْرَهَا لَمْ تَقَعْ عَلَيْهَا مَعْصِيَّةٌ وَلَمْ
يُسْفَكْ عَلَيْهَا دَمٌ وَلَمْ يَجْرِ عَلَيْهَا ظُلْمٌ قَطُّ، لَا فِيهَا
بِنَاءٌ وَلَا شَجَرٌ وَلَا جَبَلٌ وَنَحْوُهَا.
Jawab: Al-Mahsyar adalah tempat
berpijak/berhentinya seluruh makhluk, yang mana tempat itu merupakan "bumi
yang baru (yang telah diganti)". Sebab, wujud bumi yang kita tempati ini
akan dihancurkan, lalu Allah akan menciptakan bumi yang baru. Sebuah bumi yang
belum pernah sekalipun dijadikan tempat maksiat, belum pernah ada pertumpahan
darah, dan belum pernah terjadi kezaliman di atasnya. Di bumi yang baru itu
datar, tidak ada bangunan, tidak ada pepohonan, tidak ada gunung, maupun
hal-hal semacamnya.
س: مَا
مَعْنَى أَخْذِ الْعِبَادِ صُحُفَهُمْ؟
Tanya: Apa makna peristiwa "penerimaan buku
catatan amal"?
ج:
وَهُوَ أَخْذُهُمْ كِتَابَهُمْ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، فَالْمُؤْمِنُ الْمُطِيعُ
يَأْخُذُ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ، وَالْكَافِرُ يَأْخُذُ بِشِمَالِهِ مِنْ وَرَاءِ
ظُهْرِهِ، وَيَقْرَأُ كُلُّ أَحَدٍ كِتَابَهُ وَلَوْ أُمِّيًّا فِي هَذِهِ
الدَّارِ.
Jawab: Maknanya adalah para hamba menerima buku
catatan amal dari para malaikat. Seorang mukmin yang taat akan menerima bukunya
dari arah kanan, sedangkan orang kafir akan menerimanya dengan tangan kiri dari
arah belakang punggungnya. Pada hari itu, setiap orang dipastikan sanggup
membaca isi buku catatannya sendiri, meskipun sewaktu hidup di dunia ia adalah
seorang yang buta huruf (ummi).
س: مَا
هَذَا الْكِتَابُ؟
Tanya: Buku apakah itu?
ج:
وَهُوَ الْكِتَابُ الَّذِي كُتِبَ فِيهِ أَعْمَالُ الْعِبَادِ خَيْرُهَا
وَشَرُّهَا.
Jawab: Yaitu buku catatan yang berisi rekaman
seluruh amal perbuatan hamba di dunia, baik amal kebaikannya maupun
keburukannya.
س: مَا
مَعْنَى الْحِسَابِ؟
Tanya: Apa makna Al-Hisab?
ج:
وَهُوَ حِسَابُ اللَّهِ تَعَالَى لِلْعِبَادِ عَلَى مَا وَقَعَ مِنْهُمْ بِأَنْ
يُكَلِّمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي شَأْنِ أَعْمَالِهِمْ كَيْفِيَّةُ مَا لَهَا
مِنَ الثَّوَابِ وَمَا عَلَيْهَا مِنَ الْعِقَابِ.
Jawab: Al-Hisab adalah proses
pemeriksaan/perhitungan oleh Allah Ta'ala terhadap seluruh amalan yang
telah diperbuat hamba-Nya. Yakni Allah akan berbicara langsung kepada mereka
mengenai urusan amalan tersebut; bagaimana bentuk pahala yang akan diberikan,
atau bentuk hukuman apa yang akan dijatuhkan.
س: مَا
مَعْنَى وَزْنِ الْأَعْمَالِ؟
Tanya: Apa makna penimbangan amal?
ج:
وَهُوَ وَضْعُ صُحُفِ الْأَعْمَالِ الْحَسَنَةِ فِي كَفَّةِ النُّورِ وَهِيَ
الْيَمِينُ الْمُعَدَّةُ لِلْحَسَنَاتِ فَتَرْجَحُ بِفَضْلِ اللَّهِ، وَوَضْعُ
صُحُفِ الْأَعْمَالِ السَّيِّئَةِ فِي كَفَّةِ الظُّلْمَةِ وَهِيَ الشِّمَالُ
الْمُعَدَّةُ لِلسَّيِّئَاتِ فَتَخِفُّ، وَهَذَا فِي الْمُؤْمِنِ. وَأَمَّا
الْكَافِرُ فَبِالْعَكْسِ بِعَدْلِ اللَّهِ.
Jawab: Maknanya adalah meletakkan
lembaran-lembaran catatan amal kebaikan ke atas Kaffatun-Nur (daun
timbangan bercahaya) yaitu di sisi kanan yang memang dikhususkan untuk amal
kebaikan, sehingga timbangan itu menjadi berat berkat karunia Allah. Lalu
meletakkan catatan amal keburukan di atas Kaffatuz-Zhulmah (daun
timbangan kegelapan) yaitu di sisi kiri yang dikhususkan untuk amal buruk,
sehingga (bagi mukmin) timbangan keburukan itu menjadi ringan (kalah berat).
Ini adalah kondisi bagi orang mukmin. Adapun bagi orang kafir, maka kondisinya
adalah sebaliknya (timbangan buruknya yang berat), dan hal itu adalah bukti
keadilan Allah.
س: مَا
الْمِيزَانُ؟
Tanya: Apa itu Al-Mizan (Timbangan)?
ج:
وَهُوَ مِيزَانٌ كَبِيرٌ يُوضَعُ فِي يَوْمِ الْقِيَامَةِ الَّذِي يُوزَنُ فِيهِ
أَعْمَالُ الْخَلَائِقِ، وَهُوَ كَمِيزَانِ الدُّنْيَا لَهُ قَصَبَةٌ وَلِسَانٌ
وَكَفَّتَانِ، لَوِ اجْتَمَعَ فِي إِحْدَاهُمَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
لَوَسِعَتْهُمَا.
Jawab: Al-Mizan adalah sebuah timbangan
raksasa yang dipasang pada hari kiamat untuk menimbang seluruh amal perbuatan
makhluk. Bentuk fisiknya seperti timbangan di dunia (timbangan dacin); memiliki
tiang penyangga, jarum penunjuk, dan dua piringan (daun timbangan). Betapa
besarnya timbangan ini, seandainya seluruh langit dan bumi disatukan lalu
diletakkan di atas salah satu daun timbangannya, niscaya daun timbangan itu
masih sanggup menampungnya.
س: مَا
مَعْنَى الشَّفَاعَةِ؟
Tanya: Apa makna Syafaat?
ج:
وَهِيَ سُؤَالُ الْخَيْرِ مِنَ الْغَيْرِ لِلْغَيْرِ.
Jawab: Syafaat secara bahasa bermakna memohonkan
kebaikan dari pihak lain (Allah) untuk diberikan kepada pihak lain (hamba yang
ditolong).
س: مَا
الْمُرَادُ بِالشَّفَاعَةِ الْعُظْمَى؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan Asy-Syafa'ah
Al-Uzhma (Syafaat Terbesar)?
ج:
وَهِيَ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : "يَا رَبِّ افْصِلْ
بَيْنَ أُمَّتِي، يَا رَبِّ عَجِّلْ حِسَابَهُمْ".
Jawab: Syafaat ini berupa doa dan permohonan dari
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (saat makhluk kepanasan
menunggu lama di Padang Mahsyar): "Ya Tuhanku, putuskanlah perkara
(hisab) di antara umatku. Ya Tuhanku, segerakanlah proses perhitungan amal
mereka."
(Catatan: Hisab secara bahasa
berarti menghitung. Secara istilah berarti pemberhentian (penahan) yang
dilakukan Allah terhadap hamba-Nya di Padang Mahsyar untuk
mempertanggungjawabkan rincian amal perbuatan mereka, baik berupa perbuatan,
ucapan, maupun keyakinan. Proses hisab ini terjadi dengan cara Allah berbicara
langsung kepada mereka menggunakan Kalam Qadim-Nya (Kalam yang suci dari huruf
dan suara) dengan mengangkat tabir penutup pendengaran sehingga mereka sanggup
mendengarnya, atau Allah menciptakan suara khusus yang mewakili firman-Nya.
Proses hisab
adakalanya dilakukan hanya oleh malaikat, atau dilakukan langsung oleh Allah
beserta para malaikat secara bersamaan. Cara dan tingkat kesulitannya pun
berbeda-beda; ada hisab yang sangat mudah, ada yang sangat sulit/ketat. Ada
yang dilakukan secara rahasia, ada yang diperlihatkan terang-terangan
(dipermalukan). Ada yang dihisab murni dengan karunia kemurahan Allah
(dimaafkan), dan ada yang dihisab secara keadilan murni (dihukum), sesuai
dengan tingkat amalannya. Maka Allah mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki
dan menyiksa siapa saja yang Dia kehendaki. Hisab ini berlaku bagi seluruh jin
dan manusia, baik mukmin maupun kafir, yang dilakukan setelah mereka menerima
buku catatan amalnya.
Hal ini
berpedoman pada firman Allah Ta'ala:
فَأَمَّا
مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ * فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا *
وَيَنقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا
(Adapun
orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa
dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya [yang
sama-sama beriman] dengan gembira). [QS. Al-Insyiqaq: 7-9].
Adapun model
hisab yang paling mudah adalah ketika Allah menghisab hamba-Nya secara
rahasia/tertutup, sehingga tidak ada satu pun jin, manusia, apalagi malaikat
yang mengetahuinya. Allah berfirman kepadanya: "Ini adalah dosa-dosamu,
dan Aku telah mengampuninya untukmu. Dan ini adalah pahala amal kebaikanmu, dan
Aku telah melipatgandakannya untukmu."
Hisab tidak
berlaku bagi orang-orang yang Maksum (para nabi). Dikecualikan juga dari hisab
ini sebanyak 70.000 orang umat Islam—yang paling utama di antara mereka adalah
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu—mereka semua akan masuk surga tanpa
hisab (pengecekan amal), sebagaimana keterangan dalam hadis. Perlu diketahui
juga, umat Nabi Muhammad, meskipun merupakan umat yang hidup di zaman paling
akhir, namun mereka akan diprioritaskan untuk dihisab lebih awal dibandingkan
umat-umat lainnya. (Keterangan di atas dinukil dari Hasyiyah Syekh Ahmad
Ash-Shawi 'ala Al-Kharidah Al-Bahiyyah).
Syekh
pengarang kitab Qathr Al-Ghaits menambahkan penjelasan terkait hisab. Berkenaan
dengan firman Allah Ta'ala:
وَكَفَىٰ
بِنَا حَاسِبِينَ
(Dan
cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan).
Ada sebagian
orang yang dihisab dengan sangat ketat dan diinterogasi di hadapan khalayak
ramai sebagai bentuk hukuman untuk mempermalukannya. Mereka adalah golongan
orang kafir dan munafik yang pada hari itu menerima buku catatannya (yang
ditulis oleh malaikat Hafazhah) dari arah belakang punggungnya. Tangan kanannya
akan dibelenggu ke lehernya, sedangkan tangan kirinya dipelintir ke belakang
punggungnya untuk menerima buku tersebut.
Di sisi
lain, ada hamba yang hisabnya tidak diserahkan Allah kepada malaikat atau siapa
pun, melainkan Allah sendiri yang menghisabnya berdua saja secara rahasia demi
menutupi aib hamba tersebut. Allah membentangkan catatan amalnya dan berfirman:
"Inilah dosa-dosa yang engkau lakukan di dunia, namun Aku menutupi aibmu
di sana, maka pada hari ini Aku mengampuninya untukmu." Hamba yang
mendapatkan hisab rahasia ini adalah golongan mukmin yang taat, yang menerima
bukunya dari arah depan/kanan.
Adapun
kronologi penerimaan buku amal adalah: Setelah seseorang meninggal, buku
amalnya disimpan di sebuah brankas gaib di bawah 'Arasy. Ketika seluruh manusia
telah berkumpul di Padang Mahsyar, Allah menghembuskan angin yang menerbangkan
seluruh buku tersebut. Setiap buku akan melayang dan menempel lekat di leher
pemiliknya, tidak akan meleset ke orang lain. Kemudian malaikat mengambil buku
itu dari leher mereka dan menyodorkannya ke tangan mereka untuk diambil.
Orang yang
pertama kali menerima buku catatan dengan tangan kanannya adalah Umar bin
Khattab, di mana wajah beliau memancarkan cahaya terang layaknya cahaya
matahari. (Lalu bagaimana dengan Abu Bakar?) Abu Bakar adalah pemimpin
rombongan dari 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab, sehingga mereka
memang tidak perlu menerima buku catatan amal. Setelah Umar bin Khattab, orang
berikutnya yang menerima buku dengan tangan kanan adalah Abu Salamah Abdullah
bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Sedangkan orang yang pertama kali menerima buku
dari tangan kirinya adalah saudaranya sendiri, yaitu Al-Aswad bin Abdul Asad.
Setelah
seorang hamba menerima bukunya, ia akan melihat huruf-huruf dalam bukunya;
apakah huruf itu bersinar terang atau gelap gulita, yang kesemuanya bergantung
pada amal perbuatannya. Kalimat pertama yang tertulis di halaman awal buku itu
adalah:
اقْرَأْ
كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
(Bacalah
kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu).
[QS. Al-Isra': 14].
Maka saat ia
mulai membacanya, wajahnya akan berseri menjadi putih bercahaya jika ia seorang
mukmin, atau menjadi hitam pekat jika ia seorang kafir. Inilah realisasi dari
firman Allah Ta'ala:
يَوْمَ
تَبْيَضُّ وُجوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
(Pada hari
ketika ada wajah-wajah yang memutih berseri, dan ada pula wajah-wajah yang
menghitam muram). [QS. Ali Imran: 106]. Selesai kutipan).
س: مَا
الْمُرَادُ بِالشَّفَاعَةِ الْأُخْرَى؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan syafaat-syafaat
lainnya?
ج:
وَهِيَ شَفَاعَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالشُّهَدَاءِ
وَالصُّلَحَاءِ وَغَيْرِهِمْ.
Jawab: Syafaat lainnya adalah pertolongan khusus
yang diizinkan untuk diberikan oleh para nabi, para wali Allah, para ulama,
para syuhada (orang yang mati syahid), orang-orang saleh, dan pihak-pihak
lainnya kepada keluarga atau orang-orang yang mereka cintai (untuk meringankan
hukuman mereka).
س: مَا
مَعْنَى الصِّرَاطِ؟
Tanya: Apa makna Ash-Shirath?
ج:
وَهُوَ جِسْرٌ مَمْدُودٌ عَلَى مَتْنِ جَهَنَّمَ يَرِدُهُ الْأَوَّلُونَ
وَالْآخِرُونَ.
Jawab: Ash-Shirath adalah sebuah jembatan
yang dibentangkan di atas punggung/jurang neraka Jahanam. Seluruh makhluk, baik
dari generasi pertama hingga terakhir, wajib melewati jembatan ini.
س: مَا
صِفَةُ الصِّرَاطِ؟
Tanya: Seperti apa bentuk/sifat jembatan Ash-Shirath
tersebut?
ج:
وَهُوَ أَدَقُّ مِنَ الشَّعْرِ وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ وَطُولُهُ ثَلَاثَةُ
آلَافِ سَنَةٍ، أَلْفُ سَنَةٍ صُعُودُهُ، وَأَلْفُ سَنَةٍ هُبُوطُهُ، وَأَلْفُ
سَنَةٍ اسْتِوَاؤُهُ، وَطَرَفُهُ فِي أَرْضِ الْقِيَامَةِ وَطَرَفُهُ الْآخَرُ فِي
أَرْضِ الْجَنَّةِ.
Jawab: Jembatan tersebut bentuknya lebih halus
daripada rambut, lebih tajam daripada pedang, dan panjangnya menempuh jarak
perjalanan selama tiga ribu tahun. Rinciannya: seribu tahun untuk jalan yang
menanjak, seribu tahun jalan yang menurun, dan seribu tahun jalan mendatar.
Ujung pangkal jembatan berada di hamparan Padang Mahsyar, sedangkan ujung
akhirnya berlabuh di pelataran Surga.
س: مَا
الْمُرَادُ بِحَوْضِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan Al-Haudh (Telaga)
milik Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam?
ج:
وَهُوَ بَحْرٌ عَظِيمٌ عَلَى الْأَرْضِ الْجَدِيدَةِ وَطُولُهُ لَا يَزِيدُ عَلَى
عَرْضِهِ، كُلُّ جَانِبٍ مِنْ جَوَانِبِهِ الْأَرْبَعِ مَسَافَةُ شَهْرٍ،
حَافَّتُهُ الذَّهَبُ وَرَائِحَتُهُ الْمِسْكُ وَحَصْبَاؤُهُ اللُّؤْلُؤُ،
وَمَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَصُبُّ
فِيهِ مِيزَابَانِ مِنَ الْكَوْثَرِ الَّذِي هُوَ نَهْرٌ فِي الْجَنَّةِ،
وَعَلَيْهِ مِنَ الْأَوَانِي عَدَدُ نُجُومِ السَّمَاءِ.
Jawab: Ia adalah sebuah telaga (lautan) yang
sangat luas membentang di atas bumi Mahsyar yang baru. Ukuran panjang dan
lebarnya sama persis; di mana luas setiap sisinya (dari empat sisi) setara
dengan jarak perjalanan selama satu bulan. Tepi atau dinding telaga itu terbuat
dari emas murni, aromanya sewangi minyak kasturi, dan bebatuan kerikil di
dasarnya berupa butiran mutiara.
Air telaga tersebut warnanya
lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu. Sumber air
telaga itu mengalir turun dari dua pancuran emas yang bersumber dari telaga Al-Kautsar
yang ada di dalam surga. Di tepi telaga itu juga telah disediakan
gelas-gelas/cawan minuman yang jumlahnya sebanyak gemerlap bintang di langit.
س:
مَنْ يَشْرَبُ مِنْهُ؟
Tanya: Siapa sajakah yang berhak minum dari
telaga tersebut?
ج:
يَشْرَبُ مِنْهُ كُلُّ مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ وَيُمْنَعُ مِنْهُ
مَنْ بَدَّلَ وَغَيَّرَ كَأَهْلِ الْبِدَعِ مَثَلًا. مَنْ شَرِبَ مِنْهُ شَرْبَةً
لَا يَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا.
Jawab: Yang berhak minum adalah setiap mukmin
yang setia menepati janjinya kepada Allah (menjaga akidah Ahlusunah).
Sebaliknya, orang-orang yang mengubah-ubah dan mengganti ajaran agama—seperti
kelompok pembuat bidah/ajaran sesat—akan diusir dan dilarang untuk meminumnya.
Barang siapa yang berhasil meminum airnya walau hanya seteguk, niscaya ia tidak
akan pernah merasakan haus lagi untuk selama-lamanya.
س: مَا
الْمُرَادُ بِرُؤْيَةِ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهَ تَعَالَى؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan peristiwa
"Kaum mukminin melihat Allah Ta'ala"?
ج:
وَهُوَ رُؤْيَةٌ حَقِيقِيَّةٌ بِعَيْنِ الْبَصَرِ قَبْلَ دُخُولِ الْجَنَّةِ
وَبَعْدَهَا مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَانْحِصَارٍ بِأَنْ يَكْشِفَ اللَّهُ تَعَالَى
عَنِ الْمُؤْمِنِينَ الْحِجَابَ انْكِشَافًا تَامًّا فَيَرَوْنَ ذَاتَهُ جَلَّ
وَعَزَّ خَالِيَةً مِنْ جِهَةٍ وَمَكَانٍ وَمُقَابَلَةٍ وَسَائِرِ صِفَاتِ
الْحَوَادِثِ.
Jawab: Maksudnya adalah umat Islam kelak akan
melihat Allah secara nyata dengan mata kepala mereka sendiri, baik saat mereka
masih di Padang Mahsyar (sebelum masuk surga) maupun setelah berada di dalam
surga. Mereka melihat-Nya tanpa bisa dibayangkan bagaimana caranya (bila
kaifa) dan tanpa terbatasi oleh ukuran fisik.
Prosesnya adalah Allah Ta'ala
menyingkap tabir penutup dari pandangan mata orang mukmin secara sempurna, lalu
mereka dapat melihat Zat Allah Jalla wa 'Azza. Namun, penglihatan
tersebut bersih (suci) dari anggapan bahwa Allah menempati suatu arah
(atas/bawah), tempat, bentuk berhadapan, maupun bersih dari segala sifat
makhluk yang baru ciptaan lainnya.
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ؟
Tanya: Apa dalil tentang diperlihatkannya Allah
kepada mukminin kelak?
ج:
وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى : "وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ
رَبِّهَا نَاظِرَةٌ"، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
"إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ
الْبَدْرِ".
Jawab: Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:
وُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
(Wajah-wajah orang beriman
pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat). [QS.
Al-Qiyamah: 22-23].
Dan sabda Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam:
إِنَّكُمْ
سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
(Sesungguhnya kalian
benar-benar akan melihat Tuhan kalian [dengan jelas], sebagaimana kalian
melihat indahnya bulan di malam purnama).
س: مَا
الْمُرَادُ بِالْجَنَّةِ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan Al-Jannah
(Surga)?
ج:
وَهِيَ دَارُ نِعْمَةٍ فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا
خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، وَالْمُؤْمِنُونَ فِيهَا خَالِدُونَ.
Jawab: Surga adalah negeri kenikmatan abadi. Di
dalamnya terdapat berbagai keindahan yang belum pernah dilihat oleh mata mana
pun di dunia, belum pernah terdengar oleh telinga mana pun, dan tak pernah
terbayangkan sedikit pun di dalam benak hati manusia. Orang-orang yang beriman
akan hidup kekal selama-lamanya di sana.
س: مَا
الْمُرَادُ بِالنَّارِ؟
Tanya: Apa yang dimaksud dengan An-Naar
(Neraka)?
ج:
وَهِيَ دَارُ نِقْمَةٍ فِيهَا أَنْوَاعٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَالْكَافِرُونَ فِيهَا
خَالِدُونَ، وَعُصَاةُ الْمُؤْمِنِينَ عَنْهَا خَارِجُونَ فِي أَيِّ وَقْتٍ شَاءَ
اللَّهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Jawab: Neraka adalah negeri siksaan. Di dalamnya
terdapat berbagai macam pedihnya azab. Orang-orang kafir akan mendekam dan
kekal di dalamnya. Adapun bagi orang mukmin yang gemar berbuat maksiat (dan
belum bertaubat), mereka berpotensi masuk ke dalamnya, namun mereka akan
dikeluarkan dari neraka kapan pun sesuai dengan kehendak Allah.
Wallahu a'lam (Dan Allah Yang lebih mengetahui kebenaran
yang sesungguhnya).
Berikut adalah bagian akhir
dari risalah ini, diterjemahkan dengan metode yang sama agar mudah dipahami
secara utuh.
الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ
Beriman Kepada Qadar (Takdir)
س: مَا
مَعْنَى الْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ؟
Tanya: Apa makna beriman kepada qadar (takdir)?
ج:
وَهُوَ تَصْدِيقُ الْقَلْبِ بِأَنَّ جَمِيعَ مَا كَانَ وَمَا يَكُونُ كُلُّهُ
بِقَدَرٍ وَقَضَاءٍ مِنَ اللَّهِ، وَأَنَّ جَمِيعَ مَا قَدَّرَهُ اللَّهُ فِي
الْأَزَلِ لَابُدَّ وُقُوعُهُ فِي الْأَبَدِ بِلَا شَكٍّ وَلَا رَيْبٍ، وَمَا لَمْ
يُقَدِّرْهُ يَسْتَحِيلُ أَنْ يَكُونَ أَبَدًا. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
Jawab: Maknanya adalah membenarkan dan meyakini
di dalam hati bahwa segala peristiwa yang telah terjadi maupun yang akan
terjadi, semuanya berjalan murni berdasarkan qadar (ukuran/ketentuan) dan qada
(keputusan) dari Allah. Segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah sejak
zaman azali (sebelum alam semesta ada) pasti akan terjadi di masa abadi (ke
depan) tanpa ada keraguan sedikit pun. Sebaliknya, sesuatu yang tidak
ditetapkan-Nya, mustahil akan pernah terjadi. Wallahu a'lam bish-shawab.
خَاتِمَةٌ
Khatimah (Penutup)
نَسْأَلُ
اللَّهَ حُسْنَهَا
Kita Memohon
Kepada Allah Akhir yang Baik
س:
مَنْ أَبُوهُ وَأَجْدَادُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Tanya: Siapakah nama ayah dan kakek moyang Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam?
ج:
هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ
بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ
بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ
مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ.
Jawab: Beliau adalah putra dari Abdullah bin
Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin
Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin
Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
س:
مَنْ أُمُّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Tanya: Siapakah nama ibu beliau shallallahu
'alaihi wa sallam?
ج:
هِيَ آمِنَةُ بِنْتُ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابٍ،
فَتَجْتَمِعُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كِلَابِ بْنِ
كَعْبٍ. وَعَبْدُ مَنَافٍ الَّذِي فِي نَسَبِ أُمِّهِ غَيْرُ عَبْدِ مَنَافٍ فِي
نَسَبِ أَبِيهِ، لِأَنَّ الَّذِي فِي نَسَبِ أَبِيهِ عَبْدُ مَنَافِ بْنُ قُصَيِّ
بْنِ كِلَابٍ، وَعَبْدُ مَنَافٍ الَّذِي فِي نَسَبِ أُمِّهِ ابْنُ زُهْرَةَ بْنِ
كِلَابٍ.
Jawab: Ibu beliau bernama Aminah binti Wahab bin
Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Nasab ibu beliau bertemu (menyatu) dengan
nasab ayah nabi pada sosok kakek bernama Kilab bin Ka'ab. Perlu diketahui, nama
kakek "Abdul Manaf" yang ada pada jalur nasab ibu berbeda dengan
"Abdul Manaf" yang ada pada jalur nasab ayah. Abdul Manaf pada nasab
ayah adalah anak dari Qushay bin Kilab, sedangkan Abdul Manaf pada nasab ibu
adalah anak dari Zuhrah bin Kilab.
س: فِي
أَيِّ مَكَانٍ وَبَلَدٍ وَزَمَانٍ وُلِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ؟
Tanya: Di tempat, kota, dan waktu kapankah Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam dilahirkan?
ج:
وُلِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَكَانِ الْمَعْرُوفِ
بِسُوقِ اللَّيْلِ الَّذِي فِي مَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ حَرَسَهَا اللَّهُ مِنْ
كُلِّ سُوءٍ، قُبَيْلَ الصُّبْحِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ ١٢ رَبِيعِ الْأَوَّلِ مِنْ
عَامِ الْفِيلِ الْمُوَافِقِ ٢٢ أَبْرِيل ٥٧١ مِيلَادِيَّةٍ.
Jawab: Nabi dilahirkan di sebuah tempat yang
dikenal dengan nama Pasar Seng (Suqul Lail) di kota suci Makkah
Al-Mukarramah (semoga Allah senantiasa menjaganya dari segala keburukan).
Beliau lahir menjelang waktu subuh pada hari Senin, tanggal 12 Rabiulawal Tahun
Gajah, bertepatan dengan tanggal 22 April 571 Masehi.
س:
إِلَى أَيِّ مَكَانٍ أُسْرِيَ وَعُرِجَ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Tanya: Ke tempat manakah beliau shallallahu
'alaihi wa sallam diperjalankan (Isra) dan dinaikkan (Mikraj)?
ج:
أُسْرِيَ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ،
وَعُرِجَ بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ
وَمَا فَوْقَهَا مِنَ الْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ وَالْمُسْتَوَى، وَرَأَى مَا رَأَى
مِنَ الْآيَاتِ الْكُبْرَى فِي لَيْلَةِ الْإِثْنَيْنِ ٢٧ شَهْرِ رَجَبٍ مِنَ
الْعَامِ الْخَامِسِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ.
Jawab: Beliau diperjalankan dari Makkah menuju
Baitulmaqdis (Masjidilaqsa). Kemudian dari sana, beliau dinaikkan hingga
menembus langit ketujuh dan melampaui Arasy, Kursi, serta Mustawa (batas
akhir pendakian). Di sana beliau menyaksikan berbagai tanda-tanda kebesaran
Allah yang sangat agung. Peristiwa ini terjadi pada malam Senin, tanggal 27
Rajab, tepatnya pada tahun kelima setelah beliau diangkat menjadi nabi (masa
kenabian).
س:
إِلَى أَيِّ بَلَدٍ هَاجَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Tanya: Ke kota manakah beliau shallallahu
'alaihi wa sallam berhijrah?
ج:
هَاجَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ
الْمُنَوَّرَةِ حَرَسَهَا اللَّهُ فِي لَيْلَةِ الْإِثْنَيْنِ شَهْرَ رَبِيعِ
الْأَوَّلِ، وَأَقَامَ فِيهَا عَشْرَ سِنِينَ، ثُمَّ تُوُفِّيَ فِيهَا فِي يَوْمِ
الْإِثْنَيْنِ ١٢ رَبِيعِ الْأَوَّلِ سَنَةَ ١١ مِنَ الْهِجْرَةِ وَدُفِنَ فِيهَا
عِنْدَ مَسْجِدِهَا كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ الْآنَ.
Jawab: Beliau berhijrah dari kota Makkah ke kota
Madinah Al-Munawwarah (semoga Allah menjaganya). Keberangkatan itu terjadi pada
malam Senin di bulan Rabiulawal. Beliau menetap berdakwah di sana selama
sepuluh tahun, lalu wafat di Madinah pada hari Senin, tanggal 12 Rabiulawal
tahun ke-11 Hijriah. Beliau dimakamkan di area tempat tinggalnya yang menyatu
dengan masjidnya (Masjid Nabawi) sebagaimana yang dapat kita saksikan saat ini.
س:
كَمْ أَزْوَاجُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّاتِي تُوُفِّيَ
عَنْهُنَّ؟
Tanya: Berapa orang istri Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam yang ditinggalkan hidup oleh beliau saat beliau wafat?
ج:
هُنَّ تِسْعَةٌ: ١. الْأُولَى عَائِشَةُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ. ٢. وَالثَّانِيَةُ
حَفْصَةُ بِنْتُ عُمَرَ. ٣. وَالثَّالِثَةُ سَوْدَةُ بِنْتُ زَمْعَةَ. ٤.
وَالرَّابِعَةُ صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيِّ بْنِ أَخْطَبَ مِنْ ذُرِّيَّةِ هَارُونَ
أَخِي مُوسَى الْكَلِيمِ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ. ٥. وَالْخَامِسَةُ مَيْمُونَةُ
بِنْتُ الْحَارِثِ الْهِلَالِيَّةُ خَالَةُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ. ٦.
وَالسَّادِسَةُ رَمْلَةُ بِنْتُ أَبِي سُفْيَانَ. ٧. وَالسَّابِعَةُ هِنْدُ بِنْتُ
أَبِي أُمَيَّةَ. ٨. وَالثَّامِنَةُ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ. ٩. وَالتَّاسِعَةُ
جُوَيْرِيَّةُ بِنْتُ الْحَارِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُنَّ.
Jawab: Jumlahnya ada sembilan orang, yaitu:
- Aisyah binti Abu Bakar.
- Hafshah binti Umar.
- Saudah binti Zam'ah.
- Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab
(beliau berasal dari keturunan Nabi Harun, saudara Nabi Musa 'alaihissalam).
- Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyyah
(beliau adalah bibi dari sahabat Abdullah bin Abbas).
- Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu
Habibah).
- Hindun binti Abu Umayyah (Ummu
Salamah).
- Zainab binti Jahsy.
- Juwairiyah binti Al-Harits. Radhiyallahu
'anhunna (Semoga Allah meridai mereka semua).
س:
كَمْ أَزْوَاجُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّاتِي مِتْنَ قَبْلَهُ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Tanya: Berapa orang istri beliau yang wafat lebih
dahulu mendahului beliau?
ج:
هُمَا اثْنَتَانِ: الْأُولَى خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَالثَّانِيَةُ
زَيْنَبُ أُمُّ الْمَسَاكِينِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.
Jawab: Ada dua orang, yaitu: pertama, Khadijah
binti Khuwailid, dan kedua, Zainab binti Khuzaimah (yang bergelar Ummul
Masakin atau ibunya orang-orang miskin). Radhiyallahu 'anhuma.
س:
كَمْ أَزْوَاجُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَّفَقُ عَلَيْهِنَّ؟
Tanya: Berapakah total keseluruhan istri beliau shallallahu
'alaihi wa sallam yang disepakati oleh ahli sejarah?
ج:
هُنَّ إِحْدَى عَشْرَةَ كَمَا هُوَ مَذْكُورٌ فِي كِتَابِ السِّيرَةِ
النَّبَوِيَّةِ.
Jawab: Keseluruhan istri yang disepakati
berjumlah sebelas orang, sebagaimana yang banyak disebutkan di dalam
kitab-kitab Sirah Nabawiyah (Sejarah Nabi).
س:
هَلْ يَجِبُ الْإِيمَانُ بِهِنَّ؟
Tanya: Apakah kita wajib mengimani nama-nama
mereka secara mengikat?
ج: لَا
يَجِبُ الْإِيمَانُ بِهِنَّ لِأَنَّهُ لَا يَجِبُ إِلَّا بِالْمُتَيَقَّنِ،
وَالْحَالُ أَنَّهُنَّ لَا يُتَيَقَّنَّ بِكَوْنِهِنَّ أَزْوَاجًا لِلنَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا هُوَ مَعْلُومٌ فِي مَحَلِّهِ.
Jawab: Tidak diwajibkan (sebagai syarat keimanan
mutlak) untuk menghafal/mengimani nama-nama selain mereka. Sebab, hukum wajib
iman itu hanya berlaku pada hal-hal yang riwayat sejarahnya pasti (mutayaqqan).
Sementara itu, nama-nama di luar yang sebelas ini masih diperdebatkan dan belum
bisa dipastikan apakah mereka benar-benar sempat menjadi istri Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam atau tidak, sebagaimana dimaklumi pada tempat
pembahasannya.
س:
كَمْ أَوْلَادُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Tanya: Berapa orang anak beliau shallallahu
'alaihi wa sallam?
ج:
هُمْ سَبْعَةُ أَنْفَارٍ، ثَلَاثَةُ ذُكُورٍ : ١. الْقَاسِمُ ٢. عَبْدُ اللَّهِ ٣.
إِبْرَاهِيمُ
وَأَرْبَعُ
نِسَاءٍ : ١. زَيْنَبُ ٢. رُقَيَّةُ ٣. فَاطِمَةُ ٤. أُمُّ كُلْثُومٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ.
Jawab: Anak-anak beliau berjumlah tujuh orang.
Tiga orang putra, yaitu: 1.
Al-Qasim 2. Abdullah 3. Ibrahim.
Dan empat orang putri, yaitu:
1. Zainab 2. Ruqayyah 3. Fathimah 4. Ummu Kultsum. Radhiyallahu 'anhum.
س:
مَنْ أَفْضَلُ الْخَلْقِ عَلَى الْإِطْلَاقِ؟
Tanya: Siapakah makhluk yang paling utama secara
mutlak di seluruh alam semesta?
ج:
وَهُوَ سَيِّدُنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ أَجْمَعِينَ، وَيَلِيهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ بَقِيَّةُ أُولِي الْعَزْمِ وَهُمْ
سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيمُ، فَسَيِّدُنَا مُوسَى، فَسَيِّدُنَا عِيسَى، فَسَيِّدُنَا
نُوحٌ، وَهُمْ فِي الْأَفْضَلِيَّةِ عَلَى هَذَا التَّرْتِيبِ.
Jawab: Makhluk yang paling mulia adalah junjungan
dan panutan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam beserta
seluruh keluarga (Ahlulbait) beliau. Peringkat kemuliaan tepat di bawah beliau
ditempati oleh para rasul bergelar Ulul Azmi (yang memiliki keteguhan
luar biasa). Urutan kemuliaan mereka adalah: Nabi Ibrahim, lalu Nabi Musa, lalu
Nabi Isa, lalu Nabi Nuh. Demikianlah urutan keutamaan mereka.
س:
مَنْ أَفْضَلُ الصَّحَابَةِ؟
Tanya: Siapakah sahabat Nabi yang paling utama?
ج:
هُوَ سَيِّدُنَا أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ سَيِّدُنَا عُمَرُ، ثُمَّ سَيِّدُنَا
عُثْمَانُ، ثُمَّ سَيِّدُنَا عَلِيٌّ عَلَى هَذَا التَّرْتِيبِ. لَكِنْ قَالَ
الْعَلْقَمِيُّ: سَيِّدَتُنَا فَاطِمَةُ وَأَخُوهَا سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيمُ
أَفْضَلُ مِنَ الصَّحَابَةِ عَلَى الْإِطْلَاقِ حَتَّى مِنَ الْخُلَفَاءِ
الْأَرْبَعَةِ.
Jawab: Sahabat yang paling utama secara berurutan
adalah: Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, dan lalu Ali (merekalah Khulafaur
Rasyidin). Akan tetapi, Imam Al-'Alqami berpendapat bahwa Sayyidah Fathimah dan
saudaranya, Sayyid Ibrahim (yang mana keduanya adalah buah hati Nabi),
derajatnya lebih mulia secara mutlak dibandingkan seluruh sahabat, bahkan lebih
utama daripada empat khalifah tersebut.
س:
هَلْ يُبْعَثُ نَبِيٌّ بَعْدَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Tanya: Apakah akan ada lagi nabi yang diutus
setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam?
ج: لَا
يُبْعَثُ نَبِيٌّ بَعْدَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُطْلَقًا لِأَنَّهُ
آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ.
Jawab: Secara mutlak tidak akan ada lagi nabi
yang diutus setelah beliau, karena beliau adalah penutup dari seluruh nabi.
س: مَا
الدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ؟
Tanya: Apa dalilnya?
ج:
وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: "مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ
أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ
النَّبِيِّينَ"، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ
الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا
نَبِيَّ"، رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ.
Jawab: Buktinya adalah firman Allah Ta'ala
dalam Al-Qur'anul Karim:
مَّا كَانَ
مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ
النَّبِيِّينَ
(Muhammad itu sekali-kali
bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, melainkan dia adalah
utusan Allah dan penutup para nabi).
[QS. Al-Ahzab: 40].
Dan sabda beliau shallallahu
'alaihi wa sallam:
إِنَّ
الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا
نَبِيَّ
(Sesungguhnya risalah dan
kenabian telah terputus, maka tidak ada lagi rasul maupun nabi sesudahku). (HR. Tirmidzi dan selainnya, bersumber
dari sahabat Anas radhiyallahu 'anhu).
س: مَا
حُكْمُ مُدَّعِي النُّبُوَّةِ وَمُصَدِّقِهِ بَعْدَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ؟
Tanya: Apa hukum bagi orang yang mengaku sebagai
nabi, beserta hukum orang yang membenarkan/memercayainya, setelah zaman Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam?
ج: لَا
شَكَّ أَنَّهُ مُرْتَدٌّ لِأَنَّهُ أَنْكَرَ نَصَّ الْقُرْآنِ الْمَذْكُورِ،
نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْهُ.
Jawab: Tidak diragukan lagi bahwa mereka murtad
(telah keluar dari Islam). Sebab, mereka secara sadar mengingkari teks (nas)
Al-Qur'an yang sangat jelas (tentang tertutupnya pintu kenabian). Kita
berlindung kepada Allah dari sifat sedemikian rupa.
(مُلَاحَظَةٌ:
وَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ خَرَجَ فِي زَمَانِنَا، أَعْنِي فِي سَنَةِ أَلْفٍ
وَثَلَاثِمِائَةٍ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ (١٣١٤)، رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مِيرْزَا
غُلَام أَحْمَد الْقَادِيَانِي، ادَّعَى النُّبُوَّةَ وَصَرَّحَ بِذَلِكَ فِي
كُتُبِهِ، وَفَسَّرَ لِلنَّاسِ مَعَانِيَ الْكَلَامِ الرَّبَّانِيِّ بِرَأْيِهِ
الْأَسْخَفِ لِيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ،
فِي تَحْرِيفِ آيَاتِ اللَّهِ الْمُبَيِّنَةِ الْمُطَهَّرَةِ وَالْأَحَادِيثِ
النَّبَوِيَّةِ الْمُكَرَّمَةِ عَنْ مَوَاضِعِهَا. فَمَا خَافَ اللَّهَ وَلَا
اسْتَحْيَا مِنَ النَّاسِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ لِأَنَّهُ أَقَلُّ حَيَاءً وَأَسْخَفُ
عَقْلًا وَأَجْهَلُ دِينًا وَدِيَانَةً. اتَّخَذَ دِينَهُ لَهْوًا وَلَعِبًا
كَلَعِبِ الصِّبْيَانِ بِالْخَزَفِ وَالْحَصَى، فَيَجْعَلُ بَعْضَهَا أَمِيرًا
وَبَعْضَهَا سُلْطَانًا وَمِنْهَا فِيلًا وَأَفْرَاسًا وَجُنُودًا. وَأَنَّهُ
ابْتَدَعَ اعْتِقَادَاتٍ بَاطِلَةً الَّتِي ظَهَرَ فَسَادُهَا عِنْدَ الصِّبْيَانِ
وَالْعَوَامِّ فَضْلًا عَنْ أُولِي الْعِلْمِ وَالنُّهَى، فَاللَّهُمَّ دَمِّرْ
دِيَارَهُمْ وَخَرِّبْ بُنْيَانَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا
يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ. انْتَهَى.)
(Catatan:
Ketahuilah, sungguh telah muncul di zaman kita ini—tepatnya pada tahun 1314
Hijriah [1897 M]—seorang laki-laki yang bernama Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani.
Ia terang-terangan mengaku sebagai nabi dan menyatakan klaim tersebut di dalam
buku-buku karangannya. Ia seenaknya menafsirkan firman-firman Tuhan dengan
akalnya yang sangat konyol, seakan ia sedang memesan tempat di dasar neraka
yang paling bawah; yakni dengan memutarbalikkan dan menyelewengkan (tahrif)
ayat-ayat Allah yang suci serta hadis-hadis nabi dari makna sebenarnya.
Ia sama
sekali tidak takut kepada Allah dan tidak punya rasa malu sedikit pun kepada
sesama manusia. Sebab, ia memang orang yang nir-malu, dangkal akal budinya,
serta sangat bodoh dalam ilmu agama dan pelaksanaannya. Ia mempermainkan agama
bagaikan anak kecil yang bermain dengan pecahan keramik dan kerikil; di mana
sang anak mengkhayal bahwa kerikil ini adalah pangerannya, ini rajanya, ini
gajahnya, ini kudanya, dan ini prajuritnya. Sesungguhnya ia telah mengarang
akidah-akidah palsu yang kebusukannya bahkan terlihat sangat jelas oleh anak
kecil dan orang awam sekalipun, apalagi oleh para ulama dan cendekiawan. Ya
Allah, hancurkanlah permukiman mereka, runtuhkanlah ajaran mereka, dan
timpakanlah azab-Mu yang tidak akan pernah bisa dihindari oleh kaum pendosa.
Selesai kutipan).
س:
هَلْ تَجُوزُ وَتَصِحُّ الْمُنَاكَحَةُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَنِ ادَّعَى
النُّبُوَّةَ وَصَدَّقَ مُدَّعِيهَا؟
Tanya: Apakah boleh dan sah pernikahan antara
kita (umat Islam) dengan orang yang mengaku nabi, atau dengan pengikut yang
membenarkannya?
ج: لَا
يَجُوزُ وَلَا يَصِحُّ ذَلِكَ لِأَنَّهُمَا مُرْتَدَّانِ كَمَا سَبَقَ.
Jawab: Pernikahan itu haram (tidak boleh) dan
tidak sah, karena kedua-duanya berstatus murtad sebagaimana penjelasan di atas.
س:
هَلْ يَجِبُ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ ادَّعَيَا أَوْ أَحَدُهُمَا
النُّبُوَّةَ بَعْدَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ صَدَّقَا أَوْ
أَحَدُهُمَا مُدَّعِيهَا؟
Tanya: Apakah sepasang suami istri wajib
dipisahkan/diceraikan, jika sesudah zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
mereka berdua (atau salah satunya) mengaku sebagai nabi, atau mereka berdua
(atau salah satunya) membenarkan ajaran nabi palsu tersebut?
ج:
نَعَمْ، يَجِبُ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَهُمَا لِأَنَّ مُدَّعِيَ النُّبُوَّةِ
وَمُصَدِّقَهُ بَعْدَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْتَدَّانِ
وَالْمُرْتَدُّ لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ كَمَا
هُوَ مَعْلُومٌ فِي مَحَلِّهِ.
Jawab: Ya, keduanya wajib langsung dipisahkan.
Alasannya karena orang yang mengaku nabi dan para pengikutnya berstatus murtad.
Dan seorang yang murtad tidak halal terikat pernikahan dengan pria muslim
maupun wanita muslimah mana pun, sebagaimana dimaklumi pada bab khusus (fikih).
س:
هَلْ يُحْكَمُ عَلَى الَّذِينَ صَدَّقُوا نُبُوَّةَ مِيرْزَا غُلَام أَحْمَد
بِالرِّدَّةِ أَمْ لَا؟
Tanya: Apakah orang-orang yang memercayai
kenabian Mirza Ghulam Ahmad (Qadiyani/Ahmadiyah) dihukumi murtad (keluar dari
Islam) atau tidak?
ج: وَالَّذِينَ
صَدَّقُوا نُبُوَّةَ مِيرْزَا غُلَام أَحْمَد هُمُ الْمُرْتَدُّونَ
لِإِنْكَارِهِمْ نَصَّ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
Jawab: Orang-orang yang membenarkan kenabian
Mirza Ghulam Ahmad adalah orang-orang yang telah murtad (keluar dari Islam),
karena mereka mengingkari dengan tegas isi kandungan murni (nas) Al-Qur'anul
Karim.
Wallahu a'lam bish-shawab (Dan Allah Yang lebih mengetahui kebenaran
yang sesungguhnya).
هَذَا مَا
أَرَدْنَاهُ جَمْعَهُ فِي هَذِهِ الرِّسَالَةِ وَنَرْجُو اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَهَا
خَالِصَةً لِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَأَنْ يَغْفِرَ لِي وَلِوَالِدَيَّ
وَلِلْمُسْلِمِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. انْتَهَى.
سُلَيْمَانُ
الرَّسُولِيُّ
Inilah kumpulan pembahasan
agama yang ingin kami susun dalam risalah (kitab kecil) ini. Kami sangat
mengharap agar Allah menjadikan karya ini ikhlas semata-mata karena mengharap
wajah-Nya Yang Maha Mulia. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku, dosa kedua orang
tuaku, dan dosa seluruh kaum muslimin. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta
alam. Amin. Tamat.
Sulaiman Ar-Rasuli