- Diposting oleh : TALAQQI KUTUB TURATS
- pada tanggal : Juli 20, 2026
قال الإمام العلامة احمد الدمنهوري في حلية اللب المصون: والخُلْطَةُ كما تورث الخيرَ تُورِثُ الشَّرَّ
Imam Ahmad Ad-Damanhuri berkata dalam kitab Hilyatullub Almasun: "Pergaulan itu, sebagaimana ia mewariskan kebaikan, ia juga mewariskan keburukan"
Pergaulan ibarat “mesin fotokopi akhlak”. Ia akan mencetak siapa pun yang berada di dalamnya sesuai cetakan mayoritas orang di lingkungan itu.
Kebanyakan manusia tidak berubah karena banyak mendengar ceramah, tetapi karena kebiasaan yang dilakukan bersama-sama. Psikolog modern menyebutnya “lingkungan membentuk perilaku”. Ulama menyebutnya atsar al-mujalasah yaitu bekas atau pengaruh dari majelis pergaulan.
Ada tiga kategori penularan tabiat dalam pergaulan:
Pertama, menular tanpa sadar: Kamu tidak perlu sepakat dengan temanmu. Cukup sering duduk dengannya, kosakatanya akan menjadi kosakatamu, dan reaksinya akan menjadi reaksimu.
Kedua, menular dua arah: Tidak ada orang yang benar-benar “kebal”. Orang shalih bisa terpengaruh buruk jika terus berada di lingkungan buruk. Sebaliknya, orang buruk pun bisa berubah menjadi baik jika terus berada di lingkungan yang baik.
Ketiga, menular bertahap: Awalnya kamu mengingkari. Lama-lama kamu diam saja. Lalu kamu ikut tertawa. Pada akhirnya kamu ikut melakukannya. Begitulah proses “pewarisan” akhlak itu bekerja.
Karena itu Rasulullah memberikan perumpamaan: _“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Dari penjual minyak wangi, engkau bisa membeli darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sedangkan dari pandai besi, ia bisa membakar bajumu atau engkau mencium bau yang tidak sedap.”_ HR. Bukhari dan Muslim.
Bagaimana Pergaulan Mewariskan Kebaikan?
Ketika pergaulan jatuh pada orang shalih, ia akan mewariskan empat hal:
Pertama, mewariskan cita-cita: Duduk bersama penghafal Al-Qur’an membuatmu malu karena belum hafal. Berteman dengan ahli sedekah membuatmu ingin berbagi.
Kedua, mewariskan kebiasaan: Melihat teman bangun tahajud membuatmu ikut terbangun. Melihat teman rajin membaca membuatmu ikut membuka buku.
Ketiga, mewariskan standar: Di lingkungan orang yang menjaga lisan, ghibah terasa jijik. Di lingkungan orang jujur, berbohong terasa berat.
Keempat, mewariskan doa: Orang shalih akan mendoakanmu saat kamu lalai. Doa merekalah yang sering menjadi sebab keselamatan.
Inilah pergaulan yang menjadi sebab datangnya hidayah. Allah berfirman: _“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang.”_ QS. Al-Kahfi: 28.
Bagaimana Pergaulan Mewariskan Keburukan?
Sebaliknya, ketika pergaulan jatuh pada orang fasik, ia juga akan mewariskan empat hal:
Pertama, mewariskan pembenaran: Maksiat yang tadinya terasa haram menjadi “biasa saja”. Hal yang tadinya memalukan menjadi berani dilakukan.
Kedua, mewariskan waktu: Jam-jam produktif habis untuk obrolan kosong, membuka media sosial, dan mengeluh.
Ketiga, mewariskan hati yang keras: Sering mendengar kata kotor membuat hati menjadi kasar. Sering melihat maksiat membuat hati tidak lagi bergetar.
Keempat, mewariskan nasib: Di akhirat kelak orang akan menyesal: _“Celakalah aku, mengapa dulu aku tidak menempuh jalan bersama Rasul… celakalah aku, mengapa dulu aku menjadikan si fulan sebagai teman karibku.”_
Maka ulama berkata: “Jangan bertanya tentang seseorang, tanyalah tentang temannya. Karena teman adalah cermin akhlak seseorang.”
#NasehatImamAhmadDamanhuri
#PergaulanMewariskanAkhlak
#TalaqqiKutubTuratsNgajiKitab
#AyoNgajiKitabKuningdiTalaqqi